Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Penculikan


__ADS_3

Hari berlalu kebahagiaan dan kehangatan yang tercipta di keluarga Arvan dan Grea semakin besar, namun siapa yang menyangka canda dan tawa dari keluarga tersebut seketika berubah sesaat setelah Arvan mendengar adik kesayangannya Arin telah berbuat nekat dengan menculik kakak iparnya Grea.


Arin yang belum lama mengenal Micko memutuskan untuk melakukan kerja sama dengan laki-laki yang ternyata tengah depresi tersebut, dengan berbagai tawaran yang cukup menggiurkan akhirnya Arindia menuruti ajakan Micko.


Grea seperti biasa setiap hari selalu datang ke kantor suaminya untuk membawakan bekal makan siang, seperti hari ini Arvan begitu senang karena isterinya itu pandai memanjakan lidahnya dengan berbagai masakan yang Grea masak.


Usai makan siang bersama Arvan Grea pun pamit untuk pulang lebih dulu karena ia ada janji dengan mommy nya untuk pergi berbelanja namun ditengah perjalanan tiba-tiba saja ada dua mobil hitam yang menghadang mobil yang Grea tumpangi dan tidak lama beberapa orang berbaju hitam dengan postur tubuh yang tinggi besar keluar dari mobil tersebut.


Grea nampak terkejut dan juga ketakutan ketika beberapa pria tersebut dengan kasar menggedor-gedor kaca mobil yang Grea tumpangi.


" Mba Grea sebaiknya anda hubungi presdir sekarang dan anda tunggu disini jangan keluar dari mobil, saya akan menghadapi mereka sambil mengulur waktu sampai pak presdir datang" ucap Caroline


" Tidak Olin, sebaiknya kamu juga tetap berada di dalam mobil. mereka terlihat menyeramkan dan jumlah mereka juga banyak kamu tidak akan sanggup menghadapi mereka" ucap Grea melarang Caroline keluar dari mobil.


" Tapi mba Grea jika saya tidak keluar mereka bisa memecahkan kaca mobil kita dan membahayakan keselamatan mba Grea sendiri"


Grea nampak berpikir dan tiba-tiba ia dikejutkan dengan gedoran kaca yang cukup keras hingga membuat kaca tersebut pecah.


" Nyonya muda bagaimana ini?" tanya sang sopir yang juga nampak ketakutan.


Grea sudah menghubungi Arvan namun ponselnya tidak juga diangkat, begitu juga Hanan dan Jimmy mereka tidak ada yang mengangkat sambungan telepon Grea


" Mereka semua kemana sih, kenapa tidak ada yang mengangkat telpon dari ku" gumam Grea kesal namun sedetik kemudian ia teringat Caca dan dengan cepat Grea langsung menghubungi Caca


Tuttt....


Tuttt.....


Tuttt...


" Hallo Grea, assalamu'alaikum!" ucap Caca saat menerima sambungan telepon dari sahabatnya itu


" Ca tolong sampaikan kepada Arvan kalau_" belum selesai melanjutkan ucapannya Caca hanya bisa mendengar jeritan Grea


" Aaaaaaaaa.....!" sambungan telepon pun terputus, Caca yang mendengar teriakkan Grea menjadi panik apalagi saat ia kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Grea sudah tidak aktif.


Caca yang panik pun langsung beranjak dari duduknya dan berlari mencari keberadaan Arvan dan sekretarisnya.


Ceklekk


Caca membuka pintu ruang rapat dengan kasar, hingga semua orang yang berada di ruangan tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah Caca yang masih berdiri mematung di ambang pintu dengan napas yang tersengal-sengal.


Arvan melirik ke arah sekretaris Hanan dan dengan cepat sekretaris Hanan beranjak dari duduknya, ia tahu arti lirikan dari atasannya tersebut.


Sekretaris Hanan berjalan mendekati Caca, Jimmy yang kebetulan berada di dalam ruangan tersebut pun ikut beranjak dari duduknya dan menghampiri Caca.


" Ada apa non Caca?" tanya sekretaris Hanan


Caca berusaha mengatur napasnya sebelum memberitahukan berita buruk tersebut.


" Ada apa Ca?" kali ini Jimmy yang bertanya


Caca menoleh ke arah sumber suara sekilas lalu kembali menatap ke sekretaris Hanan


" Maaf pak Han jika saya sudah lancang masuk ke ruangan ini tapi ada satu hal penting yang harus saya sampaikan kepada presdir Arvan" sahut Caca dengan tubuh yang sedikit gemetar


"Ada apa, kenapa kamu terlihat gelisah dan juga panik, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Jimmy yang nampak cemas


" Emmmm.... tadi Grea menelepon dan sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan pak presdir karena sebelum sambungan teleponnya terputus Grea sempat menanyakan tentang pak presdir, dan yang membuat saya khawatir tadi Grea terdengar menjerit sebelum telponnya terputus dan setelah saya menghubunginya balik nomor Grea sudah tidak aktif sampai sekarang" jawab Caca yang nampak khawatir dengan keadaan Grea


" Apa telah terjadi sesuatu dengan adikku?" geram Jimmy


" Ada apa?" tanya Arvan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Hanan


Sekretaris Hanan dengan cepat langsung memberitahu apa yang baru saja Caca katakan dan sedetik kemudian wajah Arvan nampak merah menahan amarahnya, sekretaris Hanan terpaksa menunda rapat tersebut karena tidak mungkin rapat tersebut di teruskan dengan kondisi Grea istri presdir Arvan tidak tahu dimana keberadaannya.


" Apa kamu sudah menghubungi orang rumah?" tanya Arvan datar


" Sudah pak, Bu Risma dan ibu Marla juga tidak tahu keberadaan Grea" sahut Caca

__ADS_1


" Saya juga sudah menghubungi teman-teman kuliah tapi mereka juga tidak tahu keberadaan Grea" lanjut Caca


" Ya ampun sayang kamu dimana?" monolog Arvan


Ponsel Jimmy tiba-tiba berdering dan Jimmy mengerutkan alisnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


" Arindia" gumamnya yang masih terdengar oleh Caca dan juga Hanan


Jimmy mengabaikan panggilan tersebut sudah 3 kali Arindia melakukan panggilan tapi tidak ada satupun yang dia angkat sampai pada akhirnya Arindia mengirimkan pesan kepada Jimmy


..." Apa kau sedang cemas mencari adikmu?"...


..." Kalau iya datanglah ke alamat ini dan pastikan kamu datang sendiri aku tidak mau kalau sampai kakakku tahu akan hal ini jika kau mengingkari maka ucapkan salam terakhir untuk adikmu Greandira"...


Jimmy menghela napasnya berat lalu mengusap wajahnya kasar.


" Ada apa?" tanya Arvan


" Tidak ada apa-apa" jawab Jimmy berkilah


" Jawab padaku dengan jujur, ada apa?" kali ini Caca yang bertanya


" Aku bilang tidak ada apa-apa sayang" ucap Jimmy dengan lembut namun tidak membuat Caca luluh.


" Sayang? bullshit, kalau kamu sampai ketahuan bohong, maka aku tidak mau mengenal abang lagi" ancam Caca


" Loh kok ngancem gitu sih, ya memang tidak ada apa-apa Ca" Jimmy berusaha menutupi


" Jim, gue harap loe gak bohong, kalau yang barusan menghubungi loe itu ada hubungannya dengan Dira gue harap loe jujur sama gue" ucap Arvan


" Presdir, apa nyonya muda menggunakan gelang yang saya berikan?" tanya sekretaris Hanan tiba-tiba


" Sepertinya dia memakainya" jawab Arvan mengingat-ingat


" Bagus kalau nyonya memakai gelang itu" Hanan nampak lega


" kita bisa melacak keberadaan nyonya muda dari gelang tersebut yang sudah saya pasang GPS ."


" Ide bagus, memang kau selalu bisa diandalkan Han" Arvan menepuk bahu sang asisten


Hanan dan Arvan sedang melacak keberadaan Grea sementara Jimmy masih menimang-nimang ajakan Arin yang ingin bertemu dengannya.


" Bang Jim!" Jimmy yang hendak pergi pun menoleh ke sumber suara


" Ada apa?" tanya Jimmy mengerutkan keningnya


" Apa yang tadi menelpon ada kaitannya dengan Grea?" tanya Caca membuat Jimmy langsung membuang pandangannya dari tatapan Caca


" Aku harap bang Jim tidak sedang berbohong, keselamatan Grea memang jauh lebih penting dari apapun tapi bertindak gegabah pun bukan solusi yang tepat" ucap Caca menatap tajam ke arah Jimmy. entah mengapa Caca merasa begitu yakin kalau penculikan Grea ada hubungannya dengan Arindia dan Jimmy berusaha untuk menghadapinya sendiri.


" Kalau bang Jim memang sudah tidak menganggap aku lagi dan juga tidak membutuhkan kehadiranku lagi, tidak apa-apa bang mungkin ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir" ucap Caca


" Aku akan mencari tahu sendiri dimana Grea" lanjutnya lagi setelah itu ia pergi meninggalkan Jimmy yang masih mematung.


" Tunggu!" Jimmy meraih tangan Caca membuat langkahnya pun terhenti seketika


" Kita bicara di ruangan lain" ucap Jimmy yang langsung menarik tangan Caca


Jimmy menceritakan pesan yang Arin kirimkan kepadanya, Caca sudah menduganya dari awal.


Jimmy pun meminta Caca tidak menceritakan semuanya kepada Arvan dan itu pun demi keselamatan Grea sendiri.


" Lalu apa yang akan bang Jim lakukan?"


" Aku akan menemuinya"


" Apa tidak terlalu bahaya jika bang Jim pergi menemuinya sendirian?" Caca nampak khawatir


" Apa kau mencemaskan ku?" tanya Jimmy sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Caca

__ADS_1


" Bang Jim adalah kakaknya Grea tentu saja aku khawatir karena jika bang Jim kenapa-napa maka Grea pasti akan sangat sedih" sahut Caca


" Apa tidak ada alasan lain, setidaknya katakan saja jika kamu itu mencemaskan ku" Jimmy nampak sendu


" Sudahlah bang sebaiknya abang berhati-hati menghadapi Arin, takutnya wanita itu sudah berubah dan ambisinya ingin memiliki bang Jimmy membuatnya lupa diri" Caca mengalihkan pembicaraannya


" Duh yang lagi perhatian dan khawatir" goda Jimmy


" Apaan sih kak gak jelas" Caca geleng-geleng kepala merasa lucu dengan sikap Arvan


" Emmmm... aku temani kakak saja bagaimana?" tiba-tiba Caca ingin menemani Jimmy


" Tidak... Tidak... Tidak..." tolak Jimmy


" Kenapa tidak boleh bang? tenang saja aku tidak akan mengganggu pertemuan kalian kok" Jimmy tersenyum simpul


" Benarkah?" Caca mengangguk


" Tentu saja, aku hanya ingin bertemu dengan Grea dan bang Jim urus saja urusan kalian yang masih tertunda"


Jimmy menaikkan satu alisnya tidak mengerti dengan ucapan Caca


" Aku tidak akan mengizinkan kamu ikut, bukan karena aku akan bertemu dengan Arin tapi aku lebih mengutamakan keselamatan mu, aku tahu siapa Arin dia bisa saja berbuat nekat apalagi jika dia melihatku datang bersamamu, aku tidak perduli dengan diriku sendiri tapi keselamatan mu dan juga Grea adalah yang paling utama" terang Jimmy


Caca terdiam mendengar ucapan Jimmy, entah mengapa hatinya menghangat.


" Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan bang Jim pergi sendiri, seperti apa yang bang Jim bilang tadi bisa saja Arin berbuat nekat. setidaknya biarkan pak Arvan tahu soal ini, aku yakin pak Arvan dan sekretaris Han pasti punya cara sendiri untuk menolong Grea" ucap Caca


" Bang Jim bisa menemui Arin sendiri biar kami nanti menyusul" lanjutnya


" Baiklah, aku setuju dengan ide mu semoga saja tidak membahayakan keselamatan Grea"


" Iya, semoga saja ya bang" Caca menatap sendu


" Terima kasih ya Ca!"


Caca menoleh dan mengernyitkan keningnya


" Terima kasih untuk apa?"


" Terima kasih karena sudah begitu mengkhawatirkan Grea"


Caca tersenyum tipis " Apa bang Jim lupa, Grea itu sahabat baik aku bang sudah sewajarnya aku mengkhawatirkan keadaan dia saat ini"


Jimmy tersenyum lalu mengangguk.


Jimmy dan Caca kembali masuk ke dalam ruangan Arvan dan menceritakan semuanya.


Arvan sangat terkejut mendengar cerita yang Jimmy tuturkan, dia tidak menyangka adiknya bisa berbuat senekat itu.


Mau tidak mau demi keselamatan isterinya Arvan pun menghubungi papahnya Zaindra dan yang membuat Arvan cukup terkejut ternyata saat Arvan menghubungi papanya ternyata disana ada Daddy Alex yang memang sedang membahas bisnis dengan papahnya.


" Arvan cepat ke kantor papahmu kita bicarakan ini sekarang!" suara bariton yang terdengar tegas itu membuat Arvan terhenyak.


"Ada apa?" tanya Jimmy yang melihat wajah pucat Arvan


" Daddy meminta kita ke kantor papahku karena daddy berada di sana sekarang" Arvan menghela napasnya berat ia tidak tahu harus berbuat apa.


" Ya sudah cepat kita berangkat tunggu apalagi, nyawa Grea sedang dalam keadaan bahaya" ucap Caca yang entah mendapat keberanian dari mana sampai berani bicara seperti itu


"Benar yang dikatakan Caca, ayo cepat!" Jimmy sudah melangkah pergi dan Caca mengekor di belakangnya.


Arvan yang hendak melangkah tiba-tiba ponselnya berdering,


" Iya ada apa?" tanya Arvan kepada si penelpon


(.....)


" Apa? Ber***sek!" tersirat aura kemarahan di wajah Arvan

__ADS_1


__ADS_2