Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Kegelisahan Arvan


__ADS_3

Setelah kepergian Grea dari ruangan pentri mbak Susi dan Mala masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, wanita yang selama ini datang bersama atasannya tidak lain adalah teman mereka sendiri yaitu Greandira gadis cantik yang beberapa hari ini mereka rindukan.


" Mbak aku gak sedang bermimpikan?" tanya Mala yang mencubit pipinya sendiri.


" Aww.. sakit!" teriaknya


" Gak kita gak sedang bermimpi, ternyata selama ini wanita itu Grea, mbak benar-benar gak menyangka" mbak Susi masih merasa tidak percaya


" Iya mbak, kok bisa ya Grea dengan pak presdir?" tanya Mala dengan bingung


" Pantas dia memilih resign ya mbak" lanjutnya


" Mungkin dia tidak boleh kali sama pak Arvan untuk bekerja" tutur mbak Susi


" Bisa jadi si mbak" sahut Mala.


" Sudah yuk kita lanjut kerja lagi, nanti dimarahi!" ajak mbak Susi


Sementara di ruangan Presdir Grea tengah pasang wajah memberengut karena baru saja dia bertemu dengan mbak Susi dan Mala sudah disuruh kembali.


" Sayang kok wajahnya cemberut gitu sih?" Arvan menghampiri Grea lalu duduk di sampingnya


" Kamu ini pelit banget sih baru juga aku sebentar mengobrol dengan mereka" ucap Grea yang langsung dibuat terkejut dengan sikap Arvan yang tiba-tiba saja merebahkan dirinya di pangkuan Grea dengan memiringkan kepalanya menghadap ke perut Grea yang sudah nampak sedikit menonjol.


" Eh?" Grea menundukkan kepalanya dan menatap lekat suaminya yang menenggelamkan wajahnya di perutnya, Grea merasa sedikit geli tapi saat Arvan melingkarkan tangannya di pinggang Grea merasa ada rasa yang begitu menghangat.


" Biarkan seperti ini sebentar saja!" ucap Arvan


" Kamu kenapa?" tanya Grea yang tanpa sadar tangannya sudah mengusap rambut Arvan dengan lembut.


Arvan berkali-kali mencium perut Grea, perasaan yang tidak nyaman setelah pertemuan tadi dengan rekan bisnisnya seketika menguap begitu saja karena rasa bahagianya jika membayangkan dirinya tengah bersama dengan anaknya.


Arvan mendongakkan kepalanya sehingga mata Grea dan Arvan saling bertemu dan mengunci , Arvan menatap intens bibir ranum Grea yang semakin terlihat manis menurut Arvan dan sedetik kemudian Arvan mengangkat sedikit kepalanya lalu mengecup bibir Grea membuat Grea nampak terkejut dan membulatkan matanya


Arvan tersenyum melihat raut wajah Grea yang merah merona ditambah lagi dengan bibirnya yang mengerucut membuat Arvan semakin gemas dan ingin mengulanginya lagi.


" Sayang!" panggil Arvan menarik dagu Grea agar menoleh ke arahnya.


" Maaf ya!" ucap Arvan membuat Grea menaikkan satu alisnya


" Aku mohon sama kamu untuk selalu percaya sama aku ya, apapun yang akan diucapkan oleh orang aku ingin kamu tetap percaya sama aku karena sumpah demi apapun aku sangat mencintai kalian dan bagiku saat ini kalianlah yang terpenting di dalam hidup aku. kamu dan calon bayi kita adalah duniaku jadi aku mohon jangan pernah pergi meninggalkan aku percayalah hanya kamu dan anak kita yang selalu ada di dalam hati aku!" tutur Arvan yang sudah beranjak dari pangkuan Grea dan saat ini tengah menatap lekat wajah Grea yang nampak terlihat bingung dengan ucapan Arvan.


" Kamu ini bicara apa sih?" Grea mengerutkan keningnya


Arvan meraih kedua tangan Grea lalu menciumnya " Aku sangat mencintaimu Greandira!" ucap Arvan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Grea melihat dengan jelas ketulusan Arvan saat mengucapkan perasaannya, Grea lalu tersenyum dan mengecup kening Arvan membuat Arvan tertegun lalu sedetik kemudian menyunggingkan senyumnya.


" Berjanjilah untuk selalu percaya kepadaku !" pinta Arvan


" Kenapa aku harus berjanji? bagaimana jika kamu tidak menepati janji?" tanya Grea membuat Arvan menelan salivanya kasar


" Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, apapun itu aku rela mengorbankan nyawa sekalipun demi kamu Dan juga anak kita" sahut Arvan tegas


" Benarkah?" tanya Grea


" tentu saja!" ucap Arvan dengan lantang


" Baiklah kalau begitu tapi katakan dulu sebenarnya ada apa, kenapa tiba-tiba kamu memintaku untuk berjanji, apa sedang ada masalah?" tanya Grea yang menjadi penasaran.


" Sedikit" Sahut Arvan


" Apa?" tanya Grea yang sudah sangat penasaran


" Akan aku ceritakan tapi sebelumnya kamu janji tidak boleh marah ya!" pinta Arvan


" Kenapa? atau jangan-jangan _!" ucap Grea yang ingin menerka-nerka namun dipotong duluan oleh Arvan.


" Jangan berpikir yang macam-macam, bukankah sudah aku katakan apapun yang terjadi kamu harus percaya sama aku dan aku bersumpah tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan mu itu" tutur Arvan membuat Grea menatap lekat bola mata Arvan mencari kebohongan namun yang nampak Arvan tulus mengatakannya.


" Baiklah, cepat ceritakanlah!" pinta Grea


" Iya!"


Arvan akhirnya menceritakan tentang kejadian saat tadi sewaktu dia pergi untuk bertemu dengan kliennya di restoran x


Flashback on


Arvan sampai di restoran yang dituju, ia bersama dengan sekretaris Hanan masuk ke dalam restoran tersebut.


" Mari silahkan tuan!" sapa seseorang yang sudah menunggu kedatangan Arvan


" Terima kasih!" ucap Hanan mewakili atasannya. Arvan memang kalau sudah diluar akan kembali dingin berbeda dengan saat dia bersama dengan Grea dan juga keluarga besarnya , Arvan bisa bersikap hangat.


" Selamat pagi tuan Arvandra!" sapa seorang pria yang sudah menunggu Arvan bersama atasannya.


" Selamat pagi!" jawab Arvan datar


" Silahkan duduk tuan!" ucap pria tersebut


" Langsung saja kepada intinya, saya tidak suka berlama-lama!" ucap Arvan tegas membuat pria yang tidak lain hanyalah Sekretaris dari perusahaan Mandala menelan salivanya kasar pasalnya atasannya sedang berada di toilet.


" Maaf tuan Arvan bisa kita tunggu sebentar, karena atasan saya sedang berada di toilet saat ini!" ucapnya dengan sangat cemas.


Arvan tidak menjawab namun wajah kesalnya sangat bisa terlihat dengan jelas.

__ADS_1


Sekitar 5 menit yang ditunggu pun akhirnya muncul, " Maaf menunggu lama" ucapnya namun Arvan tidak menggubrisnya Hanan hanya menjawab dengan senyum tipisnya.


" Langsung saja kepada intinya!" ucap Arvan seraya melihat berkas yang sudah ada diatas meja.


" Apa tidak sebaiknya kita pesan minum dulu!" ucap wanita yang menjadi utusan dari PT Mandala Grup.


" Tidak perlu" jawab Arvan tegas


" Silahkan di mu..lai!" ucap Arvan terbata saat menatap ke arah wanita yang sudah berada di hadapannya dengan senyum yang mengembang.


" Apa kabar tuan Arvandra Pratama Zaindra?" sapanya seraya tersenyum


Deg


" Kamu?" ucap Arvan yang merasa cukup terkejut dengan sosok wanita yang saat ini ada di hadapannya.


" Cukup lama ya kita tidak bertemu, kamu semakin tampan saja rupanya!" ucap wanita yang tidak lain adalah Talita.


" Bayu dan kau sekertaris Han bisa tinggalkan kami sebentar!" pinta Talita.


Hanan menoleh ke arah Arvan setelah Arvan mengangguk Hanan baru berani meninggalkan atasannya tersebut.


Saat ini di meja tersebut hanya ada Arvan dan Talita, suasana pun menjadi sedikit hening apalagi Arvan yang bersikap dingin dan datar.


" Bagaimana kabarmu Van?" tanya Talita untuk yang kedua kalinya karena Arvan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan.


" Baik!" jawab Arvan singkat


" Kau masih saja dingin dan datar rupanya, santai saja sebentar!" ucap Talita


" Sebaiknya kita langsung saja pada urusan pekerjaan, aku sibuk tidak bisa berlama-lama" ucap Arvan


" Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan Van, luangkanlah waktu sebentar untuk masalah pribadi!" ucap Talita yang beranjak dari duduknya lalu mendekat kepada Arvan.


" Nona Talita sebaiknya jaga sikap anda, kita selesaikan urusan pekerjaan kita" ucap Arvan namun seperti tidak peduli Talita malah duduk di pangkuan Arvan dan memeluknya membuat Arvan terkejut bukan main dan langsung beranjak dari duduknya.


" Nona, jaga sikap anda jika anda masih bersikap seperti ini maaf saya permisi!" ucap Arvan tegas dengan raut wajah yang sulit di artikan.


" Van bisakah kita bicara sebentar!" ucap Talita meraih tangan Arvan saat Arvan hendak pergi namun dengan tegas Arvan menyentak tangan Talita kasar.


" Arvan kamu dulu memintaku untuk menjadi kekasihmu tapi sekarang kenapa kamu seperti ini Van?"


" Bukankah sudah aku tegaskan berkali-kali hanya pacar pura-pura nona!" ucap Arvan kembali mengingatkan


" Tapi aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu Arvan!" ucap Talita jujur


" Sebaiknya buang jauh-jauh perasaan anda nona" ucap Arvan tegas lalu pergi meninggalkan Talita yang diam mematung dengan rasa sakit di hatinya.


" Aku pasti akan membuat mu jatuh cinta dengan ku Arvandra Pratama Zaindra!" teriak Talita saat Arvan sudah melangkah pergi meninggalkannya


Arvan tidak memperdulikan ucapan Talita ia terus melangkah pergi.


"Presdir!" ucap Hanan membuat langkah Arvan terhenti.


" Aku akan kembali ke kantor batalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan PT Mandala Grup" ucap Arvan tegas.


" Tapi Presdir bukankah ini peluang yang cukup baik untuk perusahaan jika kita bekerja sama dengan PT Mandala Grup?" tutur Hanan


" Tidak, aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang tidak profesional dan aku juga tidak mau wanita itu menjadi bumerang bagi keluarga ku kedepannya apalagi jika sampai Dira salah paham" tutur Arvan


" Anda begitu mencintai isteri anda sampai membuang peluang baik ini Presdir" ucap Hanan


" Tentu saja, apalagi saat ini isteriku tengah hamil aku harus memprioritaskannya terlebih dahulu" ucap Arvan.


" Ya sudah aku harus cepat kembali ke perusahaan kau urus mereka" lanjut Arvan


" Baik Presdir!" ucap Hanan.


Arvan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju perusahaan dan sesampainya di ruangannya Arvan terkejut karena tidak melihat keberadaan Grea.


Flashback off.


Arvan menceritakan semuanya kepada Grea tentang Talita tanta ada yang ditutupi karena dia tidak mau kedepannya membuat Grea menjadi salah paham.


Grea merasa sedikit tidak asing dengan nama Talita yang Arvan bicarakan, ia menjadi teringat dengan sahabatnya. tapi mungkin hanya namanya saja yang sama karena Talita sahabatnya tidak mungkin seperti itu pikir Grea lagipula nama Talita banyak.


Grea tersenyum setelah mendengar apa yang menjadi penyebab kegelisahan suaminya saat ini, Grea merasa senang karena ternyata Arvan begitu mencintainya sampai melepas peluang kerja sama dengan PT Mandala Grup hanya agar Grea tidak salah paham dan demi menjaga hati isterinya tersebut.


" Mas terima kasih ya!" ucap Grea yang langsung memberikan satu kecupan di pipi Arvan.


" Kamu!" Arvan terkejut dengan tingkah Grea yang tiba-tiba mengecup pipinya rasanya begitu nyaman dan menenangkan.


" Lagi!" rengek Arvan dengan manja menarik Grea duduk di atas pangkuannya.


" Mas ih ini dikantor " ucap Grea


" Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang!" ucap Arvan dengan santainya


" Mas harus kerja ih, jangan malas!" protes Grea


" Aku ingin bermanja-manja dengan isteri ku saat ini, apa tidak boleh hem?" tanya Arvan menaik turunkan alisnya


" Boleh mas tapi nanti saja ya dirumah!" pinta Grea dan akhirnya Arvan pun pasrah.


Arvan kembali ke kursi kebesarannya dan Grea hanya sibuk dengan ponselnya lalu tiba-tiba dia teringat dengan sahabatnya Caca.

__ADS_1


" Mas!" panggil Grea


Arvan menoleh " Ada apa?" tanya Arvan


" Mas aku boleh ya ke ruangan Caca!" ucap Grea membuat Arvan menghentikan kegiatannya dan meletakkan penanya


" Mas aku hanya sebentar!" lanjutnya


" Biar cacanya saja yang mas suruh kesini dan kalian bisa mengobrol di balkon yang ada di dalam kamar itu!" ucap Arvan tegas menunjuk ke arah kamar yang ada di ruangan tersebut


" Terima kasih ya mas" ucap Grea dengan senyum yang mengembang.


Arvan menyuruh Hanan untuk memanggil Caca dan betapa terkejutnya Caca saat melihat sekretaris Hanan berada di hadapannya begitu juga dengan Sisil dan Monik.


" Nona Caca di minta keruangan Presdir sekarang!" ucap Hanan membuat Caca seketika menegang dan sulit menelan salivanya.


" A... ada apa ya pak presdir memanggil saya sekretaris Han?" tanya Caca terbata-bata


" Mungkin saja kamu sudah melakukan kesalahan fatal yang membuat presdir murka, siap-siap saja kamu di semprot oleh presdir!" ejek Sisil.


" Sebaiknya anda cepat ikut saya nona Caca" ucap Hanan membuat Caca semakin gugup


" Tenang saja Ca, kalau kamu tidak melakukan kesalahan gak usah merasa takut!" ucap Nana rekan kerjanya


" Iya Na, makasih ya!" ucap Caca lalu beranjak dari duduknya dan ikut bersama sekretaris Hanan.


Sesampainya di ruangan Arvan sekretaris Hanan hanya mengantarkan Caca saja setelah itu ia kembali ke ruangannya.


" Ada apa Ca?" tanya Mbak Vivi saat melihat Caca yang tengah berdiri di depan pintu ruangan Presdir


" Gak tau mbak saya disuruh menghadap pak presdir kata sekretaris Han." sahut Caca


" Yaudah cepat sana masuk, jangan sampai pak presdir marah karena kamu belum juga masuk" ucap mbak Vivi


" Iya deh Mbak!" Caca menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu ruangan Presdir.


Tok


Tok


Tok


" Masuk!" teriak Arvan dari dalam


ceklekk


Caca nampak tegang keringat dingin pun sudah mengalir di seluruh tubuhnya.


" Ma...maaf pak presdir, ada hal apa ya pak Presdir memanggil saya?" tanya Caca dengan degup jantung yang berpacu sangat cepat


" Oh saya memanggilmu karena ada yang ingin bertemu dengan kamu dan saya ingin kamu menemaninya" jawab Arvan


" Menemaninya?" Caca menautkan alisnya


" Iya, sekarang dia sudah menunggumu di dalam ruangan itu temani dia dan layani dengan baik!" ucap Arvan membuat Caca kesulitan menelan salivanya.


Menemaninya? melayaninya dengan baik? ah kata-kata itu membuat Caca menerawang hal diluar batas.


" Tidak aku tidak boleh menurutinya meskipun dia atasan tapi jika menyangkut tentang harga diri ini tidak boleh dibiarkan" batin Caca


" maaf Presdir saya tidak bisa!" tolak Caca


Arvan yang tadinya fokus dengan berkas-berkasnya langsung menoleh ke arah Caca yang sudah nampak pucat


" Kamu menolak perintah saya?" tanya Arvan tegas


" Bu... bukan be.. begitu pak presdir, ta... tapi jika masalah begituan saya tidak mau ini sudah menyangkut tentang harga diri presdir" ucap Caca seraya menunduk dan seketika Arvan berdiri lalu berjalan menuju kamar pribadinya dan memanggil seseorang.


" Masuklah, saya tidak ingin ada penolakan!" ucap Arvan tegas


" Ti .. tidak Presdir" sahut Caca terbata


" Cepat masuk atau kamu mau saya pecat sekarang juga!" ancam Arvan membuat Caca semakin dibuat gemetar


" Saya mohon jangan lakukan ini terhadap saya presdir, saya akan bekerja dengan lebih baik lagi tapi saya mohon jangan seperti ini" pinta Caca dengan mata yang sudah berkaca-kaca


" Cepat masuklah kasihan dia sudah menunggumu terlalu lama" ucap Arvan membuat Caca akhirnya mau tidak mau menurut


Ceklekk


pintu kamar tersebut sudah dibuka " Masuklah dia menunggumu di balkon" ucap Arvan.


" Ba.. baik Presdir" ucap Caca dengan perasaan yang bercampur aduk Caca dengan terpaksa melangkah menuju balkon.


" Ma... maaf jika saya menunggu lama!" ucap Caca saat melihat seseorang duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari rotan dan Caca hanya melihat kakinya saja.


" Kok seperti wanita ya!" batin Caca


Sedetik kemudian " Caca!" teriak seorang gadis yang sudah bukan perawan lagi seraya beranjak dari ayunannya.


" Gre.. Grea?" ucap Caca memastikan


" Caca...!"


" Grea!"

__ADS_1


Keduanya pun saling berpelukan melepas rasa rindu yang sudah beberapa hari in tidak bertemu.


Caca merasa sangat lega ternyata dia sudah salah menduga dan ah rasanya malu sekali jika dia bertemu dengan atasannya itu yang sudah berpikir yang macam-macam.


__ADS_2