Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Menemui Talita


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Grea langsung dibawa oleh Arvan masuk ke dalam kamar.


" Istirahat ya sayang!" ucap Arvan sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri


" Mas!" panggil Grea membuat langkah Arvan terhenti


" Ada apa?" Arvan berbalik badan


" Aku mau mandi gerah juga lengket!" Grea hendak beranjak dari tempat tidur


" Yaudah kamu mandi duluan aja nanti aku siapin dulu ya airnya."


" Gak usah mas, biar aku sendiri aja!" Grea turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi namun sebelum Grea melangkah Arvan sudah lebih dulu menggendongnya


" Mas apa-apaan sih?" Grea mengerucutkan bibirnya


" Kita mandi bareng" ucap Arvan tanpa dosa sementara Grea sudah melotot


Akhirnya sepasang suami istri tersebut mandi bersama dan kali ini benar-benar hanya mandi tidak pakai plus-plus. Grea merasa lega karena Arvan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan Arvan justru begitu memperlakukan dirinya begitu lembut dan sangat perhatian.


Selesai mandi Arvan menyuruh Grea untuk tetap berada di kamar beristirahat sementara Arvan pergi ke dapur untuk membuat makan malam.


Grea yang merasa bosan berada di dalam kamar memilih untuk keluar kamar mencari keberadaan suaminya.


Harum masakan yang begitu menggiurkan membuat Grea yakin bahwa saat ini suaminya tengah berada di dapur. Grea pun melangkahkan kakinya menuju dapur.


" Mas masak apa, wanginya bikin aku tambah lapar!" ucap Grea seraya mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


" Tunggu saja sebentar ya ini juga sudah hampir selesai!" ucap Arvan sambil menuangkan sayur capcay yang baru saja dimasaknya.


Arvan meletakkan beberapa masakannya diatas meja makan, ada sayur capcay, ayam bumbu sambal hijau, tumis jamur tiram dan tidak ketinggalan tahu dan tempe.


" Mas yang masak ini semua?" tanya Grea saat melihat masakan Arvan yang sudah membuat perutnya ingin segera diisi.


" Iya sayang, mas sengaja masak ini untuk kesehatan kamu dan juga bayi kita" sahut Arvan yang tengah menyendokan nasi beserta lauk pauknya untuk Grea


" Mas seharusnya aku yang melakukan ini bukan kamu!" ucap Grea sendu merasa tidak enak dengan Arvan


" Sayang, untuk saat ini biarkan aku yang melakukan ini karena aku tidak mau istriku kecapean dan juga biarkan aku memanjakan istriku ditengah rasa lelahnya saat mengandung anakku" Arvan mendekatkan wajahnya ke Grea dan mengecup keningnya dengan lembut


" Terima kasih ya mas"


" Terima kasih untuk apa ?"


" Terima kasih untuk semuanya" Grea tersenyum dan Arvan mengacak-acak rambut Grea gemas


" Aku justru yang harus berterima kasih karena kamu sudah mau mengandung anak aku" ucap Arvan


" Aku bersyukur malah mas bisa mengandung anak kita, semoga kita bisa selamanya bersama ya mas sampai anak-anak kita menikah dan punya anak" tutur Grea


" Iya sayang, setelah baby lahir kita langsung gas pol ya sayang?" Grea melotot dan sedetik kemudian memukul lengan Arvan


" Enak aja memangnya bisa semudah itu. yang ini aja belum lahir kamu malah sudah memikirkan yang lain-lain dasar suami mesum!" kesal Grea mengerucutkan bibirnya


Arvan merasa gemas dengan Grea yang sedang marah, dia tertawa dan hal itu tentu saja membuat Grea semakin marah.


" ya gak apa-apa dong sayang, mesum juga sama isteri sendiri" Arvan meraih piring yang ada di hadapan Grea lalu mengambil sendoknya dengan telaten menyuapi Grea


" Sudah jangan banyak merajuk, ayo aaa...!" Arvan menyodorkan sesendok nasi beserta lauk pauknya kehadapan mulut Grea


Grea yang merasa lapar dengan senang hati memasukkan suapan sang suami kemulutnya.


" Bagaimana?" tanya Arvan


" Mas ini enak banget, mas Arvan benar-benar jago masak ya rupanya" sahut Grea


" Terima kasih sayang"


Mereka akhirnya makan saling menyuapi. Setelah selesai makan Grea duduk di ruang TV sementara Arvan merapihkan meja makan dan mencuci piring.


" Mas maaf ya!" ucap Grea saat Arvan mendudukkan dirinya di sofa sebelah Grea


" Gak perlu minta maaf sayang ini tugas mas, kamu tidak perlu merasa tidak enak karena mas ini suami kamu sudah sewajarnya kalau mas membantu pekerjaan kamu" ungkap Arvan


" Mas bagaimana kalau kita cari Art saja!" tutur Grea


" Terserah kamu aja sayang" sahut Arvan mengusap lembut rambut Grea


🖤


Pagi ini Arvan bangun lebih awal ia turun dari tempat tidur dengan perlahan takut membangunkan isterinya.


Arvan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menunaikan kewajibannya shalat dua rakaat.


Arvan mendekati tempat tidur lalu dengan lembut membangunkan Grea yang masih terlelap


" Sayang bangun dulu, sholat setelah itu kamu bisa tidur lagi!" Arvan mengguncang pelan bahu Grea


Grea melenguh mengumpulkan kesadarannya lalu perlahan membuka netranya menatap Arvan yang membungkuk di hadapannya.


" Mas!" lenguhannya


"Bangun dulu ya !" titah Arvan lembut


"Iya mas, tapi setelah itu aku tidur lagi ya!" ucap Grea yang pagi ini nampak tidak bersemangat


" Iya sayang!" sahut Arvan mengusap pucuk kepala Grea lalu beranjak keluar kamar.


Grea beranjak dari tempat tidur dan dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi.


Setelah melaksanakan sholat dua rakaat Grea kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur sementara Arvan sedang sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua terutama untuk ci calon ibu


Selesai memasak Arvan menyempatkan diri untuk membersihkan seluruh ruangan setelah itu baru ia pergi ke kamar untuk membangunkan Grea yang masih asik bergelut di balik selimut.


Arvan masuk ke dalam kamar, ia tersenyum melihat isterinya yang masih berada di balik selimut tebal.


" Sayang bangun ini sudah siang!" Arvan mengecup gemas pipi Grea yang kini nampak lebih mengembang.


" Mas aku masih ngantuk!" Grea masih memejamkan matanya


" Sayang kamu bisa istirahat lagi setelah sarapan!" titah Arvan terus mengusik tidur Grea


" Malas mas!" protes Grea dengan wajah yang ditekuk.


Dret...


Dret...


Ponsel Grea yang berada di atas nakas berdering Arvan meliriknya sekilas. " Ada telpon mungkin penting!" ucap Arvan

__ADS_1


" Tolong angkat mas!" Grea masih bermalas-malasan


Arvan meraih ponsel Grea dan keningnya berkerut saat melihat nama si penelpon.


" Siapa mas?" tanya Grea yang melihat Arvan bukan mengangkat telponnya tapi hanya menatapnya saja


Arvan menyodorkan ponsel yang berada di tangannya ke Grea


" Talita!" pekik Grea yang terkejut dengan nama si penelpon


" Apa kamu masih mau mengangkatnya?" tanya Arvan


" Iya, aku ingin tahu apa yang dia ingin katakan mas" sahut Grea


Grea menggeser tombol warna hijau dan di loud speaker agar Arvan pun mendengar apa yang ingin dibicarakan Talita.


" Hallo, assalamu'alaikum!"


..." Wa'alaikum salam, Grea !"...


" Ada apa Ta?"


..." Emm... loe sibuk gak hari ini?"...


" Kenapa memangnya?"


..." Gue mau ketemu sama loe bisa?"...


" Ketemu? apa ada hal penting yang ingin loe bicarakan sama gue kemarin kan kita habis bertemu"


..." Iya Grea, ada hal penting yang ingin gue bicarakan sama loe "...


" Soal apa? apa gak bisa dibicarakan sekarang aja ?"


..." Gak bisa Grea gue ingin kita bicara langsung empat mata dengan loe"...


" Apa segitu pentingnya?"


..." Iya Grea ini tentang masa depan gue"...


Grea mendengar kata masa depan langsung mengerutkan keningnya dan menatap kearah Arvan yang nampak menggelengkan kepalanya.


" Masa depan loe? gue gak tahu Ta bisa apa enggak, gue harus tanya ke suami gue dulu"


..." Yah Grea please dong, gak usah bilang suami loe Grea cuma sebentar doang kok"...


Arvan mengeraskan rahangnya mendengar perkataan Talita di sambungan teleponnya.


" Ya gak bisa gitu dong Ta, sebagai wanita bersuami haruslah gue izin dulu sama suami gue"


..." Sekali aja mah gak apa-apa kali Grea gak sering ini lagi juga loe pergi sama gue sahabat loe gak mungkin juga gue ngapa-ngapain loe, iyakan?"...


Arvan tersenyum miring mendengar percakapan isteri dengan teman lamanya itu.


" Iya, nanti deh gue kabarin lagi gue pikir-pikir dulu"


..." Oke, tapi usahakan bisa ya Grea!"...


" Iya"


^^^" Yaudah thanks ya Grea, gue tunggu kabar loe!"^^^


" Iya, assalamu'alaikum"


Grea meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu beranjak dari duduknya


" Apa kamu akan menemuinya?" tanya Arvan


Grea yang hendak melangkah ke kamar mandi pun menoleh " Menurut mas bagaimana?" Grea balik bertanya


" Aku tidak mengizinkan mu bertemu dengannya" Arvan beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Grea


" Tapi aku sangat penasaran hal penting apa yang ingin dikatakan Talita, apalagi dia bilang menyangkut masa depannya. apa mungkin ada hubungannya denganmu mas" Grea menatap lekat manik mata Arvan


" Aku tidak tahu, tapi yang aku khawatirkan kamu akan terpancing dengan omongannya"


" Tenang saja mas,aku bisa bedakan mana yang bicara benar dan mana yang pura-pura?"


" Benarkah? lalu bagaimana dengan ucapanku tempo hari apa kau percaya padaku hem?" Arvan mengusap pipi Grea lembut


Grea tersenyum " Entahlah!"


" Kau meragukan ku?"


" Emmmm... sedikit!" sahut Grea yang langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi.


" Grea!" teriak Arvan gemas.


Arvan keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan menunggu Grea yang sedang mandi. sambil menunggu Arvan membuka laptopnya memeriksa beberapa pekerjaannya yang dikirim oleh sekretaris Hanan.


Grea keluar kamar mandi dan tidak menemukan Arvan di kamarnya. setelah rapih Grea keluar kamar mencari keberadaan suaminya.


" Mas!" panggil Grea saat melihat Arvan tengah duduk di meja makan sambil fokus dengan layar laptopnya.


Arvan menoleh dan langsung menutup laptopnya


" Duduk sayang, kita sarapan dulu!" Arvan beranjak dari duduknya dan menggeser kursi disebelahnya untuk Grea duduk


Arvan dengan telaten mengambilkan sarapan untuk Grea " Ayo dimakan!" titah Arvan


" Mas, maaf ya!" ucap Grea sendu


" Maaf untuk apa sayang?"


" Maaf karena mas yang malah melayani aku, padahal aku masih bisa mas kalau hanya mengerjakan pekerjaan rumah "


" Sayang, aku tau kamu bisa tapi aku tidak ingin kamu kelelahan dan malah mengganggu kesehatan kamu dan juga calon bayi kita!"


" Tapi mas, aku merasa tidak enak, mas sudah capek dengan pekerjaan kantor ditambah lagi dengan pekerjaan rumah"


" Tidak apa-apa sayang, aku tidak masalah selama aku bisa kenapa tidak"


" Bagaimana dengan Art yang akan bantu-bantu disini mas?"


" Mungkin Minggu depan sayang, kata mamah Art yang akan bekerja di sini itu masih saudara dengan Art yang bekerja di rumah mamah"


" Oh yaudah kalau begitu" Grea kembali melanjutkan sarapannya.


" Sayang, apa kamu yakin ingin bertemu dengan wanita itu?" tanya Arvan saat ia hendak berangkat ke kantor

__ADS_1


" Iya mas, gak apa-apakan?"


" Tapi aku khawatir sayang, aku takut ia berbuat macam-macam"


" Mudah-mudahan tidak mas, selama ini aku mengenal Talita dengan baik dan sedikit pun dia tidak pernah melakukan hal yang buruk" sahut Grea yakin


" Cinta terkadang bisa membuat orang berubah sayang, jika cinta itu tulus ia bisa menerimanya dengan ikhlas tapi jika cinta yang sudah dikuasai oleh nafsu dan juga ambisi dia bisa berbuat nekat. dan aku takut wanita itu termasuk yang memiliki ambisi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan" tutur Arvan yang sangat mengkhawatirkan keadaan isterinya


" Semoga saja Talita tidak seperti itu" harap Grea


" Kamu sudah lama tidak bertemu dengan dia, bagaimana seorang Talita yang sekarang kamu tidak tahu apa-apa. jadi sebaiknya kamu harus tetap berhati-hati sayang" ucap Arvan mengingatkan.


" Iya suamiku " Grea merangkul lengan Arvan manja


" Kamu akan pergi jam berapa?" tanya Arvan selepas mendaratkan kecupan di kening Grea


" Mungkin sekitar jam sepuluh"


" Yaudah kalau kamu memang tetap ingin bertemu dengan wanita itu tapi sebelum kamu bertemu dengannya kamu kabari aku dulu!" pesan Arvan


" Iya siap"


" Aku berangkat dulu ya jaga diri baik-baik dan juga calon bayi kita" Arvan sedikit menunduk lalu mengecup perut Grea yang sedikit besar.


Setelah kepergian Arvan ke kantor Grea kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena Arvan melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah.


Sementara Arvan di kantor tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan Grea yang nekat tetap ingin bertemu dengan sahabat lamanya itu.


" Maaf presdir ada apa sebenarnya, kenapa raut wajah andah nampak gelisah sedari tadi?" tanya sekretaris Hanan


" Han kamu tahu Talita ternyata adalah sahabat isteri ku dan hari ini dia mengajak Dira bertemu dengannya. aku khawatir Han, kau tahu bukan Talita adalah wanita yang nekad aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya tapi dia tetap tidak percaya dan kemarin aku bertemu dengannya saat dia sedang bersama isteri ku." sahut Arvan


" Bagaimana kalau anda meminta Olin untuk mengawasi nyonya muda?" usul Hanan


" Iya kau benar, ah kenapa aku tidak kepikiran ke arah sana!" Arvan mengusap wajahnya kasar


" Han cepat kamu hubungi Caroline dan perintahkan dia untuk menjaga dan mengawasi Dira!" titah Arvan


" Baik presdir!" Hanan langsung menghubungi Caroline dan memintanya untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan Arvan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dan Grea tengah bersiap-siap untuk pergi menemui sahabatnya Talita.


Dan saat ini Grea sudah berada di sebuah restoran yang sudah dijanjikan Talita untuk bertemu dan sebelum berangkat Grea sudah memberitahu Arvan.


Hampir 15 menit Grea menunggu tapi Talita belum juga datang, Grea mendengus kesal lalu menghubungi Talita.


"Assalamu'alaikum"


..." Wa'alaikum salam!"...


" Ta kok loe belum juga datang sih?"


..." Sorry Grea gue lupa bilang sama loe, kalau tadi sewaktu mau berangkat tiba-tiba perut gue sakit banget"...


" Terus keadaan loe sekarang bagaimana?"


..." Masih sakit Grea, loe bisa ke apartemen gue gak sekarang, sekalian gue minta tolong untuk membelikan gue obat di apotik?"...


" Obat apa Ta?"


..." Bilang aja obat sakit perut , nanti gue kirim alamatnya"...


" Iya Ta "


Sambungan telepon ditutup Grea melihat pesan masuk dan ternyata dari Talita yang mengirimkan alamat apartmennya.


Grea pergi menuju alamat yang dikirimkan oleh Talita dan sebelum itu ia mampir terlebih dahulu ke apotik untuk membelikan obat yang diminta Talita


Grea mengirimkan pesan kepada Arvan memberitahunya kalau ia pergi ke apartemen Talita dan tidak lupa Grea pun mengirimkan alamatnya.


Sekitar 30 menit perjalanan Grea pun sampai di depan apartemen Talita.


Tok. Tok. Tok.


Grea mengetuk pintu apartemen Talita seraya melihat keadaan sekitar apartemen yang nampak sepi, ada rasa takut di dalam lubuk hati Grea namun berkali-kali ia mencoba menepisnya dan berusaha untuk tenang.


Grea mengetuk pintu apartemen kembali dan tidak lama pintu pun terbuka.


Ceklekk


" Ta loe gak apa-apa?" tanya Grea saat melihat Talita membukakan pintu


" Gue sudah sedikit lebih baik, masuk Grea!" Talita menyuruh Grea masuk.


Grea masuk ke dalam apartemen Talita dan duduk setelah Talita mempersilahkannya duduk.


" Sebentar ya Grea gue buatin loe minum dulu!"


" Gak usah Ta kalau haus juga gue bisa ambil sendiri lebih baik sekarang loe minum obat dulu aja terus istirahat!" Grea menyerahkan kantong berisi obat yang Talita pesan.


" Gak apa-apa Grea gue juga merasa sudah mendingan kok loe tunggu aja sebentar ya!" ucap Talita setelah itu ia langsung pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Grea


" Grea loe pasti haus, biasanya ibu hamil kan gampang haus!" ucap Talita menyodorkan segelas minuman teh yang baru saja dibuatnya


" Iya terima kasih Ta, tapi gue belum haus nanti aja gue minumnya" tolak Grea secara halus


" Oia, sebenarnya ada hal penting apa yang ingin loe bicarain ke gue Ta?" tanya Grea langsung pada intinya


" Sabar Grea santai aja dulu, nih sebaiknya loe minum dulu tehnya kasihan bayi loe pasti haus" ucap Talita seraya tersenyum miring


" Iya gue minum, bawel juga nih anak sekarang" seloroh Grea


" Ya gue kan khawatir nanti calon keponokan gue kehausan lagi" timpal Talita seraya tertawa penuh makna


" Bisa aja loe Ta!" Grea pun meneguk teh tersebut hingga setengahnya.


" Gue udah minum sekarang cepat loe sebenarnya mau bicara apa gue buru-buru nih takut suami gue marah gue keluar rumah begitu aja!" ucap Grea dengan suhu tubuh yang tiba-tiba berubah panas


" Ada apa ini kenapa rasanya aneh seperti ini, terasa begitu panas" batin Grea


" Santai aja Grea, loe nikmati aja dulu hari loe ini tanpa suami loe itu" ucap Talita dengan senyum yang mengembang


Grea yang masih setengah sadar mendengar kata-kata Talita bergidik ngeri takut wanita yang sudah dianggap sahabat itu berbuat hal yang buruk terhadapnya.


" Apa maksud ucapan loe Ta?" tanya Grea dengan rasa yang begitu tidak nyaman pada tubuhnya


Sebelum Talita menjawab pintu salah satu kamar terbuka dan menyembul dari balik pintu seorang pria dengan tawa penuh kemenangan.


Deg

__ADS_1


Grea menelan salivanya kasar saat melihat pria yang kini berada di hadapannya dengan tatapan memangsa


" Kalian?" ucap Grea dibalik keterkejutannya


__ADS_2