
Hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi tapi dua insan yang masih betah berada di dalam selimut belum juga terjaga dari tidurnya.
Tidak biasanya Grea bangun sesiang ini kecuali hari libur dia pasti akan bermalas-malasan tapi pagi ini Grea masih merasakan kenyamanan berada di balik selimut tebalnya.
Grea mengerjapkan matanya menetralkan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Grea melotot seketika saat menyadari ada lengan kekar yang menindih perutnya.
Deg
Deg
Deg
Grea menarik napas dalam-dalam berusaha untuk bersikap tenang karena ia menyadari siapa pemilik tangan kekar tersebut.
Dengan pelan-pelan Grea menyingkirkan tangan Arvan dan setelah itu ia bergegas pergi ke kamar mandi dengan detak jantung yang sudah tidak beraturan.
Arvan membuka matanya dan mengulum senyumnya setelah melihat Grea berlari masuk ke dalam kamar mandi. Arvan lalu beranjak dari tidurnya dan bergegas kembali ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.
Setelah setengah jam berlalu keduanya bersamaan keluar dari kamar masing-masing. Grea memasang wajah kesalnya karena Arvan diam-diam sudah berani masuk ke dalam kamarnya tanpa izin sementara Arvan seperti biasa memasang wajah datarnya.
Grea berjalan tergesa-gesa melewati Arvan yang tengah berdiri begitu saja tapi belum sampai mendekat ke arah pintu dengan cepat tangan Arvan sudah lebih dulu menarik Grea hingga membuat Grea membentur dengan keras dada bidang Arvan.
"Aww... kau ini apa-apaan sih, aku harus cepat-cepat berangkat sudah kesiangan, sebaiknya kau lepaskan tanganku!" ucap Grea sambil memberontak
" Kau lupa, kau boleh bekerja asalkan tidak lupa dengan kewajibanmu sebagai isteri!" ucap tegas Arvan membuat Grea mendengus kesal.
" Iya aku tahu dan ingat tapi untuk hari ini aku Minta maaf karena tidak bisa membuatkan mu sarapan. aku kesiangan dan itu semua juga salahmu sendiri!" kesal Grea
"Jadi kau menyalahkan ku?" tanya Arvan
" Iya!" ucap Grea tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun.
" Berani kau menyalahkan ku?" tanya Arvan yang sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Grea membuat jantung Grea berdegup kencang.
" A...aku, aku bukan menyalahkan mu tapi memang benar kau yang membuat ku bangun kesiangan!" sahut Grea dengan sedikit gugup
" Kau yang bangun kesiangan kenapa harus menyalahkan ku!" ucap Arvan yang tidak terima disalahkan.
" Ya memang kau yang salah, kenapa kau tidur di kamarku semalam?" ucap Grea tegas
" Ya karena kau itu isteriku" sahut Arvan santai
Deg
" Isteri!" gumam Grea dalam hati entah kenapa hatinya terasa hangat mendengar kata isteri dari pria arogan di hadapannya saat ini.
" Sudahlah aku tidak mau banyak berdebat lagi aku sudah terlambat dan aku tidak mau kau pecat lagi !" ucap Grea cepat
__ADS_1
" Yaudah ayok cepat berangkat!" Arvan langsung menarik tangan Grea dan dengan cepat Grea menepisnya membuat Arvan menatapnya tajam.
" Bukankah tadi kau bilang kau sudah kesiangan, ya sudah ayok cepat berangkat!" ajak Arvan.
" Aku akan berangkat sendiri!" tolak Grea
" Kenapa? apa kamu mau berangkat dengan laki-laki yang kemarin mengantarkan mu pulang iya?" bentak Arvan dengan emosi yang tiba-tiba memuncak setelah ingat bagaimana kemarin Grea pulang di antar oleh Ricko
" Ap..apa?" tanya Grea dengan keterkejutannya Grea mengira Arvan tidak akan tahu tapi ternyata dia salah, orang seperti Arvan pasti akan tahu apapun yang dia lakukan.
" Bukan aku tidak mau berangkat dengan mu, aku hanya tidak ingin menimbulkan gosip yang tidak baik di kantor" ucap Grea membuat Arvan menghela napasnya kasar.
" Aku tidak peduli soal gosip murahan itu yang jelas cepat ayo berangkat!" ucap Arvan tidak ingin dibantah
" Sudah aku bilang tidak bisa ya tidak bisa, aku tidak mau orang-orang melihat kita bersama nanti yang ada mereka akan benar-benar mengatakan aku ini adalah sugar daddy mu!" ucap Grea tegas membuat Arvan menautkan alisnya.
" Apa kau bilang sugar daddy, siapa yang berani mengatakan itu padamu hah!" bentak Arvan yang tidak terima mendengar Grea dikatakan seperti itu.
" Sudahlah kau berangkat saja duluan biar aku berangkat menggunakan taksi online" ucap Grea membuat Arvan mendengus kesal dengan sikap keras kepala sang istri.
" Tidak, kamu harus tetap berangkat bersamaku dan kau nanti bisa lewat pintu rahasia!" ucap Arvan tegas tidak ingin ada penolakan lagi.
Mau tidak mau karena waktu pun sudah semakin siang akhirnya Grea pun dengan terpaksa berangkat ke kantor bersama Arvan.
Disepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Arvan melirik ke arah Grea yang tengah asik menatap lurus ke depan.
" Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Arvan menoleh sekilas ke arah Grea
" Apa di kantor benar-benar ada yang mengatakan kalau kau adalah sugar daddy mu ku?" tanya Arvan yang menjadi penasaran
" Hemm!" sahut Grea yang enggan menimpali
" Siapa yang sudah berani mengatakan hal itu?" tanya Arvan dengan nada tinggi membuat Grea menoleh dan mendelik tajam.
" Bisakah kau itu bertanya baik-baik padaku?" tanya Grea mendengus kesal
" Katakan siapa dia?" tanya Arvan yang tetap dengan nada bicaranya.
" ishh!" kesal Grea lalu membuang pandangannya ke arah keluar jendela.
" Kenapa tidak menjawab?" tanya Arvan
" Menjawab apa?"
" Siapa yang mengatakan hal itu padamu?"
" Apa itu penting?" tanya Grea masih dengan membuang pandangannya
" Jelas penting bagiku!" ucap Arvan tegas membuat Grea akhirnya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Kenapa?" tanya Grea berpura-pura polos
" Kau tanya kenapa, dasar bodoh!' kesal Arvan lalu menyentil kening Grea.
" Aww...!" pekik Grea . "Kau mengatai aku bodoh!" ucap Grea kesal dan tidak terima di bilang bodoh
" Sudah jelas kau ini isteriku masih tanya kenapa?" kesal Arvan
Deg
" Aisshhh, ada apa dengan ini orang kenapa dari tadi selalu mengatakan hal itu?" gumam Grea dalam hati.
" Sebaiknya kau jadi sekretaris ku saja, setidaknya tidak akan ada yang berani menjelekkan mu!" ucap Arvan tegas
" Tidak, aku sudah nyaman dengan posisi saat ini, setidaknya aku ingin mengenal karakter mereka terlebih dahulu dan satu lagi aku ingin tahu bagaimana pandangan para karyawan tentang sosok seseorang yang berstatus suamiku" ucap Grea dengan tersenyum tipis.
" Maksud mu? jika kau ingin tahu tentang suamimu sendiri kenapa tidak kau tanyakan langsung dengan orangnya kenapa harus bertanya kepada orang lain?" tanya Arvan.
" Kalau aku bertanya kepada orangnya langsung yang ada dia akan narsis sendiri dan mana aku tahu sifat aslinya" ucap Grea
" Terserah kau sajalah tapi ingat satu hal kau ini isteriku dan jangan coba-coba bermain di belakang ku!" ancam Arvan tegas
" Cihh, seperti suami pencemburu saja!" gumam Grea pelan namun masih bisa Arvan dengar.
" Kenapa memang kalau aku pencemburu, kau isteriku apa salah jika suami cemburu dengan isterinya sendiri?" tanya Arvan membuat Grea semakin dibuat bingung dengan perubahan sikap Arvan hari ini.
" Kau ini kenapa sih, bukankah pernik_" belum selesai Grea dengan kata-katanya Arvan sudah memotongnya lebih dahulu.
" Kau itu isteriku, pernikahan kita sudah sah baik dimata hukum maupun agama. jadi jangan pernah mengatakan kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan pengganti. kita sudah sah menjadi suami isteri baik kau suka atau tidak tetap saja kita tidak bisa mengubahnya begitu saja kecuali jika kau memang ingin berpisah dengan ku maka aku tidak bisa memaksamu untuk tetap bertahan di sampingku!" ucap Arvan dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.
" Aku...!" ucap Grea bingung harus mengatakan apa
" Sudahlah jangan dipikirkan tapi satu hal yang harus kamu tahu aku akan berusaha untuk menerima pernikahan ini dan menjalani tanggung jawab ku dengan baik sampai kau yang memintaku sendiri untuk melepasmu" Grea benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang telah diucapkan Arvan. ini seperti mimpi baginya.
" Apa aku tidak sedang bermimpi?" tanya Grea Arvan langsung membanting stir mobilnya ke kiri.
Arvan menggeser duduknya dan menghadap ke arah Grea " Ini bukan mimpi, Aku baru menyadari betapa pentingnya pernikahan ini setelah Marcel yang hampir saja me_" Grea langsung memotong ucapan Arvan.
" Tolong jangan diungkit lagi kejadian itu!" ucap Grea membuat Arvan merasa sedikit bersalah
" Maafkan aku!" ucap Arvan meraih tangan Grea. " Kita mulai semuanya dari awal bagaimana?" tanya Arvan dengan senyum tipisnya
Grea yang melihat Arvan tersenyum tentu saja berdesir hatinya, ah sungguh manisnya senyuman Arvan sampai membuat Grea terus menatapnya tanpa berkedip.
" Hei!" Arvan memanggilnya tapi tidak digubris Grea masih hanyut dalam lamunannya sampai akhirnya Arvan memberanikan diri untuk mengecup bibir Grea membuat Arvan menahan tawanya karena Grea tetap tidak bergeming dan Arvan dengan sengaja langsung Me****t bibir Grea membuat Grea sontak langsung membulatkan matanya.
" Kau!" ucap Grea sedikit kesal dengan sikap Arvan.
" Gak usah cemberut gitu nanti juga terbiasa, tapi ingat hanya boleh dengan ku saja, camkan itu!" ancam Arvan membuat Grea mendelik tajam.
__ADS_1
" Kenapa melihat ku seperti itu, apa kurang? kita lanjutkan nanti di rumah ya, di ruangan ku juga boleh!" goda Arvan membuat Grea semakin kesal dibuatnya.