
" Ada apa ini, apa ada hal yang kami lewati?" tanya Arvan pada seorang pria yang semakin berjalan mendekat ke arah mereka.
" Ya, dan banyak hal yang ternyata wanita ini tutupi dariku" ucap pria yang tidak lain tidak bukan adalah Jimmy.
" Sudah berapa kali Arindia datang menemui?" tanya Jimmy yang sudah berdiri di hadapan Caca
Glek
Caca yang tadinya menundukkan pandangannya seketika mendongak dan tatapan mereka pun bertemu.
" Arindia? untuk apa adikku menemuinya?" tanya Arvan pandangannya menyorot ke arah Caca dan Jimmy bergantian
" Untuk mengancamnya" tegas Jimmy
" Mengancam? maksud mu mengancam bagaimana, untuk apa Arin adikku mengancamnya?" tanya Arvan yang merasa ucapan Jimmy hanyalah omong kosong belaka.
" Karena Arindia adikmu tahu kalau aku mencintai Caca" ucap Jimmy dengan lantang membuat Caca seketika tercengang mendengar pengakuan Jimmy dihadapan atasan sekaligus suami dari sahabatnya.
Caca membulatkan matanya sempurna menatap lekat mata Jimmy mencari sebuah kebohongan namun tatapan mata Jimmy memancarkan ketulusan dan kesungguhan akan besarnya cinta yang selama ini ia miliki untuk Caca.
" Bang Jim!" lirih Caca dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Aku benar-benar mencintaimu Ca, perasaan yang aku miliki sungguh-sungguh, aku tidak pernah berniat sedikitpun menjadikan mu sebagai sebuah pelarian. bagiku kisahku dengan Arindia hanyalah sebuah masa lalu. bersamamu aku merasa begitu nyaman dan keyakinan ku begitu kuat jika kamu adalah calon ibu dari anak-anakku kelak" ucap Jimmy dengan penuh keyakinan menatap wajah Caca begitu lekat.
" Tapi aku_" ucap Caca terjeda
" Aku tahu kamu masih meragukan perasaanku, tapi satu hal yang harus kamu tahu Ca, perasaan ini sungguh tulus kepadamu. aku tidak akan memaksa mu untuk menerima ku Ca, aku sudah cukup lega bisa mengatakan semua ini kepadamu setidaknya tidak ada lagi perasaan yang mengganjal di hati ku. jika kamu sudah memiliki laki-laki pilihanmu yang bisa membuat mu bahagia aku rela dan ikhlas Ca, setidaknya aku bisa melihat mu bahagia dan itu sudah cukup untuk ku" ucap Jimmy tulus.
" Bang Jim maafkan aku" Caca sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya
" Aku mohon jangan menangis, jika kata-kata ku ada yang salah aku minta maaf!" ucap Jimmy merasa bersalah
Caca menggelengkan kepalanya " Tidak, Bang Jim tidak bersalah aku hanya tidak tahu harus berkata apa, ini sungguh diluar dugaan ku!" ucap Caca yang sejujurnya merasa terharu dengan pengakuan cinta Jimmy terhadapnya.
" Tunggu dulu, sejak kapan kalian dekat dan Jimmy apa yang kamu katakan itu sungguh-sungguh?" tanya Arvan yang masih merasa tidak percaya dengan pengakuan Jimmy kepada Caca.
" Ceritanya panjang tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan si bere**sek itu mengganggu Caca lagi apalagi mencoba mendekatinya" jawab Jimmy
__ADS_1
" Dan kamu Arvan tolong jaga adik dan keponakanku dengan baik, jangan sampai Micko mengusik mereka!" lanjutnya
" Apa kau tahu juga tentang Micko?" tanya Arvan
" Ya aku baru tahu hari ini, dan Micko adalah orang yang cukup berbahaya. Dia pernah mengalami depresi sewaktu SMA, karena ditinggal kekasihnya yang meninggal dunia kecelakaan saat mereka sedang kegiatan camping dan wajah kekasihnya itu sedikit mirip dengan Grea oleh sebab itu saat dia tahu Grea sudah menikah penyakitnya mulai kambuh dan dia diam-diam menjadikan Caca sebagai kekasihnya sebagai ajang balas dendam akan rasa sakit hatinya ditinggal menikah." tutur Jimmy menceritakan hal yang sebenarnya
" Bagaimana Abang bisa tahu semua itu?" tanya Caca heran
" Aku menyuruh anak buahku untuk menyelidikinya!" sahut Jimmy
" Ya ampun ternyata Micko benar-benar membuat ku takut, Untung saja kami sudah terpisah!" ungkap Caca
" Dan lebih beruntung lagi jika kamu menerima lamaran ku!" seloroh Jimmy tertawa namun ada rasa penuh harap jika Caca menerima lamarannya.
" Apaan sih bang" keluh Caca membuat Arvan dan sekretaris Hanan menahan tawa karena lagi-lagi Jimmy mendapat penolakan Caca secara tidak langsung.
" Ca sebaiknya kamu terima saja lamaran dari Abang ipar ku ini, kasihan dia Ca kelamaan menjomblo" ledek Arvan
" Aku..." ucap Caca tiba-tiba terpotong
" Aku tidak setuju!" ucap seorang wanita dengan raut wajah penuh emosi
" Arin!" cicit Arvan
" Kak bukannya kakak tahu kalau aku sangat mencintai Jimmy, bagaimana bisa kakak meminta wanita penggoda itu menerima lamaran Jimmy!" protes Arindia melirik sinis kepada Caca.
" Arin kau tidak boleh bersikap egois seperti itu, kamu yang sudah melepaskan Jimmy dan meninggalkan dia tepat di hari pernikahan kalian dan bagaimana bisa dengan mudahnya kamu meminta untuk kembali lagi dengannya" ucap Arvan tegas
" Dan kalian tidak bisa bersama lagi karena kakak sudah menikah dengan Dira adik Jimmy dan Jimmy pun sudah tidak ingin menerima kamu lagi Arin, sadarlah!" lanjut Arvan
" Kak semua itu karena isteri kakak, seandainya saja kalian tidak menikah dan kakak tidak tergoda dengannya aku pasti masih bisa bersama Jimmy"
" Arin jaga ucapanmu, Dira isteri kakak jika saja waktu itu dia menolak dan tidak mau menikah dengan kakak entah apa yang terjadi dengan mama, karena perbuatan bodohmu itu kau membuat mama terkena serangan jantung" ucap Arvan menceritakan hal yang terjadi setelah perbuatan bodoh yang dilakukan adiknya itu.
" Tapi kakak tidak harus menikah dengan adiknya Jimmy kan" keluh Arin
" Kau tahu apa hem, kau pergi begitu saja tanpa memikirkan dampak dari kepergian mu itu. kamu sungguh membuat papa marah dan mama terkena serangan jantung. kau tahu perbuatan itu hampir saja membuat dua keluarga besar menanggung malu yang teramat besar dan jika Dira tidak menerima permintaan mama untuk menikah dengan kakak mungkin saat ini kita sudah ditinggal dijalanan, semua orang akan mencemooh dan perusahaan akan hancur begitu saja, apa itu yang kamu inginkan?"
__ADS_1
" Tidak kak, aku tidak berniat untuk menyusahkan kalian "
" Lalu apa?" Arindia terdiam
" Aku hanya tertipu oleh rayuan gombal Doni mantanku dan setelah sadar aku langsung pulang dan berharap bisa kembali lagi dengan Jimmy"
" Semua sudah terjadi dan kamu tidak bisa pungkiri itu, kakak sudah menikah dengan Dira dan kamu sudah tidak mungkin bersama Jimmy dia sudah menjadi adik ipar kakak " nasehat Arvan
" Kalau begitu kakak ceraikan saja Grea dan biarkan aku dan Jimmy bersatu!"
Plakk
Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus Arindia.
" Kakak!" lirihnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Jangan panggil aku kakak jika kamu punya niat buruk dengan pernikahan kakak. Bagaimana bisa kamu bicara semudah itu, apa kamu sudah tidak waras meminta kakak menceraikan wanita yang sangat kakak cintai dan dia adalah ibu dari anak kakak!" geram Arvan
" Aku mencintai Jimmy kak, jadi aku mohon kak izinkan kami bersatu kembali kak!" pinta Arindia
" Sudahlah Arin, sebaiknya kamu terima kenyataan dan segeralah pulang!" ucap Arvan yang tidak digubris oleh Arin
" Jimmy" panggil Arindia yang ingin mendekat ke arah Jimmy
" Jaga batasan mu Arindia, hubungan kita sudah selesai dan aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi dengan mu" ucap Jimmy tegas
" Aku akan segera menikah dengan Caca dan kamu tidak berhak ikut campur bahkan sampai mengancamnya. jika aku tahu kamu melakukan hal itu lagi aku pastikan Arin aku akan membencimu seumur hidup dan aku tidak akan mau bertemu dengan mu lagi" ucap Jimmy membuat Arin semakin geram dan menyorot tajam ke arah Caca.
" Aku tidak akan terima, kamu hanyalah milikku dan wanita sialan itu tidak akan bisa memiliki mu seutuhnya. aku akan menghancurkannya. camkan itu!" ancam Arindia
" Arin!" bentak Arvan
" Kakak!" lirih Arindia
" Kak Arvan jahat.... jahat...!" teriak Arindia yang langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Arvan hanya bisa mengelus dada dan menatap gamang kepergian Arindia yang menghilang di balik pintu yang terbuka dengan kasar.
__ADS_1
" Kakak benar-benar kecewa sama kamu A