Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Malu


__ADS_3

Jlepp


Grea yang awalnya menunduk langsung mendongakkan kepalanya mendengar cerita Arvan kalau Talita meminta Arvan menceraikannya.


" Mas!" tanpa sadar air mata Grea menetes


Arvan membuang napasnya kasar " Sayang, apapun yang terjadi dan apapun yang wanita itu katakan aku harap kau akan tetap percaya kepada suamimu ini dan hatimu tidak akan pernah goyah oleh apapun!" pinta Arvan


" Aku sangat mencintaimu dan juga calon buah hati kita sayang!" Arvan mengusap lembut perut Grea lalu mendaratkan kecupan hangat disana


" Jujur saja saat aku tahu Talita sahabatmu itu ternyata adalah Talita yang sama, aku sangat takut kau akan dipengaruhi olehnya!" Arvan menangkup wajah Grea dengan kedua tangannya dan menatap lekat mata Grea dengan tatapan penuh cinta.


" Jangan pernah meragukan hati ku sayang apapun yang akan dia katakan padamu, kamu hanya boleh percaya padaku suamimu sayang!"


Grea menatap lekat mata Arvan dan hanya ada cinta dan ketulusan yang ia lihat dengan pelan Grea mengangguk.


" Kita pulang!" ucap Arvan


" Bukankah kau harus kembali ke kantor!" tanya Grea


" Han yang akan menghendle semua pekerjaan ku, karena saat ini yang ada di isi kepala ku hanya kamu percuma juga aku datang ke kantor jika hatiku terus memikirkan kamu" ucap Arvan seraya menghidupkan kembali mesin mobilnya.


" Tapi mas kasihan Han jika kamu terus menerus membebankan semua pekerjaan kepadanya" ucap Grea membuat Arvan mendelik tajam


" Maksudku sebagai atasan kamu harus lebih bertanggung jawab dengan pekerjaan kamu mas!" Terang Grea takut Arvan salah paham dengan ucapannya


" Aku akan menunggu di ruanganmu" lanjut Grea sebelum Arvan protes


" Apa kamu tidak berkeberatan?" tanya Arvan


" Tidak"


" Bagaimana kalau kamu ikut dengan ku?" Grea mengerutkan keningnya


" Ikut aku meeting" terang Arvan


" Apa boleh?"


" Siapa yang berani melarang, kamu isteriku dan kamu juga bisa sambil belajar " tutur Arvan dan Grea sedikit berpikir lalu mengangguk setuju


" Baiklah kalau begitu!" ucap Grea


Arvan akhirnya melajukan mobilnya ke arah kantornya dan setibanya di sana Grea dan Arvan langsung memasuki ruangannya


Tok..


Tok..


Tok..


" Masuk!" teriak Arvan


" Maaf Presdir sudah waktunya anda rapat!" ucap Hanan memberitahu


" Iya aku akan segera kesana!" sahut Arvan seraya berdiri dari kursi singgasananya sambil membenarkan jasnya.


" Ayo sayang!" ajak Arvan mengulurkan tangannya ke arah Grea yang nampak mematung memandang tangan Arvan yang terulur kepadanya.

__ADS_1


" Aku disini sajalah mas!" tolak Grea halus


" Tidak sayang, kamu harus ikut bukannya tadi aku sudah mengatakannya ya biar kamu bisa sambil belajar" sahut Arvan


" Tapi aku lagi mager mas" Grea mengerucutkan bibirnya


" Ibu hamil gak boleh mager, ayo sayang!" Arvan masih mengulurkan tangannya dan tersenyum lembut. Grea pun akhirnya pasrah dan menurut begitu saja.


Arvan berjalan menggandeng tangan Grea posesif sementara Hanan dan Vivi berjalan mengekor di belakangnya.


Semua anggota rapat sudah menunggunya termasuk Sisil dan Monik yang mewakili kepala bagiannya.


Sisil menatap sinis ke arah Grea yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Arvan sang presdir. Sementara Grea tidak mau ambil pusing dengan sikap yang ditunjukkan Sisil kepadanya ia tetap melempar senyum kepada semua orang yang berada di ruang rapat sedangkan Arvan berjalan tegap dengan aura yang cukup membuat orang-orang menjadi tegang.


" Mas aku duduk di sana saja ya?" Grea menunjuk satu kursi yang berada di pojok dekat jendela dengan ekor matanya.


" Tidak sayang kamu harus tetap berada di samping aku!" tegas Arvan berbisik


" Tapi mas_!" Grea hendak protes namun sudah terpotong oleh Arvan


" Mau duduk di samping aku atau di atas pangkuan ku hem?" bisik Arvan membuat Grea langsung melotot dan mau tidak mau pasrah saja karena jika terus protes alhasil Arvan pasti akan benar-benar menyuruhnya duduk di atas pangkuannya


Melihat wajah Grea yang memberengut membuat Sisil dan Monik berpikir kalau Arvan memarahinya, senyum pun mengembang di wajah-wajah licik mereka.


Grea duduk di samping Arvan tanpa sadar kalau yang duduk di sebelah kanannya adalah Caca


" Kenapa bu bos wajahnya ditekuk gitu?" tanya Grea sedikit berbisik namun membuat Grea terkejut bukan main dan secara refleks berteriak " Caca!"


Grea langsung membekap mulutnya sendiri tersadar dirinya berada di mana saat ini apalagi tatapan horor dari sang suami membuat Grea langsung menunduk.


Setelah memberi penjelasan dan penjabaran tentang point apa saja yang harus para anggota rapat lakukan Arvan menyudahi rapatnya dan langsung beranjak dari duduknya. Grea yang melihat Arvan berdiri secara spontan langsung ikut berdiri. Arvan kembali meraih tangan Grea dan menggenggamnya erat lalu pergi meninggalkan ruang rapat begitu saja.


Setelah sampai di ruangannya Arvan duduk di sofa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


" Kamu kenapa mas?" tanya Grea melihat wajah lelah sang suami


" Tidak apa-apa" sahut Arvan yang tengah memejamkan matanya


" Istirahat dulu mas!" Grea menarik bahu Arvan merebahkan kepalanya di pangkuan Grea.


Arvan memiringkan kepalanya menghadapkan wajahnya ke arah perut Grea dan membenamkan wajahnya di sana. Grea mengusap lembut kepala Arvan dan hanya beberapa detik saja Arvan sudah berada di alam mimpi.


Mendengar dengkuran halus yang begitu teratur Grea tersenyum tipis melihat wajah lelah suaminya yang tengah tertidur.


" Kamu pasti capek banget ya mas cepat banget sudah tidur" gumam Grea


Sudah hampir satu jam Arvan tertidur berbantalkan paha sang isteri Grea sebenarnya sudah merasa pegal tapi untuk membangunkan suaminya rasanya Grea tidak tega jadi dia membiarkannya begitu saja dengan duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.


Arvan menggeliat dan terkejut mendapati dirinya yang tertidur di paha sang isteri apalagi melihat Grea yang ikut tertidur. Arvan beranjak dari tidurnya dan duduk di samping Grea merasakan adanya pergerakan Grea pun terbangun.


" Kamu sudah bangun mas?" tanya Grea


Arvan melihat jam ditangannya dan betapa terkejutnya dia saat sadar kalau ternyata dia tertidur selama dua jam


" Sayang kamu kok tidak membangunkan aku?" tanya Arvan sedangkan Grea membenarkan posisi duduknya.


" Akh!" pekik Grea yang merasakan kebas di pahanya

__ADS_1


Arvan yang mendengar suara pekikan Grea langsung panik " Kamu kenapa sayang?"


" Aku tidak apa-apa mas" sahut Grea mencoba menahan pegal di seluruh tubuhnya


Arvan tidak sebodoh itu jelas-jelas ia melihat Grea sedikit meringis tapi sang isteri tetap saja mengatakan tidak apa-apa.


Arvan beranjak dari duduknya lalu mengambil air minum yang berada di atas mejanya.


" Minum dulu sayang!" Arvan menyodorkan air minum kepada Grea


" Terima kasih mas!" Grea meraih gelas tersebut dan meneguk airnya hingga setengahnya.


Arvan meraih gelas tersebut dan meletakkannya di atas meja lalu tangannya terulur untuk memijat kaki Grea.


" Mas sudah tidak usah, gak enak jika tiba-tiba ada karyawan mas yang datang dan melihat mas seperti ini!" ucap Grea saat Arvan duduk disampingnya dan meraih kaki Grea keatas pangkuannya lalu memijatnya dengan lembut.


" Tidak masalah buat aku, memanjakan isteri apa salahnya" sahut Arvan


" Kamu juga yang salah kenapa membiarkan mas tertidur diatas pangkuan kamu sampai selama itu?" keluh Arvan yang tidak tega melihat wajah lelah sang isteri.


" Kamu itu sedang hamil tidak terpikir apa dengan kondisi kesehatan bayi kita hem?" ucap Arvan yang sedikit meninggi


" Mas marah?" tanya Grea yang sudah berkaca-kaca. sejak hamil Grea memang lebih sensitif jika Arvan sedikit meninggikan suaranya maka Grea akan berkaca-kaca dan yang lebih parahnya lagi menangis sampai sesenggukan.


Arvan mengusap wajahnya kasar menyesal karena sudah berbicara keras dengan isterinya.


" Maaf sayang bukannya aku marah tapi hanya khawatir aku tidak mau kamu kenapa-napa karena aku kamu merasa pegal dan kebas." Arvan menarik Grea ke dalam pelukannya


" Maafin aku ya sayang!" Arvan mendaratkan kecupan di kening Grea dan Grea hanya menjawab dengan anggukan kepala


" Yaudah kita pulang sekarang yuk!" ajak Arvan


" Iya mas" sahut Grea


Arvan beranjak dari duduknya dan pada saat Grea hendak berdiri tiba-tiba Grea merasakan kakinya terasa sangat pegal dan nyeri


" Auw.." pekik Grea yang kembali duduk


" Ada apa sayang?" tanya Arvan cemas


" Kaki aku sakit mas sedikit nyeri" sahut Grea dengan sendu karena merasa sedikit bersalah dengan Arvan


Tanpa banyak bicara Arvan langsung mengangkat tubuh Grea.


" Mas!" pekik Grea saat tubuhnya sudah melayang di udara


Arvan menggendong Grea ala bridal style " mas turunkan aku, biar aku jalan sendiri saja!" protes Grea memberontak untuk turun


" Diam!" ucap Arvan tegas


" Tapi mas bagaimana dengan pandangan karyawan kamu jika melihat kita seperti ini?"


" Aku tidak peduli!" Arvan melangkah dengan tegas keluar dari ruangannya.


Grea yang merasa malu karena tatapan mata semua karyawan yang mengarah kepadanya mengalungkan tangannya ke leher Arvan lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami tercinta.


Arvan melangkah tegas berjalan menuju mobilnya menghiraukan pandangan mata para karyawannya.

__ADS_1


__ADS_2