
Grea dan para sahabatnya mengobrol seperti biasa tidak ada perubahan sikap diantara mereka walaupun mereka tahu Grea kini sudah menjadi isteri dari pengusaha sukses yang terkenal dan dia juga mengabaikan keberadaan Caroline yang menurutnya wajar saja siapa pun bisa berada di tempat tersebut.
" Jangan pada sungkan ya walaupun kalian sudah tahu siapa laki gue" pinta Grea seraya menyeruput minumannya.
" Ya tetap aja Grea gak bisa sesantai dulu kalau sama loe yang sekarang secara bininya bos gitu, yang ada nanti gue dipecat lagi sama laki loe!" Seloroh Caca
" Ya enggak segitunya juga kali Ca" ucap Grea seraya mengerucutkan bibirnya
" Hebat ya loe sekarang Gre, sudah menjadi isteri seorang pengusaha sukses!" ucap Micko tiba-tiba dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
" Ya, biasa aja kali Micky!" ledek Grea karena merasa ada sesuatu yang berbeda dengan tatapan Micko kali ini
" Micko enak aja loe ganti-ganti nama orang!" protes Micko yang tidak terima dengan panggilan Grea
" Yaelah babang masih aja protes itukan nama panggilan kesayangan gue ke elo bang Micky!" ucap Grea santai tanpa dosa tidak sadar dengan ucapannya yang ternyata membuat hati Micko menghangat.
Deg
" Panggilan kesayangan, apa mungkin selama ini Grea_?"
Batin Micko bermonolog
" Gre, kok loe gak go publik aja sih? Emangnya loe gak mau gitu hubungan loe sama pak presdir diketahui semua orang?" tanya Caca
Grea tersenyum dan menarik napasnya dalam-dalam
" Gue sih sudah nyaman Ca dengan keadaan seperti ini, gak banyak yang tahu menurut gue itu lebih bagus, setidaknya gue bisa lebih santai kalau mau kemana-mana" sahut Grea
" Loe tahu sendiri kan Ca, walaupun laki gue itu si balok es gitu-gitu juga Ca fansnya banyak. gue juga bingung apa coba yang mereka lihat dari Arvan sampai-sampai ada yang segitu terobsesinya" lanjut Grea
" Ya loe gimana sih Gre, secara laki loe pengusaha sukses, tajir melintir, tampan dan mandiri lagi. siapa coba yang gak naksir? gue aja naksir kalau bukan suami sahabat gue sendiri sih" Ucap Caca seraya tertawa.
" Wanita normal ya pastilah suka tipe cowok seperti Arvandra, apalagi tipe cowok kayak gue!" ucap Bimo menimpali seraya tertawa
" Iya... iya paham gue bang, muntang-muntang mau nikah!" sahut Grea
" Nikah? loe beneran Bim mau nikah?" Caca terkejut
" Do'akan saja!" sahut Bimo seraya tersenyum
" Wah ada yang bakalan nyusul Grea " ucap Caca lalu melirik kedua cowok yang berada di hadapannya
" Loe kenapa ngeliatin gue kayak gitu Caca marica?" tanya Jojo seraya melempar Caca dengan cemilan yang ada di atas mejanya.
" Loe kapan Jo nyusul ni manusia dua?" tanya Caca seraya menaik turunkan alisnya.
" Loe aja belom!" sergah Jojo
" Kalau gue kan masih kecil Jo" ucap Caca seraya tertawa karena memang tubuhnya yang pendek terlihat seperti masih anak-anak.
" Loe sih anak kecil yang sudah bisa bikin anak kecil Ca" ucap Bimo seraya mengacak-acak rambut Caca membuat hati Caca sedikit tersentil
" Gue bagaimana mau nikah Ca tuh si Grea nya aja udah jadi isteri orang, patah hati nih gue!" seloroh Jojo pura-pura sedih
" Serius loe Jo patah hati Grea udah nikah? gawat ini sih " timpal Caca
" Ya bang Jo mau bagaimana lagi dong gue sudah terlanjur bucin sama suami gue" Grea pun ikut menimpali
" Gak apa-apa Grea asalkan loe bahagia gue rela tapi jika tuh si beruang kutub nyakitin loe"
" Bang Jo kok beruang kutub sih?" protes Grea
" Yaelah Grea loe mah merusak suasana, gue belum selesai juga" Grea tertawa melihat Jojo dengan tingkah konyolnya.
" Lagi siapa suruh ngatain orang beruang kutub?"
" Cih dasar bucin!" ucap Bimo geleng-geleng kepala melihat Grea yang tidak terima suaminya dibilang beruang kutub.
"Lanjut bang Jo!" pinta Grea
" Lanjut apanya?" tanya Jojo santai
" Yang tadi asalkan gue bahagia bang!" Grea menaik turunkan alisnya
" Ya gitu!" Jojo mengangkat kedua bahunya
" Ya gitu apa bang Jo?" Grea mulai kesal
" Intinya Greandira, kalau loe bahagia gue juga ikut bahagia tapi kalau dia sampai menyakiti loe lagi loe harus janji untuk memberitahu gue biar nanti gue kasih pelajaran sama tuh orang!" ucap Jojo tegas
" Menyakiti loe lagi? maksudnya apa nih?" tanya Bimo penasaran
" Apa pernah terjadi sesuatu dan kalian berdua gak ceritain ke kita-kita?" tanya Caca yang sama pemasarannya dengan Bimo.
" Apa dia pernah nyakitin loe Gre?" Tanya Micko yang cukup khawatir dengan pernikahan Grea yang dibilang karena sebagai pengantin pengganti
" Gak ada apa-apa kok cuma salah paham aja dan sekarang sudah beres kok" sahut Grea
Tanpa mereka sadari Caroline dari jauh terus saja memperhatikan interaksi mereka dengan Grea.
" Gre, itu cewek kok belum juga pergi ya?" tanya Caca yang kembali memperhatikan Caroline
" Biarin aja Ca mungkin dia sedang nunggu pacarnya yang belum juga datang!" sahut Grea
" Gre!" panggil Micko
__ADS_1
Grea yang tengah berbicara dengan Caca pun menoleh ke arah Micko " Ada apa babang Micky?" tanya Grea
" Grea apa loe bahagia dengan pernikahan loe?" tanya Micko membuat Caca, Bimo dan juga Jojo terperangah dengan pertanyaan Micko terlebih lagi Grea yang sempat diam sejenak.
" Kenapa loe tanya kayak gitu Micko?" tanya Grea yang melihat tatapan lain pada Micko hingga membuat dia mengucapkan nama Micko bukan Micky seperti biasanya.
" Tentu saja gue bahagia dengan pernikahan gue, kalau gue gak bahagia gue gak mungkin sekarang mengandung anaknya" tuturnya
Deg
" Loe hamil?" Micko terkejut begitu juga dengan Bimo
" Jadi loe sekarang sedang hamil Grea?" tanya Bimo
" Iya, gue sedang hamil dan gue merasa sangat bahagia bisa mengandung benih seorang Arvandra Pratama Zaindra!" sahut Grea dengan bangga
" Tentu saja loe senang secara dia orang kaya bahkan sampai tujuh turunan pun kekayaannya tidak akan habis" sergah Micko
" Maksud loe apa bicara seperti itu?" Grea semakin tersulut emosi
" Semua wanita sama memandang laki-laki hanya melihat fisik dan juga kekayaannya" ucap Micko yang semakin membuat Grea memanas
" Loe_!" ucap Grea yang dipotong oleh Bimo
" Sudah cukup, kenapa jadi bersitegang kayak gini sih?" Bimo menengahi
" Loe Micko, kenapa loe bicara seperti itu sama Grea? kita sudah mengenal baik bagaimana seorang Greandira. dan loe bisa-bisanya bicara seperti itu tentang Grea!" Bimo pun tidak tahu bagaimana bisa Micko mengatakan hal yang menyakiti seperti itu
" Jadi loe menganggap gue mau menikah dengan Arvan karena gue menginginkan hartanya, begitu?" tanya Grea dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Apa hak loe menilai gue seperti itu?" Grea benar-benar merasa kecewa dengan ucapan Micko
Sebenarnya Micko merasa menyesal mengucapkan sesuatu yang sudah menyakiti Grea tapi demi menutupi perasaan kecewanya dia malah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
Micko memilih untuk diam karena jika ia membalas ucapan Grea yang ada semakin membuat Grea sakit hati.
" Micko, loe kenapa sih kok bicaranya kayak gitu? tanya Jojo yang juga merasa kesal dengan Micko
" Kenapa memangnya, apa ucapan gue salah?" tanya Micko tanpa merasa bersalah
" Tentu saja bodoh!" sarkas Jojo
" Grea itu tidak mungkin melakukan seperti yang loe tuduhkan" lanjutnya
" Kenapa loe bisa sampai seyakin itu?" tanya Micko
" Karena dia sahabat gue!" sahut Jojo
"Sahabat cih!" ucap Micko meremehkan
" sudahlah, gue mau pulang aja. gak usah dibahas!" ucap Grea dengan sendu
" Ca, loe harus balik ke kantor kan?" tanya Grea
" Iya, " sahut Caca
" Yaudah ayuk pulang!" ajak Grea
" Iya.. iya!" Caca.
Grea pun meninggalkan restoran bersama Caca dan kepergian mereka membuat Jojo merasa kesal dengan Micko lalu dia pun beranjak dari duduknya pergi begitu saja meninggalkan Micko yang masih ditemani oleh Bimo
" Loe gak seharusnya berbicara seperti itu bro, kita sudah mengenal Grea dari dulu. Jika dia seperti apa yang loe tuduhkan itu tidak mungkin Grea selama ini kerja sana sini padahal kita juga tahu siapa sebenarnya dia, yang tinggal minta dengan orang tuanya juga dia bisa memenuhi semua keinginannya. Tapi seorang Greandira tidak seperti itu dia selalu berusaha mandiri dan tidak mengandalkan kekayaan orang tuanya. bahkan sudah menikah pun dia masih mau bekerja sebagai OG di kantor suaminya sendiri" tutur Bimo lalu beranjak dari duduknya dan sebelum pergi Bimo menepuk-nepuk bahu Micko.
Setelah semuanya pergi Micko mengusap wajahnya kasar, menyesali ucapannya yang sudah membuat Grea menjadi marah dengannya.
Micko beranjak dari duduknya dan berjalan dengan gontai meninggalkan restoran tersebut dan saat sampai di parkiran tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita sampai terjatuh.
" Sorry.... sorry... , gue gak sengaja!" Micko membantu wanita tersebut berdiri
" Gak apa-apa, gue juga tadi kurang hati-hati" jawab wanita tersebut yang tidak lain adalah Talita.
" Loe gak apa-apakan, apa ada yang sakit?" Tanya Micko
" Gue baik-baik aja, gak ada yang sakit"
"Sekali lagi gue minta maaf !" ucap Micko yang sedikit merasa bersalah
" Iya!" sahut Talita seraya tersenyum.
" Yaudah kalau gitu gue duluan ya!" ucap Talita dan Micko mengangguk namun saat Talita hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba kakinya terasa sakit dan Talita hampir terjatuh jika tidak dengan cepat Micko meraih tubuhnya.
" Aw..!" pekik Talita
" Katanya gak apa-apa, ini apa namanya?" tanya Micko dengan wajah datar
" Terima kasih ya!" ucap Talita
" Yaudah gue bantu, loe mau kemana sekarang?" tanya Micko
" Gue mau pulang aja deh!" sahut Talita
" Apa kerumah sakit aja takutnya kaki loe kenapa-napa!" saran Micko
" Gak apa-apa gue cuma terkilir sedikit nanti juga sembuh" ucap Talita menolak
__ADS_1
" Yaudah kalau gitu loe gue antar pulang aja biar nanti mobil loe gue suruh orang untuk mengantarkannya!" usul Micko
" Gak usah, gue masih bisa bawa mobil kok ini cuma sakit sedikit aja!" tolak Talita yang kemudian berjalan kearah mobilnya dengan kaki yang sedikit pincang.
" Tunggu, ini kartu nama gue kalau ada apa-apa loe bisa hubungi gue karena bagaimanapun kaki loe seperti itu gara-gara gue juga kan!" ucap Micko seraya menyodorkan kartu namanya.
Talita menatap kartu nama yang berada di tangan Micko dan sedetik kemudian baru ia mengambilnya.
" Oke gue simpan!" Talita tersenyum
" Oia, nama loe siapa kalau boleh gue tahu?" tanya Micko lalu mengulurkan tangannya
" Gue Talita!" jawab Talita menyambut uluran tangan Micko.
" Yaudah sampai jumpa ya!" Talita kembali melangkah kakinya dan masuk ke dalam mobil
🖤
Didalam taksi Grea diam saja, Caca pun tidak berani bertanya dia tahu bagaimana suasana hati sahabatnya yang pasti merasa sangat kecewa dengan sahabat mereka Micko.
Tidak berapa lama mereka sampai di perusahaan dan di lobi Grea dan Caca berpisah karena Caca akan kembali ke ruangannya, dengan langkah gontai Grea masuk ke dalam lift dan saat lift terbuka betapa terkejutnya Grea yang berpapasan dengan wanita yang ditemuinya di restoran tadi.
" Kau kan_?" tanya Grea menggantung
" Selamat siang nyonya Arvandra!" sapa Caroline sedikit membungkukkan badannya tanda hormat.
Grea mengerutkan keningnya dengan sikap Caroline dan sedetik kemudian ia pun baru tersadar. " Jadi kau yang diperintahkan untuk memata-matai ku oleh suamiku?" tanya Grea dan Caroline hanya menjawab dengan senyuman.
" Permisi nyonya!" bukan menjawab Caroline masuk ke dalam lift dan kembali membungkukkan sedikit badannya.
Grea dengan langkah cepat masuk ke dalam ruangan suaminya.
Ceklekk
Saat membuka pintu diruangan tersebut ada Arvan yang sedang berbicara dengan Hanan.
" Sayang!" Arvan beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Grea. Dia tahu suasana hati Grea atas laporan Caroline yang sudah menceritakannya dan sebagian Arvan melihat sendiri melalui video yang Caroline kirimkan.
" Duduk dulu ya!" Arvan menggiring Grea ke sofa dan menyuruhnya duduk
Hanan langsung keluar dari ruangan tersebut
" Permisi presdir... Nyonya presdir!" ucap Hanan sedikit membungkuk lalu pergi
" Apa mas menyuruh wanita yang bernama Caroline itu untuk memata-matai aku?" tanya Grea
Arvan memincingkan matanya" Caroline? apa kamu mengenalnya?" tanya Arvan yang sedikit terkejut pasalnya dia belum pernah memperkenalkan Grea dengan Caroline
Grea mengangguk " Wanita yang baru saja keluar dari sini, Caroline bukan?" tanya Grea
"Kamu bertemu dengannya?" tanya Arvan dengan lembut dan Grea mengangguk pelan
" Dia yang akan menjagamu jika kamu tidak sedang bersama ku!" ucap Arvan dengan nada lembut dan membawa Grea kedalam pelukannya
" Maksud mas?" tanya Grea
" Dia akan menjadi asisten mu !" jawab Arvan santai
" Asisten?" Arvan mengangguk
" Jika aku tidak bisa menemanimu maka dia yang akan menjaga mu" Arvan merapihkan anak rambut Grea yang menjuntai
" Kenapa harus Caroline?" tanya Grea
" Karena dia wanita dan aku gak mau kamu berada di dekat laki-laki lain selain Jimmy dan kedua orang tua kita tentunya" sahut Arvan
" Tapi_"
" Tidak ada penolakan, kamu belum mengenalnya saja, jika sudah mengenalnya kamu pasti akan menyukainya. dia gadis yang baik " Grea cemberut membuat Arvan menaikkan satu alisnya
" Kenapa hem?" tanya Arvan
" Apa kau menyukainya?" tanya Grea dengan tatapan sendu
" Pertanyaan macam apa itu? kau ini lucu sekali!" Arvan mengurai pelukannya dan mengacak-acak rambut Grea gemas seraya terkekeh.
" Jawab saja jangan malah tertawa seperti itu, menyebalkan!" kesal Grea dengan wajah cemberut.
Arvan semakin gemas dan kembali merengkuh tubuh mungil sang isteri.
" Jangan cemburu dengan Caroline, dia itu sahabatku lagi pula aku dan dia tidak sedekat kamu dengan teman-teman mu" ucap Arvan.
" Wanita yang dekat dengan ku hanya mama, Arin dan tentunya dirimu sayang!" Arvan menghujaminya dengan kecupan diwajah
" Mas ih!" kesal Grea dengan wajah yang merah padam.
" Sudah jangan marah lagi ya!" Arvan mengusap wajah Grea lalu turun ke perut mengusapnya dengan lembut.
" Mau pulang?" tawar Arvan dan Grea mengangguk
" Pekerjaan mu?" tanya Grea
" Kau lupa aku Presdir disini jadi bebas aku mau pulang kapanpun" sahut Arvan dengan jumawa
" Iya iya!" Grea pun bergelayut manja dengan Arvan dan seketika lupa dengan kekesalannya terhadap Micko.
__ADS_1