Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
mencoba bertahan


__ADS_3

Di sebuah kedai bubur dua wanita cantik tengah duduk sambil bercerita.


" Sorry Gre gue tadi gak sengaja, loe jadi beli dua kali deh buburnya!" ucap Talita


" Gak apa-apa Ta, santai aja kali!"


" Loe mah aneh Gre, secara bokap loe tajir melintir loe mau-mauan gitu jadi office girl dan parahnya loe mau aja dijadiin kacung sih Gre?" Talita benar-benar gak habis pikir dengan jalan pikiran Sahabatnya yang satu ini.


" Ya yang tajir itu kan bokap gue bukan gue, lagian ya Ta hidup tanpa bayang-bayang nama orang tua itu lebih nyaman loh lebih natural jadi kita bisa tahu siapa orang yang tulus berteman dengan kita dan siapa yang hanya berkedok semata." ucap Grea


" Iya Gre, loe punya hutang cerita sama gue. tentang kenapa loe nangis malam itu?" ucap Talita


" Iya gue bakalan cerita tapi gak sekarang ya, gue lagi buru-buru soalnya. nanti deh kalau kita ketemu lagi"


" Benar ya Gre!"


" Iya, gue pamit ya. bye !" Grea pun pergi dengan langkah terburu-buru.


Grea saat ini sudah berada di lantai 20 tepatnya di devisi perencanaan.


Tok tok Grea mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Ceklekk


Grea membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.


" Mba Sisil ini bubur ayam pesanan Mbak !" ucap Grea dengan sopan.


" Loe bisa kerja gak sih? beli bubur ayam aja gak becus banget ini sudah jam berapa? loe emang beli nih bubur dimana Jogja sampai segitu lamanya!" bentak Sisil membuat Grea mengepalkan tangannya.


" Kenapa Loe mau marah, gak Terim?" sarkas Sisil.


" Maaf ya mbak Sisil yang terkenal paling cantik dan paling dekat katanya dengan si pak bos CEO saya disini untuk bekerja bukan untuk dimarah-marahin. anda sudah menyuruh saya untuk membeli bubur yang jaraknya dari kantor saja lumayan memakan waktu, jika anda sendiri yang pergi membelinya apa bisa secepat yang anda inginkan padahal anda tau sendiri kalau bubur ayam tersebut sangat terkenal antriannya panjang." ucap Grea dengan berani.


" Eh Loe tuh ya baru jadi cleaning servis aja sudah berani ya ngejawab ya. gue pinta HRD buat pecat loe sekarang juga!" ancam Sisil.


Grea bukannya takut malah tertawa sinis " mbak Sisil mau menyuruh HRD buat mecat saya, silahkan mbak saya gak takut kok. saya itu bicara sesuai fakta dan jika HRD disini lebih memilih memecat saya karena pekerjaan yang saya lakukan bukan atas dasar perusahaan tapi pribadi anda sendiri maka saya sendiri yang akan menemui CEO disini karena sudah mempekerjakan orang-orang yang tidak berkompeten!" sungut Grea membuat Sisil berdecak meremehkan.


" Emangnya loe siapa berani-beraninya bilang mau mengadu dengan CEO disini. ngaca dulu makanya baru ngomong." ucap Sisil merendahkan


" Gre udah gak usah loe ladenin orang macam dia mah, yang ada loe nanti yang kena imbasnya!" tegur Caca yang menghentikan Grea yang hendak membalas kembali ucapan Sisil.


Grea akhirnya memilih untuk pergi dan tanpa ia sadari sedari awal ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


" Pilihan yang tepat?" batin Arvan yang melihat Grea melangkah keluar dan dengan segera ia pun pergi.


Hanan hanya menggeleng pelan melihat tingkah sang atasan yang tidak biasanya seperti itu.


Grea kembali berkutat dengan pekerjaan barunya, pekerjaan yang bahkan tidak pernah ia kerjakan sejak ia terlahir ke dunia apakah itu? ya membersihkan toilet wanita.


Grea berkali-kali mendengus kesal pada saat sang senior menyuruhnya untuk membersihkan toilet yang bahkan toilet dirumahnya sendiri saja tidak pernah ia bersihkan.


Di dalam toilet membersihkan sambil mengumpat terus menerus dan juga menyalahkan HRD yang seharusnya menempatkan dirinya di bagian perencanaan atau pemasaran tapi tiba-tiba malah di bagian Office Girl. awalnya ia ingin menolak tapi berhubung dia pernah mengatakan niat kerjanya pada sang suami apalagi sempat bilang tidak masalah jika ditempatkan di bagian OG juga yang terpenting halal.


...💫...


Di ruang CEO


Arvan tertawa mendengar penuturan yang diberikan oleh sekretaris Hanan yang mengatakan saat ini Grea tengah membersihkan toilet wanita.


" Bagus, lihat saja sampai di kapan dia akan bertahan!" ucap Arvan dengan seringai senyum liciknya.


" Maaf Presdir tapi bagaimana kalau sampai tuan Alex tahu Nyonya muda bekerja di perusahaan anda dan dijadikan office girl bisa murka tuan Alex dan juga tuan besar Zain Presdir!" ucap Hanan mengingatkan.


" Aku hanya ingin ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan menyerah Han, dia terlalu meremehkan ku belum pernah ada yang berani bersikap seperti itu kepadaku Han!" geram Arvan


" Berarti Nyonya muda pilihan yang tepat untuk anda Presdir" ucap Hanan takut-takut.


" Ha...ha...ha...!" Arvan tertawa dan menepuk bahu Hanan.


" Kamu benar Han, dia memang cocok menyandang status nyonya Arvandra jika ia bisa melewati ini semua dengan baik. Gadis yang memiliki tingkat kepercayaan diri dan keberanian yang sangat tinggi. Memang sangat cocok Han!"


" Apa anda sudah mulai menyukai nyonya muda Presdir?"

__ADS_1


" Menyukainya? entahlah Han!" sahut Arvan menggidikan bahunya.


" Kau pastikan saja selama dia bekerja dalam keadaan aman dan jangan sampai ada laki-laki lain yang mencoba mendekatinya.!" titah sang atasan.


" Baik Presdir!" Hanan membungkuk memberi hormat


" Satu lagi awasi dia tapi jangan sampai ketauan!"


" Siap tuan!" setelah mendapat tugas dari sang atasan Hanan kembali ke ruangannya yang letaknya tidak jauh dari ruangan Presdir.


...💫💫...


Jam pulang kantor


Grea buru-buru pulang tanpa menunggu Caca yang memintanya untuk pulang bareng.


" Gue pulang duluan ya Ca, sorry next time aja ya kita pulang barengnya!" ucap Grea yang melangkah dengan sangat terburu-buru.


" Loe mau kemana sih Gre?" teriak Caca


" Urusan penting!" sahut Grea sambil setengah berlari dan melambaikan tangan ke arah Caca.


" Grea awas!" teriak Caca membuat Grea langsung menoleh dan_


Brugg


" Aw...!" Grea menubruk tubuh kekar yang ada di hadapannya dan seketika matanya membulat sempurna.


" Tampan!" batin Grea.


" Hei, are you oke?" tanya pria tersebut membuat Grea langsung terkesiap.


" Ah iya saya baik-baik saja, maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak sengaja!" ucap Grea sambil membungkuk untuk meminta maaf.


" Tidak apa-apa nona, memangnya nona cantik mau kemana, kenapa berjalan begitu terburu-buru?" tanya pria yang bernama Marcel itu.


" Saya mau pulang tuan, sekali lagi saya minta maaf dan saya permisi dulu tuan!" sahut Grea dengan sopan.


" Cantik dan menarik!" gumam Marcel setelah Grea sudah menghilang dari pandangannya.


" Ihhh.. kenapa jadi teringat si manusia es itu sih?" batin Grea.


Mobil taksi yang Grea naiki kini sudah berada di depan apartemen. Grea turun dari taksi tersebut dan dengan langkah cepat ia langsung masuk ke dalam apartemennya.


Ceklekk


Grea bernafas lega karena sang suami belum pulang dari kantor. Grea dengan cepat langsung masuk ke dapur memasak untuk makan malam setelah selesai memasak dia pun mulai membersihkan apartemen tersebut sampai terlihat kinclong tanpa debu lagi yang menempel.


Setelah semua pekerjaan Grea selesai dia memutuskan untuk mandi membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat.


Grea melihat ke arah jam yang menempel di atas dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun belum ada tanda-tanda sang suami akan pulang. Grea mendengus kesal pasalnya dia juga tidak bisa menghubungi suaminya karena mereka memang tidak memiliki nomor ponsel masing-masing.


Sampai jam menunjukkan pukul 9 malam Arvan pun belum juga kunjung pulang. Grea yang sudah sangat mengantuk pun akhirnya tertidur di meja makan karena terlalu lama menunggu sang suami yang tak kunjung pulang.


Sementara Arvan saat ini tengah berada di sebuah cafe bersama sahabat lamanya yaitu Marcel yang sengaja pulang dari Australia karena ada proyek kerja sama dengan perusahaan Arvan.


" Loe masih suka gonta-ganti cewek Cel?" tanya Arvan pada Marcel yang direspon dengan gelak tawa oleh Marcel.


" Loe kayak gak tau gue aja Van, pacaran sama satu cewek itu kurang asik Van, gak berwarna, ngebosenin." jawab Marcel seraya menepuk bahu Arvan.


" Kena batunya baru tahu rasa loe!" ucap Arvan memperingati.


" Tenang aja Van, gue udah ahlinya dalam menangani wanita. siapa yang gak akan terpesona dengan ketampanan gue?" ucap Marcel jumawa " Tanpa gue pinta pun mereka ada yang menyerahkan diri dengan sukarela" lanjutnya.


" Parah loe bro anak orang itu"


" Loe tau gue Van hidup tanpa bersenang-senang terasa kurang menantang. loe tuh dari dulu jalan hidup loe monoton kerja dan kerja aja yang ada di otak loe, mau sampai kapan loe hidup ngejomblo kayak gini. gak bosen apa loe sendiri terus?"


Arvan tergelak mendengar ucapan Marcel.


" Sorry bro, gue gak suka dengan gaya hidup loe yang penuh warna itu. gue lebih suka dengan satu orang tapi memiliki hidup yang berwarna. lebih menyenangkan dan lebih membanggakan karena dia hanya satu-satunya milik gue dan hanya gue yang boleh menyentuhnya. yang bersegel itu lebih dari segalanya dari pada yang sudah terjamah sana sini" ucap Arvan sambil membayangi wajah Grea.


" Loe kayak sudah punya yang bersegel aja Van" cibir Marcel.

__ADS_1


" Gue udah nikah !" ucap Arvan santai


" Uhukk.. uhukk... bercanda loe gak lucu!" Marcel malas menanggapi membuat Arvan menggeleng lalu tersenyum.


" Loe liat nih!" Arvan mengangkat jari nya dan menunjukkan cincin pernikahannya yang tersemat di jari manisnya.


" Loe serius Van?" Marcel menarik tangan Arvan dan memperjelas cincin yang ada di jari manis Arvan.


" Gue serius, kapan loe liat gue bercanda?" sahut Arvan.


" Iya juga sih, tapi kenapa loe gak ngundang gue dan kapan loe nikahnya. parah loe Van gak kasih tau gue"


" Sorry cel, gue nikah juga karena dadakan"


" Dadakan? jangan bilang loe lagi pacaran terus kena digerebek warga!" tebak Marcel yang langsung mendapat toyoran oleh Arvan.


" Pikiran loe tuh sempit" kesal Arvan. " Gue nikah dadakan karena menggantikan adik gue yang gak jadi nikah" ucap Arvan membuat Marcel terkejut


" Apa?" tanya Marcel yang sangat terkejut dengan cerita Arvan.


" Maksudnya gimana sih Van, otak gue gak konek nih"


" Loe sih kebanyakan main cewek jadi korslet kan otak loe"


" Wah parah loe Van, pedes gila kayak cabe sekilo" ucap Marcel tak terima.


" Ya gue itu nikah gantiin adik gue yang malah kabur sama mantannya pas dihari pernikahan. karena gak mau membuat keluarga gue malu dan juga karena nyokap gue yang tiba-tiba terkena serangan jantung akhirnya gue terima permintaan bokap dan nyokap gue yang meminta gue untuk menikahi adik dari calon suami adik gue" tutur Arvan menjelaskan


" Terus tanggapan pihak dari calon suami adik loe bagaimana, apa mereka menerima begitu saja keluarganya dipermalukan sama adik loe bahkan itu cewek juga mau menerima loe jadi suaminya. apa gak aneh ya?" ucap Marcel curiga


" Justru itu yang gue bilang tadi satu tapi penuh warna. dia itu awalnya menolak gue mentah-mentah tapi karena melihat kondisi nyokap gue yang bisa dibilang memperihatinkan dia langsung menyetujui permintaan nyokap gue ya dengan syarat kita menjalani ini hanya karena status tidak ada kontak fisik sampai sama-sama yakin buat ngejalanin ini semua bersama-sama tanpa paksaan" ucap Arvan


" Dia wanita seperti apa?"


" Sangat menarik, berbeda dari yang lain"


" Apa loe suka sama dia?" tanya Marcel


" Suka? entahlah! tapi yang pasti gue ingin menjadikan dia satu-satunya nyonya Arvandra Pratama!" sahut Arvan.


" Ini sih loe bukan sekedar suka tapi udah cinta!"


Arvan hanya menggidikan bahunya lalu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


" Wah bro udah jam 11, gue harus pulang sekarang!" ucap Arvan sedikit kaget melihat jam yang sudah menunjukkan angka 11 malam.


" Yakinkan dia bro, buktiin yang halal itu lebih menyenangkan!" goda Marcel


" Sialan loe!"


Arvan pun bergegas pergi dari cafe tersebut kali ini dia tidak pergi bersama Hanan karena tadi Arvan meminta Hanan untuk mengecek kembali beberapa laporan proyek kerja sama dengan perusahaan milik papanya Talita.


...💫💫💫...


Arvan sudah berada di depan pintu apartemen.


" Tidak mungkin dia menungguku pulang!" keluhnya yang langsung membuka pintu apartemen lalu masuk dengan kondisi lampu yang masih menyala.


" Kenapa lampu masih menyala, tidak mungkin kan dia masih menungguku pulang di jam segini?" batin Arvan saat hendak masuk ke dalam kamarnya entah kenapa langkahnya malah tertarik melangkah ke arah dapur dan seketika Arvan terkejut melihat Grea yang ketiduran di meja makan dengan hidangan makan malam yang masih tersaji dan Arvan pun yakin kalau Grea juga pasti belum makan apa-apa karena dilihatnya nasi dan lauk pauk yang masih utuh dan dua piring yang posisinya masih tertelungkup di atas meja.


" Kenapa dia menungguku, kenapa juga tidak menelpon?" gumam Arvan pelan sedetik kemudian dia menepuk jidatnya sendiri teringat jika mereka tidak memiliki nomor ponsel masing-masing.


Arvan yang melihat ponsel Grea yang tergeletak di samping Grea yang masih memejamkan mata langsung meraihnya dan untungnya Grea tidak menguncinya.


Arvan menyimpan nomor ponsel Grea dengan nama My wife dan diponsel Grea dengan nama My beloved husband. Arvan meletakkan kembali ponsel milik Grea ketempat semula lalu membangunkan Grea setelah menghangatkan semua masakan yang berada di atas meja.


" Hei Bangun, kenapa kamu tidur di sini ?" tanya Arvan datar


Grea mengucek matanya lalu merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah itu menatap tajam ke arah Arvan.


" Jangan menatapku seperti itu nanti jatuh cinta!" ucap Arvan seraya mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


Grea mendengus kesal lalu beranjak dari duduknya " Mau kemana?" tanya Arvan tanpa menoleh dan membalikkan piring yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Grea hendak meraih masakan yang ada di atas meja tersebut untuk dihangatkan " Aku akan memanasinya dulu!" Jawab Grea


" Tidak perlu, duduk dan makanlah ! aku sudah menghangatkan semuanya!" ucap Arvan membuat Grea melotot


__ADS_2