
Arvan yang hendak melangkah tiba-tiba ponselnya berdering,
" Iya ada apa?" tanya Arvan kepada si penelpon
(.....)
" Apa? Ber***sek!" tersirat aura kemarahan di wajah Arvan
" Ada apa?" tanya Jimmy
" Micko dia adalah dalang dari semua ini!" ucap Arvan dengan rahang yang mengeras
" Sudah ku duga!" ucap Jimmy
" Caca!" panggil Jimmy karena Caca nampak sibuk dengan gawai ditangannya entah sedang berbalas pesan dengan siapa.
Tring
" Akh sial !" umpat Jimmy
" Ada apa bang ?" Caca nampak cemas
" Arin memintaku untuk segera datang jika tidak maka Micko akan membawanya pergi, aku hanya memiliki waktu 1 jam " tutur Jimmy
"Ya sudah kau pergilah dulu, nanti kami akan menyusul!" ucap Arvan
Jimmy pergi menuju lokasi yang diberikan oleh Arin, Hanan melacak tempat tersebut bersama sekretaris Jimmy.
Setelah hampir 30 menit Jimmy sampai di tempat tujuan, rumah yang sangat besar dengan banyak penjagaan.
Jimmy dipersilahkan masuk dan dikawal oleh beberapa bodyguard yang berjaga di sana.
Ceklekk
Jimmy masuk ke dalam ruangan yang ternyata sudah ada seorang wanita cantik dengan baju yang nampak seksi tengah dengan duduk di sofa.
" Akhirnya kamu datang juga sayang!" ucap Arin terdengar begitu manja
"Di mana adikku kau sembunyikan?" tanya Jimmy dengan geram
" Oh astaga sabar sedikit dong sayang, untuk apa terburu-buru, lebih baik kita nikmati dulu kebersamaan kita ini!" ucap Alin yang sudah berada di dekat Jimmy bahkan merangkul lengannya mesra.
" Jaga sikap mu Arin!" tegas Jimmy
Arin tertawa lalu Sedetik kemudian menyeringai " Dengarkan aku Jimmy, jika kamu tidak menjadi milik ku maka adik mu pun tidak boleh menjadi milik kakak ku" ucap Arin sedikit mengancam
" Dasar tidak waras, bagaimana bisa kamu memiliki pemikiran bodoh seperti itu? apa kamu tidak berpikir jika kamu melakukan hal itu sama saja kau menyakiti kakakmu sendiri, apa kau lupa Grea adalah isteri kakakmu yang sangat dicintainya. jika kamu melukai Grea maka akan banyak orang yang kau sakiti termasuk mamahmu sendiri." ucap Jimmy
" Sebaiknya kau hentikan semua ini Arin, sebelum semuanya terlambat, jika sampai mamah mu tahu hal ini sama saja kau ingin membunuhnya secara perlahan!" lanjutnya.
Arin terdiam hatinya terasa nyeri saat teringat tentang mamah nya.
__ADS_1
" Dulu kamu yang memilih ini semua Arin pergi begitu saja tanpa memperdulikan orang-orang yang kamu sayangi. jika bukan karena Grea yang bersedia mengorbankan masa depannya untuk menikah dengan kakak mu mungkin saja mamah mu sudah meninggal karena serangan jantung.
"Mamah mu yang meminta Grea untuk menikah dengan kakakmu, begitu banyak pengorbanan dan luka yang mereka alami diawal pernikahan mereka, dan setelah mereka baru mendapatkan kebahagiaan dengan mudahnya kau ingin merampasnya.!" Arin tergugu rasanya semakin sakit mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir Jimmy.
" Kembalikan adikku kepada putrinya apa kau tidak kasihan kepadanya, Queensy adalah keponakan mu apa kau tidak menyayanginya?" tanya Jimmy sedikit mengiba
" A.. aku!" Arin memberingsut kelantai seketika tangisnya pun pecah.
" Ma... maafkan aku kak .. maafkan aku mah, pah" lirihnya disela Isak tangisnya.
" Cepat selamatkan Grea karena saat ini Micko akan membawanya ke pulau x dan memaksa untuk menikahinya" ucap Arin
" Apa? Micko akan membawanya pergi ke pulau x?"
" Iya, dan mereka akan berangkat 2 jam lagi!" ucap Arin
" Apa kamu tidak berbohong?" tanya Jimmy curiga
" Tidak, untuk kali ini aku tidak berbohong aku tidak mau mamah terkena serangan jantung gara-gara aku lagi, aku menyesal sungguh aku menyesal" ucap Arin lirih
" Kalau begitu ikut aku!" Jimmy menarik tangan Arin dan membawanya pergi.
" Kalian tidak bisa pergi dari sini!" ucap pria bertubuh besar dan berotot kekar
Jimmy mundur beberapa langkah begitu juga dengan Arin.
" Biarkan kami pergi!" pinta Arin
" Sayangnya tuan Micko melarangnya, beliau memerintahkan kami untuk menangkap mu nona Arin jika kamu berani berulah" jawab pria tersebut
" Tidak Jimmy kamu tidak bisa melawannya" ucap Arin khawatir
" Tenang saja aku pasti akan baik-baik saja" jawab Jimmy
" Jangan banyak bicara sebaiknya kalian menyerah saja, kalian tidak akan pernah bisa lolos dari sini!" ucap pria tersebut dengan sombongnya
" Kita buktikan saja!"
Bugh....
Bugh...
Bugh...
Perkelahian pun terjadi semua penjaga sudah tumbang tak tersisa, hanya tinggal pria yang berada di hadapan Jimmy dengan wajah yang terkejut melihat anak buahnya terkulai tidak berdaya bukan hanya pria itu yang terkejut tapi juga Jimmy dan Arin pun sama terkejutnya, belum sempat berkelahi tapi semua penjaga tumbang seketika.
" Caca!" Betapa terkejutnya Jimmy saat melihat wajah Caca berada di antara pria berbaju hitam dengan penampilan yang berbeda. biasanya Caca nampak feminim dan begitu lembut tapi kali ini tidak bahkan dia nampak sangar dan gagah.
" Kita tidak punya banyak waktu, bawa dia sebagai petunjuk arah dimana Grea disembunyikan!" titah Caca dan Alan pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa pria tersebut.
" percuma saja kalian membawaku, aku tidak akan memberitahu kalian!" ucap pria tersebut
__ADS_1
" Benarkah?" Caca menyeringai tajam bahkan Jimmy pun seakan tercekat lidahnya tidak berani menyapa Caca.
" Habisi dia dan juga seluruh keluarganya!" ancam Caca membuat pria itu akhirnya menyerah
" Baiklah... baiklah.. aku menyerah, aku akan beritahu kalian dimana tuan Micko dan Grea tapi tolong jangan sakiti keluargaku!" ucap pria itu mengiba
" Baiklah, tapi ingat jangan macam-macam karena keluarga mu ada di tangan ku!" ucap Caca
" Sudahlah ayo cepat!" ucap Alan menengahi
Caca hanya melirik sekilas saat Arin memeluk Jimmy, senyumnya sedikit tertarik keatas setelah itu Caca menghilang bersama Alan dan juga anak buahnya.
" Jimmy aku takut!" ucap Arin masih dalam kondisi memeluk Jimmy
" Jangan seperti ini Arin, sebaiknya kita segera pergi dari sini dan menyusul mereka!" ucap Jimmy tegas seraya melerai pelukan Arin terhadapnya
" Sudah biarkan saja, ada mereka yang akan menyelamatkan Grea" ucap Arin
"Apa kau pikir aku bisa tenang saat tahu keadaan adikku dalam bahaya?" Jimmy langsung pergi meninggalkan Arin begitu saja
Jimmy menyusul Caca untung saja mereka belum pergi masih berada di wilayah rumah tersebut.
Alan terdiam begitu juga dengan Caca tiba-tiba pikiran mereka sama
" Apa?" tanya Alan saat pandangan mereka bertemu
" Apa kau punya pemikiran yang sama?" tanya Caca
"Ya sepertinya seperti itu!" jawab Alan
" Lalu apa rencana mu sekarang?" tanya Caca
" Kita ikuti permainannya, biarkan dia ikut dalam mobil Mark!" ucap Alan
" Kita masuk ke mobil lalu keluar dari sisi kanan jangan sampai dia tahu" ucap Alan
" Baiklah aku setuju!" Alan dan Caca masuk ke dalam mobil dan perlahan dia membuka pintu mobil disebelah kanan dengan sangat hati-hati keluar dari dalam mobil tersebut.
Mobil yang membawa pria tersebut sudah pergi bersama anak buah Micko
Jimmy yang hendak mengikuti mobil Caca terkejut bukan main saat netranya melihat Caca sedang berjalan mindik-mindik masuk kembali kedalam rumah tersebut bersama Alan
" Apa yang mereka lakukan, kenapa mereka bukan pergi tapi malah masuk kembali ke dalam rumah itu" gumam Jimmy
Jimmy akhirnya keluar dari mobilnya dan mengikuti Caca
" Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Jimmy
" Oh astaga, suttt...!" Alan mendengus kesal
" Jangan berisik kau bisa mengganggu rencana kami" pinta Caca
__ADS_1
Deg
Jimmy diam membeku tidak menyangka Caca berubah derastis saat ini. sikapnya begitu dingin dan tidak selembut biasanya