Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Akhirnya


__ADS_3

" Kau!" Grea menoleh kebelakang dan menatap datar laki-laki yang tengah berdiri belakangnya.


" Grea bisa kita bicara?" tanya laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Marcel


"Maaf tuan saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" ucap Grea


" Mbak Vivi aku pamit bekerja lagi ya!" ucap Grea yang langsung beranjak pergi


" Grea tunggu, kita harus bicara!" teriak Marcel yang mengejar langkah Grea.


Grea dengan cepat ingin masuk ke dalam lift namun sebelum masuk tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Marcel.


" Grea please aku ingin bicara" ucap Marcel memohon.


" Lepaskan tangan anda tuan!" pinta Grea dengan tegas namun tidak digubris oleh Marcel.


" Tuan lepas!" Grea terus memberontak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Marcel yang terasa semakin kuat.


" Aku minta maaf Grea!" ucap Marcel dengan tangan masih menggenggam erat tangan Grea


" Aku sudah memaafkan tuan jadi tolong lepaskan tangan anda!" ucap Grea


" Jadi bisakan kita menjadi teman, aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi Grea!" ucap Marcel


" Tuan tolong lepaskan tangan anda terlebih dulu!" pinta Grea yang sudah kesekian kalinya.


" Aku tahu kamu dan Arvan itu menikah karena di jodohkan dan menjadi pengantin pengganti bukan? jadi aku yakin kamu pasti tidak menyukai pria sedingin Arvan itu" ucap Marcel dengan percaya dirinya


Mendengar ucapan Marcel Grea langsung menatapnya tajam " Tahu apa tuan tentang pernikahan kami, aku dan Presdir memang menikah karena terpaksa keadaan tapi tentang perasaan kami hanya kami yang tahu dan anda tidak seharusnya berada di antara kami, bukankah anda itu sahabat suami saya lalu kenapa anda menggoda isteri dari sahabat anda sendiri?" tanya Grea telak membuat Marcel mendengus kesal.


" Karena aku menyukaimu dan aku ingin memilikimu Grea" ucap Marcel yang memancing kemarahan pria yang sedari tadi sudah berdiri memperhatikan mereka dari jauh.


Dengan langkah tegas dan aura mematikan pria itu berjalan semakin dekat.


" Lepaskan tanganmu dari tangan isteriku baji***n!" umpat Arvan seraya melayangkan tangannya ke udara dan mendarat sempurna tepat di wajah Marcel yang tersentak kaget dan melepaskan tangannya dari tangan Grea karena tubuhnya yang tersungkur ke lantai.


Grea pun sama terkejutnya melihat Arvan yang tengah berdiri di hadapannya dengan aura yang sangat mematikan. Grea sadar Arvan pasti berada di puncak emosi lalu dengan langkah cepat Grea langsung berlari dan memeluk Arvan yang tengah menatap tajam Marcel yang berusaha kembali berdiri.


" Mas!" panggil Grea dengan tatapan sendu. dan Arvan pun menoleh ke arahnya menatap mata Grea yang sudah berkaca-kaca. Grea menggelengkan kepalanya meminta Arvan untuk berhenti, karena Grea takut amarah Arvan bisa membuat masalah untuk dirinya sendiri.


" Sudah aku peringatkan jangan mendekati Grea dan ternyata loe gak ada kapoknya ya?" ucap Arvan dengan aura dingin dan tangannya sudah siap melayang kembali jika tidak ditahan oleh Grea.


" Kalian menikah hanya karena terpaksa dan gue yakin Grea pasti merasa tertekan selama menjadi isteri loe!" ucap Marcel yang sudah tidak menggunakan bahasa formalnya lagi dengan Arvan.


Arvan menoleh ke arah Grea seakan mencari jawaban dan Grea yang tahu arti dari tatapan mata Arvan langsung menggeleng dan semakin erat memeluk Arvan.


Arvan mengurai pelukannya dan menatap dalam manik mata Grea dan Grea kembali menggeleng. " Jika aku merasa tertekan sudah lama aku pergi dari kehidupan suamiku, kamu pasti tahu bagaimana seorang Greandira bukan? tidak suka dikekang dan selalu bertindak sesuka hati tanpa ada yang bisa melarang termasuk daddy. tapi setelah aku menikah maka pada saat itu aku sudah memasrahkan kehidupan aku kepada suamiku karena kelak suamiku lah yang memiliki tanggung jawab besar di akhirat nanti jadi walaupun kita menikah sebagai pengantin pengganti tapi di mata tuhan tetap kita adalah pasangan suami istri yang sah dan sudah berjanji menerima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing memikul tanggung jawab masing-masing." ucap Grea yang membuat Arvan langsung menariknya kembali ke dalam pelukannya dan menghujami kecupan berkali-kali dikeningnya.


" Terima kasih sayang" ucap Arvan penuh haru sementara Marcel yang melihat kemesraan mereka mendengus kesal.


Arvan langsung menggendong Gea membuat Grea terkejut karena tiba-tiba tubuhnya terangkat begitu saja, Arvan dengan langkah cepat membawa Grea masuk ke dalam ruangannya. Vivi yang melihat presdirnya menggendong Grea nampak terkejut mengira terjadi sesuatu terhadap istri atasannya itu.


" Presdir, Grea kenapa?" tanya Vivi yang langsung mengerutkan bibirnya karena pertanyaan tidak digubris sama sekali dan Arvan sudah menghilang di balik pintu.


Brakk


Vivi terjingkrak saat mendengar pintu tertutup dengan keras.


Sementara di dalam ruangan tersebut Arvan berjalan menuju sebuah kamar yang berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


" Presdir mau apa? turunkan aku!" ucap Grea yang merasa berada dalam bahaya.


" Tidak akan sayang, kamu harus menjalani kewajiban kamu sayang!" ucap Arvan membuat Grea langsung membulatkan matanya.


" Presdir i... ini di kantor!" ucap Grea yang merasa sedikit gugup


" Kenapa memangnya kalau di kantor?" tanya Arvan menaik turunkan alisnya


" A... aku tidak ma_" belum selesai dengan ucapannya Arvan sudah lebih dulu menyambar bibir ranum Grea.


Grea melotot saat Arvan dengan santainya me****t dengan lembut dan tanpa sadar Grea juga larut dalam permainan Arvan.


Arvan merebahkan Grea di atas tempat tidur yang berada di ruangannya dan Grea berusaha untuk menghindar berharap Arvan mengurungkan niatnya tapi ternyata usaha Grea sia-sia karena dengan ucapan-ucapan manis dan sentuhan lembut Arvan membuat Grea akhirnya pasrah dan malam pertama yang tertunda pun akhirnya terjadi di ruangan kantor. bayangan Grea yang melepaskan mahkota berharganya di sebuah hotel mewah kini pupuslah sudah.


Sudah hampir jam makan siang namun dua insan yang kelelahan masih menikmati tidurnya. sampai pada akhirnya Grea terbangun dan tersentak kaget saat melihat Arvan tidur dalam keadaan memeluknya ditambah dengan keadaannya yang seperti bayi baru lahir. Grea yang baru saja teringat dengan aksi suaminya yang begitu tidak sabaran membuat Grea mendengus kesal pasalnya harapannya berada di hotel mewah kini sudah sirna.


Arvan perlahan mengerjapkan matanya dan melihat sang isteri dengan wajah yang memberengut kesal. Arvan langsung duduk dan menatap lekat wajah Grea.


" Kenapa cemberut begitu, apa kamu menyesal ?" tanya Arvan dengan jutek karena tidak suka melihat Grea yang memberengut.


" Iya" jawab Grea asal


" Jad benar kamu menyesal sudah melakukannya dengan ku?" tanya Arvan lagi dengan emosi


" Iya, aku menyesal!' ucap Grea yang langsung beranjak dari duduknya namun saat hendak berjalan menuju kamar mandi ia merasakan perih yang teramat sangat membuat Arvan yang melihatnya merasa bersalah.


" Apa sakit?" tanya Arvan membuat Grea mendelik tajam


" Menurutmu?" kesal Grea


" Maafkan aku!" ucap Arvan lirih.


" Jadi kamu benar-benar menyesal?" pertanyaan Arvan untuk kesekian kalinya membuat Grea menatapnya penuh emosi karena dalam keadaan seperti ini masih saja Arvan bertanya soal itu.


" Kamu pikir saja sendiri, aku membayangkan kita melakukannya di hotel mewah atau setidaknya di rumah dengan suasana romantis ini malah di ruangan kantor. ah menyebalkan tau gak." ucap Grea yang kembali duduk dengan melilitkan tubuhnya dengan selimut.


" Jadi kamu menyesal karena tempatnya bukan karena_?" tanya Arvan menggantung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Sudahlah jangan dibahas!" kesal Grea


" Yaudah ayok aku bantu ke kamar mandi?" ucap Arvan yang langsung mengangkat tubuh Grea membuat lagi-lagi tersentak kaget.


" Kamu mau apa?" tanya Grea panik karena setelah meletakkan Grea ke dalam bathtub Arvan menuju shower dan membersihkan dirinya. Grea langsung menutup matanya melihat Arvan yang dengan santainya mandi tanpa menghiraukan keberadaan Grea disana.


" Kamu apa-apaan sih?" kesal Grea


" Kenapa memangnya? kita ini sudah suami istri dan sudah tahu semuanya jadi untuk apa pura-pura malu" ucap Arvan membuat Grea semakin memberengut.


" Dasar Omes!" dengus Grea


" Sudah cepat mandi, setelah itu kita makan siang" ucap Arvan sebelum pergi


" Bajuku bagaimana?" tanya Grea sebelum Arvan keluar dari kamar mandi.


" Tenang saja nanti aku akan meminta Vivi untuk mengambilkan mu seragam baru!" ucap Arvan santai.


Arvan keluar dari kamar tersebut setelah memakai baju ganti dan menuju mejanya. Hanan di luar sudah mondar-mandir dengan gelisah apalagi Vivi mengatakan jika tadi Grea sempat di ikuti oleh Marcel dan setelah itu kembali dengan keadaan Presdir menggendong Grea dan masuk ke dalam ruangan sampai hampir 3 jam mereka belum juga keluar ruangan.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


" Masuk!"


Mendengar suara Arvan Hanan langsung bergegas masuk.


" apa Presdir tidak apa-apa?" tanya Hanan khawatir.


" Aku kenapa memangnya?" tanya Arvan dengan wajah yang nampak berseri membuat Hanan menatapnya aneh.


" Nyonya muda_?" tanya Hanan takut-takut


" Dia sedang mandi, oiya tolong suruh Vivi untuk mengambilkan seragam bersih untuk Grea!" ucap Arvan membuat Hanan tersenyum tipis mengerti apa yang baru saja terjadi dengan presdirnya.


" Baik Presdir, kalau begitu saya permisi!"


" Satu lagi Han, tolong pesankan makan siang untuk aku dan isteriku" ucap Arvan membuat Hanan merasa lega karena melihat hubungan tuannya yang sudah berjalan dengan baik.


" Baik tuan" ucap Hanan yang langsung beranjak dari ruangan Presdir dan menemui Vivi.


" Sekretaris Vivi, presdir memintamu untuk mengambilkan seragam baru yang sudah bersih untuk nyonya muda" ucap Hanan membuat Vivi terkejut.


" Seragam bersih?" tanya Vivi dan Hanan mengangguk


" Apa mereka baru saja_?"


" Sudah cepat kerjakan saja perintah presdir sebelum ia mengamuk, jangan banyak bertanya"


Setelah selesai dengan ritual mandinya Grea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.


Ceklekk


Arvan masuk membawa baju ganti untuk Grea setelah tadi Vivi memberikannya.


" Cepat ganti bajumu!" titah Arvan


Setelah berganti baju Grea dan Arvan makan bersama di ruangan Arvan. wajah Grea masih memberengut kesal pasalnya bagaimana dia kembali ke tempatnya jika saat berjalan saja ia merasakan perih bagaimana jika teman-temannya bertanya tentang jalannya yang nampak berbeda dari biasanya.


" Kamu ini kenapa?" tanya Arvan


" Kesal?" jawab Grea asal


" Kesal kenapa lagi, masih mau ke hotel?" goda Arvan membuat Grea semakin kesal dibuatnya.


" Isshh, kenapa sih kamu gak menahannya setidaknya tuh di apartemen, kalau begini bagaimana aku kembali ke tempat kerjaku!" ucap Grea jujur


" Cara berjalan mu?" tanya Arvan tanpa dosa


" Tau ah!" Grea langsung menyambar makanannya


" Ya sudah tidak usah kembali, kamu tunggu saja disini temani aku bekerja atau kalau mau kamu pulang saja bagaiman" tawar Arvan.


" Pulang?" tanya Grea


" Iya, di apartemen kamu bisa istirahat dengan leluasa. aku akan mengantarmu pulang setelah makan bagaimana, mau?" tanya Arvan dengan lembut


" Baiklah!" sahut Grea

__ADS_1


Dan usai makan siang pun Grea yang diantar Arvan pun pulang ke apartemen miliknya.


__ADS_2