Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Salah Paham


__ADS_3

" Kau!" Ucap keduanya bersamaan.


" Cihh, kau lagi. Kenapa kau selalu berada di ruangan Presdir?" tanya Maria dengan ketus


" Hei nona, itu bukan urusan anda. aku berada di sini itu wajar karena aku adalah salah satu pegawai Presdir, sedangkan anda untuk apa datang ke sini terus mencari perhatian Presdir? gak kapok sudah diusir, jangan banyak bermimpi nona sudah banyak yang patah hati dengan beliau. sebaiknya sebelum anda mempermalukan diri anda sendiri, mundur sajalah jangan jadi pelakor. bukankah anda itu sudah tahu kalau pak Presdir itu sudah menikah dan beliau juga anti sama wanita yang agresif yang ada diusir mentah-mentah loh" ucap Grea dengan senyum liciknya.


" Jangan sok tau kamu, mendingan kamu pergi sekarang juga dari hadapanku!" usir Maria


" Terserah, yang jelas aku sudah memperingatkan!" ucap Grea lalu beranjak pergi.


Sampai di loker tempat para OG kumpul sebelum dan selesai bekerja Grea dibuat terkejut oleh mbak Susi yang tiba-tiba langsung memeluknya.


" Grea kamu kemana aja seharian ini sih? kenapa gak ada kabar dan ponsel kamu juga kenapa gak aktif?" tanya Mbak Susi memberondong Grea dengan banyak pertanyaan setelah melerai pelukannya


" Maaf mbak ponselku di dalam tas" sahut Grea


" Terus kamu memangnya kemana ?" tanya Mala


" Aku di ruangan Presdir" jawab Grea pelan


" Apa?" teriak Mala dan Mbak Susi bersamaan saking terkejutnya.


" Biasa aja dong ngeliatinnya" ucap Grea karena mbak Susi dan Mala menatapnya penuh selidik


" Kamu ngapain aja di ruangan Presdir?" tanya Mbak Susi


" Menurut mbak Susi ngapain? tiduran santai, makan bareng terus ngobrol bareng sama Presdir sambil tertawa. asik banget ya mba bisa seperti itu?" ucap Grea sambil menaik turunkan alisnya.


" Benarkah?" tanya Mala penasaran


Pletakk


Mba Susi menoyor kepala Mala, " Dasar bodoh, sejak kapan Presdir kita berubah, muka datar sikapnya dingin dan arogan seperti itu mana bisa diajak ngobrol santai. apa pernah kamu melihat Presdir bersikap ramah?" tanya Mbak Susi yang dijawab gelengan kepala oleh Mala.


" Nah itu tahu" ucap mba Susi


" Ya terus ngapain Grea di ruangan Presdir?" tanya Mala yang jadi penasaran


" Aku tuh ketahuan datang kesiangan oleh Presdir, ya kalian pasti tahu kan Presdir itu orangnya seperti apa, jadi dia menyuruh pak Han langsung untuk memanggilku ke ruangannya. Awalnya aku sudah dilarang bekerja di perusahaan ini oleh Presdir, tapi karena aku terus memohon akhirnya Presdir mengizinkan aku untuk tetap bekerja ya dengan syarat aku harus membersihkan ruangannya sampai bersih tidak boleh ada noda yang tertinggal sedikitpun dan satu lagi aku harus bekerja sampai jam pulang kerja selesai" ucap Grea sedikit berbohong.


" Oh jadi seperti itu!" ucap Mala dan Mbak Susi bersamaan.


" Ya sudah ya, aku harus kembali ke ruangan Presdir sekarang juga masih ada pekerjaan yang belum selesai, aku takut kelamaan nanti Presdir bisa marah besar" ucap Grea yang langsung bergegas mengambil tasnya dan berganti baju.


" Ya udah hati-hati ya Grea!" ucap mbak Susi


" Iya mba, Terima kasih ya kalian sudah mengkhawatirkan aku!" ucap Grea dengan rasa bersalahnya karena sudah berbohong.


" Iya, sama-sama"


Grea dengan langkah cepat kembali ke ruangan Presdir.

__ADS_1


" Mbak Vivi belum pulang?" tanya Grea


" Belum, tuh masih ada Bu Maria di dalam ruangan Presdir" sahut Vivi


" Wanita ular itu masih di dalam?" tanya Grea mempertegas dan mbak Vivi mengangguk.


" Ya udah aku masuk dulu ya mbak" ucap Grea


" Iya!" sahut mbak Vivi.


Tokk


Tokk


Tokk


Tidak ada sahutan dengan terpaksa Grea langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam ruangan.


Ceklekk


Grea membuka pintu dengan perlahan dan saat pintu terbuka dengan sempurna Grea dikejutkan dengan pemandangan yang cukup membakar adrenalin. Grea menatap nyalang ke arah Arvan dan wanita yang dengan tidak tahu malunya tengah menggoda suaminya dengan duduk di atas pangkuan Arvan.


" Maaf mengganggu!" ucap Grea dengan rahang yang sudah mengeras


" Tunggu !" ucap Arvan dengan suara tegas namun tidak digubris oleh Grea yang lebih memilih untuk tetap melangkah pergi dan kembali menutup pintunya.


Arvan beranjak dari duduknya membuat Maria terjengkang ke lantai.


" Non Grea!" panggil Vivi yang melihat Grea langsung berlari saat keluar dari ruangan Presdir.


" Ada apa?" tanya sekretaris Hanan saat melihat wajah khawatir Vivi


" Itu isteri Presdir keluar dari ruangan Presdir langsung berlari begitu saja" ucap Vivi menerangkan.


Sekretaris Hanan langsung masuk ke dalam ruangan Presdir dan saat melihat seorang wanita yang berada di ruangan tersebut membuat Sekretaris Hanan memutar bola matanya jengah.


" Han kau urus dia, jika dia masih bertindak di luar batasan maka dengan terpaksa aku akan batalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan milik papanya Han!" perintah Arvan kepada sekretaris Hanan membuat Maria melotot tidak percaya.


" Arvan jangan lakukan itu, aku minta maaf!" ucap Maria sedikit memohon namun Arvan kembali bersikap dingin dan tidak ada bantahan.


" Pergi!" bentak Arvan dengan suara tinggi membuat Maria dan sekretaris Hanan tersentak kaget.


Maria langsung beranjak pergi takut menghadapi amukan Arvan yang memang terkenal sadis dan tidak memandang bulu.


Arvan menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya dengan kasar. " Akhhhhh!" teriak Arvan meluapkan emosinya dengan mengusap wajahnya kasar.


" Presdir!" panggil sekretaris Hanan hati-hati


" Mama memintaku dan Grea makan malam di rumah, aku yakin saat ini Grea pasti sudah salah paham. bagaimana kalau dia tidak ingin datang ke acara makan malam tersebut!" ucap Arvan meluapkan kekesalannya.


" Sebaiknya Presdir hubungi nyonya muda!" usul sekretaris Hanan.

__ADS_1


Arvan pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor ponsel Grea. panggilan pertama diabaikan, kedua pun sama dan ketiga panggilan di tolak sampai panggilan ke Lima nomor Grea sudah tidak aktif.


Arvan nampak frustasi dan langsung menyambar jasnya beranjak pergi mencari Grea.


" Presdir!" panggil sekretaris Hanan namun diabaikan.


" Presdir!" sekretaris Hanan mengejar langkah Arvan dengan langkah tergesa-gesa membuat para karyawan yang kebetulan baru akan pulang menatap penuh rasa penasaran.


Arvan terus melangkah keluar dengan langkah tegas dan tidak memperdulikan pandangan para karyawannya yang menatap ke arahnya. pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Grea yang pasti sangat marah kepadanya.


Arvan langsung masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. sekretaris Hanan nampak panik melihat atasannya membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil Arvan merutuki kebodohannya sendiri yang bisa-bisanya dia tidak sadar pada saat Maria masuk ke dalam ruangannya dan tiba-tiba langsung duduk di atas pangkuannya.


" Dira kamu dimana sih?" tanya Arvan kepada dirinya sendiri.


Arvan melajukan mobilnya menuju apartemennya setelah sampai Arvan langsung masuk ke dalam apartemennya dan betapa terkejutnya Arvan saat melihat kondisi apartemennya ternyata kosong.


Arvan kembali menghubungi nomor ponsel Grea namun ponsel Grea ternyata tidak bisa di hubungi. Arvan merasa geram dan mengumpat dirinya sendiri.


Arvan memutuskan untuk membersihkan diri sebelum kembali mencari keberadaan Grea.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun Grea belum juga pulang, Arvan bingung harus mencari Grea kemana. Arvan sempat menghubungi nomor Jimmy namun Jimmy mengatakan jika Grea tidak berada di rumahnya. Jimmy sempat panik saat Arvan menanyakan tentang keberadaan adiknya itu namun Arvan beralasan jika Grea meminta izin untuk berkunjung ke rumah mommy dan daddynya namun Arvan mengatakan jika Grea ngambek karena Arvan tidak mengizinkannya pergi dengan alasan jika mereka akan datang tapi harus bersama-sama sedangkan saat ini dia tengah sibuk di kantor dan untung saja Jimmy mudah percaya. ponsel Arvan sedari tadi terus saja berdering dengan nama mama yang tertera di layar ponsel tersebut. Arvan yang takut Mamanya bertanya tentang keberadaan Grea memilih mengabaikan begitu saja panggilan telpon Mamanya.


Arvan akhirnya memutuskan untuk datang sendiri ke rumah orangtuanya, dan jika mereka bertanya tentang Grea maka dia akan menjawab Grea tiba-tiba sedang tidak enak badan karena kelelahan, batin Arvan mencari-cari alasan.


Mobil yang Arvan kendarai kini tepat sudah berada di halaman rumah kedua orangtuanya.


Arvan melangkah dengan gontai, rasanya begitu malas untuk datang ketempat tersebut apalagi isterinya masih belum ada kabarnya.


Arvan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu.


" Assalamu'alaikum!" ucap Arvan membuat yang ada di dalam rumah menoleh ke arahnya.


" Wa'alaikum salam" jawab papa Zaindra, daddy Alex, dan juga Jimmy


" Kamu baru pulang kerja Van?" tanya Alex kepada sang menantu.


" Iya dad!" jawab Arvan yang langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


" Kerja boleh Van tapi ingat kondisi kesehatan kamu" ucap Alex membuat Arvan tersenyum canggung.


" Mama sama mommy mana pa, dad?" tanya Arvan.


" Mereka sedang di dapur mempersiapkan makan malam" jawab papa Zaindra.


" Owh, kalau begitu aku ke kamar aku dulu ya pah, dad, Jim!" pamit Arvan dengan langkah tak bersemangat.


Ceklekk


Arvan membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak terkunci. Arvan langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur dan betapa terkejutnya Arvan saat mendengar suara pekikan dari balik selimut.

__ADS_1


" Aaaww!" Suara seseorang yang merasa terkejut saat tiba-tiba tubuhnya tertimpa benda berat.


__ADS_2