Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Meminta izin


__ADS_3

Arvan dan Grea saat ini sudah berada di kantor. Grea berjalan mendekati Arvan yang tengah bekerja.


Arvan menghentikan kegiatannya lalu menatap Grea dengan lekat.


" Ada hem?" tanya Arvan


" Mas aku boleh ya pergi sebentar dengan Caca makan siang bersama teman-teman aku. udah lama juga aku gak pernah bertemu dengan mereka" pinta Grea merajuk


" Bertemu dengan teman-teman kamu yang laki-laki itu iya?" tanya Arvan dengan wajah tidak suka


" Mas mereka hanya sahabat aku, lagi pula kamu sama mereka lebih dulu aku mengenal mereka mas, masa setelah menikah aku menjauhi mereka sih mas kesannya aku tuh sombong mas" tutur Grea


" Terserah mereka mau beranggapan apa, yang jelas aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan temanmu yang laki-laki" tegas Arvan


" Mas!" rajuk Grea


" Tidak, sekali tidak ya tidak." ucap Arvan kekeh


" Nyebelin banget sih mas" Grea kembali duduk di sofa dengan wajah cemberut.


" Sayang, aku tidak suka wanita ku dekat-dekat dengan laki-laki lain" Arvan menyusul Grea duduk di sofa samping Grea


" Tapi mereka itu sahabat aku mas" terang Grea


" Tapi mereka laki-laki sayang"


" Memangnya kenapa kalau mereka laki-laki, mereka semua baik sama aku mas" Grea mendengus kesal karena Arvan begitu keras kepala


" Sayang tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. mereka pasti ada tujuan tertentu" tutur Arvan


" Apa maksud ucapan mu mas?" Grea merasa tidak terima dengan tuduhan yang sangat tidak beralasan terhadap sahabat-sahabatnya.


" Mereka pasti menyimpan perasaan terhadap kamu, tidak mungkin mereka baik jika tidak ada pamrih" sahut Arvan


" Ya ampun mas, cetek banget ya cara berpikir kamu itu. aku sudah mengenal mereka cukup lama dan aku tahu mereka seperti apa" terang Grea


" Lagi pula mereka sudah punya pasangan masing-masing mas, justru yang perlu dikhawatirkan itu kamu bukan aku karena mereka jelas cuma sahabat aku tapi mas bagaimana dengan mantan kekasih bayaran mas itu? yang bahkan hampir setiap hari terus mencari celah untuk mendekati mas. jika mas tidak memberi harapan juga mana mungkin sih dia sebegitu cinta matinya sama mas yang jelas-jelas sudah beristri. tidak punya harga diri banget wanita ular itu menggoda suami orang" cerocos Grea panjang lebar dengan amarah yang sudah mendominasi.


" Kamu tuh ya kalau lagi marah-marah seperti ini malah terlihat gemesin tau gak yang" Arvan mencubit gemas pipi Grea


" Ih apa sih mas orang lagi marah juga!" ketus Grea


" Sudah ah marah-marahnya, kasihan tau dedek nya " ucap Arvan lembut seraya menarik Grea ke dalam pelukannya.


" Gak mau dipeluk mas jahat!" tolak Grea mendorong dada Arvan


" Jahat?" Arvan mengerutkan keningnya


" Iya jahat, aku tidak diizinkan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat aku padahal cuma sebentar juga" Grea pasang wajah memberengut


" Oke kamu boleh bertemu dengan teman-teman kamu tapi dengan satu syarat " ucap Arvan


" Syarat?"


" Iya"


" Apa syaratnya?"


" Syaratnya, aku ikut"


" Apa? kamu ikut mas?" Arvan mengangguk dengan senyum menyeringai


" Ya ampun mas itu sih sama saja, yang ada mereka akan sungkan dengan ku mas" Grea menghela napasnya berat


" Terserah kamu mau atau tidak" Arvan beranjak dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya.


Grea pun beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar pribadi Arvan seraya membanting pintu karena kesal dengan sikap suaminya yang sangat posesif.


" Dulu bahkan tidak ada yang berani membantah keinginan ku daddy sekalipun tapi kenapa dengan mas Arvan aku jadi penurut kayak gini sih!" ucap Grea mengumpat dirinya sendiri


Tring


satu pesan masuk diponsel milik Grea dan tertera nama Bimo.


[ Grea bagaimana bisakan kita bertemu di jam makan siang nanti? ]


"Gak tau gue, belum dapat izin bang"


" Izin?jadi loe serius sudah married Grea?"


" Iya kan gue sudah pernah bilang bang waktu itu!"


" Gue kira loe ******bercanda****** ***Greandira"


" Kenapa loe gak cerita***?"

__ADS_1


" Panjang ceritanya bang"


" Loe hutang penjelasan dengan kita-kita Grea"


" Iya bang nanti gue ceritain deh, sekarang gue mau merayu si balok es dulu biar diizinin"


" Balok es?"


" Iya"


" Durhaka loe ngatain suami"


" Bercanda bang anggap aja panggilan sayang"


" Mana ada begitu?"


" Ada aja buat seorang Greandira si!"


" Ya udah cepat sana izin, gue mau hubungin yang lain. nanti kalau ******loe****** bisa kita kumpul di restoran biasa ya!"


" Oke siap bang!"


" Gue harus bisa membujuk mas Arvan" gumam Grea


Ceklekk


Grea keluar dari kamar pribadi Arvan dan berjalan menghampiri Arvan yang kembali fokus dengan tumpukan berkas di atas mejanya.


Arvan tersentak kaget saat Grea mengalungkan tangan dilehernya, apalagi Grea pun mendaratkan kecupan-kecupan manis di pipinya


Arvan menghentikan kegiatannya dan memutar kursi kebesarannya lalu menarik Grea hingga duduk di pangkuannya.


" Kenapa isteriku yang tadi masuk dalam keadaan marah tiba-tiba keluar menjadi seperti ini?" tanya Arvan yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Grea


" Kenapa memangnya tidak boleh kalau aku ingin bermanja-manja dengan suamiku sendiri?" Grea menempelkan wajahnya di dada bidang Arvan.


" Boleh-boleh saja sayang, aku malah senang kalau kamu bersikap manja seperti ini setiap hari" Arvan mengangkat dagu Grea agar mendongak dan menatap kearahnya.


" Apa isteriku ini sedang tidak menyembunyikan sesuatu?" tanya Arvan bersiborak dengan mata Grea.


Grea menyingkirkan tangan Arvan dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Baiklah aku jujur saja, aku memang sedang menginginkan sesuatu dan mas tentu sudah tahu apa itu, jika mas bersedia mengabulkan keinginan ku maka aku akan memberikan hadiah untuk mas!" ucap Grea merayu


" Hadiah?" Arvan mengerutkan dahinya


" Apa sebegitu besarnya kamu ingin bertemu dengan mereka?" tanya Arvan


" Tentu saja, mereka sahabat aku mas sebelum bersama kamu mereka yang selalu menemani aku dan menghibur hari-hari aku. apa kamu tidak terlalu egois mas menjauhkan aku dari mereka?" keluh Grea


Arvan terdiam lalu menghela napas panjang.


" Baiklah aku izinkan kamu pergi tapi kamu harus janji untuk menjaga diri kamu dan juga calon anak kita dengan baik, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu sayang jadi biarkan aku mengirim orangku untuk menjaga mu dari jauh!" ucap Arvan


" Mas aku bukan anak kecil aku bisa menjaga diri aku sendiri" protes Grea


" Aku tahu kamu bisa menjaga diri sendiri tapi disini " Arvan menunjuk dadanya " Tidak akan tenang jika kamu berada jauh dari jangkauan ku sayang. apa kamu tahu setiap detik aku tidak pernah berhenti memikirkan kamu dan jika kamu berada jauh dari pandangan ku maka hati ini terasa gelisah. jadi biarkan dia yang menjadi bayangan ku untuk menjagamu!" ucap Arvan


" Kamu tenang saja sayang, dia tidak akan mengusik kegiatan mu dengan teman-teman ku itu, selama kamu masih terlihat aman dia hanya menjagamu dari jauh dan akan beraksi jika kamu dalam keadaan bahaya" lanjut Arvan


" Tapi mas_" Grea hendak protes


" Iya atau tidak sama sekali. aku tidak akan bisa bekerja dengan tenang jika kamu tanpa pengawasan ku!" tegas Arvan.


" Baiklah, terserah kamu saja mas!" Arvan tersenyum lalu menarik tengkuk Grea dan melahapnya dengan rakus


" Mas ih, ini kantor bagaimana kalau tiba-tiba ada yang masuk?" kesal Grea


" Biarkan saja, siapa suruh main masuk!" sahut Arvan santai


" Sudah ya mas aku pamit pergi sekarang, mereka pasti sudah menungguku!" ucap Grea


" Iya hati-hati!" Grea menyalami dan mencium punggung tangan Arvan setelahnya Arvan mendaratkan kecupan di kening dan tidak lupa diperut Grea.


Setelah berpamitan pada Arvan Grea pun pergi dari ruangan Arvan dan sebelum pergi ke restoran yang dituju Grea tidak lupa menghubungi Bimo terlebih dahulu lalu menunggu Caca dilobi.


🖤


Arvan meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang untuk menjaga isterinya.


Sementara Grea langsung menemui Caca yang ternyata sudah menunggunya.


" Gue kirain loe gak jadi pergi?" ucap Caca setelah Grea menghampirinya


" Tadinya gitu, tapi ya gue rayu sedikit deh akhirnya es balok itu cair juga" terang Grea seraya terkekeh sendiri lalu berjalan beriringan dengan Caca pergi menuju pintu keluar

__ADS_1


" Es balok?" tanya Caca dan Grea mengangguk


" Suami loe maksudnya?" lagi-lagi Grea mengangguk


" Wah parah loe, suami sendiri dibilang es balok" Caca geleng-geleng kepala


" Ya loe tau sendiri orangnya dingin dan mencair kalau ada maunya doang" sahut Grea


" Mencairnya cuma sama loe yang pasti" ucap Caca dan Grea tertawa dengan pernyataan yang Caca ucapkan


" Bisa aja loe Ca!" Mereka pun sampai di depan kantor dan tidak lama taksi online yang Caca pesan pun datang.


Grea dan Caca masuk ke dalam mobil dan menuju restoran xx


" Ca anak-anak sudah pada tau ya kalau gue sudah nikah?" tanya Grea membuat Caca yang tengah fokus berkirim pesan dengan Jojo menoleh.


" Sepertinya sih sudah dan sebenarnya kita-kita tuh sudah curiga saat pak Arvan menjemput loe di kampus dan loe juga bilang kalau loe isteri presdir" Sahut Caca


" Jadi waktu itu kalian semua langsung percaya gitu aja?" Grea penasaran


" Ya enggak juga sih tapi justru saat itu gue malah baru tahu kalau pak Arvan itu presdir PT Pratama Grup" sahut Caca dengan jujur


" Bimo mengenali pak Arvan dan dia yang mengatakan semuanya tentang laki-laki yang menjemput loe saat itu dan Bimo juga bilang kalau gue gak boleh ngomong apa-apa soal ini sampai loe sendiri yang mengatakan sendiri" lanjutnya.


" Ya ampun sorry ya Ca, gue gak ada maksud untuk menyembunyikan semua ini dari kalian" Grea merasa bersalah


" Iya gue paham kok, dan mereka juga sudah mengerti cuma mereka hanya ingin loe cerita langsung sama mereka" ungkap Caca


" Iya Ca, gue pasti cerita kok sama mereka" dan tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah sampai di restoran yang dituju.


Grea dan Caca pun turun dari dalam taksi dan langsung masuk ke restoran tersebut.


" Grea, Caca!" teriak Bimo yang ternyata sudah datang.


Grea dan Caca pun melangkahkan kakinya ke arah Bimo yang ternyata disana juga sudah ada Jojo dan Micko


" Sorry telat!" ucap Grea


" Iya gak apa-apa, kita juga baru sampai kok" ucap Bimo


Caca dan Grea duduk dan tidak lama pesanan Bimo pun datang.


" Sorry ya gue pesan duluan kalau ada yang mau tambah silahkan!" ucap Bimo


" Ca, loe mau pesan apa?" tanya Jojo


" Emm .... gak usah deh, kayaknya ini semua juga enak-enak" sahut Grea


Mereka pun mengawali pertemuan mereka dengan makan siang bersama setelah itu baru berbincang-bincang dan tidak lupa Bimo dan yang lainnya mencecar Grea dengan berbagai pertanyaan tentang perihal pernikahannya yang terkesan disembunyikan.


Micko nampak lebih banyak diam dan terus mencuri pandang kepada Grea.


" Sorry kalau gue udah bikin kalian semua merasa kecewa!" ucap Grea setelah menceritakan semuanya.


" Iya Grea gak masalah buat gue, kita juga ngerti kok posisi loe saat ini" timpal Bimo


" Terus bagaimana hubungan loe dengan si es balok itu sekarang?" tanya Jojo


"Baik bang, dia sudah sedikit berubah" sahut Grea


" Apa dia suka menyakiti loe?" tanya Bimo


" Tenang aja bang, dia gak akan berani kok macam-macam sekarang" sahut Grea


" Apa dia mencintai loe ?" tanya Micko yang sedari tadi lebih banyak diam


" Sangat, karena tadi dia mengirim mata-mata untuk mengawasi" sahut Grea sekenanya.


" Pantas saja" ucap Caca " Grea, loe perhatiin gak cewek yang sedang duduk dimeja pojok sana dari tadi gue perhatiin dia terus melihat ke arah sini loh. mungkin gak sih kalau tuh cewek adalah mata-mata laki loe?" bisik Caca ke telinga Grea


" Bukan ah, mana ada cewek secantik dan seelegan dia mata-mata"


" Tunggu deh Grea, kalau gue perhatiin tuh cewek kok kayak cewek yang waktu itu bertengkar di lobi bersama pak Marcel deh kalau gak salah tapi kayaknya sih iya" tutur Caca seraya mengingat ingat.


" Maksud loe bertengkar bagaimana?" tanya Grea yang semakin penasaran


" Yang waktu itu sempat viral di kantor Grea"


"Jangan-jangan dia itu Caroline?" tutur Grea bermonolog sendiri


" Caroline?" tanya Caca


Grea mengangguk dan saat menatap ke arah yang ditunjuk mata mereka pun bertemu


Deg

__ADS_1


" Wanita itu?" gumam Grea dan keduanya menatap sendu ke arah Caroline


__ADS_2