
Ceklekk
Seorang dokter keluar dari ruang operasi setelah hampir berlangsung 5 jam lamanya.
Grea dan kedua orangtuanya langsung menghampiri dokter Malik yang menangani operasi Jimmy.
" Dokter bagaimana keadaan putra saya?" tanya Alex
" Dokter bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Grea berbarengan dengan Alex.
" Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar tapi_" ucap dokter Malik menggantung
" Tapi apa dokter?" tanya Alex cepat
" Untuk saat ini pasien masih dalam keadaan koma" ucap dokter Malik pelan.
" Apa koma?" seketika tubuh Grea lemas bagaikan tidak bertulang dan hampir saja jatuh jika tidak dengan cepat Arvan meraih tubuh Grea.
Grea hendak berontak tapi Arvan malah mengeratkan pelukannya membuat Grea hanya bisa pasrah karena berontak pun akan sia-sia tubuhnya saat ini begitu lemas.
" Koma?" ucap Alex lirih begitu juga Marla yang bahkan sudah tidak sadarkan diri saat tahu putranya dalam keadaan koma.
" Apa yang terjadi dokter bagaimana bisa putraku koma?" tanya Alex yang merasa begitu terpukul setelah mengetahui keadaan putanya koma.
Zaindra dan Risma pun merasa sangat terkejut dan prihatin dengan keadaan Jimmy terlebih saat ini ada putrinya yang tiba-tiba muncul membuat Zaindra dan Risma merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa putra sahabatnya sekaligus besannya itu.
Arin terjerabah memberingsut ke lantai saat mendengar Jimmy dalam keadaan koma Risma yang melihat Arin terduduk di lantai langsung menghampirinya.
" Ma maafkan Arin!" Isak tangis Arin pecah dalam dekapan sang Mama. Zaindra perlahan melangkahkan kakinya menghampiri Arin dengan tatapan tajam Zaindra seakan tengah menghakimi putrinya sendiri.
" Tuan Alex sebaiknya kita bicara di ruangan saya, mari tuan!" pinta dokter Malik sopan.
Alex mengikuti langkah dokter Malik pergi ke ruangannya. sementara Marla sudah sadar setelah tadi sempat pingsan.
Sementara Grea dibawa oleh Arvan ke taman rumah sakit.
" Lepas!" sentak Grea membuat Arvan mendengus kesal.
Grea hendak beranjak pergi ingin kembali ke ruangan Jimmy yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan. namun baru saja melangkah Arvan sudah lebih dulu menariknya.
" Lepaskan aku pak presdir yang terhormat!" ucap Grea dengan tegas dan penuh penekanan.
" Cukup Dira ini bukan dikantor" ucap Arvan yang tidak suka dengan cara bicara Grea
" Baik dikantor ataupun bukan anda tetaplah atasan saya tuan" ucap Grea dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
" Ada apa denganmu?" Arvan meraih tangan Grea namun langsung di tepis kasar oleh Grea.
" Anda sendiri yang menganggap saya sebagai orang asing bukan jadi jaga sikap anda tuan Presdir yang terhormat" lagi-lagi ucapan Grea membuat Arvan merasa sangat tersindir.
" Dira jangan seperti ini!" ucap Arvan yang berusaha untuk menahan emosinya.
" Silahkan tuan bawa pergi adik tercinta anda dari sini. aku tidak ingin saat kak Jimmy tersadar dia melihat kembali wanita yang sudah menghancurkan impiannya." ucap Grea sinis
" Berpikirlah positif Dira, kita bisa mengambil hikmah dari semua kejadian itu, jangan terus menerus menyalahkan Arin walaupun aku tahu dia memang bersalah" ucap Arvan berusaha untuk menenangkan Grea
" Lalu kau mau aku bagaimana? memeluknya dan berterima kasih kepadanya begitu?" tanya Grea penuh penekanan disetiap pertanyaannya.
" Dira!" ucap Arvan seraya menghela napasnya berat.
"Sudahlah, sebaiknya kau pulang bersama adikmu itu aku tidak mau melihatnya berada di sini!" pinta Grea dengan datar.
" Dira jangan seperti ini, jangan karena kejadian masa lalu merusak hubungan kita sayang!" ucap Arvan yang tidak menyerah ingin menaklukkan kembali hati isterinya.
__ADS_1
Grea tidak menghiraukan ucapan Arvan baginya saat ini adalah kondisi Jimmy yang sangat memperihatinkan. Grea melangkah pergi meninggalkan Arvan begitu saja.
Arvan menendang kakinya ke udara melampiaskan kekesalannya. " Akhhhhh!" teriak Arvan frustasi mengacak-acak rambutnya kasar.
" Presdir!" panggil seseorang yang sudah berdiri dibelakang Arvan.
" Kau!" Arvan menghempaskan dirinya duduk di bangku taman dengan kasar
" Presdir maaf jika saya lancang, tapi saya rasa untuk saat ini nyonya muda hanya butuh waktu dalam menerima situasi yang terjadi saat ini, nyonya muda hanya syok dengan kemunculan non Arin kembali ditambah lagi dengan kondisi kakaknya yang sangat memperihatinkan" tutur Hanan hati-hati takut tuannya tersinggung.
" Apa maksudmu?" tanya Arvan dengan dingin
" Mohon Presdir untuk lebih bersabar lagi dalam menghadapi nyonya muda, dengan perlahan saya yakin nyonya muda pasti akan menerima semua ini apalagi Presdir juga pasti sudah tahu bagaimana sifat nonya muda!" tutur Hanan
" Kau benar Han, Dira memang tipe gadis yang sangat sulit ditebak, dia bisa bersikap lembut dan menggemaskan seperti anak kucing yang lucu tapi di sisi lain dia juga bisa seperti anak macan meskipun lucu tapi bisa mengaum dan mematikan" tutur Arvan
" Iya tuan, jadi saran saya bersabarlah dan ikutilah apa kemauan nyonya muda" ucap Hanan
" Tapi tetap saja Han aku tidak suka dengan caranya yang bersikap seenaknya terhadap Arin adikku Han!" tegas Arvan
" Tapi tuan ini demi ikatan pernikahan kalian" ucap Hanan.
" Sudahlah Han, biarkan saja, terserah dia maunya apa sekarang" ucap Arvan yang langsung beranjak dari duduknya
" Tetaplah di sini Han, aku akan membawa Arin pulang. jika ada apa-apa kabari aku!" ucap Arvan sebelum beranjak pergi meninggalkan Hanan yang tengah menghela napasnya berat.
Arvan mengajak Arin pulang ke rumah bersama Risma dan Zaindra. awalnya Arin menolak tapi karena Zaindra yang dari semenjak kedatangan Arin diam saja akhirnya angkat bicara dan memerintahkan Arin untuk pulang bersama Arvan.
Setelah sampai di kediaman Zaindra suasana nampak menegangkan, Arin tidak berani mengangkat kepalanya disaat tatapan tajam terus menghunus kearahnya dari sang papa.
Plakk
Satu tamparan akhirnya mendarat juga di pipi mulus Arindia sampai membuatnya terjerabah ke lantai.
" Dia pantas mendapatkan itu!" sentak Zaindra yang merasa geram dengan putri yang selama ini dia sayangi tapi dengan tega sudah membuat keluarganya malu.
" Untuk apa kau kembali lagi? puas kamu sudah mempermalukan keluarga mu sendiri demi laki-laki pengecut itu hah?" bentak Zaindra dengan suara yang menggelegar sampai memenuhi seisi ruangan.
" Pah!" ucap Arin yang bersimpuh di lantai
" Ma.. maafkan Arin pah, Arin menyesal karena sudah melakukan hal sebodoh itu, maafkan Arin pah...mah!" tangis Arin semakin pecah.
" Sudahlah pah yang terpenting saat ini Arin putri kita sudah kembali" ucap Risma yang sudah ikut menangis dan membantu putrinya berdiri
" Pulang? untuk apa dia pulang, lihat akibatnya karena melihat kemunculannya kembali Jimmy akhirnya kecelakaan" tutur Zaindra.
" Pah itu semua bukan kesalahan Arin, semua terjadi karena murni kecelakaan." ucap Arvan yang tidak tega melihat adiknya terus disalahkan walaupun memang semua kejadian berawal karena ulahnya.
" Sudah jangan ikut campur kamu Van, sebaiknya urus saja urusanmu sendiri yang papa yakin saat ini kamu dan Grea pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja, iyakan?" cecar Zaindra membuat Arvan seketika bungkam.
" Apa benar itu Van?" tanya Risma
" Iya mah, Grea merasa kecewa dengan Arin dan tadi dikantor mereka sempat bertemu!" ucap Arvan
" Pantas, Grea selalu menghindarimu" ucap Zaindra
" Semua salah Dira pah, jika dia merasa kecewa dengan apa yang Arin lakukan berarti diapun menyesal karena sudah menikah dengan ku "
" Dia menyesal karena sudah nikah jadi pengantin pengganti, dia bilang semua impiannya hancur " ucap Arvan lagi.
" Aku sudah berusaha membujuknya tapi rupanya dia sangat membenciku pah, dia menyesal menikah dengan ku pah, biarkan terserah apa maunya sekarang aku tidak peduli" Arvan pasrah.
" Grea bukan menyesal dengan pernikahan kalian Van mama yakin Grea sudah menerima kamu sepenuhnya, dan mama yakin kamu yang paling tahu soal itu. Grea hanya meluapkan kekecewaannya yang dia pendam selama ini Van, andai kamu berada di posisi Grea bagaimana? apa yang akan kamu lakukan setelah kamu bertemu dengan seseorang yang sudah menyakiti hati adikmu, mencampakkannya tepat di hari pernikahan" tutur Risma mengingatkan putranya namun kata-katanya juga turut menyentil hati sang putri.
__ADS_1
" Grea itu memang anak yang keras kepala tapi hatinya begitu lembut, jika bukan karena dia mama yakin saat ini mama sudah tidak ada bersama kalian disini" ucap Risma sendu teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu dimana sang putri pergi tepat di hari pernikahannya.
" Grea memang memiliki impian untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri dan ingin menjalani hidup bebas bergaul dengan teman-temannya. tapi yang mama lihat belakangan ini Grea justru sibuk dengan kamu bukan?" tanya Risma yang langsung membuat Arvan tercekat.
" Apa mama tahu Dira bekerja di perusahaan ku?" batin Arvan.
" Van kamu yang lebih tahu bukan bagaimana seorang Greandira?" tanya Risma memincingkan matanya.
" Jangan salahkan Grea Van jika dia marah dan kecewa itu hal wajar. apalagi sekarang kakaknya Jimmy dalam keadaan koma. kamu juga tahu bagaimana hubungan Grea dengan kakaknya yang begitu dekat jadi mama harap kamu jangan egois dan berpikirlah positif Van." ucap Risma.
" iya mah, kalau begitu aku pamit pulang pah , mah " ucap Arvan lalu beranjak pergi
Di rumah sakit Grea terus saja diam menatap sendu wajah pucat yang terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen.
" Gre sebaiknya kamu pulang saja, biar kakak mu mommy dan daddy yang menjaganya!" pinta Marla
Grea hanya menjawab dengan gelengan pelan.
" Gre kamu harus istirahat, suami kamu juga pasti sudah menunggu kamu pulang" ucap Alex namun tidak membuat Grea bergeming dan tetap menatap kosong ke arah sang kakak.
Melihat Jimmy yang berbaring lemah tidak berdaya membuat hati Greandira terasa sakit, dunianya seakan roboh karena tidak melihat senyum dan tawa sang kakak yang kini berbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
Air mata Grea meluncur begitu saja, memori kebersamaannya dengan sang kakak terlintas begitu saja dalam ingatannya.
" Grea!" Alex mengusap lembut pucuk kepalanya.
" Kakakmu pasti akan segera sadar, jangan khawatir kakakmu orang yang sangat kuat!" ucap Alex dan Grea mengangguk pelan.
...✨✨✨...
Pagi ini Arvan bersiap-siap berangkat ke kantor namun ia merasakan ada sesuatu yang hilang hari ini. Ya tidak ada Grea membuat Arvan merasa kesepian ia teringat dengan kegiatan Grea yang setiap pagi selalu menyempatkan diri untuk membuatkannya sarapan.
Di dalam mobil Arvan pun mendengus kesal pasalnya ia juga teringat dengan Grea yang menyuapinya makan sarapan saat mereka hampir telat akibat ulah Arvan yang menggoda Grea dipagi hari.
" ahhh.. sial" umpat Arvan merasa kesal sendiri.
" Baiklah aku akan mengalah, nanti di kantor aku akan minta maaf kepadanya" ucap Arvan.
Setelah sampai di kantor Arvan dengan wajah datar dan aura dingin masuk ke dalam ruangannya. semua karyawan merasa takut dengan aura dingin yang terpancar dari Presdir mereka.
Ceklekk
Arvan masuk ke dalam ruangannya dan langsung duduk di kursi kebesarannya, Hanan yang sedari tadi mengikutinya memincingkan matanya saat netranya melihat ada amplop di atas meja Arvan.
" Presdir!" panggil Hanan yang langsung sibuk dengan layar laptopnya.
" Loh kamu masih disini Ha?" tanya Arvan
" Emmm... itu tuan!" tunjuk Hanan dengan ekor matanya ke arah amplop yang ada di atas meja.
" Amplop apa ini Han?" tanya Arvan
" Saya juga tidak tahu Presdir" sahut Hanan
" Ambil dan lihatlah!" titah Arvan
Hanan meraih amplop putih yang berada di atas meja lalu membukanya perlahan dan betapa terkejutnya Hanan saat membaca surat tersebut.
" Presdir ini!" Hanan menyodorkan surat tersebut kepada Arvan
" Apa?" tanya Arvan seraya meraih kertas putih dari tangan Hanan dan Seketika matanya membulat setelah melihat isi dari surat tersebut.
" Ini_!" ucap Arvan dengan keterkejutannya
__ADS_1