Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Keraguan


__ADS_3

Sesampainya di rumah Caca langsung masuk ke dalam kamarnya. menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas kasur.


" Kenapa jadi seperti ini?" gumam Caca memikirkan permasalahan yang baru saja dihadapinya. satu pria yang dengan terang-terangan mengkhianati dirinya dan disaat itu pula ada pria lain yang secara tidak langsung melamarnya.


Caca beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju meja rias dan memandang pantulan dirinya di depan cermin.


" Apa-apaan ini, apa sebegitu buruknya aku sampai di permainkan seperti ini?" gumam Caca


" Aku tidak yakin dengan ucapan bang Jimmy, apalagi kak Arin sudah kembali dan yang aku tahu mereka saling mencintai" Caca menghela napasnya berat


" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Caca dalam hati


🖤


" Bang!" sapa Grea saat melihat Jimmy yang baru pulang


" Dek, belum tidur?" tanya Jimmy yang melihat Grea baru keluar dari arah dapur


" Abang dari mana tumben baru pulang jam segini?" bukan menjawab pertanyaan Jimmy Grea malah balik bertanya


" Abang ada urusan!" sahut Jimmy asal seraya tersenyum lalu mengacak rambut Grea sebelum beranjak pergi ke kamarnya.


" Ish, !" Grea memberengut lalu kembali ke dalam kamarnya


Jimmy masuk ke dalam kamarnya dan langsung membersihkan diri sebelum ia beranjak untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Setelah mandi Jimmy naik ke atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. Jimmy berusaha untuk memejamkan matanya namun berkali-kali wajah sendu Arindia muncul dalam penglihatannya.


Jimmy langsung beranjak dan mendudukkan dirinya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Ish, sial!" umpatnya


" Aku harus bisa melupakannya karena dia hanyalah masa lalu dan aku harus bisa mengukir nama Caca di dalam hatiku karena dia yang akan menjadi masa depanku" Gumamnya seraya membayangkan wajah Caca yang nampak lugu dan dan polos.


" Ah.. anak itu sangat menggemaskan" ucap Jimmy yang jadi gemas sendiri saat membayangkan wajah Caca.


Lelah memikirkan wanita masa lalu dan masa depan akhirnya Jimmy pun tertidur juga.


Pagi harinya Jimmy seperti biasa bangun tidur langsung bersih-bersih dan tidak lupa menjalankan ibadah subuh setelah itu ia bersiap-siap untuk pergi ke kantor


" Selamat pagi semua!" sapa Jimmy kepada anggota keluarganya yang sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.


" Selamat pagi Abang ganteng!" Jawab Grea


" Sepertinya ada yang lain nih dengan abang aku tercinta?" goda Grea seraya menaik turunkan alisnya kepada Jimmy


Jimmy yang baru mendaratkan bokongnya di kursi meja makan hanya tersenyum tipis.


" Kamu tumben sepagi ini sudah mau berangkat Jim?" tanya daddy Alex saat melihat Jimmy yang sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak berpamitan


" Iya bang, pasti ada sesuatu ini sih!" ucap Grea yang ikut menimpali


" Apa sih dek, abang itu ada urusan penting jadi harus berangkat lebih awal!" ucap Jimmy


" Urusan apa sepagi ini?" tanya mommy Marla yang ikut bertanya karena merasa penasaran dengan sikap putranya yang tidak biasanya berangkat sepagi ini.


" Urusan cewek yang bang?" tanya Arvan yang menyeletuk asal namun seketika membuat Jimmy tersedak salivanya sendiri


" Wah kayaknya tebakan suami aku benar ya bang?" Grea kembali menggoda sang kakak


" Berisik!" ucap Jimmy lalu mengacak-acak rambut Grea membuat sang adik lagi-lagi menekut wajahnya


" Ish, abang kebiasaan!" kesal Grea lalu merapihkan rambutnya kembali


" Hai baby Cia!" sapa Jimmy saat seorang art membawa baby Cia ke ruang meja makan


" Wah sudah bangun ya bi baby Cia?" Grea langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri art yang tengah menggendong baby Cia


" Sayang uncle pergi dulu ya, emwah!" ucap Jimmy seraya mendaratkan kecupan di pipi gembul baby Cia sebelum beranjak pergi.


Setelah berpamitan kepada orang tuanya Jimmy langsung bertolak pergi ke rumah Caca berharap gadis itu masih belum berangkat ke kantor.


Jimmy mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi sehingga Jimmy hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai ke rumah Caca.


Caca yang baru keluar dari rumah nampak terkejut dengan keberadaan Jimmy yang sudah berada di depan rumahnya.


" Loh bang Jimmy sedang apa disini?" sapa Caca yang langsung menghampirinya


" Menjemput calon isteri" sahut Jimmy dengan santai


Wajah Caca seketika bersemu merah namun sedetik kemudian Caca tersadar tidak boleh terlena begitu saja dengan gombal laki-laki yang berada di hadapannya saat ini.


" Pagi-pagi sudah bercanda aja bang, garing tau" Caca tersenyum sambil geleng-geleng kepala


"Abang gak bercanda, serius ini" Jimmy membuka pintu mobil untuk Caca


" Bang Jim, bukannya kantor bang Jim dengan kantor pak Arvan itu berlawanan arah ya?" tanya Caca yang tahu dengan jelas arah letak kantor Jimmy berada


" Bang Jim, lucu juga kedengarannya" Jimmy bukan menjawab pertanyaan Caca malah fokus dengan panggilan Caca terhadapnya.


" Bang Jim sebaiknya aku berangkat sendiri aja naik taksi online, bang Jim gak perlu repot-repot mengantarkan aku" ucap Caca yang merasa tidak enak karena merepotkan kakak dari sahabatnya itu.


" Aku sudah sejauh ini menjemput kamu malah menolak, tega sekali" ucap Jimmy dengan wajah yang sedikit ditekuk

__ADS_1


" Oh ya ampun manis sekali wajah Bing jim kalau lagi merajuk seperti itu"batin Caca


" Bukan begitu bang, aku merasa tidak enak saja karena sudah merepotkan, apalagi kantor kita kan berlawanan arah apa bang Jim tidak takut terlambat ke kantor?"


" Kamu tenang saja aku tidak merasa direpotkan kok malah senang, ayok masuk nanti terlambat bisa kena semprot Arvan lagi" Jimmy mempersilahkan Caca untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah berada di dalam mobil keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


" Pulang jam berapa?" tanya Jimmy tiba-tiba membuat Caca langsung menoleh seketika


" Ya?"


" Kamu pulang jam berapa?"


" Gak nentu bang, ya kalau tidak lembur pulang seperti biasa jam 4"


" Memangnya kenapa bang Jim?" tanya Caca


"Biar aku jemput ya nanti pulangnya"


"Ya?" tanya Caca yang takut salah dengar


" Biar aku jemput nanti pulang kerja" sahut Jimmy


" Gak usah bang Jim, aku bisa pulang sendiri kok, lagi pula aku mau langsung pergi ke kampus" tolak Caca dengan halus


" Kamu masih kuliah Ca?" tanya Jimmy


" Iya bang, lagi bikin skripsi"


" Sebentar lagi lulus dong?"


" Ya doakan saja bang semoga bisa lulus tahun ini"


" Amin" Jimmy tersenyum


Tidak terasa mobil mereka pun sudah sampai di depan perusahaan Pratama Grup, Caca turun dari mobil Jimmy dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka.


Caca memasuki lobi kantor setelah mobil Jimmy melesat meninggalkan perusahaan tersebut dan saat hendak masuk ke dalam lift tiba-tiba tangan Caca dicekal oleh seorang wanita.


" Ada hubungan apa kamu dengan Jimmy hah?" sarkas seorang wanita yang tidak lain adalah Arindia


" Bu Arin?" Caca terkejut bukan main melihat Arin yang tidak lain adalah adik dari atasannya itu


" Sekali lagi aku tanya, ada hubungan apa kamu dengan Jimmy, kenapa dia bisa mengantar mu?" tanya Arindia dengan sorot mata yang sulit di artikan


"A..aku aku tidak punya hubungan apa-apa dengan bang Jimmy" sahut Caca sedikit terbata


" Ingat baik-baik, Jimmy hanya mencintai aku dan jangan pernah bermimpi untuk mendekatinya. kamu hanyalah sekedar tempat pelariannya semata jadi jangan berharap lebih, camkan itu!" ucap Arindia penuh penekanan


Caca hanya terdiam enggan menimpali ucapan Arindia karena ia tidak mau menambah keruh suasana apalagi pagi itu banyak karyawan yang sudah datang dan interaksi mereka cukup menjadi pusat perhatian.


Arindia pergi meninggalkan Caca begitu saja sementara Caca masih diam membeku di tempat menatap punggung Arindia yang semakin menjauh


" Ada apa?" tanya Nana yang merupakan teman satu devisi dengan Caca menepuk bahunya


" Ah tidak ada apa-apa" sahut Caca yang sempat terkejut melihat kedatangan Nana


" Bukannya itu Bu Arin ya adik pak bos?" tanya Nana yang sempat melihat sekilas Arindia


Caca mengangguk pelan " Udah yuk ah nanti telat lagi!" ucap Caca merangkul bahu Nana


Disepanjang hari Caca terus teringat dengan ucapan Arindia yang seolah telah menghakimi dirinya secara langsung. meskipun Caca belum memberi Jawaban apa-apa terhadap Jimmy tapi perlakuan dan sikap Jimmy terhadapnya seakan telah membuktikan kalau posisi Caca saat ini adalah penghalang yang memisahkan cinta diantara Jimmy dengan Arindia meskipun pada kenyataannya Arindia sendirilah yang sudah mencampakkan cintanya sendiri.


" Ca loe gak pulang, ponsel loe dari tadi bunyi terus tuh?" tanya Nana saat hendak bersiap untuk pulang begitu juga dengan rekan kerjanya yang lain


" Eh iya?" Caca pun tersadar dari lamunannya lalu tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Elo itu kenapa sih Ca dari tadi gue perhatiin banyak ngelamunnya?" tanya Nana yang jadi penasaran dengan sikap Caca hari ini


" Gue gak apa-apa, mungkin karena sedikit capek aja kali, maklumlah belakangan inikan banyak pekerjaan" sahut Caca beralasan


" Oh gitu, ya udah cepat loe beresin tuh barang emang loe mau menginap di sini?" Nana menunjuk beberapa berkas yang masih menumpuk dan sedikit berantakan di meja kerja Caca


" Ya enggaklah!" sahut Caca lalu dengan gerakan cepat membereskan meja kerjanya


" Ca loe hari ini langsung ke kampus apa pulang?" tanya Nana saat keduanya tengah berjalan di lobi


" Ke kampus" sahut Caca


"Loe di jemput Micko?" tanya Nana kembali membuat langkah Caca seketika terhenti


" Ca?"


" Gue sama Micko sudah putus" sahut Caca menatap ke arah Nana


" Putus? serius loe?" Caca mengangguk pasti


"Kenapa?" tanya Nana yang sangat terkejut mendengar hubungan Caca dan Micko putus


" Ada satu alasan kenapa hubungan gue dan Micko tidak lagi dapat sejalan dan keputusan untuk berpisah adalah satu-satunya jalan yang harus kami ambil" Sahut Caca


" Tapi kenapa dia masih datang ngejemput loe?" tanya Nana yang melihat kehadiran Micko diluar

__ADS_1


Caca mengikuti arah pandangan mata Nana dan dia dapat melihat dengan jelas keberadaan Micko.


" Gue gak tau kenapa dia masih datang ke sini" sahut Caca yang kembali melanjutkan langkahnya bersama Nana ke arah yang berbelok bukan ke arah Micko


" Loe yakin Ca gak ada hal yang perlu kalian bicarakan lagi saat ini?" tanya Nana yang melihat Micko terus menatap ke arah mereka


" Gak ada Na, semuanya sudah berakhir dan gak ada lagi yang perlu dibahas lagi" sahut Caca


" Tapi Ca sepertinya dia mengikuti loe"


" Ish, ngeselin banget sih tuh orang" kesal Caca yang semakin mempercepat langkahnya dan langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat


" Ca tunggu!" teriak Micko yang berhasil meraih tangan Caca pada saat Caca hendak masuk ke dalam taksi tersebut.


"Ca gue duluan ya!" ucap Nana yang sudah berada di dalam taksi dan Caca pun mengangguk pasrah.


" Ca kita perlu bicara" ucap Micko


" Bicara ?" Caca tersenyum hambar


" Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, semua sudah jelas sangat jelas" Caca menatap tajam ke arah Micko


" Ca aku minta maaf" ucap Micko yang langsung membuat Caca tersenyum tapi senyum yang sulit di artikan.


" Aku maafkan" ucap Caca cepat dan langsung beranjak pergi


" Ca tunggu!" cegah Micko yang mencekal lengan Caca.


" Bisa lepas?" tanya Caca dengan sorot mata ke arah tangan Micko yang tengah mencekal lengannya


Micko melepaskan tangannya dari lengan Caca " kamu mau ke kampus kan biar aku antar" ucap Micko


" Terima kasih atas tawarannya tapi gue bisa berangkat sendiri" ucap Caca yang langsung menyetop taksi yang kebetulan melintas


" Gue duluan!" ucap Caca yang sudah tidak lagi menggunakan kata aku kamu saat berdua dengan Micko


Micko menatap lekat taksi yang Caca tumpangi " Sial beraninya dia menolak, awas saja gue akan memberi dia perhitungan" gumam Micko


Tidak butuh waktu lama Caca akhirnya sudah sampai di kampus.


" Ca woyyy, serius amat tuh muka?" sapa Jojo yang langsung merangkul Caca dari belakang


" Ish bang Jo ngagetin aja tau" ucap Caca memberengut


" Ya makanya anak gadis itu kalau jalan gak boleh sambil ngelamun"


" Tapi masih gadis atau_" ledek Jojo yang langsung mendapat serangan pukulan bertubi-tubi dari Caca dengan tasnya


" Gue masih gadis bang sembarangan aja meragukan gue" kesal Caca tapi malah membuat Jojo tertawa


" Yang benar, apa bisa dibuktikan sekarang?" goda Jojo


" Wah nih orang pingin cari mati ya rupanya" Caca langsung menghampiri Jojo dengan menunjukkan kepalan tangannya membuat Jojo berancang-ancang untuk kabur dan terjadilah acara kejar-kejaran yang sempat menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang lain.


" Hey... stop!" Bimo yang baru saja datang langsung melerai keduanya


" Kalian ini apa-apaan sih sudah kayak Tom and Jerry aja sih"


" Tuh karena Jojo ngeselin" sahut Caca yang mengerucutkan bibirnya


" Ya gue kan cuma mencari bukti" sahut Jojo santai dan kembali tertawa


" Tuh kan nih anak benar-benar ngeselin" ucap Caca


" Ish, berisik banget sih kalian" ucap Grea yang tiba-tiba muncul


" Greaaaaa....!" teriak Caca senang


" Biasa aja gak usah pakai teriak juga kali" mulut Caca dibekap oleh Jojo dan seketika Caca menggigit tangan Jojo


" Aaa.." teriak Jojo yang meringis kesakitan


" Rasain tuh, wleee!" Caca menjulurkan lidahnya


" Wah ini anak" saat Jojo hendak membalas Caca Bimo sudah menarik tas punggung yang Jojo kenakan dan langsung menggeretnya masuk ke dalam kampus dan tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan Caca


" Ca bagaimana kabar loe?" tanya Grea yang melihat raut kesedihan di wajah sahabatnya itu


" Kabar gue baik, kabar loe sendiri dan juga keponakan gue bagaimana?" tanya Caca saat mereka sudah berada di dalam kelas


" Kami semua baik-baik saja"


" Loe balik kuliah lagi, diizinin sama laki loe?"


" Tentu dong di ngasih izin, bisa puasa dia kalau gak ngasih izin gue kuliah" Sahut Grea seraya tergelak


" Wah parah loe ancamannya luar biasa" Caca pun ikut tertawa


" Hai Grea... hai Ca !" sapa seseorang yang sudah berdiri di hadapan keduanya membuat Caca seketika membeku saat indera pendengarannya mengenal dengan jelas pemilik suara tersebut.


Deg


Caca terdiam dan enggan sekali menoleh melihat pemilik suara.

__ADS_1


__ADS_2