
"Jadi kamu menyesal?" pertanyaan itu meluncur dengan aura dingin dari bibir Arvan membuat Grea seketika menelan salivanya kasar melihat tatapan Arvan yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
Glek
" Menyesal?" tanya Arin menatap secara bergantian Arvan dan Grea.
Grea terdiam dan menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya sejenak.
" Menyesal, untuk apa aku menyesali sesuatu yang sudah terlanjur terjadi? aku hanya butuh jawaban dan alasan kenapa kak Arin bisa setega itu melakukan semua itu terhadap kak Jimmy?. jika memang kak Arin tidak mencintai kak Jimmy kenapa kak Arin tidak mengatakannya dengan jujur, setidaknya dengan berkata jujur dari awal kak Jimmy pasti tidak akan merasa sesakit dan sekecewa itu kak dan pernikahan itu pun_" tutur Grea yang menjeda ucapannya
" Apa? pernikahan itu pun apa, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, begitukah?" tanya Arvan yang sudah mengeraskan rahangnya.
" Aku tidak ingin membahasnya" ucap Grea datar
" Kenapa?" selidik Arvan.
"Sudah aku bilang aku tidak ingin membahasnya!" ketus Grea
" Cih, kenapa? apa kamu merasa menyesal dengan pernikahan yang sudah terlanjur terjadi?"
" Bukankah sudah aku bilang aku tidak ingin membahasnya!" dengus Grea kesal
" Tunggu dulu, jika kamu benar adalah adik Jimmy bagaimana mungkin kau ini bekerja sebagai OG di perusahaan kak Arvan?" tanya Arin yang membuat Grea dan Arvan saling melempar pandang dan lupa akan kekesalannya masing-masing karena pertanyaan yang meluncur dari Arindia
" Aku..!" Grea
"Dia..!" Arvan
Mereka nampak bingung harus menjawab apa kepada Arin tentang Grea yang memakai seragam OG perusahaan Arvan.
" Dia.. dia sedang melakukan penelitian untuk tugas kuliahnya" jawab Arvan sekenanya.
" Benarkah?" tanya Arin yang nampak tidak terlalu begitu percaya.
" Hem!" Jawab Grea memutar bola matanya malas
" Lalu apa maksud kak Arvan bertanya tentang menyesal, lalu pernikahan apa dan siapa yang menikah?" tanya Arin yang nampak penasaran.
" Emmmm... sebenarnya_" ucap Arvan menggantung kata-katanya.
" Sebenarnya setelah kak Arin menjadi orang yang paling tidak bertanggung jawab dimuka bumi ini kedua orang tua kita tetap melakukan acara pernikahan tersebut" jawab Grea dengan nada kesal
" Maksudnya?" Arin nampak bingung
" Ya, pernikahan itu tetap berlangsung, aku dan kakakmu lah yang terpaksa harus nikah menjadi pengantin pengganti!" ketus Grea.
" Apa? ja... jadi kakak sudah menikah dengan dia, adiknya Jimmy?" tanya Arin yang merasa terkejut dan Arvan mengangguk pelan.
" Ini tidak mungkin!" gumam Arin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan tidak percaya dengan fakta yang baru saja di dengarnya.
" Dan sekarang kenapa kak Arin kembali?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari Grea membuat Arvan sedikit geram
" Dira!" sentak Arvan
" Aku berharap cukup kak Arin muncul di hadapanku dan jangan pernah muncul di hadapan kakakku Jimmy!" tegas Grea dengan tatapan benci.
" Dira jaga ucapanmu!" Arvan kembali membentak Grea karena tidak suka dengan cara bicara dan tatapan Grea terhadap adiknya
__ADS_1
" Cih," Grea berdecak lalu tersenyum miring
" Aku tidak mau kedatangan kak Arin kembali membawa luka untuk kakakku!" ucapan Grea bagaikan pedang yang menghunus tajam langsung ke hati Arin.
" Maafkan aku Grea!" ucap Arin lagi. " A... aku kembali karena ingin meminta maaf kepada kakakmu Jimmy. aku merasa sangat bersalah kepadanya Grea, aku sungguh-sungguh menyesal !" ucap Arin dengan wajah sendu.
" Menyesal? kakak bilang menyesal, lalu bagaimana dengan luka yang sudah terlanjur kakak torehkan, apa kakak bisa kembali menyembuhkan luka itu hingga tak lagi membekas?" tanya Grea dengan senyum meremehkan " Tidak bisakan?" sentak Grea
" Sekarang dengan mudahnya kakak datang dengan kata maaf dan menyesal. apa karena laki-laki itu kini sudah mencampakkan kak Arin lalu kak Arin dengan mudahnya berharap bisa kembali kepada kakakku iya?" sentak Grea
Jlepp
Arin tersentak dan hampir terhuyung ke belakang jika tidak dengan cepat Arvan memeganginya.
" Dira sudah cukup, kamu sungguh keterlaluan!" bentak Arvan membuat Grea benar-benar geram dengan sikap Arvan.
" Sebaiknya kamu keluar sekarang!" ucap Arvan yang dimaknai sebagai pengusiran oleh Grea.
"Baik aku akan keluar sekarang pak presdir, permisi!" ucap Grea dengan tatapan benci kepada kedua kakak beradik yang berada di hadapannya.
Grea keluar dari ruangan Arvan dengan raut wajah penuh emosi membuat Vivi yang melihatnya tidak berani menyapa.
" Kamu tidak apa-apakan Arin?" tanya Arvan cemas
" Aku tidak apa-apa kak, maafkan aku kak!" ucap Arin disela isak tangisnya
" Tidak perlu minta maaf, sebaiknya kita pulang sekarang. mama dan papa pasti mereka sangat merindukanmu" ucap Arvan seraya memeluk sang adik
" Lalu bagaimana dengan isteri kakak, dia pasti membenciku dan sekarang dia juga pasti marah sama kakak?" tanya Arin membuat Arvan terdiam sejenak
" Tidak apa-apa, nanti dia kakak yang mengurus" ucap Arvan.
Arvan saat ini sedang berada di kediaman orangtuanya mengantarkan sang adik.
" Kak aku takut!" ucap Arin gemetar
" Tenang saja mereka pasti sangat merindukanmu, terutama mama" Arvan mengelus pucuk kepala Arin
Ceklekk
Arvan dan Arin masuk ke dalam rumah namun tidak mendapati siapapun hanya art yang baru saja keluar dari arah dapur.
" Bi!" sapa Arin
" Non Arin" ucap bi Ningsih yang terkejut melihat kedatangan Arin
" Bi kenapa sepi, mama sama papa mana?" tanya Arin.
" Nyonya besar dan tuan besar sedang pergi ke rumah sakit non" sahut bi Ningsih
" Ke rumah sakit, siapa yang sakit bi? apa penyakit mama kambuh lagi bi?" tanya Arvan yang nampak panik.
" Bukan tuan, tapi_!" bi Ningsih menggantungkan kalimatnya
" Tapi apa bi, bicara yang jelas!" bentak Arvan membuat bi Ningsih tersentak kaget.
" Tu...tuan muda Alexander yang masuk rumah sakit" ucap bi Ningsih gugup
__ADS_1
" Jimmy maksud bibi?" tanya Arvan memastikan
" Iya tuan" Arin menutup mulutnya dengan tangannya sendiri merasa terkejut dengan berita yang baru saja didengarnya tentang mantan calon suaminya itu.
" Ap.. apa bibi tau kenapa Jimmy bisa masuk rumah sakit ?" tanya Arin yang nampak khawatir.
" Yang bibi dengar tadi nyonya besar sempat bilang kalau tuan muda Jimmy mengalami kecelakaan saat ingin menghampiri non Arin yang berada di depan cafe dekat kantor tuan muda Arvan" tutur bi Ningsih
" Apa?" Arin sangat terkejut dengan penuturan bi Ningsih.
" Kak kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Arin yang sudah menitikkan air matanya.
" Tapi_" ucap Arvan menggantungkan ucapannya
" Kak kita ke rumah sakit sekarang!" sentak Arin tidak ingin ada penolakan
" Iya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Arvan
Setelah hampir satu jam perjalanan karena kondisi jalan yang cukup padat hari ini mobil Arvan pun sampai di parkiran rumah sakit.
" Kamu yakin mau masuk?" tanya Arvan meyakinkan Arin
" Iya kak, semua terjadi karena kesalahan aku kak" ucap Arin
Arvan dan Arin masuk ke dalam rumah sakit, setelah sampai di depan ruang operasi langkah keduanya terhenti saat melihat semua orang yang berada di depan ruangan itu nampak begitu khawatir. Netra Arvan menatap ke arah wanita yang kini terduduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar.
Perlahan kaki jenjang Arvan melangkah ke arahnya, sungguh terasa sakit melihat wanita yang sangat dicintainya menangis seraya memeluk lututnya sendiri.
Arvan berjongkok di hadapan Grea dengan perlahan tangannya terulur dan meraih tubuh yang bergetar itu kedalam pelukannya.
Grea yang terkejut langsung mendongak dan menatap wajah Arvan yang tengah memeluknya dan sedetik kemudian Grea menghempaskan tangan Arvan dengan kasar setelah mengingat kejadian tadi dikantor dan langsung beranjak dari duduknya.
Arvan terkejut dengan penolakan Grea di tambah tatapan dingin seorang Greandira.
" Say_!" baru saja Arvan ingin berucap Grea sudah pergi meninggalkannya dan menghampiri Alex.
" Daddy!" tangis Grea yang berhambur kepelukan Alex.
" Tenanglah sayang, kita berdo'a saja ya!" ucap Alex lembut mengusap punggung sang putri.
Alex tahu kekhawatiran dan kecemasan Grea terhadap sang kakak, Selain dekat dengannya Alex juga tahu Grea sangat dekat dengan Alex bahkan jika Alex tidak mampu membujuk sang putri maka Jimmy lah yang mengambil alih untuk membujuknya dan hal itu selalu berhasil.
Grea sangat menyayangi Jimmy bahkan saat Jimmy dicampakkan oleh Arin yang kini sudah menjadi adik iparnya Grea lah yang paling sedih. buat Grea kesedihan dan kekecewaan kakaknya sama saja dengan kesediaan dan kekecewaan untuknya.
Alex menoleh ke arah Arvan, ia melihat tatapan sendu di wajah pria yang selama ini selalu bersikap tegas dan dingin itu. Alex yakin jika putrinya dengan sang menantu pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" Ma, pah!" ucap lirih seorang wanita yang melangkah mendekati Risma dan Zaindra.
Semua menoleh ke arahnya dan nampak terkejut melihat Arin yang sudah berada di hadapan mereka di saat Jimmy sedang berjuang antara hidup dan mati.
Grea melerai pelukannya pada Alex dan menatap tajam ke arah Arin yang sudah menitikkan air matanya.
" Untuk apa lagi kau datang kesini?" tanya Grea dengan nada tidak bersahabat.
" Grea!" tegur Marla sang mommy.
" Karena wanita itu kak Jimmy sekarang berada di dalam sana mom!" ucap Grea yang bahkan enggan menyebutkan nama Arin. kebenciannya terhadap Arin masih begitu besar sehingga ia tidak bisa lagi menahan emosinya saat melihat orang yang mengecewakan sang kakak.
__ADS_1
" Greandira!" panggil Arvan yang malah mendapatkan tatapan tajam seorang Grea yang bila sudah merasa kecewa dengan seseorang maka tidak mudah untuk bersikap baik terhadap orang tersebut. katakanlah Grea egois tapi begitulah Greandira yang memang keras kepala.