
Pagi ini Grea merasa malas beranjak dari tempat tidur, ia masih bergelung dibawah selimut masih ingin menikmati tidurnya.
" Sayang bangun dong, tumben banget sih hari ini bermalas-malasan!" ucap Arvan mengguncang pelan tubuh Grea
" Mas boleh gak kalau hari ini aku di rumah saja ya, aku lagi malas aja pingin tidur masih ngantuk!" ucap Grea yang hari ini terlihat begitu manja
" Kamu sakit?" tanya Arvan yang seketika berubah cemas
" Enggak kok mas aku cuma merasa ngantuk aja!" sahut Grea
" Benar seperti itu?" tanya Arvan memincingkan matanya
" Iya mas, nanti kalau aku sudah merasa segar dan tidak mengantuk lagi aku akan datang menyusul mas ke kantor sekalian membawakan mas makan siang, bagaimana?" usul Grea membuat Arvan tersenyum.
" Baiklah kalau begitu terserah kamu saja, aku berangkat dulu ya!" ucap Arvan berpamitan kepada Grea
" Nanti kalau masih merasa lelah tidak usah dipaksakan ke kantornya, kamu istirahat saja di rumah tapi kalau ada apa-apa kamu harus segera menghubungi aku ya!" pesan Arvan mengusahakan lembut pucuk kepala Grea.
" Iya mas"
Setelah berpamitan dengan Grea dan mendaratkan kecupan di keningnya Arvan lalu pergi keluar kamar namun saat hendak memegang hendle pintu ponsel Arvan tiba-tiba berdering.
" Iya Han, ada apa?" tanya Arvan datar
" Presdir apa nyonya muda akan datang ke kantor bersama anda seperti biasanya hari ini?"
" Tidak, hari ini isteriku tidak ikut kekantor"
" Kenapa dengan nyonya presdir, apa nyonya muda sedang sakit?"
" Han kenapa kau begitu mencemaskan keadaan istriku ?"
" Maaf presdir bukan maksud saya seperti itu tapi saat kemarin anda pulang bersama Nyonya muda di kantor ada keributan antara tuan Marcel dan nona Olin ,mereka pun sempat membahas tentang tuan dan nyonya muda "
" Olin maksudmu Caroline, dia disini?"
Mendengar Arvan menyebut nama seorang wanita hati Grea bergemuruh dan menatap tajam ke arah Arvan yang tengah memunggunginya.
" Iya Presdir anda benar. bahkan dia sempat adu mulut dengan tuan Marcel dan yang membuat heboh adalah Nona Olin berani menampar pipi tuan Marcel sampai membuat tuan Marcel merasa geram dan hendak membalasnya"
" Apa, Marcel sampai berani mau membalas menampar Caroline?"
" Benar Presdir!"
Tanpa Arvan sadari wanita yang ada dibelakangnya berkali-kali mengumpatnya dengan kesal.
" Caroline, apa dia itu wanita di masa lalu mas Arvan? Kenapa dia begitu senang mendengar nama wanita itu dan mengkhawatirkan keadaannya, bahkan dia tidak mempedulikan keberadaan ku." ucap Grea mendengus kesal dan langsung beranjak dari tempat tidur masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.
Brukk
Arvan yang masih berdiri di ambang pintu terjingkrak kaget mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar
" Si*al!" umpat Arvan pas menoleh ke belakang Grea sudah tidak ada ditambah lagi dengan suara pintu yang ditutup dengan kasar otomatis Arvan sadar istrinya pasti marah dan salah paham.
" Presdir suara apa itu?" tanya sekretaris Hanan cemas
" Dira membanting pintu kamar mandi, dia pasti mendengarku menyebut nama Caroline dan pasti dia salah paham."
" Han kau hendle dulu pekerjaan ku, aku akan telat datang ke kantor atau mungkin aku tidak ke kantor hari ini. kau tahu sendiri bukan bagaimana isteriku Dira kalau sudah marah!"
" Baik Presdir!"
Setelah selesai memutus sambungan telponnya dengan Hanan, Arvan berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi kasur menunggu Grea yang tengah mandi.
Setelah hampir 20 menit Grea berada di kamar mandi akhirnya keluar juga dengan menggunakan bathrobe dan betapa terkejutnya Grea saat melihat Arvan yang dikiranya sudah berangkat ke kantor ternyata malah asik duduk di tepi tempat tidur sambil menatap serius ke arah layar ponselnya.
Grea mendengus kesal dan mengumpatnya berkali-kali di dalam hati karena merasa kesal dengan sikap suaminya yang dalam pikirannya pasti sedang berkirim pesan dengan wanita yang bernama Caroline.
" Jangan-jangan dia tidak jadi berangkat ke kantor karena janjian dengan wanita itu, Awas saja kalau kamu berani bermain dibelakang ku mas!" geram Grea menatap tajam ke arah Arvan yang nampak senyum-senyum sendiri.
" Ngeselin banget gak sih, liat itu dia malah senyum-senyum sendiri kayak gitu!" gumam Grea dalam hati.
Grea menghentakkan kakinya kesal lalu masuk ke walk in closet untuk berganti baju.
Arvan melirik sekilas setiap pergerakan Grea yang nampak kesal. Arvan sebenarnya senyum-senyum sendiri bukan karena dia sedang berkirim pesan dengan orang lain tapi rupanya dia sedang memvideokan isterinya yang tengah merajuk jadi Arvan bisa dengan jelas melihat wajah isterinya itu yang tengah memanyunkan bibirnya dan sangat menggemaskan menurut Arvan.
Grea keluar dari walk in closet dengan dress selutut berwarna moca dan dipadukan dengan celana legging berwarna hitam. Rambut panjang Grea di biarkan digerai ia lalu sedikit mempoles wajahnya dengan make-up tipis yang nampak natural.
Grea nampak begitu cantik membuat Arvan langsung meletakkan ponselnya di atas nakas lalu beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Grea yang tengah duduk di depan cermin.
Saat Arvan sudah berdiri di belakang Grea dan hendak memeluknya dari belakang dengan gerakan cepat Grea langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Arvan yang masih tercengang karena Grea yang membiarkan tangannya menggantung di udara saat ingin memeluknya.
" Sayang!" panggil Arvan saat Grea hendak membuka pintu kamar
Grea menghentikan gerakannya dan hanya diam mematung tanpa niat untuk menjawab panggilan Arvan.
" Katanya tadi gak mau ikut ke kantor tapi kok sekarang sudah dandan secantik ini sih, apa kamu sengaja ya menggoda mas?" Arvan perlahan berjalan ke arah Grea.
" Mas kalau kamu mau berangkat ke kantor ya pergi saja sana" ucap Grea yang langsung keluar dari kamar membuat Arvan melongo.
Arvan mengejar Grea keluar dari kamar dan menyusulnya duduk di meja makan. Grea dengan santai memakan sarapannya yang sudah dibuatkan oleh art yang ditugaskan untuk memasak dan bersih-bersih.
__ADS_1
" Sayang, kamu beneran gak mau ikut ke kantor?" tanya Arvan
" Tidak, aku tidak mau mengganggu mas" ucap Grea ketus
" Mengganggu?" beo Arvan
" Sayang, kamu ini kenapa sih?" tanya Arvan yang pura-pura tidak tahu
" Kenapa apanya? sudahlah mas sana pergi!"
" Kamu mengusirku?"
" Terserah mas mau menganggap bagaimana!" Grea beranjak dari duduknya dan langsung masuk ke dalam kamarnya kembali.
Arvan hanya mengulum senyumnya dan dengan santai menikmati sarapannya. Usai sarapan Arvan memilih duduk di ruang TV sambil memangku laptopnya mengerjakan pekerjaan kantornya yang baru dikirim oleh sekretaris Hanan melalui email.
Di dalam kamar Grea terus mengumpat dan memaki sang suami yang menurutnya tidak peka dan tidak membujuknya malah meninggalkan dirinya sendiri di apartemen dengan berbagai rasa ketakutan yang ada, takut jika suaminya selingkuh dan pergi meninggalkannya bersama wanita yang bernama Caroline tersebut.
Jam menunjukkan pukul 10, Grea masih betah di dalam kamarnya. Entah kenapa Grea tiba-tiba merasa sangat sedih dan takut kehilangan Arvan ayah dari bayi yang dikandungnya.
Grea terisak dalam diamnya lalu meraih ponsel miliknya dengan kesal Grea pun menghubungi Arvan.
Drett..
Arvan yang tengah berada di ruang TV pun menoleh ke arah ponselnya yang diletakkan di atas meja lalu menatap ke arah pintu kamarnya.
Arvan membiarkan saja ponselnya bergetar dan ingin melihat sampai dimana isterinya itu akan merajuk.
Sudah 3 kali panggilan tapi Arvan tidak mengangkatnya, sebelumnya Arvan tidak pernah sekalipun mengabaikan panggilan darinya. Tapi kali ini Grea dibuat gelisah dan kesal dengan sikap Arvan yang mengacuhkan dan mengabaikannya setelah tadi mendengar tentang wanita yang bernama Caroline.
Grea tidak bisa menahan rasa sedih dan sakit hatinya membayangkan Arvan bersama wanita lain. Grea berteriak dan menangis histeris membuat Arvan yang sedang berada di ruang TV pun langsung terlonjat kaget mendengar teriakannya, Arvan meletakkan laptopnya bergegas menuju kamar dimana Grea berada.
Ceklekk
"Sayang!" ucap Arvan yang sudah masuk ke dalam kamar membuat Grea nampak melongo melihat Arvan yang sudah berdiri di hadapannya.
" Kamu kenapa?" tanya Arvan membuat wajah Grea seketika merah padam.
Grea hanya diam menatap bingung ke arah Arvan yang berjalan pelan menghampiri dirinya dengan senyum yang mengembang.
" Kamu kenapa hem?" tanya Arvan lembut lalu mengusap pucuk kepala Grea dengan sedikit menahan tawanya karena melihat wajah Grea yang menggemaskan.
" Ke.. kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Grea dengan sedikit gugup dan salah tingkah
" Ya karena memang sedari tadi aku tidak kemana-mana ada di ruang TV mengerjakan pekerjaan kantorku" sahut Arvan santai
" Kamu tidak pergi ke kantor?" Arvan menggeleng seraya tersenyum
" Kok nyebelin?" Arvan mengerutkan keningnya
" Ya nyebelin, kenapa gak bilang"
" Ya kamu gak nanya " ucap Arvan santai
" Ihh... ngeselin banget sih!"
" Kok ngeselin sih sayang, ya kan salah kamu juga kenapa gak keluar kamar ?" Grea mengerucutkan bibirnya
" Ya karena aku lagi kesal"
" Kesal kenapa, hem?" Arvan meraih Grea kedalam pelukannya namun Grea memberontak.
" Kenapa telpon aku gak diangkat?" tanya Grea dengan wajah yang sudah tidak bersahabat
" Ya karena aku sedang sibuk dengan pekerjaan aku dan kalaupun panggilan mu itu penting aku yakin kamu pasti akan keluar kamar mencariku"
" Percaya diri sekali anda!" sungut Grea
"Percaya diri? itu harus"
" Terserah!" ketus Grea
" Sudah jangan marah gitu, nanti cantiknya hilang loh!" goda Arvan yang langsung menarik Grea ke dalam pelukannya.
" Jangan sentuh aku, sana pergi temui saja wanita itu?" usir Grea mendorong tubuh Arvan yang sama sekali tidak ada apa-apanya membuat Arvan langsung tergelak begitu saja.
" Ih nyebelin banget sih!" Grea semakin geram dengan sikap Arvan yang malah mentertawakan dirinya.
" Ya karena kamu itu lucu" Arvan mencubit gemas pipi Grea
" Lagipula wanita siapa yang kamu maksud hem?" tanya Arvan pura-pura polos
"Caroline?" tebak Arvan dan dengan wajah cemberut Grea mengangguk.
" Makanya jangan suka nguping, beginilah kalau ngupingnya cuma setengah-setengah!" Arvan menyentil kening Grea
" Aww, ish!" Grea mengerucutkan bibirnya lucu dan Arvan dengan gemas mengacak-acak rambutnya.
" Kalau mau nguping itu diperjelas jangan setengah-setengah sayang jadi salah paham kan? atau setidaknya lain kali itu tanya dulu, jangan main asal tebak!" ucap Arvan seraya mengajak Grea duduk di tepi tempat tidur.
" Mama bikin kaget ya sayang?" Arvan mengelus perut Grea lalu mendaratkan kecupan di sana.
__ADS_1
" Lain kali jangan seperti itu, kasihan dedeknya!" pesan Arvan mengingatkan.
Arvan menatap lekat wajah Grea yang masih cemberut lalu tersenyum tampan.
" Caroline itu bukan siapa-siapa aku sayang, dia itu hanya teman waktu kuliah aku dan Marcel ketika di Amerika, dia juga sempat pindah kuliah ke Jerman dan sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi dan terakhir bertemu saat acara peresmian PT Pratama Grup itupun hanya sekilas" tutur Arvan menjelaskan.
" Kenapa dia pindah kuliah?" tanya Grea penasaran
" Aku juga kurang tahu pasti alasannya apa, tapi setahuku waktu itu Caroline memiliki perasaan terhadap Marcel" Sahut Arvan
" Marcel? jadi Caroline itu suka dengan playboy macam Marcel" tanya Grea dan Arvan mengangguk
" Tapi sekarang aku gak tau dia masih suka atau enggak dengan Marcel " tutur Arvan
" Ya semoga saja sudah tidak, karena ada yang lebih baik dari Marcel yang cocok untuknya"
" Siapa?" Grea penasaran
" Han" jawab Arvan singkat
" Sekretaris Hanan?" tanya Grea memastikan
" Iya, Sudah lama Han menaruh hati dengan Caroline ya tepatnya sih sewaktu mereka bertemu tanpa disengaja di acara peresmian PT Pratama Grup"
" Lalu?"
" Ya mereka memang cuek satu sama lain tapi dari sikap dan perhatian Han ke Caroline itu nampak terlihat dengan jelas kalau Han suka dengan Caroline hanya saja Han tidak mau mengakuinya sampai pada akhirnya Caroline memutuskan untuk kembali ke Jerman karena merasa tidak nyaman dengan kedua makhluk itu"
" Kedua makhluk? Siapa yang kamu maksud mas?" tanya Grea
" Ya siapa lagi kalau bukan Han dan Marcel."
" Caroline memilih untuk kembali ke Jerman, dan meneruskan kuliahnya disana karena ya mungkin belum bisa move on"
" Apa dia tidak suka dengan mu mas?" tanya Zaira memincingkan matanya
" Sayang jangan melihat aku seperti itu, bikin gak nyaman tahu gak"
" Loh memang apa bedanya?" tanya Grea santai
" Ya beda aja, kamu seperti sedang menghakimi aku tau gak!" tutur Arvan jujur.
" Ya aku cuma penasaran aja, kamu ini kan tampan ya kayak lagi gak mungkin kalau dia gak ada perasaan sama kamu mas!" tutur Grea
" Ya mana aku tahu sayang, walaupun dia suka sama aku buat aku apa bedanya dengan wanita lain diluaran sana yang juga ngefans sama aku. karena buat aku cukup hanya ada kamu seorang dimata dan dihati aku sayang!" ucapan Arvan langsung membuat wajah Grea merah merona.
"Mas ih gombal!" Grea menelusup kan wajahnya di dada bidang Arvan dan menghirup aroma tubuh sang suami dengan lekat.
" Mas?" Grea mendongakkan kepalanya
" Kenapa?" Arvan membelai lembut pipi sang isteri
" Mas untuk apa Caroline kemarin datang ke kantor? apa kalian sudah janjian ya?" tiba-tiba ada rasa was-was dan takut kehilangan yang muncul di hati dan pikiran Grea
"Janjian? mana ada. Caroline datang ke kantor karena perusahaan orang tuanya ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan PT Pratama Grup. dan kebetulan dia baru pulang dari Jerman jadi dia yang datang untuk mewakili papahnya." sahut Arvan.
" Kamu tahu gak sayang? tadi Han bilang kemarin setelah kita pulang Caroline bertemu dengan Marcel dilobi kantor dan mereka ribut sempat menjadi pusat perhatian para karyawan" tutur Arvan memberitahu
" Kau tahu apa yang terjadi?" tanya Arvan dan Grea menggeleng
" Caroline menampar Marcel" terang Arvan membuat Grea sedikit terkejut
" Marcel ditampar oleh Caroline?" tanya Grea seakan tak percaya
" Iya, dan yang lebih parahnya lagi Marcel ingin membalas menamparnya tapi beruntung ada Han yang langsung menghalanginya"
Grea bergeming tak percaya rasanya malu sekali telah berperasangka buruk terhadap suaminya.
" Aku tahu kamu tadi mendengar obrolan ku dengan Han dan aku yakin saat kamu menutup pintu kamar mandi dengan keras kamu pasti sudah salah paham maka dari itu aku meminta Han untuk menghendle semua pekerjaan ku di kantor dan aku mengerjakan sebagian di sini. karena aku tidak mau meninggalkan isteri ku yang tengah mengandung anakku salah paham terus!" Arvan mengecup kening Grea dengan lembut.
" Maafkan aku ya mas, aku sudah salah paham!" ucap Grea malu-malu
" Tidak apa-apa sayang, yang terpenting sekarang jangan cemburu lagi ya. karena aku bersumpah tidak ada wanita lain selain dirimu didalam hidupku sayang. bagiku hanya kamu satu-satunya wanita yang akan selalu mengisi hari-hari ku sampai kita menua bersama" ucap Arvan membuat Grea langsung berhambur memeluk tubuh Arvan.
" Satu lagi yang harus kamu ingat jangan pernah percaya terhadap ucapan orang lain sebelum kamu pastikan dulu kebenarannya." lanjutnya dan Grea mengangguk mengerti
" Semakin besar cinta yang tumbuh di antara kita dan semakin kuat ikatan cinta kita ujiannya pun pasti akan jauh lebih berat sayang. jadi aku mohon apapun yang terjadi kelak dan sebesar apapun ujian cinta kita. aku harap kita bisa melewatinya bersama-sama. kita jadikan kejujuran dan rasa saling mempercayai sebagai pondasi ikatan pernikahan kita sayang!" Arvan memeluk Grea kembali lalu mengurai pelukannya memberingsut berjongkok di hadapan Grea lalu menyingkap baju Grea dan mendaratkan kecupan lembut di perut sang isteri yang kini sudah menitikkan air mata karena rasa harunya.
" Sehat terus ya sayang, papa sayang kamu dan juga mama kamu" ucap Arvan yang kembali mencium perut Grea.
" Mas!" Grea semakin terharu dengan perlakuan lembut sang suami.
" Aku mencintaimu mas!" ucap Grea
" Aku lebih mencintaimu isteriku!" sahut Arvan lalu beranjak berdiri dan kembali duduk di samping Grea.
" Sayang" panggil Arvan dengan tatapan penuh mendamba.
Grea yang tahu maksud dari tatapan Arvan tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
Arvan yang mendapat lampu hijau langsung menyambar bibir sang isteri dan me******* dengan lembut dengan sentuhan demi sentuhan yang lembut Arvan membawa Grea kelembah kenikmatan.
__ADS_1