Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Ungkapan hati


__ADS_3

" Kau!" Grea beranjak dari tidurnya dan duduk bersandar di headboard .


Arvan duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum tipis. " Bagaimana keadaanmu apa masih terasa pusing? maaf kalau aku sudah mengganggu istirahatmu" ucap Arvan dengan sejuta rasa bersalah terhadap isterinya


" Mau apa kau kesini? sebaiknya pergi sekarang sebelum mommy sama daddy kesini!" usir Grea secara halus


Arvan tersenyum sejenak menundukkan pandangannya " Mommy pulang sebentar sedangkan daddy terpaksa harus keluar kota besok pagi menggantikan kakakmu." tutur Arvan memberitahu Grea


" Ya sudah pergi saja sana!" ucap Grea dengan ketus


" Aku suami kamu bagaimana pun status kita masih sah sebagai suami isteri" Arvan menatap lekat wajah Grea


" Tapi aku tidak mau kamu berada di sini!" ucap Grea melempar pandangannya ke samping.


" Aku tahu kamu pasti masih marah dan membenciku. tapi mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Arvan terdengar lirih


" Aku minta maaf, aku sadar aku sudah melakukan kesalahan besar kepada mu karena rasa cemburuku yang terlalu besar aku sampai tidak bisa berpikir jernih dan menuduhmu yang bukan-bukan" ucap Arvan dengan air mata yang sudah berlinang.


Grea menautkan alisnya saat mendengar suara Arvan yang bergetar Grea pun menoleh ke arahnya dan tercengang saat melihat seorang presdir yang terkenal dingin dan arogan kini tengah menangis dihadapannya.


" Aku ingin menebus kesalahanku jadi aku mohon Dira beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. aku berjanji mulai saat ini kaulah prioritas ku dan apapun yang kamu mau aku tidak akan menentangnya asalkan itu tidak berhubungan dengan laki-laki lain" ucap Arvan seraya meraih tangan Grea dan menggenggamnya erat.


" Posesif" sahut Grea dengan cepat menarik tangannya yang di genggam Arvan.

__ADS_1


" Aku posesif karena aku cemburu sayang, aku cemburu karena aku terlalu cinta sama kamu" Arvan mengungkapkan perasaannya membuat Grea menahan gemuruh dihatinya. Grea ingin sekali memeluk pria yang ada di hadapannya saat ini juga namun sebisa mungkin ia menahannya karena tidak ingin Arvan besar kepala nantinya.


" Sudahlah aku mengantuk, aku mau tidur" ucap Grea lalu memberingsut merebahkan dirinya dan memunggungi Arvan dengan menahan senyumnya


" Isteriku, apa kamu tidak kasihan dengan suamimu ini yang sudah beberapa hari ini kamu abaikan, dosa loh mendiamkan suami apalagi memunggunginya seperti ini!" ucap Arvan dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.


Grea menghela napasnya berat lalu menggeser tubuhnya berbalik menghadap ke arah Arvan namun tetap dengan mata yang terpejam sambil menahan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.


Arvan tersenyum penuh kemenangan " Tidurlah sayang, aku janji akan belajar menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak" ucap Arvan mengelus rambut Grea dengan lembut.


Deg


" apa aku harus memberitahunya ya kalau sebenarnya aku sedang mengandung anaknya, emmm... nanti sajalah lihat kesungguhannya dulu" gumam Grea saat melirik Arvan yang berjalan ke arah brankar Jimmy dan mendudukkan dirinya di sisi ranjangnya.


" Aku bersalah padamu Jim, karena aku tidak bisa marah dan membenci adikku. aku malah berterima kasih kepadanya karena dia aku bisa menikah dengan adikmu yang sangat cantik dan sangat aku cintai itu Jim. maafkan aku Jimmy maaf atas ke egoisan ku!" tubuh Arvan bergetar hebat.


" Aku sangat mencintai Dira, jadi aku mohon Jim sadarlah. aku memang bukan suami yang baik untuk adikmu Jim tapi aku akan berusaha untuk belajar menjadi suami yang baik untuknya. Kamu adalah sumber keceriaan dan kebahagiaan Dira jadi bangunlah Jim, saat ini dia butuh kamu Jim. walaupun aku ini suaminya tapi dia lebih membutuhkan dirimu Jimmy" ucap Arvan yang sudah menitikkan air matanya.


Grea yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Arvan pun ikut menitikkan airmatanya saat mendengar ungkapan hati seorang Arvan yang membuat hatinya tiba-tiba menghangat dan ingin segera turun dari tempat tidur lalu memeluknya. Tapi semua itu urung Grea lakukan dia lebih memilih diam dan memperhatikan suaminya dari kejauhan.


Arvan mengusap air matanya lalu beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Grea. Arvan duduk di tepi tempat tidur menatap punggung Grea yang nampak naik turun.


" Apa kamu sudah tidur?" tanya Arvan pelan

__ADS_1


Grea diam dan pura-pura tidur. " Aku janji akan menjaga dan melindungi mu seperti yang kakakmu lakukan. aku tahu aku tidak sebaik dan sehebat dirinya tapi aku akan berusaha untuk memberimu kebahagiaan." tutur Arvan lalu perlahan merangkak naik ke atas tempat tidur.


Arvan merebahkan tubuhnya dan menghadap ke arah punggung Grea, Arvan mendekat lalu memeluk Grea dari belakang. " Aku rindu saat-saat seperti ini!" ucap Arvan lirih.


Grea hanya bisa menahan air matanya yang hampir saja menetes kembali.


" Aku sangat merindukanmu Dira!" Arvan menghirup aroma tubuh Grea yang selama ini menjadi candunya.


Perlahan tangan Arvan mendarat tepat di perut sang isteri lalu dengan lembut ia mengusap perut Grea yang masih rata " Aku menyayangi mu dan sangat sangat mencintaimu Greandira" hembusan nafas Arvan terasa begitu hangat menerpa tengkuk leher Grea yang terekspos dari belakang. Grea memejamkan mata dan tersenyum tipis merasakan sentuhan lembut sang suami yang sejujurnya dia pun merasakan rindu berada di dekat sang calon ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya.


Entah karena faktor hormon wanita hamil atau memang karena Grea sendiri yang begitu merindukan setiap sentuhan lembut dari Arvan suaminya yang sudah beberapa hari ini ia abaikan.


Ingin rasanya Grea berbalik badan tapi egonya masih begitu tinggi. Grea hanya diam dan menikmati sentuhan demi sentuhan yang Arvan berikan sampai pada akhirnya lenguhan pun keluar begitu saja tanpa bisa Grea tahan. Arvan tersenyum penuh kemenangan saat mendengar suara merdu Grea yang sudah lama ia nantikan. Karena Grea tidak melakukan gerakan apa-apa bahkan tidak ada penolakan Arvan pun kembali melancarkan aksinya hingga membuat Grea tersentak dan langsung berbalik badan karena ulah tangan jahil Arvan yang sudah bermain seenaknya masuk tanpa seizin yang punya rumah.


" Kau!" Grea menatap Arvan tajam namun yang ditatap malah menampilkan senyum tampannya membuat Grea mengerjap-ngerjapkan matanya karena merasa jantungnya berdegup sangat kencang.


" Aishhh... kenapa dia nampak begitu mempesona begitu tampan. mata itu senyum itu, duh melelehnya hati aku Abang" batin Grea


Tanpa Grea sadari tangan Arvan sudah kembali beraksi membuat Grea membulatkan matanya sempurna. dan sedetik kemudian Arvan langsung me***** dan membuat Grea tidak bisa lagi berkutik apalagi menolaknya karena dia pun memang menginginkan hal yang lebih.


Arvan tersenyum penuh kemenangan karena sudah mendapatkan lampu hijau dari pemilik rumah. tanpa buang waktu Arvan pun melancarkan aksinya.


Ceklekk

__ADS_1


" Astaghfirullah haladzim!"


__ADS_2