
Arvan meremas surat yang berada di tangannya dan mengepalkan tangannya kuat di atas meja dan Hanan yang melihatnya sedikit takut tuannya meluapkan emosinya.
" Presdir!" panggil Hanan takut-takut.
" Aku tidak menyangka Dira akan melakukan hal ini, dia benar-benar ingin menghindar dariku Han" ucap Arvan yang menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
" Saya rasa Nyonya muda hanya sedang emosi saja Presdir!" ucap Hanan.
" Sudahlah Han terserah dia saja, sekarang cepat kau persiapkan untuk rapat hari ini!" ucap Arvan tegas.
" Baik Presdir!" ucap Han yang langsung undur diri
" Sepertinya aura dingin di kantor ini akan kembali lagi" batin Hanan.
**
Semenjak beberapa hari dimana Arvan mendapatkan surat pengunduran diri Greandira, Arvan kini telah kembali menjadi sosok Arvan yang dulu, dingin dan datar.
Grea tidak pernah pulang ke apartemen Arvan karena setiap hari ia selalu berada di rumah sakit untuk menemani Jimmy yang masih dalam keadaan koma.
Setelah mengundurkan diri dari perusahaan Arvan kini Grea kembali melanjutkan kuliahnya seperti biasa, ia selalu berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari para sahabatnya termasuk Caca. Grea menjadi sosok yang lebih tertutup dan pendiam. setiap kali teman-temannya bertanya Grea selalu menjawab dia baik-baik saja. Caca berpikir kalau Grea dan Arvan sempat berpacaran sewaktu Grea masih bekerja dan sekarang mungkin sudah putus, Caca berpikir melihat Grea yang lebih pendiam dari biasanya di artikan Caca kalau Grea sedang patah hati karena putus cinta.
Arvan sesekali datang ke kampus Grea secara diam-diam hanya untuk melihat keadaan Grea saja. Seperti hari ini Arvan sengaja datang hanya sekedar mengobati rasa rindunya yang sudah hampir 2 minggu tidak bertemu dengan Grea.
Arvan melihat Grea yang tengah berjalan bersama Caca, senyum diwajahnya pun sedikit tertarik di sudut bibirnya namun seketika senyum itu pudar saat netranya melihat Grea dirangkul oleh seorang pria dan Grea sama sekali tidak menolaknya bahkan mereka begitu santai dan nampak begitu gembira.
Arvan mengepalkan tangannya kuat dan rahangnya pun sudah mengeras. Arvan sangat geram melihat Grea yang seakan tidak peduli dengannya bahkan berkali-kali Arvan menghubunginya pun Grea tidak pernah mengangkat teleponnya.
" Jadi ini yang kamu lakukan setelah meninggalkan aku dan tidak pernah pulang, hidup bebas bersama teman-teman mu, baiklah kalau memang ini yang kamu inginkan Greandira" gumam Arvan yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Arvan pergi meninggalkan area kampus Grea dan sebelum mobil itu melesat jauh Grea sempat melihatnya sekilas namun tidak dihiraukannya.
" Grea loe ikut ya !" pinta Caca yang mengajak Grea untuk pergi ke cafe tempat biasa mereka berkumpul, tepatnya tempat Micko bekerja.
" Sorry gue gak bisa" jawab Grea
" Kenapa sih Gre loe belakangan ini selalu aja gak bisa ikut sama kita-kita?" kali ini Jojo yang bertanya.
" Sorry tapi gue mau menemani kak Jimmy!" ucap Grea
" Kak Jimmy? Oia Grea gimana kabar kak Jimmy Gre sudah lama gue gak ketemu sama kakak tampan loe itu Gre?" tanya Caca yang jadi penasaran dengan kabar kakak dari sahabatnya itu.
Grea tersenyum getir dan tatapannya berubah menjadi sendu.
" Loe kenapa Grea?" tanya Caca yang nampak cemas dan bingung melihat Grea yang tiba-tiba nampak sedih.
" Sorry kalau gue baru cerita sekarang sama loe semua, sebenarnya Kak Jimmy..." Grea menjeda ucapannya
__ADS_1
" Kak Jimmy kenapa Gre?" tanya Caca penasaran
" Kak Jimmy saat ini sedang koma Ca?" ucap Grea lirih
" Apa?" Caca, Jojo , Micko dan juga Bimo terkejut bersamaan.
" Loe pasti bercanda iyakan Gre, ini gak benarkan Gre?" desak Caca yang seakan tidak percaya dengan ucapan Grea.
Grea terdiam lalu menitikkan air matanya " Gue juga berharap begitu Ca, gue berharap ini cuma mimpi buruk gue aja Ca, tapi apa Ca kenyataannya sudah hampir 2 Minggu kak Jimmy masih belum juga sadarkan diri" ucap Grea lirih membuat Caca langsung memeluk tubuh Grea yang sudah bergetar karena menahan isak tangisnya.
" Gre kenapa loe baru cerita sekarang sih?" Caca ikut menangis dan Jojo bingung harus berbuat apa melihat dua sahabat wanitanya menangis seperti itu.
" Gre loe yang sabar ya, gue yakin kakak loe pasti akan segera sadar!" ucap Bimo.
" Iya Gre, loe harus kuat biar kakak loe juga memiliki kekuatan untuk berjuang demi loe Gre, loe gak boleh putus asa dan bersedih beri kakak loe semangat Gre.
" Ca gue pulang sekarang ya, gue mau mau menemani kak Jimmy Ca!" ucap Grea yang tengah menghapus air matanya setelah mengurai pelukannya.
" Gue ikut ya Gre!" pinta Caca dan Grea mengangguk
" Gre sorry bukannya gue gak mau ikut tapi gue ada urusan nih, lain waktu aja ya gue ngejenguk kakak loe" ucap Bimo
" Iya Gre gue juga gak bisa ikut, biasa gue ada jadwal nyanyi di cafe" ucap Micko
" Gue ikut loe sama Caca Gre!" sahut Jojo yang memang gak punya banyak kegiatan selain ngampus.
Jarak dari kampus ke rumah sakit kebetulan tidak terlalu jauh jadi sekitar 20 menit Grea dan kedua sahabatnya Caca dan Jojo sudah sampai di rumah sakit.
Ceklekk
Grea membuka pintu kamar rawat Jimmy
" Assalamu'alaikum!" ucap Grea saat masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat ada Marla yang berdiri disisi kiri Jimmy yang masih setia memejamkan matanya dan ada Risma sang mertua yang tengah duduk di samping kanan Jimmy.
Grea menyalami tangan keduanya di ikuti oleh Caca dan Jojo. mata Caca sudah berkaca-kaca saat melihat kakak dari sahabatnya berbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
" Ca, Jo, beginilah kondisi kak Jimmy sekarang, sangat kurus dan masih saja tidak mau membuka matanya. kak Jimmy sedang menghukum gue Ca, gak sayang lagi sama gue" ucap Grea yang kembali menangis
Caca dan Jojo pun merasa prihatin melihat kondisi Jimmy, mereka hanya bisa memeluk dan menguatkan Grea yang tengah menangis.
" Gre loe yang sabar ya gue yakin kakak loe itu pasti orang yang sangat kuat dan setahu gue kak Jimmy itu sangat sayang sama loe jadi gak mungkin dia menghukum loe kayak gini" ucap Jojo yang berusaha untuk menenangkan Grea.
" Makasih ya Jo loe memang sahabat terbaik gue" ucap Grea seraya mengusap air matanya.
" Gre!" panggil Risma
" iya mah!" jawab Grea membuat kedua sahabatnya itu saling melempar pandang karena Grea memanggil mama kepada wanita paruh baya yang tidak mereka kenal dan setahu mereka Marla adalah mommy-nya satu-satunya Grea.
__ADS_1
" Gre boleh kita bicara sebentar?" tanya Risma sambil tersenyum ramah
" Iya mah!" ucap Grea
" Kita bicara diluar saja ya!" pinta Risma
" Iya mah " sahut Grea.
Risma pamit kepada Marla setelah itu berjalan keluar, Grea pun pamit terlebih dahulu kepada kedua sahabatnya sebelum pergi bersama Risma.
Saat ini Grea dan Risma tengah berada di taman rumah sakit tersebut. Mereka berdua duduk di bangku yang tersedia di sana.
" Grea maafkan mama ya!" ucap Risma tiba-tiba membuat Grea Seketika menoleh ke arah Risma dengan tatapan bingung.
" Maaf? maaf untuk apa mah, mama tidak salah apa-apa" sahut Grea
" Karena anak-anak mama kamu yang menanggung semua beban ini sayang" ucap Risma dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
" Ma, kenapa mama menangis?" tanya Grea yang nampak panik saat melihat sang mertua malah menangis.
" Ma, Grea mohon mama jangan seperti ini. ini bukan salah mama jadi mama tidak perlu minta maaf mah" ucap Grea
" Tidak sayang karena mama tidak bisa mendidik anak-anak mama kamu yang harus menanggung kesalahan dan keegoisan mereka " ucap Risma sendu
" Ma, mama adalah mama yang baik apalagi selama Grea menjadi menantu Mama, mama sudah Grea anggap seperti mama Grea sendiri jadi Grea mohon mama jangan seperti ini" ucap Grea yang juga ikut menangis
" Tapi sayang karena kesalahan yang diperbuat oleh Arin kamu jadi terpaksa menikah dengan Arvan dan mengubur semua impian-impian kamu" ucap Risma
" Ma, mama jangan bicara seperti itu mungkin ini memang sudah takdir Grea dan mas Arvan yang terpaksa menikah menjadi pengantin pengganti" ucap Grea menggenggam erat tangan Risma
" Grea kamu memang anak yang baik, kamu berhak bahagia nak. jika bersama Arvan kamu tidak mendapatkan kebahagiaan, kamu berhak meminta cerai dengan Arvan nak, mama tidak mau kamu menyesali terus menerus pernikahan yang tidak memberimu kebahagiaan" tutur Risma membuat Grea nampak begitu terkejut.
" Bercerai? aku tidak ingin bercerai dengan mas Arvan mah!" ucap Grea yang seketika panik melihat Risma tiba-tiba hampir pingsan.
( " _ ingin bercerai dengan mas Arvan mah!" )
"Dira!" sentak Arvan yang sudah mengeraskan rahangnya saat mendengar sepenggal pembicaraan Grea dan Risma, apalagi saat melihat kondisi Risma yang nampak lemah yang Arvan yakini itu akibat dari ucapan Grea yang mungkin menyakiti hati sang mama.
" Cukup Dira, jika memang itu yang kamu inginkan dari ku sekarang, aku akan mengabulkannya" Arvan menjeda ucapannya.
"Kita berpisah saja!" ucap Arvan
Jegeeeerrrr
Grea diam mematung tidak pernah terpikirkan sedikitpun dalam benaknya untuk berpisah dengan Arvan.
" Ap.. Apa, berpisah?" ucap Grea terasa menyesakkan dada.
__ADS_1