
Ketegangan tiba-tiba terjadi di ruangan Caca pasalnya big bos dan sang isteri tengah berada di ruangan tersebut.
" Terima kasih ya Ca sudah menemani saya!" ucap Grea membuat semua karyawan yang ada di ruangan tersebut menatap ke arah Caca dengan penuh tanda tanya, karena mereka tahu dengan jelas wanita yang berada di hadapan mereka adalah wanita atasannya apalagi dengan jelas bos mereka berdiri dengan posesif disisi wanitanya.
Wajah Sisil nampak pucat saat Grea yang wajahnya tertutup masker menatap tajam ke arahnya.
" Iya Bu sama-sama!" ucap Caca yang merasa sedikit lega dengan kemunculan sahabatnya itu.
" Maaf karena tadi saya meminta Caca menemani saya pekerjaan Caca jadi kalian yang mengerjakannya!" ucap Grea
" Tidak apa-apa Bu, kami senang kok bisa membantu Caca. iya kan Sil?" ucap mbak Monik menyenggol bahu Sisil
" Eh, i..iya Bu !"sahut Sisil
" Ayok pergi!" Arvan menggandeng tangan Grea dan membawanya pergi begitu saja.
Setelah Arvan dan Grea pergi Nana dan karyawan lainnya langsung berhambur mendekati Caca dengan tingkat keingin tahuan yang cukup tinggi.
" Ca loe tadi beneran habis menemani kekasihnya pak presdir?" tanya Mbak Monik
" Iya Ca, loe berarti dari tadi di ruangan presdir cuma menemani wanita itu?" kali ini Nana yang ikut bertanya
" Iya!" jawab Caca seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
" Kok bisa?" mbak Monik bingung
" Kenapa loe yang disuruh untuk menemaninya Ca?" tanya Nana
" Kalau soal itu ya mana gue tahu tanya sendiri aja sama pak presdir, gue juga awalnya kaget banget pas disuruh untuk menemani dan melayaninya, hampir pingsan gue dibuatnya." tutur Caca
" Emmmm... cantik gak Ca kekasihnya presdir?" tanya Nana
" Menurut loe?" Caca balik bertanya
" Kalau gak cantik ya mana mau presdir" lanjutnya
" Iya juga sih!" Nana cengengesan.
" Baik gak Ca orangnya?" tanya Mbak Monik
" Baik banget malah, ya cocoklah dengan presdir kita yang dingin dan arogan. karena dia itu orangnya mudah akrab dengan siapa saja, tidak sombong dan penuh perhatian." ucap Caca seraya membayangkan sosok sahabatnya Grea.
" Serius Ca?" tanya Nana
" Iya serius gue gak bohong, kalau loe udah kenal sama dia loe pasti senang deh. dia tuh gak membedakan antara atasan dan juga bawahan. dia itu anak orang kaya tapi sikapnya gak pernah sombong selalu merendah. ya gue senang aja tadi bisa mengobrol dengan dia sampai tidak terasa selama itu" tutur Caca.
" Waw keren dong Ca, gue jadi penasaran. loe beruntung banget bisa disuruh untuk menemani kekasihnya pak presdir!" ucap Nana
" Bukan cuma kekasih tapi dia itu isteri presdir" sahut Caca membuat mbak Monik, Nana dan juga Sisil terkejut
" Isteri?" beo Sisil
" Iya kenapa memangnya?" tanya Caca
" Loe jangan ngarang deh, mana mungkin presdir menikah tanpa mempublikasikannya. ya kecuali tuh cewek cuma isteri sesaatnya Presdir doang, yang tidak ingin dunia tahu kalau dia itu isteri dari Presdir PT Pratama Grup." Ucap Sisil ketus
Caca terdiam sejenak tapi mengingat penuturan dari cerita Grea membuat dia yakin hubungan pernikahan sahabatnya itu tidak seperti yang Sisil katakan.
"Ya mungkin mereka punya alasan tersendiri kenapa tidak mempublikasikannya, atau bisa jadi belum" Sahut Caca dengan nada kesal
" Iya betul apa yang dikatakan Caca, mungkin saja mereka sedang mempersiapkan semuanya. kita kan gak tahu apa-apa soal itu." ucap Nina ikut menimpali
" Tapi ya ada bagusnya juga sih, karena semenjak presdir membawa isterinya kekantor suasana kantor juga sedikit tenang tidak menegangkan seperti biasanya" tutur mbak Monik
" Iya saya setuju dengan mbak Monik, apapun hubungan mereka yang terpenting ya itu suasana kantor yang nyaman" ucap Nana menimpali
" Alah kalian ini bicara seperti itu seperti penjilat aja, lihat saja nanti wanita itu pasti akan disingkirkan oleh presdir" ucap Sisil yang nampak geram setelah mengetahui atasannya itu telah menikah.
" Kok loe bicaranya kayak gitu?" ketus Caca
" Kenapa memangnya? wanita itu memang gak pantas berada di samping Presdir " ucap Sisil tak kalah ketus
__ADS_1
" Terus yang pantas siapa, loe?" Sarkas Caca
"Setidaknya gue jauh lebih baik dari wanita itu, kalau memang dia wanita baik-baik mana mungkin presdir menyembunyikan status mereka" ucap Sisil dengan percaya diri
" Jaga ucapan loe, jangan sembarangan ngomong kalau loe gak tahu apa-apa tentang isteri Presdir, gue yakin kalau sampai presdir mendengar ucapan loe, sudah dipastikan loe bakalan ditendang oleh Presdir" ucap Caca kesal
" Ya tapi sebelum itu terjadi gue pastikan wanita itu yang akan lebih dulu di tendang oleh presdir" ucap Sisil pongah
" Oh ya, percaya diri sekali anda!" ejek Caca membuat Sisil geram dan pada saat hendak membalas ucapan Caca mulut Sisil tercekat saat seseorang sudah berada di hadapan mereka.
" Sekretaris Han ada apa, apa ada yang bisa dibantu?" tanya Caca memberanikan diri untuk menyapa lebih dulu.
" Tidak ada. aku hanya ingin menyampaikan perintah presdir. Nona Caca presdir memerintahkan mulai besok setiap jam 10 sampai menjelang jam makan siang anda harus ke ruangan presdir" ucap Hanan memberitahu Caca.
" Apa?" Caca nampak terkejut begitu juga dengan yang lain.
" Tapi bagaimana kalau pekerjaan saya belum selesai?" tanya Caca
" Anda tenang aja ini semua atas perintah presdir sendiri jadi masalah pekerjaan kamu akan dihendle sementara oleh Sisil dan mbak Monik." tutur Hanan
" Baik sekretaris Han!" ucap Caca
Sisil mengepalkan tangannya merasa geram karena kenapa Caca yang dipilih untuk menemani isteri dari atasannya itu, padahal dia sangat ingin bisa keluar masuk ke ruangan presdir agar bisa mencari celah untuk mendekati laki-laki dingin dan arogan tersebut.
❄️
Grea nampak cemberut pasalnya Arvan sedari tadi mendiamkannya. sepanjang perjalanan menuju restoran tidak ada yang angkat bicara mereka hanya sesekali saling melirik tanpa ada yang mau bicara.
Mobil mereka kini telah sampai di sebuah restoran tempat favorit Grea dan kawan-kawannya kumpul di setiap akhir pekan.
Grea diam ditempat walaupun Arvan sudah membukakan pintu mobil untuknya.
" Turunlah!" titah Arvan yang tidak digubris oleh Grea
" Aku sudah tidak lapar!" ketus Grea
Arvan menarik napas dalam-dalam awalnya dia yang tengah merajuk tapi malah sang isteri yang berbalik marah dengannya.
" Makan dengan es balok? maksud kamu apa sih, gak mungkin makanan di restoran ini terasa dingin mereka memasaknya dan langsung disajikan jadi tidak mungkin dingin" sahut Arvan
" Sepanas apapun makanannya tetap saja akan terasa dingin jika sikap kamu masih sedingin es balok" Arvan mengernyitkan dahi mendengar ucapan Grea
" Oh ya ampun, jadi yang kamu maksud dingin itu aku bukan makanannya?" tanya Arvan
Grea hanya diam tidak menjawab pertanyaan Arvan membuat Arvan merasa kesal tapi sedetik kemudian menjadi gemas sendiri dengan tingkah isterinya ini.
" Iya sudah aku minta maaf, sebaiknya sekarang kamu turun. kita makan siang dulu setelah itu baru ke rumah sakit, bagaimana?" Grea yang mendengar kata rumah sakit langsung mengiyakan dan wajah muramnya kini sudah berubah senang.
Arvan mengacak-acak rambut Grea lalu membantunya untuk turun dari dalam mobil.
" Mas, apa perutku sudah nampak terlihat gendut ya?" tanya Grea saat berjalan bergandengan tangan dengan sang suami
" Kenapa memangnya?" Tanya Arvan menoleh ke arah Grea
" Apa aku jelek ya setelah terlihat gendut?" tanya Grea sendu
" Siapa bilang kamu jelek, asal kamu tahu ya sayang. wanita hamil itu terlihat jauh lebih seksi dan lebih menggoda" sahut Arvan seraya mengelus perut Grea dengan lembut
" Aku suka malah, jadi jangan merasa minder dengan tubuh kamu saat hamil justru harus bangga dan percaya diri karena tidak semua wanita bisa mengalami dan merasakan sesuatu yang membahagiakan seperti kamu ini" lanjutnya.
Ucapan Arvan membuat Grea menghangat, takdir memang tidak ada yang tahu, awalnya tidak saling kenal dan tiba-tiba harus menjalin ikatan suami istri kini malah sudah hampir memiliki anak. Grea memeluk Arvan dengan perasaan lega, rasa syukur pun begitu besar atas apa yang dia dapat selama ini. Walaupun pada kenyataannya dia pun harus menerima pil pahit tapi bagaimana pun dua tetap harus bersyukur karena bisa memiliki suami yang begitu mencintainya.
Mereka saat ini sudah duduk di restoran tersebut dan menikmati makan siang yang sedikit terlambat.
" Sayang, terima kasih ya!" ucap Arvan membuat Grea nampak berpikir
" Terima kasih untuk apa?" tanya Grea
"Terima kasih karena sudah mengandung anak ku!" Arvan meraih tangan Grea dan mencium punggung tangan tersebut.
Grea tersenyum " Anak kita!" sahut Grea membenarkan
__ADS_1
" Iya anak kita!" Arvan tersenyum lalu mengusap perut Grea yang sudah nampak membesar.
" Sayang, apa kamu tidak ingin mengadakan pesta pernikahan kita?" tanya Arvan
" Pesta? aku rasa tidak perlu mas. Mengadakan pesta disaat kak Jimmy yang masih belum sadarkan diri rasanya begitu jahat mas bila aku harus bahagia di atas penderitaan kakakku" jawab Grea sendu.
" Iya sayang aku mengerti perasaan mu, maafkan aku ya!" ucap Arvan merasa bersalah
" Tidak apa-apa mas" Grea tersenyum
" Maafkan aku sayang, aku hanya ingin memberitahu kepada dunia kalau aku sudah memiliki seorang isteri yang sangat cantik dan sangat aku cintai apalagi saat ini aku akan segera menjadi seorang ayah, aku ingin berbagi kebahagiaan ku dengan semua orang" tutur Arvan
" Tapi jika memang ini semua berat untuk kamu tidak apa-apa sayang kita tunda saja pesta pernikahan kita sampai kak Jimmy sadar dari komanya, dan aku akan umumkan pernikahan kita nanti pada saat acara ulang tahun perusahaan, bagaimana menurut mu?" tanya Arvan
" Terserah kamu saja mas!" ucap Grea pasrah
" Aku tidak ingin orang-orang berpikir negatif tentang kita sayang, apalagi jika perutmu semakin besar." Tutur Arvan yang tahu resikonya setelah membawa Grea setiap hari ke perusahaannya apalagi dengan keinginan Grea yang meminta Caca untuk menemaninya selama di kantor.
Arvan tidak mau gosip yang aneh-aneh menimpa sang isteri, apalagi pernikahan mereka belum sempat dipublikasikan secara resmi pasti akan banyak omongan negatif mengenai hubungannya dengan Grea.
Arvan dan Grea kini sudah kembali ke perusahaan, pandangan para karyawan seakan tengah menelanjangi seorang Greandira.
"Mas ada yang aneh gak sih?" bisik Grea pada saat masuk ke dalam lift.
" Aneh?" Grea mengangguk
" Aku merasa pandangan para karyawan mas tidak seperti biasanya, mereka kayak gak suka sama aku!" sahut Grea
" Mungkin hanya perasaan kamu saja sayang, jangan terlalu sensitif" ucap Arvan menenangkan sang isteri walaupun dia juga dapat merasakan apa yang dirasakan sang isteri.
Arvan tahu pasti ada gosip yang murahan yang membuat para karyawannya memandang sinis kepada isterinya.
Grea dan Arvan masuk ke dalam ruangannya tidak lama sekretaris Hanan masuk dan memberitahu sesuatu yang membuat Arvan seketika tersulut emosi.
" Cepat kau bereskan kekacauan itu, jangan sampai isteri ku mendengar gosip murahan itu. jika mereka berani mengatakan hal yang tidak benar pastikan mereka keluar dari perusahaan ku" ucap Arvan tegas.
Saat ini Grea tengah berada di kamar pribadi Arvan karena merasa cukup lelah dan perutnya sedikit tegang. Arvan sudah menawarkan untuk memeriksakan kandungannya tapi Grea menolak dan memilih untuk beristirahat.
Arvan mengendorkan dasinya dan membuka sedikit kancing bajunya untuk meredam emosinya.
" Apa yang aku khawatirkan terjadi juga, siapa yang sudah berani mengusik ketenangan ku?" geram Arvan.
Ceklekk
pintu kamar pribadi Arvan terbuka dengan muka bantalnya Grea berjalan menghampiri Arvan yang berusaha bersikap tenang dihadapan sang isteri.
" Sudah bangun?" tanya Arvan mengulurkan tangannya agar Grea segera menghampirinya.
" Mas lapar!" ucap Grea manja yang kini tengah duduk di pangkuan Arvan
" Mau makan apa hem?" Arvan mencium pipi Grea gemas
" Emmmm.... Seblak kayaknya enak deh mas!" ucap Grea
" Seblak, makanan apa itu?" tanya Arvan yang sangat asing dengan nama makanan yang Grea sebutkan
" Itu loh mas masakan yang berasal dari Bandung, yang kaya akan rempah-rempah dan terbuat dari kerupuk, mie dan tambahan campuran yang lainnya." tutur Grea menjelaskan
" Rasanya enak loh mas, seger dengan rasa pedas yang menggigit" ucap Grea membayangkannya saja air liurnya sudah mau menetes
" Pedas? tidak sayang kamu tidak boleh makan makanan seperti itu, tidak baik untuk kesehatan kamu dan juga anak kita sayang!" ucap Arvan
" Tapi sayang, aku lagi kepingin banget, sekali ini saja ya mas!" Grea sedikit merengek.
Arvan nampak berpikir " Oke, tapi jangan pedas-pedas ya!" Arvan pun mengalah karena dua tidak ingin isterinya bersedih.
" Ya sudah aku akan meminta Hanan mencarikannya!" Arvan langsung meraih ponselnya dan menyuruh sekretaris Hanan untuk mencari makanan yang Grea inginkan
" Terima kasih ya mas!" Grea melingkarkan tangannya di leher Arvan dan perlahan Arvan mendekatkan wajahnya dan sedetik kemudian mereka pun menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang mereka dengan sentuhan lembut yang membuat candu bagi keduanya.
" Sayang sudah nanti ada yang masuk!" ucap Grea yang hendak beranjak dari pangkuan Arvan
__ADS_1
" Biarkan saja sayang, tidak akan ada yang berani masuk tanpa seizin ku!" ucap Arvan yang langsung menarik tengkuk Grea dan meneruskan yang tertunda.