
" Bagaimana tidurnya nyenyak?" tanya pria yang kini tengah berdiri seraya tersenyum
" Kenapa aku bisa berada di sini?" bukan menjawab Caca malah balik bertanya
" Apa kamu tidak mengingatnya?" tanyanya seraya meletakkan sarapan untuk Caca di atas nakas.
Pria itu tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Caca yang masih setia dengan kebingungannya.
" Aku sama sekali tidak bisa mengingat_" jawab Caca menggelengkan kepalanya pelan
Lalu sedetik kemudian ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu disaat ia berada di dalam mobil dengan Micko.
" Tidak... Tidak... Tidak..." Caca berkali-kali menggelengkan kepalanya kejadian beberapa jam yang lalu membuat dirinya sedikit terguncang.
" Aku... aku sudah kotor.. tidak... tidak...!" Caca menutup kedua telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menekuk lututnya.
Pria yang tidak lain adalah Jimmy berusaha untuk menenangkan Caca yang nampak dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" Hei... Tenanglah semua baik-baik saja, sebaiknya sekarang kamu mandi terlebih dahulu agar kamu bisa lebih tenang, didalam lemari itu ada beberapa baju wanita kamu bisa memakainya salah satu setelah itu makanlah sarapan mu!" ucap Jimmy dengan nada yang begitu ramah.
" Tapi si berengsek itu sudah_" Caca kembali histeris dan menangis pilu.
" Tidak terjadi apa-apa tenanglah, kamu sudah aman disini. Dan jangan khawatir semua baik-baik saja sebaiknya mandi terlebih dahulu atau makan sarapan mu!" ucapnya berusaha untuk menenangkan Caca
"Aku tidak ingin sarapan dan mandi aku hanya butuh penjelasan!"
" Aku akan menjelaskannya nanti setelah kamu sarapan dan membersihkan diri, aku tunggu di luar" ucap Jimmy lalu melangkah keluar. Jimmy menutup pintu kamar tersebut setelah itu melangkah menuju sofa ruang tamu.
Mau tidak mau Caca akhirnya menyantap makanannya dengan perasaan campur aduk, tapi tidak bisa di pungkiri kalau saat ini Caca memang merasa sangat lapar.
Setelah selesai makan Caca langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sejenak dia pun berpikir melihat baju yang ia kenakan saat ini berbeda dengan baju yang ia pakai sebelumnya
" Tunggu dulu, baju ini ? siapa yang menggantikan bajuku? apa jangan-jangan bang Jim?" Caca seketika menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan bola matanya membulat sempurna ketika sadar bajunya sudah berganti
" Tidak mungkin?" Caca terus menggelengkan kepalanya menepis segala asumsi buruknya terhadap Jimmy
" Tapi di rumah ini hanya ada dia, ahk... tidak ini sungguh menjijikkan, aku benar-benar sudah kotor" lirih Caca meruntuki kebodohannya.
Setelah merasa sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi akhirnya Caca pun keluar dan mengambil pakaian yang ada di dalam lemari
" Ini pakaian siapa, kenapa banyak pakaian wanita disini apa jangan-jangan ini pakaian kak Arin?" gumam Caca menatap satu persatu baju yang ada di hadapannya saat ini ia jadi merasa ragu untuk memakainya.
" Tapi jika aku tidak memakainya bagaimana dengan nasibku, ah biarkan sajalah!" ucap Caca yang pada akhirnya mengambil salah satu baju yang menggantung di dalam lemari tersebut
Ceklekk
Caca membuka pintu kamar dan melangkah keluar untuk mencari keberadaan Jimmy.
Sedetik kemudian Netra Caca langsung terfokus pada pria yang saat ini tengah duduk di sofa seraya memangku laptopnya.
" Bang Jim!" Panggil Caca
Jimmy yang mendengar suara Caca langsung menutup laptopnya dan ia letakkan di atas meja yang berada di hadapannya. Jimmy menoleh ke sumber suara lalu mengulum senyumnya melihat penampilan Caca yang menurutnya sangat menggemaskan dengan pakaian yang ia kenakan.
Caca lebih memilih kemeja Jimmy yang nampak kebesaran di tubuh Caca dari pada memakai pakaian wanita yang entah milik siapa dia juga tidak tahu.
" Duduklah!" Jimmy menunjuk sofa kosong yang berada di hadapannya
Caca dengan perasaan tidak menentu berjalan gontai dan langsung duduk di sofa yang berada di hadapan Jimmy.
" Apa yang ingin kau tanyakan terlebih dahulu hem?" tanya Jimmy yang melihat raut kebingungan pada Caca
" A...aku" Caca menjadi gugup saat ingin sekali ia bertanya siapa yang sudah mengganti pakaiannya dan bagaimana ia bisa berada di tempat ini.
" Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak melihat apa-apa karena semalam aku menyuruh office girl yang biasa membersikan apartemen ini untuk menggantikan bajumu yang sudah tidak layak pakai" ucap Jimmy membuat Caca melotot antara senang atau justru sebaliknya.
Jimmy menghela napasnya panjang sebelum menjelaskan semuanya kepada Caca
" Dia memang sempat melecehkan mu tapi semua baik-baik saja karena kebetulan aku datang pada waktu yang tepat. aku sudah memberinya perhitungan dan jika dia berani macam-macam lagi maka aku pastikan dia akan membusuk di penjara" tutur Jimmy
Caca berhenti menangis dan mendongakkan kepalanya menatap Jimmy
" Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Jimmy
" Tidak, terima kasih sudah menolongku!" ucap Caca datar
Jimmy tersenyum tipis " Bagaimana dengan lamaran ku apa sudah ada jawabannya?" tanya Jimmy tiba-tiba membuat Caca menatap Jimmy lekat.
" Aku tidak akan memaksamu, aku tahu kamu butuh waktu" tutur Jimmy yang melihat keraguan dalam mata Caca.
__ADS_1
" Kenapa bang Jim begitu yakin ingin mengajakku menikah? apa bang Jim ingin melarikan diri dari cintanya kak Arin?" tanya Caca membuat Jimmy sedikit tersentil
" Apa aku hanya akan dijadikan sebuah pelarian semata? karena aku sedang patah hati begitu juga dengan bang Jim lalu dengan mudah bang Jim ingin menikah dengan ku, pernikahan sebagai sebuah pelarian?" tanya Caca dengan mata yang sudah mengembun.
" Tidak seperti itu, kamu salah paham Ca!" ucap Jimmy mencoba menjelaskan
" Salah paham bagaimana bang Jim, semua sudah jelas. Kak Arin masih mencintai bang Jim dan aku yakin begitu juga sebaliknya. kalian masih saling mencintai namun terhalang dengan Grea dan pak Arvan, iyakan begitu?"
" Sudahlah bang Jim semua sudah jelas bagiku dan aku tidak mau menyandang predikat sebagai pelakor. cukup sebuah pengkhianatan saja yang aku dapat dari seorang kekasih yang juga merangkap sebagai sahabat. aku tidak mau hubungan persahabatan aku dan Grea hancur begitu saja hanya karena hal ini." tutur Caca
" Sebaiknya sekarang bang Jim izinkan aku pulang, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman jika aku terus berada di sini!" Caca beranjak dari duduknya
" Tas ku?" ucap Caca yang tiba-tiba teringat dengan ponselnya yang berada di dalam tas.
" Tasmu sepertinya tertinggal di dalam mobil!" ucap Jimmy
" Bisa tolong ambilkan?"
" Aku akan mengantarmu pulang, ayok!" ucap Jimmy seraya beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya.
•••
Saat ini Caca dan Jimmy tengah berada di dalam mobil, tidak ada percakapan apa-apa keduanya tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi kini sudah berada di pekarangan rumah Caca.
" Terima kasih bang Jim sudah menolongku, mungkin jika bang Jim tidak ada entah apa yang akan terjadi, dan yang pasti mungkin aku saat ini tengah berada di rumah sakit dalam keadaan yang sungguh mengenaskan" ucap Caca seraya tersenyum getir saat mengingat perbuatan bejat dari mantan pacar sekaligus sahabatnya itu.
" Mungkin itu yang dinamakan takdir, aku bisa terpanggil menghampiri mobil itu yang berhenti di tepi jalan dan yang sungguh membuat aku begitu terkejut bukan main karena ternyata kamu yang berada di dalam mobil itu" tutur Jimmy
" Iya mungkin, takdir kita pun sama bukan? sama-sama dicampakkan begitu saja!" tutur Caca
" Sudah jangan di ingat lagi, mungkin mereka memang bukan jodoh kita. Ya siapa tahu justru kita yang berjodoh satu sama lain" ucap Jimmy santai
Caca hanya menanggapi ucapan Jimmy dengan senyuman. " Sekali lagi terima kasih ya bang Jim!" Caca langsung turun dari mobil Jimmy
" Ca!" panggil Jimmy saat Caca hendak masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
Caca menoleh menunggu Jimmy bicara " Ca besok pagi aku jemput ya!"
" Tidak usah bang Jim, aku bisa naik taksi online" tolak Caca halus
Caca terkekeh " Bang Jim kita itu sudah saling kenal, bahkan bukan cuma satu dua tahun" ucap Caca
" Itu berbeda Ca, saat itu kamu hanya sahabat dari adikku Grea dan sekarang aku ingin mengenal kamu lebih jauh sebagai..... pacar !"
Caca tersedak salivanya sendiri saat mendengar pengakuan Jimmy.
" Pacar? sejak kapan kita pacaran? sembarangan aja kalau ngomong!" Caca menggeleng
Jimmy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya tersenyum " Sejak saat ini kamu adalah pacar aku" sahut Jimmy
" Tapi sayangnya aku ini bukannya pacar bang Jim, aku masih tidak ingin berkomitmen dengan siapapun" tutur Caca
" Aku tidak suka ada penolakan, mau tidak mau mulai sekarang kamu adalah kekasih Abang!"
" Bagaimana bisa begitu, itu namanya pemaksaan!"
" Aku tidak peduli!"
" Bang Jim ikh... ngeselin tau gak sih!"
" Sekarang kamu boleh bilang ngeselin tapi nanti kamu akan bilang ngangenin" goda Jimmy
" Terserah bang Jim sajalah, menolak juga percuma"
" Nah gitu dong," Jimmy tersenyum senang
" Yaudah gih cepat masuk!" serunya lagi
" Bang Jim aja yang sudah cepat sana pergi!" seloroh Caca
" Ngusir?" Jimmy pasang wajah cemberut
" Iya, udah cepat sana pergi nanti ada yang lihat salah paham lagi" ucap Caca yang tiba-tiba teringat dengan Arindia.
" Pacar kamu?" tebak Jimmy
Caca menghembuskan napasnya kasar" Sudah putus, jika bang Jim lupa" ketus Caca
__ADS_1
" Lalu siapa dong yang cemburu?" tanya Jimmy seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Sudahlah lupakan!" dengus Caca kesal
" aku tidak mau berlama-lama disini bisa dilabrak lagi aku jika dia melihatnya disini" gumam Caca pelan namun masih terdengar samar-samar oleh Jimmy
" Kamu bicara apa, dilabrak? jadi ada yang melabrak mu begitu?" tanya Jimmy yang nampak sedikit terkejut
" Iya, jadi mulai sekarang sebaiknya bang Jim jangan dekati aku lagi, aku tidak mau ada yang salah paham dan mengira yang tidak-tidak dengan hubungan kita" tutur Caca
" Apa maksudmu?" tanya Jimmy yang semakin mengerutkan keningnya
" Sudahlah lupakan, aku masuk dulu bang Jim!" Caca langsung memutar tubuhnya dan bergegas berjalan masuk ke dalam rumah.
" Ca!" panggil Jimmy namun Caca tidak menghiraukan panggilannya.
Jimmy pergi dari kediaman rumah Caca dan langsung pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor pikiran Jimmy bercabang memikirkan masalah pekerjaan dan juga ucapan Caca.
" Apa maksud ucapan Caca ya? apa jangan-jangan Arin_?" tebak Jimmy
"Hai bro kenapa tuh muka kusut banget?" tanya Adam yang tiba-tiba masuk ke ruangan Jimmy tanpa permisi
" Sialan loe asisten durhaka, pagi-pagi udah ngagetin aja!" kesal Jimmy
" Eits.... tunggu dulu enak aja bilang gue durhaka loe tuh yang kurang kerjaan padahal mah pekerjaan numpuk tapi malah asik ngelamun pagi-pagi" sindir Adam yang tidak terima dikatakan asisten durhaka.
Adam adalah asisten pribadi Jimmy sekaligus sahabat baik Jimmy, dan selama Jimmy koma Adam lah yang menggantikan Jimmy mengurus perusahaan dibantu sang daddy tentunya.
" Gue gak ngelamun cuma lagi berpikir" sahut Jimmy yang menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
" Berpikir tentang apa, cewek?" tanya Adam
"Ya kurang lebih begitu" Jimmy memejamkan matanya
" Arin?" tebak Adam
" Dia sudah masa lalu"
" Lalu siapa? jangan bilang loe beneran udah jatuh cinta sama tuh cewek?" tebak Adam yang teringat dengan Caca
" Gue juga gak tau, tapi yang jelas sih gue merasa nyaman aja kalau dekat sama tuh cewek" Jimmy memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
" Apa loe benar-benar sudah melupakan Arin?" tanya Adam memastikan
" Gue juga gak tau tapi yang jelas gue harus menjauhi perempuan itu sejauh mungkin"
" Kenapa? apa ada kaitannya dengan pernikahan adik loe?" Jimmy melotot dan menatap tajam Adam yang mengungkit tentang pernikahan sang adik.
" Dengar Adam jangan pernah mengaitkan lagi tentang urusan gue dengan pernikahan adik gue? Grea sudah banyak berkorban untuk keluarga gue dan gue gak mau kalau pengorbanannya yang sudah begitu besar rusak karena sebuah kesalahpahaman. yang jelas Adam gue sangat bahagia melihat pernikahan adik gue dan jangan lagi mengaitkan tentang masalah pribadi gue dengan adik gue Grea" pinta Jimmy
"Iya...iya sorry!" Ucap Adam
" Udah sana loe cepat balik bekerja, gue menggaji loe bukan untuk kepo dengan urusan atasan loe !" ucap Jimmy ketus
" Iya gue cabut, tapi ingat nanti jam 4 ada pertemuan dengan PT . Makmur Jaya!" ucap Adam
" Iya bawel!" Jimmy mengusir Adam namun saat berada di depan pintu Adam dikejutkan dengan sosok wanita cantik yang sempat di bicarakan
"Hai Dam!" sapa wanita tersebut dengan santai
" Hai juga, mau bertemu Jimmy?" tanya Adam
" Iya, ada kan?" tanyanya
"Sudah membuat janji?" tanya Adam takut salah
" Sudah, kami berencana mau makan siang" kilah wanita tersebut berbohong
" Owh, begitu. ya sudah silahkan masuk!"
Dengan percaya dirinya wanita itu masuk ke dalam ruangan Jimmy bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ceklekk
" Ada apa lagi loe ba_?" kata-kata Jimmy terhenti saat melihat sosok wanita yang tengah berdiri di ambang pintu dengan seulas senyum diwajahnya.
"Kamu?"
__ADS_1