
" Awww!" Teriak seseorang yang tiba-tiba tertimpa benda berat.
Arvan yang mendengar ada seseorang di kamarnya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menyalakan lampu.
Tak
" Greandira?" ucap Arvan melotot kearah objek yang tengah memberengut di atas tempat tidur.
" Kamu sudah ada di sini?" tanya Arvan yang sudah duduk di tepi tempat tidur menatap lekat wajah sang isteri yang sedari tadi membuatnya pusing karena mencari-cari keberadaannya.
Grea tidak menggubris pertanyaan Arvan dan langsung beranjak dari tempat tidur pergi ke kamar mandi begitu saja.
"Sayang, jangan marah lagi dong kamu itu salah paham" teriak Arvan saat Grea hendak masuk ke dalam kamar mandi.
" Akhhhhh!" kesal Arvan yang mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.
Ceklekk
Pintu kamar mandi terbuka dan menyembulah Grea dari balik pintu, Arvan langsung berdiri dan menghampiri Grea.
" Sayang aku minta maaf, jangan marah lagi ya kamu itu salah paham aku bisa jelasin" ucap Arvan meraih tangan Grea.
" Kita harus cepat turun mas tidak enak jika semua orang nanti harus menunggu kita!" ucap Grea dengan datar tidak menimpali ucapan Arvan yang berusaha untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di kantor.
Grea berjalan melewati Arvan begitu saja membuat Arvan sedikit kesal tapi sedetik kemudian tersenyum.
" Kamu itu kalau lagi cemburu semakin menarik saja sayang!" gumam Arvan setelah itu langsung berlari mengejar Grea yang sudah keluar dari kamar lebih dulu.
" Eh udah ada mommy dan daddy rupanya" ucap Grea yang langsung menghampiri keduanya lalu memeluknya.
" Gre kangen sama daddy!" ucap Grea di dalam pelukan Alex
" Daddy juga kangen sama putri daddy" sahut Alex mengecup kening sang putri.
" Sama mommy gak kangen?" protes Marla
" Kangen dong mommy ku sayang!" Grea langsung berhambur memeluk mommy-nya.
" Terus sama Abang loe yang ganteng ini gak kangen?" kali ini Jimmy yang protes kepada sang adik
" Abang!" teriak Grea antusias saat melihat sang kakak tersayannya.
" Abang gue kangen banget sama loe" ucap Grea yang langsung menubruk Abang kesayangannya itu sampai hampir terjungkal.
" Gre kebiasaan deh, loe itu bukan anak kecil lagi badan segede gini juga" kesal Jimmy yang ditubruk oleh Grea sambil terkekeh.
" Biarin, habis gue kangen" ucap Grea
" Sudah punya suami juga" ucap Jimmy
"Terus kenapa memangnya kalau sudah punya suami, gak boleh gitu peluk Abang sendiri" ucap Grea dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
" Sudah- sudah sebaiknya kita lanjut makan saja ya, nanti gak enak keburu dingin" ucap Risma yang baru saja ikut bergabung
" Ayok, mari semuanya kita makan dulu!" ajak Zaindra yang diangguki oleh Alex.
Kini dua keluarga sudah berkumpul di meja makan menikmati makan malamnya dengan diselingi obrolan ringan.
" Emmmm... masakan ini pasti kamu yang masak ya dek?" tanya Jimmy kepada Grea
" Wahh kamu hebat nak Jimmy bisa hafal dengan masakan adik sendiri" ucap Risma kagum pada Jimmy yang tahu dengan masakan sang adik.
" Jelas hafal tante, Grea kalau di rumah memang sering bantu mama memasak " sahut Jimmy.
" Kamu jago masak rupanya?" puji Zaindra kepada Grea
" Gak jago pa, cuma bisa sedikit aja kok itu juga karena mommy yang selalu mengajari Grea masak" ucap Grea yang tidak enak hati mendapat pujian dari papa mertuanya.
" Kamu beruntung ya Van setiap hari bisa memakan makanan enak terus masakan Grea" puji Risma dan Arvan hanya menanggapi dengan senyuman lalu menoleh ke arah Grea membuat Grea menjadi salah tingkah.
" Van, bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Alex
" Lancar dad, cuma akhir-akhir ini memang sedikit rada sibuk, ada proyek kerja sama dengan perusahaan PT. Inoval Grup" sahut Arvan.
" PT. Inoval Grup bukan perusahaan biasa, jika kamu bisa mendapat kontrak kerja sama dengan perusahaan tersebut itu sangat luar biasa Van." puji Alex kepada Arvan
" Lalu kapan kalian akan berencana bulan madu, mama ingin cepat-cepat menimang cucu ?" tanya Risma tiba-tiba membuat Grea yang sedang menikmati makan malamnya langsung tersedak, Arvan yang melihat Grea tersedak langsung memberikan Grea air minum dan Grea pun langsung meneguknya hingga tanpa tersisa.
" Kamu gak kenapa-napa sayang?" tanya Arvan mengusap-usap punggung Grea dengan lembut dan Grea hanya menggelengkan kepalanya.
" Sayang!" panggil Marla
" Apa kalian benar-benar belum punya rencana untuk bulan madu?" kali ini mommy-nya yang bertanya membuat Grea menghela napasnya berat.
" Mom, sebenarnya kami sudah berencana bulan madu akhir bulan ini tapi ternyata pekerjaan kantor Arvan masih belum bisa di hendle jadi terpaksa kami mengundur waktunya mom, bukan begitu sayang?" tutur Arvan mewakili Grea menjawab pertanyaan mommy-nya lalu menoleh ke arah Grea yang tengah menatapnya tajam.
"Apa-apaan sih dia pakai bilang seperti itu segala, siapa juga yang mau berbulan madu sama dia, dasar orang menyebalkan!" gerutu Grea dalam hati.
"Sayang!" panggil Arvan dengan suara yang dibuat selembut mungkin
" Ah, iya mom" ucap Grea sedikit gugup.
Acara makan malam pun selesai mereka semua kini tengah berada di taman belakang sambil berbincang-bincang hangat.
Grea sedari tadi tengah asik mengobrol dengan kakaknya Jimmy sesekali mereka tertawa-tawa dan hal itu tentu saja membuat Arvan mendengus kesal pasalnya ia merasa di acuhkan oleh sang isteri.
Arvan mencoba untuk ikut menimbrung dengan pembicaraan mereka namun nampaknya Grea tetap acuh dan tidak merespon ucapan Arvan bahkan ia selalu saja menghindar saat Arvan mendekatinya.
Jimmy yang melihat raut wajah Arvan yang nampak kusut seperti kaset rusak akibat diacuhkan oleh sang adik langsung menepuk bahu Arvan.
" Sabar, Grea memang anaknya seperti itu jika dia merasa kesal dia akan lebih banyak diam meskipun dia bisa tertawa tapi itu hanyalah topengnya belaka. jika ada masalah kalian bicarakan baik-baik dan kalau dia menghindar mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya sebab jika dia sudah marah bisa fatal akibatnya" ucap Jimmy mengingatkan adik iparnya karena meskipun Grea tidak bicara apa-apa sebagai kakak dia bisa melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi dengan adik kesayangannya itu.
" Dari mana kamu tahu kalau_" ucap Arvan terpotong.
__ADS_1
" Grea itu adik kesayanganku, aku mengenalnya lebih dari siapapun bahkan dirinya sendiri, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa aku bisa melihat dengan jelas dari sorot matanya yang tidak seperti biasanya" ucap Jimmy.
" Dira salah paham" ucap Arvan membuat Jimmy menaikkan satu alisnya .
"Greandira" ucap Arvan menjelaskan kebingungan Jimmy.
" Salah paham?" tanya Jimmy memastikan
" Iya" sahut Arvan lalu menceritakan semuanya kepada Jimmy tanpa ada satupun yang terlewat kecuali tentang Grea yang bekerja di perusahaan miliknya sebagai OG.
Jimmy tersenyum dia tidak menyangka ternyata hubungan adiknya dengan Arvan bisa berjalan secepat itu.
" Aku senang ternyata hubungan kalian tidak sesulit yang kami pikirkan" ucap Jimmy membuat Arvan tercengang dan bingung dengan ucapan kakak iparnya itu.
" Kami pikir kalian akan bersikap seperti yang terjadi di novel-novel, menikah karena perjodohan lalu membuat perjanjian dengan tidur terpisah dan tidak turut campur dengan urusan masing-masing. hidup seperti dua orang asing yang terpaksa harus tinggal satu atap" ucap Jimmy membuat Arvan menelan salivanya kasar.
Arvan merasa tersentil karena awal mulanya memang seperti itu tapi hari demi hari entah tepatnya kapan Arvan menjadi ingin memiliki Grea seutuhnya, menjadikan dirinya sebagai isteri satu-satunya yang paling ia cintai karena hanya Grea yang sudah membuatnya merasa nyaman dan bahagia.
" Kamu tenang saja, Grea itu hanya kesal karena dia begitu cemburu. kamu harus bisa meyakinkan dia kalau itu semua hanyalah salah paham" ucap Jimmy
" Iya Jim, tapi tidak semudah itu kau tahu betul bukan Grea itu orangnya seperti apa" ucap Arvan seraya melirik ke arah Grea.
" Iya, tapi sabar ja Van. sekeras-kerasnya wanita jika diperlakukan dengan lembut pasti akan luluh juga"
" Semoga saja deh" ucap Arvan penuh harap
" Sudah sana ajak dia pulang, dan bicarakan semuanya dari hati ke hati, satu lagi cepat buatkan aku keponakan yang lucu ya!" goda Jimmy.
" Buat keponokan, dia mau baikkan saja sudah bagus" sahut Arvan.
" Ya kalau sudah baik terus dilanjutkan" ucap Jimmy sambil tergelak membuat yang lain langsung menoleh ke arahnya.
" Ada apa Jim sepertinya obrolan kalian asik benar sih?" tanya Risma
" Ini loh tante, Arvan ingin pamit pulang katanya masih banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan. tadi gara-gara Grea pergi ke sini tanpa pamit jadi Arvan terpaksa menunda pekerjaannya demi mencari Grea yang ternyata sudah ada di sini. tapi Arvan merasa tidak enak karena kelihatannya Grea tengah asik mengobrol dan melepas kangen sama mommy and daddy, begitu." ucap Jimmy membuat Grea dan Arvan membulatkan matanya merasa tidak percaya kalau kakaknya akan mengatakan hal itu.
Jimmy kembali tertawa melihat ekspresi wajah keduanya. " Sudah kalian itu tidak usah sungkan, mereka ini orang tua kalian bicara saja terus terang" ucap Jimmy dengan santai
" Abang ngomong apa sih, ngawur deh!" ucap Grea mendengus kesal. namun Jimmy hanya tertawa
" Grea apa benar seperti itu? jadi kamu tadi kesini tidak bilang-bilang sama suami kamu?" tanya Marla dan Grea mengangguk Pelan
" Kamu ini tidak boleh seperti itu, membuat suami kamu cemas sampai mengabaikan pekerjaannya demi mencari kamu yang ternyata sudah ada di sini" ucap Marla menasehati putrinya.
" Cepat minta maaf sama suami kamu!" pinta Marla
" Mom, sudahlah! tidak perlu seperti itu. semua bukan salah Dira, maksudnya Greandira. ini salah Arvan yang sudah membuat Grea kesal dan marah sampai akhirnya Grea pergi meninggalkan Arvan di kantor dan langsung datang ke sini" ucap Arvan menjelaskan.
" Marah? kesal? kenapa?" kali ini Alex yang bertanya membuat Arvan merasa sulit menelan salivanya.
Grea yang melihat raut wajah sang daddy yang berubah dingin dan menatap tajam Arvan merasa sedikit takut jika daddy-nya sampai mengeluarkan taringnya.
__ADS_1
Deg
Arvan menoleh ke arah Grea dan begitu juga dengan Grea yang ternyata menoleh ke arahnya.