
Dua insan manusia yang sedang dilanda rasa rindu dan hasrat yang menggebu terpaksa harus mereda gelora yang hampir saja meledak dan membuat ruang rawat Jimmy terpapar hawa panas, untung saja hal itu tidak sempat terjadi karena seorang wanita paruh baya tiba-tiba menyembul masuk.
" Astaghfirullah haladzim!"
Dengan refleks Marla membalikkan badannya membuat Grea dan Arvan yang hampir saja khilaf melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan di ruang perawatan kakaknya tertunduk malu dengan wajah yang sudah memerah tapi tidak dengan Arvan ia tetap menampilkan wajah datarnya meskipun sebenarnya dia juga merasakan malu karena ketangkap basah oleh sang ibu mertua.
Marla menghempaskan napasnya kasar menatap anak dan menantunya yang tidak tahu tempat itu.
" Kalau kalian memang sama-sama kangen kenapa gak pulang aja ke apartemen?" omel sang mommy
" Gak mom Grea mau disini aja" sahut Grea dengan wajah menunduk.
" Pulang saja sana, biar mommy yang jagain kakak kamu. daripada pas kakak mu sadar kalian sedang, ah sudahlah " Marla hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sepasang suami istri yang ada di hadapannya.
" Pulang saja ya!" pinta Arvan tapi Grea menggeleng
" Grea suami kamu mengajak kamu pulang, sebaiknya kamu turutin keinginan suami kamu itu, kasihan juga dia kelamaan kamu tinggal sampai gak tahan gitu dan gak tau tempat lagi" ucap Marla sedikit menyindir
" Mom" rengek Grea mengerucutkan bibirnya
" Tidak usah seperti itu, sudah sana pergi!" ucap Marla
" Mau ya?" Arvan nampak memelas membuat Grea akhirnya menyerah dan mengangguk pelan.
" Terima kasih sayang!" bisik Arvan lembut membuat Grea blushing.
Setelah pamit pulang kepada mommy-nya Grea dan Arvan kini sudah berada di dalam mobil. suasana di dalam mobil nampak hening karena kedua penghuni mobil tersebut hanya saling diam dan sesekali melirik tanpa ada yang berbicara.
Grea memberingsut menyandarkan tubuhnya di jok mobil dan pandangannya ke arah jendela, Arvan sesekali menoleh ke arah Grea sambil fokus dengan kemudinya.
Hanya butuh waktu 30 menit mobil mereka sudah sampai di depan apartemen.
" Sayang!" panggil Arvan namun Grea tidak juga bergeming.
Arvan membuka seatbeltnya lalu mendekatkan dirinya ke arah Grea yang ternyata tengah tertidur. Arvan tersenyum tipis lalu turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Arvan tidak ingin membangunkan Grea yang nampak tertidur pulas, Arvan mengangkat tubuh Grea membawanya ke apartemen miliknya.
Sampai di depan pintu apartemen pun Grea masih tidak terusik, Arvan sedikit bersusah payah membuka pintu apartemennya.
Ceklekk
Akhirnya pintu apartemen pun terbuka, Arvan langsung membawa Grea ke dalam kamar dan merebahkannya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati karena tidak ingin membuat Grea terbangun dari tidurnya.
" Rupanya dia benar-benar sangat lelah, tidurlah sayang aku tidak akan mengganggu tidurmu. tidur yang nyenyak ya!" ucap Arvan sebelum beranjak pergi ke kamar mandi.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup Grea membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamar mandi.
" Maaf ya mas!" gumam Grea seraya tersenyum tipis
Setelah hampir 20 menit Arvan baru keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Arvan duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya mengecek beberapa pesan yang dikirim oleh asisten pribadinya Hanan.
Arvan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju wardrobe untuk berganti baju.
Setelah menggunakan pakaian Arvan memilih duduk di sofa panjang yang ada di kamar tersebut, Arvan meraih laptopnya dan memeriksa beberapa email yang masuk.
Arvan yang merasa seperti ada yang tengah memperhatikannya langsung menoleh ke arah Grea yang berada di tempat tidur dan dengan cepat Grea langsung berpura-pura tertidur setelah Arvan menoleh ke arahnya.
Arvan tersenyum tipis lalu menutup laptopnya dan diletakkan di atas meja. Arvan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Grea dan membuat jantung Grea berdegup dengan sangat cepat saat tahu langkah Arvan mengarah kepadanya.
Glek
Grea terasa sulit menelan salivanya saat tangan Arvan sudah mendarat di perutnya, memeluknya dari arah belakang.
" Kita lanjutkan yang tadi sempat tertunda!" bisik Arvan ditelinga Grea membuat tubuh Grea membeku seketika.
" Aku tahu kamu belum tidur, apa jangan-jangan kamu tidak bisa tidur karena tidak sabar ingin kita melanjutkan yang tadi?" bisik Arvan seraya menggigit kecil telinga Grea dan kali ini mampu membuat mata Grea langsung membulat sempurna.
Arvan mengelus-elus perut Grea " Aku berharap kelak aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita" ucap Arvan sambil mengelus-elus perut Grea yang langsung menjalar ke sembarang arah.
Grea mengerucutkan bibirnya saat tangan Arvan sudah mulai beraksi dengan liar. karena merasa sudah tidak tahan diam saja akhirnya Grea langsung berbalik badan dan memukul tangan Arvan yang tidak mau lepar dari area favoritnya.
__ADS_1
" Omes ih!" Grea mengerucutkan bibirnya.
membuat Arvan malah terkekeh
" Omes sama isteri sendiri halal sayang, lagian mau sampai kapan kita menahannya? mas sudah tidak sanggup lagi sayang, jadi boleh ya mas meminta yang tadi sempat tertunda?" tanya Arvan penuh damba
Grea hanya diam menatap lekat wajah Grea dan sedetik kemudian ia langsung mengangguk.
" Sungguh?" tanya Arvan memastikan dan Grea mengangguk dengan senyum yang mengembang.
Tidak ingin membuang waktu lama-lama, akhirnya Arvan langsung melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.
Arvan dan Grea saling melepas rindu dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan jam 4 pagi, Arvan memang begitu merindukan isterinya tapi dia pun tidak mau gegabah dalam melancarkan aksinya, dia takut menyakiti istri dan calon bayi mereka jadi Arvan beberapa kali menjeda aksinya walaupun Grea sempat merajuk karena sikap Arvan yang dianggap terlalu bertele-tele padahal Arvan hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan Grea.
Grea memang belum mengatakan apa-apa mengenai kehamilannya kepada sang suami jadi Grea mengira kalau Arvan memang belum tahu tentang kehamilannya itu.
Grea menggeliat dari tidurnya dan perlahan membuka kedua matanya, ia mengedarkan pandangannya tapi tidak melihat keberadaan Arvan. Grea mendengus kesal karena Arvan pergi tanpa membangunkannya terlebih dahulu.
Dengan langkah gontai Grea berjalan menuju kamar mandi, Grea membersihkan diri setelah selesai ia keluar dari kamarnya dan betapa terkejutnya Grea saat melihat Arvan yang memakai apron tengah sibuk di dapur.
Grea berjalan menghampiri Arvan dan saat sadar akan kehadiran Grea Arvan langsung menyuruh Grea untuk duduk di meja makan menunggu masakannya siap untuk disantap.
" Biar aku bantu!" ucap Grea yang hendak kembali beranjak dari duduknya namun dicegah oleh Arvan.
" Tidak usah sayang, tunggu disini saja oke?" Arvan kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya.
Setelah selesai Arvan menyajikan beberapa menu makanan sehat khusus untuk ibu hamil, dari mana Arvan tahu tentu saja ia browsing di internet mencari tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan untuk ibu hamil dan makanan apa saja yang baik untuk kesehatan bayi dan ibunya.
Grea mengerutkan keningnya saat melihat menu makanan yang ada di atas meja. apalagi Arvan pun membuatkan Grea susu.
Deg
" Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku_?" batin Grea
" Sayang!" suara bariton membuyarkan lamunan Grea
__ADS_1