Nikah Menjadi Pengantin Pengganti

Nikah Menjadi Pengantin Pengganti
Melahirkan


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat saat ini usia kandungan Grea sudah memasuki bulannya. Arvan sudah mengambil cuti dan mengerjakan semua pekerjaan kantor dari rumah.


Arvan sangat posesif dan berperan sebagai suami siaga karena hampir 24 jam Arvan tidak pernah meninggalkan Grea.


Seperti malam ini, Usai makan malam bersama mama Risma dan papa Zaindra tiba-tiba Grea merasakan sesuatu yang tidak biasa dengan perutnya.


" Akhhhh....!" cicit Grea saat hendak masuk ke dalam kamarnya. Arvan yang mendengar keluh Grea langsung menghampirinya.


" Sayang ads apa?" tanya Arvan panik


" Tidak apa-apa, aku hanya merasa perutku sedikit nyeri" sahut Grea masih mencoba untuk tersenyum.


" Apa kamu ingin melahirkan?' tanya Arvan yang nampak panik dan juga gugup.


Karena ini adalah pengalaman pertama untuk keduanya maka dari itulah Arvan meminta Grea untuk tinggal bersama kedua orangtuanya.


Arvan tidak ingin terjadi sesuatu dengan isteri dan juga calon anaknya jika ada orang yang lebih paham maka setidaknya bisa sedikit membantu dirinya dan juga sang isteri.


" Ma... mama!" teriak Arvan yang merasa panik


Mama Risma yang baru saja hendak duduk di ruang TV langsung bergegas menghampiri sang putra.


" Ada apa Van?" tanya mama Risma


" Apa istrimu sudah mau melahirkan?" tanya papa Zaindra ketika melihat wajah Grea yang nampak sedikit pucat


" Arvan gak tahu pah, mah. Grea merasa nyeri diperutnya!" sahut Arvan yang mengelus lembut punggung Grea


" Mas, akhhhh..!" Grea kembali meringis kesakitan


" Isterimu mau melahirkan Van cepat kita bawa ke rumah sakit!" seru sang mama


" Biar papa siapkan mobilnya!" Zaindra dengan cepat pergi untuk menyiapkan mobil


" Grea sayang, tahan dulu ya nak. kita kerumah sakit sekarang!" ucap mama Risma merangkul bahu Grea


" Van cepat ambil barang-barang keperluan Grea yang sudah disiapkan didalam tas!" titah mama Risma


" Mas Arvan tasnya ada di dalam lemari paling pojok!" ucap Grea memberitahu letak tas yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Arvan dengan langkah cepat langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil tas yang dimaksud, setelah menemukan tas tersebut Arvan bergegas menghampiri Grea yang sudah berjalan keluar dibantu oleh mama Risma dan salah satu art yang bekerja di rumahnya.


Grea duduk di belakang bersama Arvan dan juga mama Risma sementara papa Zaindra duduk bersama sang sopir didepan.


" Pak cepat sedikit jalannya!" teriak Arvan yang merasa tidak sabaran


" Maaf tuan muda ini sudah cukup cepat!" jawab pak sopir dengan takut-takut


" Cepat bagaimana ini seperti jalan siput!" teriak Arvan dengan emosi


" Van kamu yang sabar, ini sudah cukup cepat walau bagaimanapun kita tetap harus berhati-hati tidak boleh gegabah. cepat boleh tapi tetap harus memperhatikan keselamatan" tegas Zaindra yang langsung membuat Arvan diam


" Mas, sakit sekali!" ucap Grea mencengkeram lengan Arvan dengan sangat kuat membuat Arvan meringis menahan sakit


" Sabar ya sayang, andai saja aku bisa menggantikan rasa sakit mu itu biar aku saja yang merasakannya sayang" ucap Arvan seraya menggenggam erat jemari Grea


Mama Risma begitu terharu mendengar kata-kata putranya itu ia tidak menyangka Arvan bisa berkata seperti itu.


Mobil mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit dan Arvan dengan cepat langsung menggendong Grea ala bridal style masuk ke dalam rumah sakit berlari kecil di lorong rumah sakit.


Tidak lama beberapa suster dengan seorang dokter menghampiri Arvan dengan mendorong brankar


Arvan menurunkan Grea dengan sangat hati-hati dan dibantu dengan beberapa suster membawa Grea ke ruang persalinan.


Arvan nampak begitu cemas dengan keadaan Grea yang meringis kesakitan.


" Silahkan bapak masuk jika ingin mendampingi sang isteri" ucap dokter yang menangani Grea melahirkan


Arvan kini berada di dalam ruang persalinan dengan tangan yang terus di genggam dengan sangat kuat oleh Grea .


" Sayang kamu yang sabar ya, kamu pasti bisa sayang!" ucap Arvan menyemangati


" Iya mas" Grea berusaha untuk kuat


Arvan terus menyemangati Grea yang sesekali mencengkeram kuat lengannya. Walaupun terasa panas dan perih Arvan tidak menghiraukannya karena yang ada di benaknya saat ini adalah keselamatan sang isteri dan juga bayinya.


Saat di dalam ruang persalinan Grea tengah berjuang antara hidup dan mati diluar ruangan tersebut mama Risma yang ditemani oleh papa Zaindra terus saja berjalan mondar mandir dengan sangat cemas.

__ADS_1


" Mah duduklah, pusing aku melihatmu mondar-mandir seperti itu!" tegur papa Zaindra yang melihat isterinya berjalan mondar-mandir di hadapannya


" Pah, aku itu sedang mengkhawatirkan menantu dan cucu ku!" sungut mama Risma


" Iya aku tahu mah, apa mama pikir aku tidak mencemaskannya?" Mama Risma akhirnya duduk di samping papa Zaindra


Tak...


Tak..


Tak..


Suara derap langkah mommy Marla, papa Alex dan juga Jimmy yang setengah berlari menghampiri mereka.


" Ris!" panggil mama Marla setelah berada di dekat mereka


Mama Risma menoleh dan langsung beranjak dari duduknya menghampiri mommy Marla


" Bagaimana keadaan putriku Ris?" tanya mommy Marla yang nampak begitu cemas


" Masih di dalam sedang ditangani dokter!" sahut mama Risma


" Mana Arvan?" tanya papa Alex saat mengedarkan pandangannya tidak mendapati Arvan


" Arvan sedang mendampingi Grea di dalam" sahut papa Zaindra dan papa Alex menanggapi dengan anggukan kepala


"Owekkk... Owekkk" terdengar suara tangisan bayi yang langsung membuat suasana menjadi penuh haru


" Risma cucu kita sudah lahir!" ucap mommy Marla dengan wajah bahagia


" Iya Marla cucu kita sudah lahir" mereka berdua berpelukan meluapkan rasa bahagianya


" Akhirnya keponakan ku lahir!" gumam Jimmy


" Selamat ya!" ucap seseorang yang berdiri tidak jauh darinya


Jimmy menoleh dan tersenyum ramah " Selamat juga untuk mu karena keponakan mu sudah lahir!" ucap Jimmy dengan tersenyum ramah


" Iya kau benar, keponakan aku juga" sahut Arindia dengan senyum yang dipaksakan


Grea kini sudah berada di dalam ruang perawatan, Arvan tidak berhenti mengucapkan terima kasih dan rasa cintanya kepada Grea yang sudah melahirkan seorang putri cantik yang mereka beri nama Gracia Queensy Arvandra.


" Cantik sekali!" ucap Arindia saat melihat baby Gracia.


" Cepatlah menikah dan kau akan memiliki putri cantik seperti baby Gracia!" ucap Jimmy yang langsung membuat jantung Arindia bergemuruh hebat.


Deg


Arindia menelan salivanya kasar ucapan Jimmy membuatnya merasa semakin bersalah.


" Bang !" panggil Grea dengan suaranya yang masih terdengar lemah


" Iya dek!" sahut Jimmy yang berjalan menghampiri Grea


" Kapan abang pulang?" tanya Grea yang melihat keberadaan Jimmy bersama adik iparnya


" Semalam" sahut Jimmy


" Untung saja mommy mengajak kami pulang kemarin sore dan ternyata filing seorang ibu tidak boleh diragukan ya!" seloroh Jimmy


" Ya begitulah seorang ibu nak Jimmy, pasti memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya" sahut mama Risma menimpali ucapan Jimmy


Grea merasa sangat bahagia karena semua keluarganya tengah berkumpul bersama, meskipun ada rasa yang begitu janggal dengan sikap kakaknya yang nampak biasa-biasa saja di hadapan Arindia mantan calon isterinya Grea tetap berpikir positif.


Saat ini seluruh keluarga tengah pulang dan yang ada tinggal Arvan, Jimmy dan juga Arindia yang menemani Grea


" Sayang, aku pergi keluar sebentar ya!" pamit Arvan kepada Grea


" Kamu mau kemana mas?" tanya Grea


" Mas mau ke supermarket dulu sebentar membeli cemilan dan beberapa keperluan kamu yang lainnya" sahut Arvan


" Bang nitip Dira dulu ya!" ucap Arvan berjalan mendekati Jimmy yang tengah duduk di sofa


" Iya, tenang saja aku pasti akan menjaganya" sahut Jimmy


" Ar kamu mau tetap disini atau ikut kakak?" tanya Arvan sebelum beranjak pergi

__ADS_1


" Aku disini saja kak!" ucap Arindia


" Ya sudah kalau begitu kakak pergi dulu dan jaga isteri dan juga anak kakak ya!" pamit Arvan lalu pergi


Grea yang merasa canggung berada di antara kakak dan mantan calon kakak iparnya yang saat ini sudah menjadi adik iparnya memilih untuk memejamkan mata berpura-pura tidur apalagi saat ini baby Gracia pun tengah anteng tidurnya.


" Grea!" panggil Jimmy yang beranjak dari duduknya


" Mungkin Grea sudah tidur!" sahut Arindia yang di balas dengan senyum yang sulit untuk diartikan


" Grea!" panggil Jimmy untuk yang kedua kalinya tapi tetap Grea tidak bergeming


" Sudahlah Jimmy mungkin Grea sudah tertidur, biarkan saja dia beristirahat!" sahut Arindia


" Cepat sekali dia tidurnya" gumam Jimmy


" Jimmy!" panggil Arindia membuat Arvan menoleh seketika


" Ada apa?" tanya Jimmy datar


" Jimmy apa benar kau sudah melupakan aku?" tanya Arindia membuat Jimmy menghela napasnya berat


" Melupakan mu, soal apa?" bukan menjawab Jimmy malah balik bertanya


" Jimmy aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan kepadamu!" ucap Arindia yang tiba-tiba sudah menitikkan airmatanya.


Jimmy menghembuskan napasnya berat


" Maaf untuk hal apa, kamu tidak memiliki kesalahan apapun padaku nona Arindia?" sahut Jimmy dengan senyuman yang sulit di artikan


" A... aku!" ucap Arindia gugup


" Nona Arindia, kamu adalah gadis yang cantik dan juga baik hati jadi tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan!" Jimmy menghampiri box bayi dan tersenyum saat netranya menatap bayi mungil yang tengah tertidur dengan nyenyaknya.


Deg


Arindia merasa semakin bersalah dan tanpa sadar airmatanya lolos begitu saja.


" Aku bukanlah gadis baik seperti yang kau duga Jimmy" ucap Arindia


Jimmy tersenyum membuat hati Arindia terasa semakin sakit.


" Arindia, meskipun kita memiliki masa lalu yang terbilang menyakitkan alangkah baiknya kita mencoba melepaskannya dengan ikhlas agar hati menjadi tenang dan cinta berada pada tempatnya" ucap Jimmy seraya tersenyum


" Jimmy apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Arindia yang nampak heran dengan sikap Arindia.


" Mengingat semuanya? mengingat apa?" tanya Jimmy datar


" Mengingat hubungan kita" sahut Grea


" Hubungan kita? hubungan apa maksudmu?" tanya Jimmy dengan sorot mata yang sulit di artikan


" Jimmy, Andai saja aku tidak bersikap bodoh dan tidak terpancing mungkin saat ini kita_" Arindia tidak melanjutkan kata-katanya


" Sudahlah Arin semua yang sudah berlalu biarlah berlalu jangan kamu ungkit dan mengingatnya kembali" ucap Jimmy membuat Arindia semakin merasa bersalah


" Tapi a..aku_" Arindia menjadi terbata


" Aku sudah melupakan semuanya dan sudah tidak ada lagi yang dapat kuingat jadi biarkanlah semua yang kau ingat itu menjadi sebuah kenangan" ucap Jimmy


"Tapi aku... aku masih mencintaimu Jimmy!" ucap Arindia cepat


Deg


Jimmy membatu begitu juga Grea yang pura-pura tidur dapat dengan jelas mendengar pengakuan sang adik ipar terhadap kakaknya


Jimmy tersenyum tapi entah apa arti dari senyumannya itu.


Grea masih setia mendengarkan pembicaraan adik iparnya itu yang tengah menyatakan perasaannya terhadap kakaknya sendiri.


" Jimmy aku tidak bisa melupakan mu dan aku masih sangat mencintaimu" ucap Arindia dengan airmata yang meluncur begitu saja


Jimmy hanya tersenyum lalu berjalan menghampiri Arindia.


" Kenali terlebih dahulu mana cinta dan mana nafsu, jangan berbicara sesuatu yang tidak dapat kamu pahami dengan baik makna dan arti keberadaannya!" ucap Jimmy seraya menepuk bahu Arindia lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan Grea.


membuat Arindia mematung seketika

__ADS_1


__ADS_2