
" Apa maksudmu?" ucap Grea dingin dan tatapan matanya pun begitu tajam seakan ingin menelan Arvan hidup-hidup.
Glek
Arvan terasa sulit menelan salivanya, baru kali ini ia melihat tatapan Grea yang sangat tajam seakan ingin mengulitinya.
" Sayang!" Arvan ingin membawa Grea kedalam pelukannya lagi namun dengan cepat Grea menepisnya kasar dan beranjak dari duduknya
" Apa maksudmu mas dia menginginkan suamiku?" pertanyaan itu disambut dengan air mata membuat jantung Arvan bagaikan tertusuk belati melihat wanita yang sangat dicintainya menitikkan air mata.
" Apa klien mu itu mantan kekasihmu atau mungkin mantan tunangan mu?" Grea kembali bertanya kali ini dengan kasar ia mengusap air matanya yang berkali-kali turun tiada henti
" Sayang dengarkan aku dulu, maaf jika kata-kata ku tadi membuat mu sedih!" sahut Arvan dengan mencoba kembali ingin memeluk Grea namun tetap saja Grea menghindar.
" Apa karena itu kau ingin aku selalu mempercayai mu?" tanya Grea dengan sendu kali ini Grea tidak lagi mampu menghindari pelukan Arvan yang berusaha untuk menenangkannya.
" Sayang dengarkan penjelasan aku dulu, aku mohon jangan salah paham." Arvan mengurai pelukannya dan menatap lekat mata Grea.
" Dia bukan siapa-siapa aku, dia hanyalah masa lalu yang tidak ada artinya apa-apa" tutur Arvan
" Apa dia mantanmu mas?" Grea menatap lekat mata Arvan mencoba mencari kejujuran dari sorot matanya.
" Iya dia mantanku" jawab Arvan datar namun siapa sangka mendengar kata mantan tubuh Grea menjadi lemas seolah tiada bertulang.
" Ja.. jadi dia mantan kekasihmu mas?" tanya Grea dan Arvan menggeleng.
Arvan menuntun Grea untuk duduk di sofa karena merasa kakinya sedikit sakit Grea pun nurut untuk duduk di sofa.
" Jika bukan mantan kekasih jadi dia mantan tunangan mu?" tanya Grea dan Arvan kembali menggeleng namun sedetik kemudian dengan cepat Grea menutup mulutnya sebelum bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya.
" Jika bukan mantan pacar dan juga mantan tunangan berarti di.. dia adalah mantan isterimu mas?" Grea kembali menitikkan air mata namun kali ini tatapan matanya begitu datar.
Arvan tersenyum tipis membuat Grea kesal dan memukul dada bidang Arvan saat Arvan kembali memeluknya.
" Makanya dengarkan aku dulu sayang, jangan main ambil kesimpulan yang bahkan menyakiti diri kamu sendiri!" tutur Arvan
" Dengarkan aku baik-baik jangan menyela dan berasumsi sendiri, mengerti?" ucap Arvan tegas dan Grea mengangguk pelan.
" Dia itu memang mantanku tapi bukan mantan yang ada di otakmu saat ini!" Arvan menunjuk-nunjuk kening Grea membuat Grea memberengut
" Dia itu memang mantan kekasihku" ucap Arvan yang langsung membuat mata Grea melotot.
Tanpa banyak kata Arvan langsung mengecup mata Grea yang melotot dan menatapnya tajam.
" Dia itu mantan kekasih ku tetapi kekasih bayaran" ucap Arvan lagi membuat Grea tidak mengerti dengan ucapannya
" Maksud kamu apa mas kekasih bayaran?" tanya Grea penasaran
__ADS_1
" Aku menjadikannya sebagai kekasih bayaran saat aku ingin kembali ke tanah air dan memperkenalkan dia sebagai kekasihku kepada kedua orang tua ku di acara pernikahan adikku saat itu. aku melakukan hal itu karena aku merasa bosan setiap kali aku pulang ke rumah mama selalu menanyakan ku dengan pertanyaan, kapan kamu akan menikah? apalagi mama selalu memaksa ku untuk menemui putri dari teman-temannya untuk dijodohkan dengan ku." tutur Arvan menjelaskan
" Tapi dia tidak memerankan perannya karena disaat hari pernikahan adikku dia mengatakan tidak bisa hadir karena sakit padahal aku sudah mentransfer uang sebagai bayarannya. tapi aku tidak mempedulikan hal itu karena pada saat aku datang ke ballroom tempat untuk diadakan acara pernikahan adikku dan juga kakakmu pada saat itu aku melihat seorang gadis cantik tengah berjalan melewati ku begitu saja dan entah kenapa jantungku berdetak begitu kencang dan berharap bisa bertemu dengan gadis itu kembali" lanjut Arvan bercerita namun kali ini Grea kembali sedih.
" Kamu kenapa?" tanya Arvan karena Grea kembali menitikkan airmatanya.
" Jadi kamu berharap bisa bertemu dengannya kembali?" tanya Grea dengan rasa nyeri dihatinya.
" Tentu saja, aku sangat berharap bisa hidup dengannya sampai menua bersama" sahut Arvan gemes seraya mencubit pipi Grea
" Dan bisa tidak aku menyelesaikan ceritaku dulu baru bertanya?" Arvan menahan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Grea yang begitu sendu.
" Aku memang tidak pernah jatuh cinta dan setiap hari aku hanya sibuk dengan pekerjaan, waktu itu aku selalu beranggapan kalau wanita itu merepotkan jadi aku tidak ingin ada komitmen apa-apa dengan wanita manapun. tapi jauh berbeda ketika aku melihat gadis tersebut, rasanya ingin sekali aku memiliknya" ucap Arvan yang lagi-lagi membuat Grea sedih mendengar pengakuan dari suaminya.
" Tapi sayang sebelum bunga asmara itu merekah dia sudah layu sebelum berkembang" ucap Arvan sendu
" Kenapa?" tanya Grea penasaran
" Apa dia sudah punya pacar atau bahkan sudah menikah?" Grea semakin dibuat penasaran dengan Arvan yang dengan santainya tersenyum tipis.
" Aku terkejut karena ternyata gadis itu adalah adik dari calon suami adikku" jawab Arvan yang langsung membuat Grea membulatkan matanya.
Jlepp
" Maksud kamu gadis itu aku?" tanya Grea dengan sedikit gugup
" Iya gadis itu adalah kamu Greandira yang saat ini sudah berstatus isteri Arvandra Pratama Zaindra" jawab Arvan yang mendaratkan kecupan di kening Grea.
" Jadi kamu sudah jatuh cinta denganku sebelum kita nikah menjadi pengantin pengganti?" tanya Grea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Arvan tersenyum lalu mengangguk pelan. " Tapi bukankah waktu itu kamu menolak ku?" tanya Grea mendongak menatap wajah tampan suaminya
" Aku menolak karena waktu itu aku sangat kesal ada wanita yang menolak dinikahkan dengan ku, padahal diluar sana banyak wanita yang mengemis ingin menikah dengan ku" jawab Arvan
" Kau bahkan menolakku mentah-mentah Nyonya Arvandra dengan sikapmu yang bar-bar itu" lanjut Arvan.
" Jadi kamu sudah jatuh cinta dengan Greandira sebelum menikah?" Arvan mengangguk seraya tersenyum malu
" Tapi kenapa kamu selalu bersikap sangat menyebalkan?" tanya Grea
" Karena gengsi" jawab Arvan santai
" Gengsi?"
" Hem!" Arvan mengangguk
" Aku malu jika ketahuan jatuh cinta dengan mu lebih dulu tapi ya lama-lama rasa gengsi itu benar-benar terkikis dengan besarnya rasa cemburu aku yang terlalu cinta dan sayang sama kamu daraku!" ucap Arvan seraya mengecup bibir Grea sekilas.
__ADS_1
" Gombal!" Grea mengerucutkan bibirnya
" Aku tidak gombal sayang, aku benar-benar sangat mencintai kamu dan juga calon bayi kita!" protes Arvan.
" Jadi aku mohon sayang, apapun yang kamu dengar dari luar jangan pernah kamu telan mentah-mentah berita yang kamu dapat." ucap Arvan berpesan kepada isterinya.
" Kamu harus tahu sayang ada sebagian orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan aku takutnya wanita itu termasuk salah satunya karena aku sudah berkali-kali mengatakan kalau aku sudah menikah tetap saja Talita tidak mau percaya!" tutur Arvan menerangkan
" Talita?" tanya Grea memastikan
" Iya, nama wanita itu Talita. aku berharap kamu tidak bertemu dengannya"
" Kenapa? apa jangan-jangan kamu takut dia mengatakan yang sesungguhnya dan ternyata apa yang kamu ceritakan hanyalah bohong belaka"
Deg
Arvan menghela napasnya berat, dia menangkup wajah Grea dengan kedua tangannya.
" Tatap mata aku sayang, apakah ada kebohongan didalamnya?" tanya Arvan membuat Grea menggeleng karena Grea sedari tadi menatap lekat mata Grea dan memang dia tidak mendapatkan kebohongan didalamnya.
" Aku Arvandra Pratama Zaindra tidak pernah berkata bohong. dan semua yang aku ucapkan adalah hal yang sebenarnya" lanjut Arvan tegas
" Sudahlah, sebaiknya kita pulang sekarang. aku capek dan ingin istirahat!" ucap Arvan dingin. dia beranjak dari duduknya dan meraih tas kerjanya.
"Mas aku...!" ucap Grea terpotong
" Sudahlah jangan dibahas lagi aku capek!" Arvan berjalan keluar menunggu Grea didepan pintu ruangannya.
Mbak Vivi yang melihat wajah Arvan yang nampak ditekuk dan aura dingin yang mendominasi lebih memilih diam dari pada kena semprot.
Setelah menutup wajahnya dengan masker, Grea berjalan keluar menyusul Arvan.
Ceklekk
Grea menyembul dari balik pintu dan menyapa ramah mbak Vivi sebelum pergi mengekor di belakang Arvan.
Teringat kalau Grea tengah hamil, Arvan menghentikan langkahnya dan merangkul pinggang Grea posesif. Grea tersenyum dibalik masker yang ia gunakan.
Saat Arvan dan Grea sudah berada di lobi tiba-tiba mereka bertemu dengan seseorang.
" Arvan!" panggilnya
Deg
Hati Grea bergemuruh dan tubuhnya seketika menegang.
" Kau!"
__ADS_1