
Deg
Grea menelan salivanya kasar saat melihat pria yang kini berada di hadapannya dengan tatapan memangsa
" Kalian?" ucap Grea dibalik keterkejutannya
Talita tertawa penuh kemenangan begitu juga sang pria yang begitu mendamba seorang Greandira.
" Talita, kenapa loe lakukan ini semua?" tanya Grea dengan menahan dirinya yang hampir saja tumbang
" Kenapa? itu karena loe sudah merebut masa depan gue loe sudah menghancurkan impian gue" teriak Talita dengan emosi
" Merebut masa depan loe? maksud loe apa Ta?" tanya Grea yang masih bingung
" Loe sudah merebut Arvan dari gue dan gue gak akan membiarkan loe terus bersama dengannya. gue akan membuat Arvan membenci loe dan membuang loe bak sampah yang menjijikkan!" ucap Talita lalu tertawa jahat
" Ap...apa maksud loe Ta?" Grea mulai ketakutan
" Loe itu gak bodoh Greandira, gue yakin loe pasti mengerti apa maksud gue" ucap Talita sinis
" Loe akan menikmati hari ini dengan dia dan yakin setelah itu Arvan akan merasa jijik sama loe lalu membuang loe" Talita kembali tertawa sementara Grea sudah menangis ketakutan.
"Cepat kau bawa dia dan nikmatilah kebersamaan kalian hari ini" ucap Talita kepada pria yang tengah berdiri menatap lapar pada Grea.
" Ma... Marcel aku mohon jangan mendekat!" ucap Grea saat pria yang tidak lain adalah sahabat suaminya dulu yaitu Marcel melangkahkan kakinya mendekati Grea
" Aku sudah lama menantikan ini sayang, jadi sebaiknya kamu menurut dan kita nikmati kebersamaan kita. " ucap Marcel yang semakin berjalan mendekat ke arah Grea.
Grea yang tubuhnya semakin terasa lemas pun tidak bisa menghindar kemana-mana saat Marcel semakin dekat ke arahnya.
" Gue akan membuatkan video yang menarik untuk kalian berdua jadi nikmatilah!" ucap Talita membuat Grea menatap tajam ke arah Talita
" Gue gak menyangka ternyata Talita sahabat gue sejak kecil sudah mati" ucap Grea penuh dengan kebencian dan Talita hanya menanggapi ucapan Grea dengan senyum yang sulit di artikan.
Marcel semakin dekat dan hendak meraih tubuh Grea namun sedetik kemudian Grea sudah tidak sadarkan diri.
🖤
Deg
Deg
Deg
Degup jantung Grea berdetak sangat cepat saat netranya menelisik ruangan yang nampak asing baginya.
Dengan perlahan Grea menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan sedetik kemudian tubuh Grea menegang dan airmatanya mengalir begitu saja saat ia teringat kembali kejadian saat ia berada di apartemen Talita.
"Tidak mungkin ini tidak mungkin " Grea menangis saat melihat tubuhnya yang polos dan terdapat jejak-jejak percintaan.
" Ini gak mungkin, gue sudah kotor apa yang harus gue katakan pada mas Arvan dan semua orang!" Grea memukul lengan dan wajahnya sendiri
" Gue sudah kotor, maafkan aku mas karena tidak mendengar ucapan mu" Grea menangis pilu
" Talita gue gak nyangka loe berhati iblis, tega loe lakuin ini sama gue" Isak tangis Grea yang semakin terdengar pilu
Grea menekuk lututnya menyembunyikan wajahnya lalu menangis sejadi-jadinya.
Ceklekk
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, seorang pria dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang berjalan menghampiri Grea.
Pria itu menatap lekat Grea yang nampak begitu menyedihkan.
Ada rasa menyesal karena sudah berbuat kasar terhadap Grea tapi ada rasa puas tersendiri karena bisa menikmati permainan Grea yang begitu membuatnya candu.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Grea membuat Grea mematung dan bergidik ngeri apalagi dia bisa melihat sedikit pria itu tengah bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang.
" Ap...apa dia masih di sini. Ma.. Marcel masih berada di ruangan ini. oh ya ampun aku tidak bisa bernafas rasanya begitu sesak!" batin Grea yang merasa ketakutan
Grea yang merasa ketakutan tiba-tiba terkulai lemas dan tidak sadarkan diri.
" Dira.... Dira... bangun sayang!" teriak pria yang berada di hadapan Grea dan tengah memeluknya prosesif
" Hei .. bangun sayang, maaf kalau aku sudah membuat kamu ketakutan. " ucap pria yang tidak lain adalah Arvan.
Dira perlahan membuka matanya dan begitu terkejut saat yang berada di hadapannya adalah sang suami.
" Mas Arvan!" cicit Grea dengan suara Isak tangisnya
" Hei.. kenapa menangis sayang?" tanya Arvan dengan selembut mungkin
" Maafkan aku mas, ak... aku... aku sudah kotor. " tangis Grea pun pecah
Arvan melihat Grea menangis langsung menariknya ke dalam pelukannya
" Kotor kenapa hem, apa kamu habis mengepel lantai terus belum cuci tangan jadi kotor hem?" seloroh Arvan dengan tersenyum
" Mas aku... aku berbicara serius, aku tidak pantas bersama kamu lagi mas, aku sudah kotor!" Grea melepaskan pelukan Arvan lalu berusaha beranjak dari tempat tidur dengan selimut yang melilit di tubuhnya.
" Kamu mau kemana sayang?" tanya Arvan yang kembali menarik tangan Grea hingga kembali duduk di pangkuan Arvan
" Aku bilang lepas mas aku tidak pantas kamu sentuh!" Grea memberontak kasar
" Sayang ada apa hem? apa kamu tengah berpikir kalau kamu sudah disentuh oleh laki-laki lain?" tanya Arvan seraya mempererat pelukannya
" Dengarkan aku, tidak akan aku membiarkan laki-laki lain menyentuhmu sayang walau sehelai rambut pun!" ucap Arvan mengendorkan pelukannya
" Mak.. maksud kamu apa mas?" tanya Grea yang nampak berpikir
" Aku sudah menghajar Marcel dan mereka berdua kini sudah mendekam di jeruji besi" jawab Arvan membuat Grea melotot
" Mereka di penjara?" tanya Grea dan diangguki oleh Arvan.
Flashback on
" Han!" panggil Arvan
" Iya presdir ada apa?"
" Han apa kamu sudah memerintahkan Caroline untuk menjaga isteriku?" tanya Arvan
" Sudah presdir!" sahut sekretaris Hanan
" Kenapa aku merasa khawatir ya!" gumam Arvan
" Han coba kamu hubungi isteriku bagaimana keadaannya?" tanya Arvan
" Presdir Olin bilang saat ini nyonya muda berada di dalam apartemen Talita" ucap sekretaris melapor
__ADS_1
" Perasaan aku tidak enak, Han kamu perintahkan Caroline untuk terus memantaunya dan pastikan isteriku dalam keadaan baik-baik saja" pesan Arvan
" Baik tuan!" Sekretaris Hanan dengan cepat memerintahkan Caroline untuk lebih ketat lagi. Arvan dengan langkah cepat langsung pergi meninggalkan ruangannya dan menyusul Grea yang berada di apartemen Talita untung saja sebelum berangkat Grea sudah memberitahu Arvan alamat apartemen Talita sehingga tidak sulit untuk Arvan menyusulnya.
Setelah sampai di apartemen Talita Arvan dengan cepat mencari keberadaan Grea.
Untung saja pintu apartemen tidak tertutup dengan sempurna karena Grea dengan sengaja melepaskan sepatunya hingga membuat pintu tidak dapat tertutup dengan sempurna.
Arvan dengan langkah cepat menerobos masuk dan benar saja sedetik saja ia terlambat mungkin Grea sudah disentuh oleh laki-laki lain.
Arvan yang melihat Marcel berada di dalam apartemen tersebut bahkan hampir saja menyentuh Grea dengan amarah yang sudah meledak Arvan dengan brutal menghajar Marcel sedangkan Caroline dengan cepat langsung mengamankan Talita yang hendak melarikan diri.
Sekretaris Hanan dengan cepat menghentikan aksi brutal sang atasan
" Presdir hentikan, dia bisa mati presdir dan anda bisa dipenjara!" ucap sekretaris Hanan mengingatkan
" Aku tidak peduli Han, dia sudah berbuat kurang ajar dengan isteriku dan ini untuk yang kedua kalinya ia melecehkan isteriku!"
Bugh
Arvan kembali melayangkan satu pukulan telak di perut Marcel membuat Marcel merasa begitu kesakitan.
" Sudah cukup presdir, ingat isteri anda sedang hamil dan lihat sepertinya isteri anda sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, " ucap sekretaris Hanan seraya menunjuk ke arah Grea dengan ekor matanya.
" Sial, apa yang sudah dilakukan mereka!" geram Arvan yang langsung menggendong Grea ala bridal style.
Arvan tidak membawa Grea pulang ke apartemen karena jaraknya yang terbilang cukup jauh sementara Grea sepertinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi jadi untuk mengobati Grea satu-satunya pilihan Arvan langsung membawanya ke hotel.
Setelah masuk ke dalam kamar hotel dengan brutal Grea langsung menyerang Arvan, mau tidak mau Arvan akhirnya membantu Grea untuk menuntaskan apa yang Grea butuhkan.
Hampir tengah malam Grea baru tersadar dari tidurnya, Grea nampak terkejut melihat keadaannya sendiri dan akhirnya menangis dengan sangat pilu.
Flashback off
Grea bernapas lega karena yang menyentuhnya ternyata suaminya sendiri.
" Sudah lebih tenang Hem?" Arvan
"Iya, aku bersyukur banget. terima kasih ya mas!" ucap Grea dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Iya sayang, mas juga minta maaf karena sudah membuat kamu merasa jijik terhadap diri kamu sendiri dan membuat kamu bersedih!" ucap Arvan
" Iya mas jahat banget, aku dibuat ketakutan setengah mati" Grea mengerucutkan bibirnya
" Iya maaf sayang dan ini mas harap kamu jadikan sebuah pelajaran. jangan mudah percaya kepada siapa pun meskipun dia baik!" pesan Arvan mengingatkan.
" Iya mas!" ucap Grea yang lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Grea dan Arvan kini sudah berada di dalam mobil menuju apartemen mereka sendiri
Sesampainya di apartemen Grea langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah apalagi saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Grea langsung terlelap sementara Arvan baru saja keluar dari kamar mandi.
Arvan melirik sekilas Grea yang sudah berada di alam mimpi.
" Ternyata dia sungguh kelelahan!" ucap Arvan yang merasa sedikit bersalah
Arvan ikut merebahkan dirinya di samping Grea dan tidak butuh waktu lama Arvan pun ikut terlelap.
__ADS_1