
" Untuk apa kau datang kesini lagi?" tanya Arvan datar
" Waw santai bro!" ucap Marcel mengangkat kedua tangannya seraya menyunggingkan senyumnya
" Jika kau datang ingin membicarakan tentang masalah pekerjaan Han ada diruangannya semua sudah kualihkan pada Han!" ucap Arvan yang merasakan genggaman tangan Grea yang semakin erat. Arvan menoleh ke arah Grea yang nampak menundukkan kepalanya.
" Ayok sayang!" ajak Arvan yang tahu akan ketidak nyamanan Grea saat bertemu dengan Marcel.
" Apa dia kekasih baru mu atau jangan-jangan selingkuhan mu?" tanya Marcel saat melihat wanita yang berada disamping Arvan dan menutup wajahnya dengan masker sedikit terdengar mengejek Arvan
" Jaga ucapanmu Marcel!" Arvan mengepalkan tangannya kuat namun Grea yang merasakan kemarahan Arvan langsung mengeratkan genggaman tangannya.
" Mas kita pulang sekarang aku_" ucap Grea terhenti
" Baiklah sayang!" Arvan langsung pergi meninggalkan Marcel begitu saja dia mengerti akan perasaan gelisah dan ketidak nyamanan saat berada di dekat Marcel.
" Van jika kau sudah punya wanita lain sebaiknya kau berikan saja Grea untukku, aku akan mengejar Grea mu itu dan menjadikannya sebagai milikku!" teriak Marcel yang langsung membuat langkah Grea terhenti begitu juga dengan Arvan. untung saja saat itu suasana masih cukup sepi jadi hanya beberapa yang tercengang dengan ucapan Marcel yang menyebutkan nama Grea.
Grea memutar badannya dan melepaskan genggaman tangannya yang melingkar di lengan Arvan. Grea berjalan menghampiri Marcel dan berdiri tepat di hadapannya sementara Arvan memilih diam ditempat melihat apa yang akan dilakukan oleh Grea kepada Marcel, jika Marcel berani mengusiknya baru ia akan turun tangan.
"Tuan Marcel yang terhormat, anda adalah pria yang berpendidikan tinggi bahkan lulusan luar negeri bahkan anda dan tuan Arvan adalah sahabat, tapi kenapa anda sebagai seorang sahabat tidak bisa menghargai arti persahabatan itu sendiri sampai anda dengan tidak punya rasa malu dan bersalah sedikitpun mengusik wanita yang sudah menjadi istri sahabat anda sendiri. Awalnya aku kira anda itu orang baik, kekhalifahan mungkin sering terjadi dan memberimu kesempatan sehingga kita bisa berteman tapi setelah apa yang aku dengar barusan membuatku benar-benar harus menjaga jarak dengan seorang pria yang sama sekali tidak bisa menghargai seorang wanita." ucap Grea dengan tegas lalu membuka maskernya.
Marcel terkejut karena yang ada di hadapannya adalah Grea isteri Arvan. " Sampai kapanpun aku hanyalah isteri dari Arvandra Pratama Zaindra" Grea lalu memakai maskernya kembali dan pergi begitu saja.
" Grea!" gumam Marcel yang menatap punggung Grea yang berjalan ke arah Arvan
" Sungguh menarik, kau hebat Van bisa mendapatkan isteri seperti Grea membuat aku ingin memilikinya juga!" gumam Marcel yang masih cukup terdengar ditelinga seseorang yang sedari tadi tengah memperhatikan ketiganya.
Plakk
Seseorang mengelepak kepala Marcel dari belakang.
" Kau !" kesal Marcel saat melihat siapa yang sudah berani kepadanya.
" Jangan mengganggu milik orang lain, apa ketampananmu sudah berkurang sehingga tidak ada lagi yang suka dengan mu?" ejek wanita yang tengah tersenyum sinis.
" Apa seorang Casanova sekarang sudah berubah menjadi laki-laki pecundang yang menginginkan sesuatu yang sudah menjadi milik orang" tanya seorang wanita dewasa yang seumuran dengan Arvan dan juga Marcel dengan sedikit mengejek.
" Jaga ucapanmu, dasar perawan tua!" sarkas Marcel yang mengetahui kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah wanita yang sangat dikenalnya.
" Lebih baik aku menjadi perawan tua dari pada aku menjadi perusak hubungan orang lain, setidaknya aku masih memiliki harga diri" sahut wanita yang tidak lain adalah Caroline sahabat Arvan dan juga Marcel.
Caroline baru pulang dari Jerman dua hari yang lalu, dia diminta orangtuanya untuk mengurus perusahaan yang tengah menjalin kerjasama dengan perusahaan Pratama Grup yang tidak lain perusahaan milik sahabatnya.
Caroline sengaja datang keperusahaan tersebut karena ingin mengucapkan selamat kepada sahabatnya itu karena sudah menikah. dia mengira Arvan tidak akan menikah karena sikapnya yang dingin dan kaku terhadap wanita.
Caroline sempat kaget mendengar berita pernikahan Arvan saat papanya Zaindra mengatakan kalau Arvan sudah menikah dengan putri sahabatnya apalagi saat ini isterinya ternyata sudah mengandung.
Caroline terkejut dengan berita yang dia dengar tapi dalam lubuk hatinya Caroline merasa turut bahagia dengan kebahagiaan Arvan namun seketika rasa bahagia itu berubah menjadi kesal saat tahu orang yang selama ini ia cintai ternyata memiliki perasaan terhadap isteri dari sahabatnya itu.
Caroline adalah sahabat Arvan dan juga sahabat Marcel saat kuliah di Amerika, Caroline dulu pernah menyukai Marcel namun karena sikap Marcel yang suka bergonta-ganti pasangan membuat Caroline memilih mundur dan menyerah mengejar cinta Marcel, dia berusaha bersikap biasa setiap kali berada di dekat Marcel apalagi saat Marcel tengah berpetualang cinta.
Marcel yang ternyata mengetahui kalau Caroline menaruh hati padanya malah sengaja membuatnya sakit hati, dengan terang-terangan Marcel mengejek dan mengatakan kalau Caroline bukanlah tipe gadis yang dia sukai. " Kau menyukai ku Caroline? apa kau itu tidak memiliki cermin dirumah sehingga kau berani-beraninya suka denganku?" pertanyaan mengejek sekaligus menghina membuat Caroline benar-benar tidak percaya kalau kata-kata itu keluar dari bibir orang yang selama ia sukai. karena merasa sakit hati akan pernyataan Marcel akhirnya Caroline memilih untuk pindah kuliah ke Jerman. sejak saat itulah mereka tidak pernah bertemu lagi sementara Arvan yang tidak tahu permasalahan dua sahabatnya itu tidak mempermasalahkan tentang kepindahan Caroline yang ingin pindah kuliah ke Jerman apalagi Caroline beralasan ingin dekat dengan keluarganya yang memang tinggal di negara tersebut.
" Untuk apa kau datang kesini?" tanya Marcel
" Bukan urusanmu" ketus Caroline
" Baik itu bukan urusan ku, dan aku tidak akan mengusikmu asalkan kau pun tidak menjadi penghalang jalan ku!" ucap Marcel
" Cih, aku tidak akan menjadi penghalang jalan mu jika itu bukan jalan yang menuju keharmonisan rumah tangga orang lain terutama rumah tangga sahabat ku Arvan dan isterinya" ucap Caroline dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
" Apa urusannya dengan mu?"
__ADS_1
" Arvan adalah sahabat baik ku dan aku tidak akan membiarkan mu merusak kebahagiaannya"
" Sahabat? atau jangan-jangan selama ini kau juga menaruh hati padanya ya siapa tahu setelah aku mencampakkan perasaan mu kau pindah haluan menaruh hati kepada Arvan!" ucap Marcel mengejek membuat Caroline nampak geram dan langsung memberikan satu hadiah dipipi Marcel.
Plakk
Semua karyawan Arvan yang berada di lobi nampak terkejut begitu juga dengan Marcel yang tidak menyangka mendapatkan satu tamparan dari Caroline.
" Kau!" geram Marcel dan hendak membalas perlakuan Caroline
Namun sayangnya tidak semudah itu, Caroline yang berdiri di hadapannya saat ini bukan wanita cengeng dan lemah seperti yang Marcel kenal dulu, Caroline hendak menghindar namun tangan kekar sudah lebih dulu mencekal tangan Marcel lalu menghempaskannya dengan kasar.
" Tuan Marcel yang terhormat tidak malukah anda bersikap kasar terhadap seorang wanita ditempat umum seperti ini?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah sekretaris Hanan
" Han kau berani dengan ku?" mata Marcel mendelik tajam
" Maaf tuan Marcel sebaiknya anda pergi sekarang dan jangan membuat keributan di sini. jika anda datang kesini untuk bertemu dengan presdir Arvan, mohon maaf tuan saat ini presdir sudah pulang" ucap sekretaris Hanan dengan sopan.
" Ya aku sudah tahu!" sahut Marcel
" Sudah tau tapi masih tetap saja disini!' celetuk Caroline
" Bukan urusanmu perawan tua!" sarkas Marcel
" Jaga ucapanmu pecundang!" ucap Caroline tidak mau kalah
" Apa katamu pecundang?" Marcel tidak terima
" Ya kau itu tidak lebih dari laki-laki pecundang yang tidak bisa menggapai apa yang seharusnya menjadi milikmu namun berusaha merampas apa yang sudah menjadi milik orang lain." sungut Caroline
" Jika sampai kau berani mengusik Arvan dan istrinya maka aku tidak akan mengampunimu Marcel" ancamnya
" Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" tanya sekretaris Hanan yang mulai bingung dengan situasi yang terjadi.
Marcel pergi meninggalkan Caroline yang masih mendengus kesal dan mengumpatnya berkali-kali sementara sekretaris Hanan mengerutkan keningnya mendengar umpatan dan makian Caroline kepada Marcel yang sudah berjalan semakin menjauh.
" Olin apa sebenarnya yang terjadi bukannya kau dan dia itu_?" ucapan sekretaris Hanan menggantung.
Hanan memang cukup mengenal Caroline karena diam-diam Hanan sebenarnya sangat menyukai dan mengagumi sosok seorang Caroline yang begitu mandiri dan kuat
" Sudahlah Han jangan kau bahas manusia tidak berguna itu lagi, lagipula tahu apa kau tentang ku? sebaiknya kamu awasi terus atasanmu itu terutama isterinya!" ucap Caroline
" Apa maksud ucapan mu itu Olin?" tanya sekretaris Hanan yang nampak bingung dengan ucapan Caroline
" Bukankah kamu sudah tau pecundang itu mengincar isteri bos mu ?" tanya Caroline memastikan
" Dari gelagatnya seperti itu" sahut sekretaris Hanan
" Dasar bodoh!" maki Caroline membuat sekretaris Hanan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Jangan lengah, kau tau bukan Marcel itu orang seperti apa?" sekretaris Hanan mengangguk paham
" Jadi sebaiknya kau katakan kepada bos mu untuk berhati-hati dengan Marcel" pesan Caroline
" Kenapa kau mengatakan ini, bukankah kamu sangat mencin_" ucapan sekretaris Hanan langsung terpotong
" Jangan pernah bahas itu lagi, kau tidak tahu apa-apa tentang ku jadi jangan sok tahu " ucap Caroline yang merasa jengah mendengar pertanyaan yang hampir sekretaris Hanan layangkan dan dengan langkah tegas Caroline meninggalkan sekretaris Hanan yang masih diam mematung.
" Dia sungguh sudah berubah!" gumam sekretaris Hanan seraya menatap punggung Caroline yang berjalan semakin menjauh.
Entah kenapa sekretaris Hanan yang biasanya tidak jauh dari atasannya itu yang super cuek dan dingin dihadapan Caroline nampak seperti orang bodoh.
❄️
__ADS_1
Sementara di dalam mobil Grea hanya diam saja melempar pandangannya ke arah jendela.
" Sayang!" panggil Arvan seraya meraih tangan Grea untuk di kecup.
Grea menoleh ke arah Arvan lalu tersenyum yang sedikit dipaksakan.
" Apa kamu masih kepikiran tentang dia?" tanya Arvan membuat Grea mengangkat satu alisnya.
" Dia?"
" Marcel" jawab Arvan
Grea menundukkan pandangannya saat Arvan menyebutkan nama sahabatnya yaitu Marcel.
" Aku tidak menyangka kamu tadi mengatakan semua itu, kamu hebat sayang. sungguh aku merasa sangat bahagia dan bangga memiliki isteri seperti mu sayang!" ucap Arvan membuat Grea mendongak sekilas tersenyum tipis lalu kembali menunduk.
Grea mengusap perutnya lalu tanpa dapat ia cegah air matanya meluncur begitu saja.
Arvan yang melihat Grea menangis langsung menepikan mobilnya " Sayang ada apa denganmu, hem? tolong jangan seperti ini sayang. katakan kamu ini kenapa?" tanya Arvan yang sangat panik dengan keadaan Grea yang tiba-tiba menangis.
" Mas aku juga gak tau kenapa, tiba-tiba bayangan itu muncul lagi dan rasanya tuh begitu menyesakkan dada mas. aku tidak dapat membayangkan mas jika waktu itu mas tidak datang menolong ku" Grea kembali terisak seraya mengelus perutnya yang sedikit mulai terlihat.
Arvan melepaskan seatbeltnya dan mendekatkan wajahnya ke perut grea
" Sayang jangan diingat lagi ya, sekarang sudah ada calon bayi kita disini" Arvan mengecup perut Grea dengan lembut.
" Semua sudah berlalu dan aku tidak akan membiarkan laki-laki itu kembali menyentuhmu walaupun seujung rambut sekalipun sayang!" tuturnya lagi.
" Aku akan selalu menjagamu dan akan selalu berusaha melindungi kalian berdua" Arvan mengelus-elus perut Grea.
" Mas jujur sebenarnya aku merasa takut dengan kemunculannya!" ucap Grea berkata jujur dengan apa yang dirasakannya saat ini
" Aku hanya takut dia menyakiti anakku mas, aku sangat takut!" lanjutnya
" Dira sejujurnya setiap detik aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan kamu dan juga calon anak kita" ucap Arvan menarik Grea ke dalam pelukannya.
" Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku pasti bisa menjaga dan melindungi kalian berdua dengan segenap jiwa dan ragaku sayang!" ucap Arvan seraya mengusap punggung Grea dengan lembut.
" Mas, kenapa aku merasa sangat lemah ya mas sekarang? aku bahkan tidak bisa menjaga dan melindungi diriku sendiri dengan baik " keluh Grea
" Jangan bicara seperti itu sayang, mungkin saja semua itu karena hormon kehamilan kamu" Ucap Arvan
" Tapi mas_!"
" Sudahlah sayang jangan bicara seperti itu lagi!" potong Arvan yang tidak ingin membuat Grea banyak pikiran.
Arvan mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah sang isteri penuh cinta.
" Sayang, kamu ini bukan lemah tapi sedang hamil jadi bisa saja kan karena faktor hormon kehamilan yang ingin selalu dimanja oleh suami membuat kamu merasa lemah padahal saat tadi kamu berbicara dengan Marcel aku sama sekali tidak melihat sisi lemah padamu sayang!" tutur Arvan meyakinkan isteri tercintanya
" Apa itu benar mas?" Arvan mengangguk lalu tersenyum.
" Kamu ini adalah wanita yang paling kuat yang pernah aku temui terutama paling kuat ngambeknya!" ledek Arvan yang pada akhirnya mendapatkan hadiah cubitan kecil di perutnya dari sang isteri.
" Aww, sakit sayang!" rengek Arvan seraya mengusap perutnya yang terasa panas.
Arvan pasang wajah cemberut dan pura-pura merajuk dan hal itu membuat Grea semakin gemas dan tidak berhenti tertawa melihat tingkah Arvan yang terlihat konyol menurut Grea.
Melihat Grea tertawa membuat Arvan merasa sangat bahagia. " Terima kasih sayang!" ucap Arvan memberikan kecupan di pipi Grea membuat Grea tersentak dan memukul lengan Arvan.
" Mas ihhh..." rengek Grea manja membuat Arvan tergelak lalu menggeser duduknya dan memakai seatbeltnya kembali.
Arvan menyalakan mesin mobilnya masih sambil tertawa, Grea pun ikut tertawa melihat suaminya yang nampak bahagia saat ini dan melupakan kekesalannya.
__ADS_1
Arvan dan Grea melanjutkan perjalanan menuju apartemen dengan diselingi canda dan tawa didalam mobil sampai tanpa terasa mereka telah sampai di apartemen milik mereka berdua.