
Grea tengah berada di sofa depan meja kerja Arvan, wajahnya ditekuk dan menatap tajam ke arahnya.
Arvan yang diam-diam melirik hanya mengulum senyumnya, merasa lucu dengan tingkah isterinya yang ternyata tengah merajuk.
Karena merasa tidak tahan akhirnya Arvan meletakkan pena yang ada di tangannya lalu menutup semua berkas-berkas yang ada di hadapannya. Arvan beranjak dari duduknya lalu menghampiri Grea yang sudah memalingkan wajahnya saat melihat Arvan beranjak dari kursi kebesarannya.
Arvan duduk di samping Grea lalu menarik lengannya agar menghadap ke arahnya. tangan Arvan lalu mengangkat dagu Grea agar menatap kearahnya.
" Ada apa?kenapa sedari tadi melihatku seperti itu?" tanya Arvan dan Grea menyingkirkan tangan Arvan yang berada di dagunya.
" Tidak ada apa-apa" jawab Grea singkat dan memalingkan wajahnya
" Jangan berpaling seperti sayang!" Arvan kembali meraih dagu Grea dan pandangan mereka bertemu lalu saling mengunci.
Arvan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Grea dan tanpa Grea sadari Arvan sudah memangutnya dengan sangat lembut, Grea yang terbawa oleh hormon kehamilan pun membalasnya hingga akhirnya ketukan suara pintu melepaskan kegiatan keduanya.
tokk... tokk... tokk..
Grea nampak menggigit bibir bawahnya merasa malu dengan apa yang baru saja dilakukannya, dia merutuki kebodohannya yang sudah membalas pangutan Arvan.
Arvan beranjak dari duduknya dan kembali ke kursi kebesarannya setelah melihat Grea sudah merapihkan bajunya barulah Arvan mempersilahkannya masuk.
Ceklekk
" Permisi Presdir, boleh saya masuk?"
" Silahkan" ucap Arvan dengan datar
" Ada apa?" lanjutnya
" Maaf Presdir ini ada berkas yang harus Presdir tanda tangani" ucap seorang wanita dengan suara yang dibuat-buat mencari perhatian sang atasan.
" Apa harus kamu langsung yang datang meminta tanda tangan ku?" tanya Arvan tanpa melirik sedikitpun wanita yang ada di hadapannya saat ini yang menggunakan rok diatas lutut dan kemeja yang dibuka dua kancingnya, suara Arvan begitu dingin dan terdengar seperti orang yang sedang menghakimi membuat wanita yang tidak lain adalah Sisil nampak bergidik ngeri.
Posisi Grea yang memang kini tengah duduk di sofa yang berada di belakang Sisil berdiri membuat Sisil tidak menyadari ada orang lain selain mereka.
Grea hanya memperhatikan interaksi keduanya tanpa berminat untuk mengganggunya.
" Apa seperti itu pakaian kerja mu setiap hari?" tanya Arvan sambil memeriksa berkas yang Sisil berikan
" I.. iya Presdir" jawab Grea dengan terbata-bata
" Sudah berapa lama kamu kerja disini?" tanya Arvan
" Sudah 2 tahun Presdir"
" 2 tahun waktu yang cukup lama" ucap Arvan sambil menganggukkan kepalanya.
" Tapi kenapa sudah bekerja selama itu kamu masih tidak tahu peraturan di perusahaan ini yang melarang karyawatinya berpenampilan seperti kamu saat ini, jika kamu mau berpenampilan seperti ini kamu salah besar yang berpenampilan seperti ini hanyalah orang-orang yang bekerja di club malam" tutur Arvan dengan tegas dan aura dinginnya membuat Sisil nampak sulit menelan salivanya.
__ADS_1
" Ma... maafkan saya Presdir" ucap Sisil dengan tubuh gemetar.
" Keluar kamu dari ruangan ku sekarang dan jika kamu masih ingin bekerja di sini rubah penampilanmu, aku tidak mau mempekerjakan orang-orang yang tidak tahu etika berpakaian." tegas Arvan
" Ba... baik Presdir" Sisil meraih map yang tadi dibawanya dari Arvan dengan wajah menunduk dan langsung keluar dengan beberapa kali menundukkan kepalanya meminta maaf dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Grea beranjak dari duduknya dan menghampiri Arvan dengan wajah yang masih cemberut
" Kenapa, mau meneruskan yang tadi?" tanya Arvan dengan senyum menggoda, Grea tidak menanggapi ucapan Arvan ia malah duduk di kursi yang ada di depan meja Arvan.
" Ada apa?" tanya Arvan
" Aku ingin bekerja kembali" ucap Grea
" Ya sudah jadi sekretaris ku" ucap Arvan tanpa menoleh karena ia sibuk dengan berkas dihadapannya
" Aku gak mau, aku ingin tetap bekerja di bagian yang dulu" mendengar ucapan Grea Arvan langsung meletakkan penanya dan menutup kembali berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
" Kau ini isteriku bagaimana mungkin aku menempatkan kamu di bagian itu apalagi dengan kondisi mu yang sekarang" ucap Arvan terdengar tegas dan tak ingin dibantah
" Kondisi ku?" tanya Grea dengan menaikkan satu alisnya
Arvan beranjak dari duduknya memutar kursi yang di duduki Grea agar menghadap ke arahnya setelah itu dia berjongkok di depannya membuat Grea nampak begitu terkejut dengan apa yang tengah Arvan lakukan.
" Ya kondisimu , mau sampai kapan kamu menutupinya dari ku? apa kamu pikir aku tidak tahu kalau saat ini sedang berkembang Arvandra junior di sini!" ucap Arvan yang seraya mengusap perut Grea dengan sangat lembut lalu mengecupnya sekilas.
Grea diam mematung dengan perlakuan lembut Arvan, seketika Grea merasa menghangat dan begitu nyaman dengan yang Arvan lakukan. Jantung Grea berdegup kencang dia tidak menyangka jika suaminya ternyata sudah tahu kalau ternyata dirinya tengah hamil.
Arvan mengusap lembut perut Grea lalu mengecupnya penuh cinta
" Presdir!" cicit Grea dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Aku suamimu sayang, bukan atasanmu" ucap Arvan seraya berdiri lalu menarik tubuh Grea kedalam pelukannya.
Grea menitikkan airmatanya hormon kehamilannya membuat seorang Greandira mudah sekali menangis.
" Aku mencintaimu Greandira sangat mencintaimu, terima kasih sudah mau mengandung anakku. maaf jika aku pernah menyakitimu dan membuatmu menderita" ucap Arvan yang tanpa sadar sudah menitikkan airmatanya.
Grea melerai pelukan Arvan lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan sang suami yang juga tengah menatapnya lalu sedetik kemudian ia beranjak dari duduknya dan langsung berhambur ke dalam pelukannya.
Arvan yang dipeluk oleh Grea tersenyum tipis, dia merasa senang karena pada akhirnya Grea mau memaafkannya.
" Emmmm..... mau makan apa? apa ada yang ingin anak papa makan, hem?" tanya Arvan sambil mengusap perut Grea saat mereka sudah pindah duduk di sofa sambil memeluk satu sama lain.
Grea menggelengkan kepalanya masih merasa nyaman berada di dalam dekapan sang suami.
" Mas!"
" Hem!" sahut Arvan sambil menghirup aroma sampo pada rambut Grea
__ADS_1
" Apa boleh aku keluar sebentar?" tanya Grea pelan dan Arvan langsung mengurai pelukannya.
" Keluar? kemana?" tanya Arvan
" Aku mau ke tempatnya mbak Susi, boleh ya?" Grea memasang wajah puppy eyes membuat Arvan merasa sulit untuk menolaknya
" Untuk apa kesana?" tanya Arvan mengusap pipi Grea yang sedikit berisi
" Mau ketemu aja, sekalian bilang kalau aku mau bekerja lagi di sini!" sahut Grea
" Bekerja?"
" Iya, aku boleh kan bekerja di sini lagi?"
" Boleh, tapi hanya boleh sebagai sekretaris aku aja" jawab Arvan tegas
" Kenapa seperti itu, apa aku gak boleh bekerja bersama Mbak Susi lagi?" tanya Grea
" Tidak!"
Grea memasang wajah cemberut merasa kesal dengan suaminya. Arvan yang tahu isterinya tengah merajuk langsung menarik Grea kembali ke dalam pelukannya
" Aku tidak ingin kamu bekerja dibagian itu karena kerjaan itu cukup beresiko dengan keadaan kamu yang tengah hamil saat ini sayang" ucap Arvan dengan suara selembut mungkin
"Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan juga kandungan kamu sayang, jika kamu merasa bosan di rumah kamu bisa bekerja sebagai sekretaris pribadi aku dengan begitu aku bisa bekerja sambil menjaga kamu" lanjut Arvan.
" Iya... iya aku mau, dengan begitu aku juga bisa mengawasi suamiku dari para penggoda seperti tadi" ucap Grea menimpali
" Apa kamu cemburu?"
" Cemburu dengan wanita model seperti itu?" Grea tertawa meremehkan
" Seksi?" Arvan menaik turunkan alisnya
" Seksi, seperti itu kamu bilang seksi? owh jadi sedari tadi kamu segitu detailnya memperhatikan tubuh wanita kegatelan itu, iya?" Grea langsung melepaskan pelukannya dan beranjak dari duduknya.
Arvan menahan tawanya melihat isterinya yang sudah terpancing olehnya.
" Ha...ha..." akhirnya Arvan pun tak bisa lagi menahan tawanya melihat isterinya yang memasak wajah cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
" Katanya gak cemburu tapi marah-marah" goda Arvan
" Siapa yang marah-marah, kamu aja yang ke ge'er an." Grea tidak terima dibilang cemburu.
" Iya-iya tidak cemburu" Arvan memilih mengalah dari pada isterinya kembali merajuk.
" Wanita seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikan dan keseksian isteri ku ini" Arvan mengecup kening Grea dengan lembut.
" Sudah jangan marah lagi, aku masih banyak pekerjaan sebaiknya kamu bantu aku bagaimana?" pinta Arvan dan Grea pun mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.
__ADS_1
Arvan dan Grea kini duduk bersama, Grea membantu memeriksa kembali dokumen-dokumen yang sudah Arvan tanda tangani.