
Keesokan harinya di rumah Caca, semua orang tengah sibuk mendekor dan menghias rumah tersebut dengan nuansa putih bercampur dengan warna ungu yang merupakan warna kesukaan Caca.
Caca hanya bisa berdiam diri di dalam kamarnya memikirkan nasibnya setelah menikah nanti apakah akan bahagia atau justru sebaliknya.
Air mata Caca meluncur begitu saja saat memorinya teringat kembali dengan permintaan Jimmy yang beberapa kali melamarnya.
" Kenapa rasanya sesak banget ya?" gumam Caca seraya sesenggukan
" Kenapa gue merasa menyesal karena tidak langsung menerima lamaran bang Jim dan sok sok an jual mahal dan akhirnya gue malah harus menikah dengan laki-laki yang justru enggak sama sekali gue kenal"
"Gue butuh pendapat Grea" Caca beranjak dari tempat tidur lalu mengambil ponselnya di atas nakas
Beberapa kali Caca menghubungi nomor ponsel Grea tapi tidak juga ada jawaban bahkan tidak aktif.
" Ya tuhan aku harus bagaimana?" Caca pasrah dan menghapus air matanya dengan kasar
" Mungkin ini takdir ku yang sudah menolak bang Jimmy"
Sementara di luar kamar semua orang sibuk mondar-mandir untuk persiapan acara pernikahan Caca besok.
Bu Salma dibantu sanak saudara dan juga para tetangga sibuk di dapur. ada yang membuat kue, ada yang menyiangi sayuran dan ada juga yang sibuk membuat bumbu, mereka bergotong royong untuk persiapan acara pernikahan Caca yang akan diselenggarakan besok.
" Mbak Caca kok terlihat sedih gitu?" tanya Mimi salah satu kerabat dekat Caca
Caca tidak menjawab hanya tersenyum yang sedikit dipaksakan.
" Mba Caca sudah bertemu dengan calon suami mba?" tanya Mimi yang setahunya Caca menikah karena perjodohan
Caca menggeleng lalu tersenyum hambar
" Ya ampun mbak pantas saja mbak Caca terlihat sedih"
" Tapi semoga pernikahan mbak Caca berjalan lancar dan calon suami mbak adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab" ucap Mimi mendoakan yang diaminkan oleh Caca
" Amin, terima kasih Mi doanya!"
"Sama-sama kak!" Mimi tersenyum walaupun dalam hati ia juga merasa kasihan dengan Caca
Mimi keluar dari kamar Caca dan bergabung kembali dengan sanak saudaranya yang lain.
__ADS_1
Menikah untuk sekali seumur hidup itulah yang diharapkan semua orang yang ingin menikah begitu pun juga dengan Caca. menikah untuk sekali seumur hidup tentunya dengan orang yang dicintai, namun apalah daya takdir tidak seindah realita berharap menikah dengan pria yang dicintai namun berujung menikah dengan pria yang dikenalnya pun tidak.
Caca tersenyum getir mentertawai nasib cintanya sendiri.
" Grea loe kemana sih kok sulit banget gue hubungi. gue butuh loe Grea!" gumam Caca seraya berdiri di depan jendela kamarnya menatap ke arah luar dimana orang-orang tengah sibuk berlaku lalang.
🖤
Pagi ini Caca tengah di rias oleh penata rias yang cukup terkenal di kota tersebut, Caca tidak bisa menahan kesedihannya walaupun sudah dengan susah payah menahannya tetap saja air matanya meluncur begitu saja tanpa permisi
" Mbak Caca udah dong jangan nangis lagi, saya susah nih ngeriasnya. masa mau menikah malah nangis sih mbak!" oceh si penata rias tersebut.
" Maaf mba Wulan saya udah berusaha untuk tidak menangis tapi air mata ini ngalir gitu aja mbak" aku Caca yang sudah tidak kuasa menahan kesedihannya
" Yaudah, mbak Caca nya tenangin diri aja dulu nanti kita lanjutin lagi" ucap mbak Wulan yang langsung mengajak tim-nya juga keluar meninggalkan Caca sendirian.
Ceklekk pintu kamar dibuka dari luar menyembul bu Salma dan masuk kedalam kamar tersebut
Bu Salma menghampiri Caca yang tengah duduk di depan cermin.
" Sayang!" panggil bu Salma yang tidak disadari kedatangannya oleh Caca
" Bu!" Caca menoleh dan Bu Salma duduk di samping putrinya
Caca tidak bisa berkata apa-apa hanya tertunduk diam dan kembali menitikkan air matanya.
" Ini adalah hari bahagia sayang kenapa kamu menangis?" Bu Salma menghapus air mata di pipi Caca dengan lembut dan penuh kasih sayang
" Ibu tahu di dalam sini!" Bu Salma menunjuk dada Caca " masih belum bisa menerima pernikahan ini tapi satu hal yang kamu harus tau nak ibu melakukan semua ini demi kebahagiaan mu sendiri nantinya. ibu tidak mau kamu salah memilih pasangan hidup. ibu mau kamu hidup bahagia dengan orang yang begitu mencintai kamu ya walaupun ibu tahu kamu mungkin belum mencintainya"
Bu Salma meraih tangan Caca dan mengusap punggung tangannya seakan memberi kekuatan dan semangat untuk menghadapi hari pernikahannya.
" Ibu yakin kamu akan hidup bahagia bersamanya nak, meskipun kamu belum ada cinta tapi belajarlah untuk menerimanya dan mencintainya" pesan bu Salma
" Tapi bu bagaimana bisa Caca hidup bersama orang yang tidak Caca kenal Bu!"
"Kamu pasti akan mengenalnya" jawab Bu Salma
" Maksud ibu?" tanya Caca bingung
__ADS_1
" Calon suami kamu sudah hampir sampai masa kamunya masih belum rapih sih. ibu panggil mbak Wulan dulu ya biar dia dandanin kamu lebih cantik lagi supaya calon suami kamu semakin cinta sama kamu" ucap Bu Salma seraya beranjak dari duduknya dan meninggalkan Caca dengan segala kegundahan hatinya.
Caca sudah kembali dirias, sungguh cantik nan ayu Caca dengan baju kebaya berwarna hijau mint senada dengan baju yang digunakan mempelai pria.
Caca ditemani Mimi dan tante Resti ibu dari Mimi menunggu ijab qobul diselenggarakan di luar dengan pak Iwan sendiri yang akan menikahkan putrinya sendiri.
Dengan perasaan gugup dan bulir keringat yang menetes di keningnya mempelai pria menjabat tangan calon mertuanya itu.
Ikrar ijab qobul pun telah terucap dengan sekali tarikan nafas. kata Sah dari para saksi menggema di seluruh ruangan yang memang tidak terlalu besar.
Ada rasa kelegaan tersendiri di hati mempelai pria karena sudah mempersunting wanita yang sangat ia cintai.
Caca menitikkan airmatanya saat Bu Salma datang menghampirinya dan meminta Caca untuk keluar karena kini ia sudah sah menjadi seorang isteri.
" Bu!" Caca kembali terisak
" Jangan menangis lagi putri ibu, sekarang kamu sudah berstatus seorang isteri. jadilah isteri yang berbakti kepada suami jangan membantah apalagi berkata kasar. jaga kehormatan keluarga dan juga kehormatan suamimu" wejangan dari seorang ibu ketika melepaskan putrinya yang sudah dipersunting.
" Bu apa Caca bisa melewati ini semua bu?" Caca masih ragu dengan kebahagiaan yang sudah menunggunya di depan mata
" Percayalah nak kamu pasti akan menemukan kebahagiaan mu!" bu Salma memeluk putrinya penuh kasih sayang
"Iya bu semoga Caca bisa"
" Yaudah ayok kita keluar, suami kamu pasti sudah tidak sabar menunggu" Bu Salma menggandeng tangan putrinya sebelah kiri dan tante Resti sebelah kanan.
Caca berjalan dengan wajah yang tertunduk, ia masih belum berani menatap wajah laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Beberapa pasang mata sedari tadi menatap penuh haru kepada sepasang pengantin baru yang kini tengah duduk berdampingan namun wajah mempelai wanitanya masih setia menundukkan pandangannya.
Grea dan Arvan mengulum senyum melihat Caca yang masih belum menyadari sosok pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.
" Silahkan pasangkan cincinnya!" kata pak penghulu
Jimmy memasangkan cincin di jari manis sang isteri begitu pun sebaliknya.
"Apa wajahmu akan terus menunduk seperti itu tidak ingin melihat wajah suamimu?" tanya Jimmy membuat Caca seketika membeku saat Indra pendengarannya menangkap suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya, suara yang beberapa hari sangat ia rindukan.
Caca mendongakkan pandangannya dan betapa terkejutnya Caca saat mengetahui laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu adalah laki-laki yang sangat ia rindukan yang sangat ia cintai.
__ADS_1
" Bang Jimmy!" cicitnya dan seketika pandangan matanya pun gelap
" Caca!" Seru semua orang terkejut saat melihat Caca tidak sadarkan diri.