
Grea duduk termenung menatap lekat ke arah seorang pria yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur dengan berbagai macam alat medis di tubuhnya.
Air mata Grea lagi dan lagi meluncur begitu saja tanpa permisi, sakit itulah yang saat ini Grea rasakan kakaknya berbaring lemah masih dalam keadaan koma sementara orang yang seharusnya menjadi sandaran disetiap keluh kesahnya tanpa hati nurani begitu tega menyakitinya dengan menuduhnya berselingkuh tanpa bukti yang jelas.
Alex menatap sendu ke arah putrinya yang begitu terlihat rapuh. Alex memang tidak mengetahui perihal permasalahan yang telah terjadi antara putri dan menantunya. Alex hanya mengira Arvan tengah sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak bisa meluangkan waktu untuk menemui putrinya.
" Gre sebaiknya kamu makan dulu, daddy tahu dari kemarin kamu itu belum makan!" ucap Alex seraya mengelus pucuk kepala putri kesayangannya itu.
Grea mendongak lalu tersenyum dan melingkarkan tangannya ke pinggang sang daddy.
" Gre belum lapar dad, masih kenyang" jawab Grea
" Kenyang dari mananya, kamu itu belum makan apa-apa loh sayang!" Marla menghampiri Grea membawakan makanan kesukaan Grea yang sempat ia masak saat pulang tadi. Marla tahu kondisi psikis Grea sedang tidak baik-baik saja apalagi dengan keadaan Jimmy sang kakak yang masih dalam keadaan koma. Marla sangat mengenal putrinya walaupun Grea tidak mengatakan apa-apa tapi dari Sikap Grea beberapa hari yang lalu Marla bisa menebak jika hubungan Grea dengan Arvan pasti sedang berada dalam masalah.
" Gre ikut mommy ya sebentar, ini mommy sudah memasak makanan kesukaan kamu loh makan dulu ya sayang!" bujuk Marla
" Mom, Gre enggak lapar nanti saja ya mom makannya!" rengek Grea
" Sayang, kasihan loh mommy kamu sudah capek-capek masakin buat kamu tapi kamunya gak mau makan" ujar Alex.
" Makan ya sayang, sedikit juga gak apa-apa" bujuk Marla mengelus lembut rambut Grea
Grea diam sejenak lalu menoleh kearah Jimmy yang masih betah menutup kedua matanya.
" Iya mom" Grea pun beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah mommy-nya menuju sofa yang berada di ruangan tersebut.
" Ayok duduk, makanlah dulu walaupun sedikit gak apa-apa yang penting perut kamu terisi sayang" ucap Marla menyodorkan makanannya ke hadapan Grea.
Grea mengambil satu sendok suapan mengarah ke mulutnya, baru membuka mulut terdengar suara ketukan pintu membuat Grea menoleh dan sedetik kemudian Grea meletakkan kembali sendok yang ada ditangannya ke atas piring nasinya dengan mata yang menatap tajam ke arah seseorang yang melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ceklekk
Pintu terbuka membuat Grea dan Marla menoleh ke arah pintu yang terbuka dari luar.
" Assalamu'alaikum!" ucap seseorang yang tidak lain adalah Arvan
" Wa'alaikum salam!" sahut Marla dan Grea hanya menjawabnya didalam hati lalu memalingkan wajahnya kembali.
" Daddy!" sapa Arvan yang menyalami punggung tangan Alex setelah itu kepada Marla
" Gre!" panggil Alex kepada putrinya yang hanya diam saja saat suaminya datang dan sudah mengulurkan tangannya kepada Grea.
__ADS_1
" Iya dad maaf!" ucap Grea lalu menyalami tangan suaminya dan pura-pura tersenyum.
Marla menangkap kejanggalan dengan sikap sepasang suami istri yang ada dihadapannya
saat ini.
" Mommy tinggal dulu ya, ingat dimakan makanannya jangan sampai gak dimakan!" pamit Marla yang beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Alex.
" Iya mom!" Jawab Grea dengan malas dan Arvan hanya senyum sekilas.
Arvan duduk di sofa yang berada di samping Grea. matanya terus menatap ke arah Grea yang sedang mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat memakannya. Awalnya Grea hanya kurang ***** makan dan sekarang ***** makannya malah benar-benar hilang setelah kedatangan Arvan yang dengan santainya duduk di sampingnya.
" Grea, nak Arvan daddy sama mommy pergi keluar dulu ya sebentar, titip kakakmu ya Gre!" ucap Alex.
" Iya dad!" jawab Arvan
" Tenang saja dad, Grea gak akan kemana-mana kok, Grea akan selalu menjaga dan menemani bang Jimmy disini" sahut Grea melirik sekilas ke Arvan.
Alex dan Marla sudah keluar dari ruang perawatan Jimmy dan saat ini hanya tinggal mereka berdua yang hanya saling diam.
Grea beranjak dari duduknya dan meninggalkan makanannya yang berada di atas meja tidak jadi memakannya.
" Dira!" tangan Arvan menarik pergelangan tangan Grea seketika membuat langkah Grea terhenti.
" Pergilah tuan Arvandra Pratama yang terhormat, untuk apa lagi anda datang kesini, apa kurang puas anda menghina saya?" ucap Grea tanpa menoleh ke arah Arvan yang langsung terbungkam oleh ucapan Grea yang terdengar datar namun sangat menusuk .
" Dira kita perlu bicara!" ucap Arvan
" Maaf tuan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" sahut Grea sinis
" Dira, walau bagaimanapun aku ini suami kamu, hargai aku sebagai suami kamu" ucap Arvan yang jadi terbawa emosi awalnya ingin datang meminta maaf tapi malah jadi kembali meninggikan egonya.
" Suami? siapa yang anda maksud suami tuan?" tanya Grea dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.
" Dira, apa maksud dari pertanyaan kamu itu, ya jelaslah aku suami kamu atau jangan-jangan kamu_?" ucap Arvan terjeda
" Cihh, jadi anda yang datang dan mengaku-ngaku sebagai suami, datang kesini hanya untuk menghina kembali harga diriku tuan Arvandra Pratama Zaindra begitukah?" tanya Grea dengan api amarah yang sudah meledak.
" Bukan begitu maksud ku, aku_"
" Aku apa? cukup tuan tidak menganggap aku sebagai isteri dan bahkan mengusir ku begitu saja dari ruangan anda pak presdir, dan cukup tuan menghina ku dengan menuduhku berselingkuh dengan sahabat baikku sendiri. sudah cukup tuan penghinaan itu anda berikan dan tentunya akan selamanya aku ingat dan menjadi benteng agar orang sehina aku lebih tahu diri lagi dan tidak dekat-dekat dengan orang seperti anda tuan Arvandra Pratama Zaindra yang terhormat" ucap Grea penuh dengan penekanan dengan setiap kata-katanya.
__ADS_1
Jlepp
Arvan terasa sulit menelan salivanya saat mendengar ucapan Grea yang terdengar begitu sangat tajam dan menusuk.
" Dira!" ucap Arvan lirih.
" Sebaiknya anda cepat pergi dari sini!" pinta Grea dengan menunjuk ke arah pintu.
" Dira aku_" ucap Arvan tercekat
" Sudahlah, pergilah sekarang sebelum mommy dan daddy kembali kesini. aku tidak mau daddy sampai tahu hal ini karena jika sampai daddy tahu tamatlah keluarga Zaindra dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi" ucap Grea membuat Arvan mengembangkan senyumnya.
Grea yang melihat Arvan tersenyum menatap tajam ke arah Arvan. " Jangan ge'er dulu, aku melakukan hal ini karena aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kondisi kesehatan mama Risma" ucap Grea membuat senyum Arvan memudar seketika.
" Baiklah jika itu yang kamu mau aku akan pergi sekarang tapi besok aku akan datang lagi ke sini" ucap Arvan.
" Tidak perlu!" sungut Grea
" Aku akan tetap datang meskipun kau mengusirku!" ucap Arvan
" Terserah!" Grea langsung berjalan ke arah Jimmy
Arvan baru mau membuka pintu namun ia berpapasan dengan kedua orang tua Grea.
" Loh kamu mau kemana Van?" tanya Alex
" Mau pulang dad" jawab Arvan
Grea yang mendengar suara daddy-nya langsung menoleh ke arah pintu.
Deg
Jantung Grea tiba-tiba berdegup sangat kencang dan peluh di dahinya pun bercucuran bahkan tangannya sudah keringat dingin.
" Pulang? apa Grea masih belum mau diajak pulang?" tanya Marla
" Sepertinya begitu mom, Grea pasti masih ingin menemani kakaknya" ucap Arvan.
" Kamu yang sabar ya Van!" ucap Alex menepuk bahu Arvan.
" Iya dad" jawab Arvan baru saja Arvan hendak menyalami tangan mertuanya tiba-tiba di kejutkan dengan suara benda jatuh.
__ADS_1
Brukk