Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Mau berkunjung


__ADS_3

"Net, antar Gue ya nanti siang!"


"Ogah! gue banyak agenda kalau hari ini," jawab Netty sekenanya saat Nael ajak Adiknya berniat mengunjungi Andari karena baru sempatnya hari ini. Itu juga memaksakan diri karena kerja dengan tanggung jawab melayani orang begitu padat jadwalnya.


Rasa hati Nael inginnya dari kemarin-kemarin tapi apa daya semua serba sempit waktunya.


Bertemu klien dan survey ke lapangan itu bagian dari banyaknya agenda yang mesti tiap harinya tak bisa ditinggalkan walau sebenarnya bisa di wakilkan misal sama Sabrina asistennya, tapi keputusan tetap mengharuskan dirinya yang mengambil dari giap job yang masuk ke perusahaannya.


"Yang bener saja Lo nolak Gue?"


"Ih, Kakak bukan nolak tapi Aku banyak kegiatan. Mestinya janjian dari kemarin-kemarin jangan mendadak begini!" kilah Netty setidaknya menolak tapi lembut dengan alasan.


"Busyet kayak pejabat saja mesti janjian jauh hari? yang bener aja Lo?"


"Janjian dengan calon istri pejabat juga sepertinya begitu aturannya Kak!"


"Huh! mana calon pejabatnya Gue briefing dulu biar merubah aturan ortodoks nya," sahut Nael dengan nada sedikit kesal.


"Hahaha...marah ceritanya? makanya cari cewek pacari biar nggak banyak ganggu waktu Aku!"


"Lo serius nggak bisa Net?"


"Kakak sekarang Aku masih di kampus, pulangnya sudah janjian sama doi yang ulang tahun hari ini mau makan bareng terus jalan. Ya jelas nggak bisa dong tiba-tiba Aku batalin janji, ulangtahun kan ada harinya apa ada orang yang lahir dua hari apa tiga hari gitu?"


"Alasan saja Lo! ya sudah kalau nggak bisa. Awas kalau Lo minta bantuan Gue suatu saat nanti."


"Yee... ngancam! yang banyak minta bantuan tuh Kakak bukan Aku, Kakak mau ke mana sih?"

__ADS_1


"Gue mau kasih buku yang dulu kita beli."


"Tinggal kasih pulang lagi apa susahnya? kalau nggak Aku kenalkan Jasmin temanku mau nggak siapa tahu Kakak jadi naksir biar nggak jomblo terus!"


"Nggak! Gue nggak butuh rekomendasi emang Gue cowok apaan?"


"Hahaha... di kenalkan nggak mau, cari sendiri nggak bisa, tapi butuh teman gimana sih? makan tuh jomblo!"


Klik! sambungan telephon di putus Netty sambil diakhiri dengan tertawa cekikikan membuat hati Nael gemes pengen jitak.


Adiknya bilang sudah punya pacar walau masih kuliah, tapi dirinya seakan jalan di tempat usianya semakin merambat naik dan kini malah sibuk dengan kerja yang padat juga tanggungjawab yang penuh. Otomatis waktu buat mencari seseorang yang cocok, pendekatan dan pacaran hampir tidak ada.


Nael seorang eksekutif muda idaman semua cewek, tampan mapan berpendidikan punya karir yang tak diragukan lagi, penerus dan pewaris usaha keluarganya yang kini sedang menjulang.


Selintas terlihat begitu sempurna, orangtuanya begitu mengharapkan kalau Nael segera membawa pulang dan memperkenalkan seorang cewek idamannya yang akan menjadi anggota baru dalam keluarganya.


Nael merasa kalau tekanan orangtuanya masih begitu halus dirinya rasakan, tapi sentilan dan pesan yang selalu di selipkan dari tiap pembicaraan mereka selalu menyisipkan pesan yang mengarah kepada Nael untuk segera mencari pendamping dalam hidupnya.


Beban tidak beban bagi Nael bebannya Dirinya belum bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk segera berumah tangga dan tidak bebannya Nael berpikir masalah jodoh harus sesuai dengan hati nuraninya tidak bisa suka langsung sekonyong-konyong berkenalan dan menikah tetapi Nael menginginkan suatu perkenalan penjajakan jalinan kecocokan satu hati satu tujuan punya niat baik dalam tidak memandang ada apa dirinya tapi Nael ingin cewek yang mengerti dan memandang apa adanya pada Dirinya.


Sampai saat ini Nael belum menemukan satu sosok yang begitu cocok dan pas di hatinya.


Malah akhir-akhir ini pikirannya malah terganggu sama bayangan Andari, bahkan Nael juga tak mengerti kenapa Dirinya begitu memikirkan dan pikirannya selalu berpusat kepada Andari.


Entah perasaan bersalah pada Andari karena orang tuanya seperti melupakan jasa seorang Andari yang sejak mula perusahaannya berdiri Andari telah menjadi bagian terpenting dan ujung tombak juga dengan kepintarannya telah merintisnya ikut berperan penting dalam memajukan dan menjulangkan perusahaan ini.


Tapi saat Nael mendengar kisah Andari terkena musibah kejadian yang tidak diharapkan sehingga membuat Andari harus mendekam dalam sel penjara menjadi warga binaan dirinya merasa kedua orang tuanya tidak memberikan keadilan minimal memberikan perhatian atau santunan kepada putrinya walaupun kata Ibunya sudah memberikan sebagian uang saat Andari sejak di nyatakan jadi tersangka dan bersalah terbukti telah khilaf dan kalap mau tidak mau otomatis terputusnya hubungan kerja antara Andari dan perusahaannya.

__ADS_1


Nael membuka lemari dan mengambil buku yang masih saja utuh dalam bungkusan sejak Nael dan Netty pulang membelinya di salah satu Mall terkenal di kotanya.


Naek mengambil dan mendekapnya itu bagi dirinya tak berharga apapun tapi mungkin bagi Andari ini yang di dibutuhkannya.


Nael berpikir seperti apa kini Andari, adakah saudaranya yang membesuknya rutin memberinya sedikit bekal dan semangat untuk tetap kuat menyelesaikan masa-masa tersulit nya.


Sabrina mengetuk pintu Nael menyembunyikan bungkusan buku itu di bawah meja kerjanya, haruskah dirinya memberitahukan kalau saat ini mau keluar dan berencana menengok Andari di LP?


Nel merasa belum siap dengan alasan dan jawaban walaupun semua masuk akal kalau dirinya menengok seseorang yang telah berjasa pada perusahaannya dan ingin sedikit memberikan rasa simpati setidaknya nail ingin memberikan semangat hidup untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang kepada seseorang yang dulu sangat dikaguminya.


"Pak Nael, semua selesai untuk awal minggu ini agendanya karena belum ada lagi klien yang datang baru telpon saja dan itu belum dianggap serius kecuali yang sudah berlangganan," ucap Sabrina sambil menyimpan map di meja Nael.


Biasanya walau agenda tiap harinya sudah Sabrina berikan tetapi Nael lebih suka membicarakan langsung dengan Sabrina, mendiskusikan dan bertanya banyak hal seputar pekerjaan dan order yang masuk sehingga ada komunikasi yang terjalin walaupun hanya sekedar basa-basi untuk menciptakan keakraban diantara dirinya bersama pekerja lainnya.


"Biasanya hari senin agak longgar, sepertinya Aku juga mau keluar dulu teleponku tetap mantau dan standby ya!" ucap Nael pada Sabrina.


"Baik Pak,"


Sabrina tersenyum lalu membungkuk dan pamitan keluar. Rasa hatinya ingin menggoda mungkin Pak Nael janjian dengan seorang gadis yang pasti cantik tapi Sabrina belum seakrab itu sama pimpinannya ini.


Tetapi jauh dalam hatinya Sabrina berharap Pak Nael segera punya pendamping agar Bapak sama Ibunya yang setiap datang ke kantornya selalu berbisik apa Anaknya suka keluar atau membawa seseorang ke kantornya? atau menelepon seperti layaknya orang sedang punya kekasih?


Sayang semua pertanyaan itu masih di jawab Sabrina dengan gelengan kepala dan memang begitulah kenyataannya.


*******


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2