
Andari tersenyum walau garis getir terlihat di wajahnya, genggaman tangan Nael mau tidak mau menggetarkan hatinya juga setelah sekian lama tak tersentuh siapapun.
Hatinya yang beku sedikit demi sedikit mulai lunak, dan rasa trauma yang bercokol di dalam hati dan perasaannya mulai terkikis oleh bentuk perhatian yang di perlihatkan Nael. Kelembutan Nael dalam mendekati Andari sanggup membuat Andari merubah prinsip hidupnya yang dari kemarin kemarin kukuh menutup hati untuk hadirnya seorang laki-laki di dalam hidupnya.
Perasaan cinta dan perhatian Nael bisa meruntuhkan semua rapuhnya hati Andari yang memang butuh sandaran buat sekedar menambatkan masa depan yang masih buram di hadapannya.
Terakhir bersentuhan secara pribadi dengan Mas Wilman sebelum Mas Wilman pergi ke luar kota, bersentuhan dan berhubungan sebagai suami istri dan pulangnya Mas Wilman saat kepergok lagi berduaan dalam keadaan mesum di dalam kamar dengan Erina dan kejadian itu menjadi momok dan mimpi buruk yang tak lepas dari otak juga ingatan Andari. Karena sebelumnya Mas Wilman mengabarkan akan pulang sorenya semua sudah di rencanakan di balik kepolosan Andari.
Mungkin mereka sudah sepakat melepas rindu terlarang setelah berpisah selama seminggu saat Andari sibuk di kantor, tapi lupa laptop mengharuskan pulang lagi dan semua tabir itu terungkap juga tragedi menyakitkan itu nyata di depan matanya mengantarkan Andari kini berada di balik sel.
Mengingat semua itu dada Andari terasa sesak oleh satu kata penghianatan orang-orang yang cintainya.Tapi balasan mereka begitu menghujam ke dasar jantung hati terdalamnya.
Mengingat Erina adalah semangat yang tak pernah pudar oleh dendam yang tak ada surutnya walau setiap berjumpa Kakaknya Laksmi juga Adri Adiknya selalu mengingatkan kalau mengikuti nafsu dendam tidak akan habisnya ikhlaskan hatimu jalani masa depanmu sendiri dengan baik ingat Anakmu masih membutuhkan Kamu dan masa depanmu masih panjang.
Andari menjadi cair hatinya tapi hanya saat itu saja setelah sendiri lagi dan dalam lamunannya rasa itu terkadang hadir menjadi nafsu juga emosi yang menyala-nyala.
Andari sering mengusap mukanya dan beristighfar saat lamunannya jauh tak berbatas ke masa manis dan berakhir pahit rumahtangganya yang hancur luluh lantak tak bersisa hanya tinggal luka begitu menyesakkan dan menyisakan satu kata berakhir karena penghianatan dan ketidaksetiaan.
"Andari bolehkah Aku meminta sesuatu padamu sebagai tanda berakhirnya persahabatan Kita dan kini berganti dengan tali rasa kita!"
Andari kaget saat menyadari dirinya lagi melanglang pengalaman pahitnya. Di hadapannya Nael tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.
"Apa itu Mas?"
__ADS_1
"Andari, boleh Aku memelukmu? itu kalau boleh. Aku tidak memaksamu dan juga Kamu jangan marah."
Nael pindah duduk nya ke samping Andari dan menggenggam jemarinya melihat Andari diam akhirnya Nael yang duluan membuka tangan dan merentangkannya dan Andari menyerahkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Nael dalam diam.
Berjuta rasa bahagia di hati Nael akhirnya Andari jadi kekasihnya kini, semua beban di hatinya terasa longgar. Berjuta harapan kini bersemi ter-semai di hati semangatnya terbangkitkan dan Nael siap dengan penantian panjangnya.
"Aku akan sabar menunggumu Ndari," bisik Nael sambil mengusap kepala Andari. Andari mengangguk karena tak punya kata-kata lagi buat di ucapkan.
Sesaat mereka merasakan getar hati mereka yang tak bisa di gambarkan, Andari sulit mempercayai Dirinya sendiri kalau sudah keluar kata ikrar komitmen pada Nael.
Hanya wangi parfum yang Andari rasakan nyaman dan menentramkan dari tubuh Nael yang memeluknya.
Rasa cinta yang tak Andari perlihatkan sebelumnya tentu hanya mampu dirasakan kini dan di perlihatkan pada Nael. Rasa ragu pada waktu yang bergulir pasti akan terasa lambat masih saja menjadi pembuktian yang Andari tunggu se-spesial apa perasaan seorang Nael Kesuma Darmawan sanggup menanti dirinya menghirup bebas menyambut kehidupan barunya nanti.
Nael dengan sepenuh perasaannya mengusap dan mencium kepala Andari hatinya begitu ingin melindungi, menghapuskan kenangan buruk dalam hidupnya, membawanya pada kebahagiaan, membuat Andari selalu bahagia dan mengukir senyum indah di wajah Andari dan menjauhkan airmata, menyongsong masa depan yang cerah bersamanya.
Alhamdulillah dalam hati Andari bersyukur datang Sipir Hilda mengingatkan karena mungkin jam kunjungan sudah habis karena dirinya merasa tak nyaman juga berpelukan di tempat umum begini. Sebenarnya itu pemandangan biasa saja terhalangnya ruang dan waktu dengan orang yang di cintai membuat mereka melepas rindu saat bertemu terkadang yang menjenguk adalah orang tua saudara bahkan suami. Andari merasa Nael meminta sesuatu yang wajar makanya di luluskan.
"Oh, baik Bu Hilda. Makasih ya sebentar lagi nanti Aku ke ruangannya." Andari merasa malu walau sikap Sipir Hilda biasa saja.
Nael tersenyum saat andari melepas pelukannya dan mendorong dada Nael biar sedikit menjauh, senang rasanya melihat wajah Andari saat malu terlihat rona merah di wajahnya dan Nael juga harus menghargai apalagi Andari kini berhijab rasanya tak pantas berpelukan walau kini dirinya adalah sepasang kekasih.
"Makasih Andari, Kamu telah meyakinkanku dan memberi jawaban dari semua yang aku harapkan." Nael tetap memegang tangan Andari serasa berat utuk melepaskan dan berpisah.
__ADS_1
"Kok malah Mas yang kini banyak bilang terima kasih? Aku ngasih apa pada Mas Nael?"
"Ya ampun, iya juga hahaha...."
"Kapan mau mengunjungi Amanda?" Andari mengalihkan pembicaraan laki-laki tampan di hadapannya kini adalah kekasihnya.
"Secepatnya, karena kini permintaanmu adalah kewajibanku." Nael tertawa merasa tak percaya kalau dirinya baru saja jadian sama Andari yang selama ini adalah hal yang mustahil.
"Amanda adalah sudah satu paket hidupku Mas, apapun Aku akan berusaha memberikan yang terbaik terutama dalam hal pendidikannya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin walau semua yang Aku punya harus di peruntukkan dan di alokasikan untuk biaya pendidikannya."
"Amanda masih kecil Ndari, Tapi Aku akan berusaha memenuhi harapannya seorang Anak untuk memiliki figur seorang Ayah yang baik bagi Amanda,"
"Makasih Mas." Nael mengangguk walau diantara mereka jangan selalu mengucapkan terimakasih agar menciptakan rasa saling membutuhkan tapi pada kenyataannya tetap saja ucapan itu ada terus.
"Aku sangat bahagia kini Andari, merasa punya satu pegangan yang akan Aku jaga. Sehat-sehat di sini Aku juga akan merasa tenang di luar sana, walau pekerjaan begitu padat dua Minggu lagi Aku datang apa yang Kamu pesan nanti?"
"Kabar baik Amanda saja, kenapa Mas janji begitu cepat datang ke sini lagi?"
"Kenapa memang nggak mau bertemu Aku?" Nael mengerutkan keningnya.
"Nggak, apa dua minggu waktu yang lama bagi Mas? Aku takut mengganggu aktifitas Mas sendiri waktunya habis hanya buat menengok Aku di sini."
"Kalau bisa Aku ingin membawamu keluar secepatnya dari sini dan kita Kita tidak berpisah lagi!"
__ADS_1
******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat