Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Pengakuan perasaan


__ADS_3

Nael masuk kamarnya membuka semua pakaiannya dan melempar tubuh kekarnya ke tempat tidur yang super empuk.


Angannya melayang pada satu sosok cantik berhijab yang sudah lebih dua Minggu ke belakang bertemu dan meninggalkan senyum yang cukup dalam terbawa di hatinya sampai saat ini.


Sosok Andari yang kini terus menggoda hati dan perasaannya, menumbuhkan rasa ingin bertemu setiap waktu. Wajah Andari terasa ada di depan matanya apalagi Nael bekerja di kantor yang kini ruangannya di design seperti saat Andari dulu memimpin. Jelas semua semakin mengingatkan akan satu sosok yang kini berada jauh di LP sebagai warga binaan.


Nael mengakui hatinya terpaut pada Andari satu sosok mandiri cantik nan pintar juga dewasa, yang telah membawa perusahaannya pada puncak sekarang ini, Dirinya tidak terlalu sulit mengikuti jejak langkah dan meneruskan setiap proyek program yang dicanangkan Andari dulu. Nael pernah bekerja bareng dan menjalin hubungan kerja sama Andari semau berjalan harmonis dan nyaman.


Semua yang ada di diri Andari terasa sempurna di mata Nael, dari fisik nyatanya kecantikan paripurna yang di rasa Nael lain dari yang lain walau Nael melihat terakhir Andari di LP sedang menjalani masa pemasyarakatan. Dari pembawaan Andari nyaris tak ada cela nya, pintar, sopan, murah senyum, baik dan bijaksana itu yang di rasa Nael selama bergaul bekerja dulu.


Tapi kini sosok itu tak ada lagi menghiasi paginya setiap kali Nael memasuki ruangan yang dulu di tempati Andari sebagai ruang kerjanya.


Nael memimpikan dan berangan-angan suatu saat dirinya bisa bersama lagi, dengan satu hubungan yang lebih akrab lagi sebagai pasangan.


Lamunan Nael terganggu berisiknya di kolam renang di bawah sana.


Nael mendengar suara-suara dari bawah karena di samping kiri depan rumahnya adalah kolam renang, di bawah terdengar jelas suara Adiknya yang mungkin lagi berenang bareng teman-temannya, teriakan dan jeritan juga tawa terdengar sampai ke kamarnya.


Entah kenapa Nael tak begitu tertarik dengan semua gadis cengengesan seusia Adiknya itu, tapi suara riuh di bawah sana mau tidak mau membuat matanya yang ngantuk jadi tak bisa tidur. Selain Nael banyak melamun suara-suara berisik membuatnya terganggu.


Nael bangun hanya dengan mengenakan celana boxer nya, sedikit mengintip dari balkon atas ke area kolam renang.


Terlihat Adiknya Netty dan kedua temannya asyik berenang dan sekali kali naik ke darat dan ber-swa poto ria, Nael mengusap bawah perutnya yang berkembang di balik celananya tanpa di pinta.

__ADS_1


'Busyet pada sexy banget tuh cewek!' bathin Nael melihat pandangan rezekinya.


Nael kembali ke kamarnya berniat melanjutkan tidurnya, tapi dorongan jiwa kelelakiannya tak bisa sekejap di lemahkan. Semakin di usap semakin menjadi. Menjadikan satu hasrat yang tak biasanya. Dirinya lagi melamun tentang cantiknya wajah Andari dan melihat tanpa di sengaja wanita dengan bikini di bawah sana.


Tapi Nael bersyukur Dirinya masih normal berarti, satu kewajaran jiwa mudanya terbangkitkan saat melihat hal-hal yang sebenarnya tidak layak untuk dilihat.


Kini mimpi-mimpinya hanya tertuju kepada Andari. Tapi semua itu Nael pikir dengan akal sehat apa mungkin dan bisa Dirinya merealisasikan semua perasaannya kepada Andari? Nael yakin perasaan itu perasaan cinta yang mungkin telah lama ada terhalang oleh status Andari yang telah bersuami saat itu. Tetapi kini saat Andari kembali sendiri hambatannya Andari seorang narapidana yang hidup terisolasi perlu bertahun-tahun untuk bisa bebas dan menghirup nafas di luar sana.


Juga satu perjuangan Nael untuk bisa meyakinkan Andari dan kesiapan Nael sendiri untuk bisa mengungkapkan perasaannya di hadapan Andari. Mungkin tak akan semudah harapannya perlu pendekatan dan adaptasi juga memperlihatkan keseriusan akan cinta dan perasaannya.


Sedang desakan kedua orang tuanya untuk segera berumah tangga dan mengakhiri masa lajangnya membangun rumahtangga semakin gencar dihembuskan di ingatkan setiap waktu ada kesempatan mereka ngobrol bersama menjadikan Nael tidak betah di rumah.


Sejak kedatangannya dari luar negeri sentilan halus selalu Ibunya atau Bapaknya selipkan membuat Nael tidak bisa menjawab dan memberikan jawaban.


Dengan kebawelan Adiknya membuat Nael semakin tidak betah di rumah, jadi sebagian besar waktunya di habiskan di tempat kerjanya.


Nael mulai nggak betah di rumah terkadang Nael tidur dikantornya, dan kini perasaan gundah juga gelisah datang saat Dirinya mau beristirahat.


Sudah tentu Ibunya nanti akan bicara lagi hal yang sama soal cewek, perkenalan, pernikahan dan rumah tangga yang membuat Nael pusing mendengarnya. Belum lagi Bapaknya selalu memberinya semangat walau kata-katanya lebih bijaksana dari Ibunya.


Nael bangkit berganti pakaian dan mengambil raket berniat membunuh semua hasratnya dengan berolahraga, Nael keluar dari kamarnya turun dengan menenteng seperangkat sarung raket di dalamnya.


Di tengah tangga Nael melihat Ibunya berdiri dekat pintu ruang keluarga dan Si Bibi membawa beberapa gelas di nampan kelihatannya juice mangga atau jeruk.

__ADS_1


"Oh alah Nak, mau ke mana lagi? di rumah kali-kali jangan pergi terus Ibu pengen bercengkrama barang sejenak sama Kamu," ucap Ibu Rina Darmawan sambil menyimpan minumannya di atas bufet.


"Ada janji sama teman Bu mau cari keringat," sahut Nael sambil menyimpulkan tali sepatu cat nya.


"Ibu lihat kamu tak sedikitpun mau bergabung sama Adikmu di depan sana, Kamu bisa berolahraga juga berenang apa salahnya akrab sama teman Adikmu itu!" ucap Ibu Rina Darmawan sambil memegang bahu anaknya yang menjulang tinggi di hadapannya.


"Ibu, Aku juga sama punya teman. Jadi tidak usah memaksakan Aku untuk akrab dengan mereka, cukup kenal saja, Olahragaku beda dengan mereka," jawab Nael sambil tersenyum memegang menggenggam kedua tangan Ibunya dengan lembut.


"Nak, Ibu selalu berdo'a yang terbaik buatmu." Ibunya tak lanjut bicara hal pribadi pada putranya yang kelihatan sudah tahu keinginannya.


"Makasih Ibu Sayaaaang, Aku janji nanti makan malam di rumah!" ucap Nael sambil mencium sebelah pipi Ibunya.


Nael berlalu dalam pandangan Ibunya, semua harapannya tertumpah pada putranya itu. Tapi semua harapannya kini belum kelihatan tanda-tanda yang di harapkannya. Nael masih melenggang seorang diri, dan menghabiskan waktu senggangnya dengan berolahraga juga malam Minggu di kamarnya dan tidur.


Semua itu jelas membuat keresahan di hati Ibu Rina Darmawan.


Suara deru mobil keluar terdengar, Nael tak sedikitpun tak tertarik dengan semua teman Adiknya Netty malah kelihatan tak suka di perkenalkan dan di dekat dekatkan.


Ibu Rina Darmawan menghela nafas dalam dan berat, bagaimana lagi cara agar Anaknya bisa segera punya kekasih.


*******


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat

__ADS_1


__ADS_2