
"Ibu tahu Kamu hanya terbawa perasaan Nak, menunggu itu lama vonis sekian tahun itu menjemukan sementara Kamu bisa melakukan banyak hal selama itu bukan menunggu!"
ucap Ibu Rina Darmawan sambil memandang pada raut muka Anaknya yang kini sudah dewasa dalam usia juga dalam berpikir, tapi sayang pemikirannya juga pandangannya banyak berbeda dengan apa yang di harapkan mereka sebagai orangtua.
"Aku mencintai Andari seperti Netty mencintai Ricko apa salah Kami?" ucap Nael dengan suara tegas.
"Tidak salah Nak, hanya kurang tepat menurut penilaian Kami sebagai orangtua," jawab Bapak Harry Darmawan berusaha jadi orangtua bijak melihat perbedaan dalam beda pendapat dan pandangan dengan putra putrinya.
"Tak semua keinginan harus tepat sesuai harapan, kalau semua pilihan bisa membuat Kami bahagia biarkanlah takdir dan nasib yang akan membawa Kami pada kenyataannya." jawab Nael dengan datar sekali jawab dua permasalahan dirinya juga Netty terbahas juga.
Kepintaran Nael memang tidak di ragukan lagi tapi sayang semua pilihannya tak berkenan di hati kedua orangtuanya. Di sodorkan teman Adiknya Netty tak sedikitpun bergeming padahal menurut kedua orangtuanya begitu cocok dan sangat pantas.
"Anakku, berumahtangga dengan orang yang sudah pernah berumahtangga sebelumnya itu akan menghadirkan konflik menurut Ibu, Ibu ingin kalian berumah tangga nanti dengan membangun rumah tangga itu sendiri sejak awal tidak harus meneruskan dengan orang yang sudah punya tata aturan sendiri." Ibu Rina Darmawan tetap berusaha memberikan masukan berdasarkan kekhawatiran saja berupa asumsi penilaian saja bukan berdasarkan pengalaman pribadinya.
__ADS_1
"Ibu, Itu tidak benar Bu, akan lain lagi seandainya Kami punya rumah tangga sendiri yaitu aturan Kami yang akan dijalani bahkan kalau memungkinkan ada hal yang baik bisa diambil dari pengalaman rumah tangga sebelumnya Kita jalani saja kenapa tidak?" Nael sepertinya sudah begitu siap dengan jawaban apapun walau hatinya tidak mau berdebat dengan orangtuanya sendiri.
Ada saatnya orang lain juga orangtuanya tahu apa yang menjadi pilihannya.
"Pokoknya Ibu ingin yang terbaik Nak."
"Semoga pilihanku juga terbaik karena bagiku juga Netty mungkin tak mudah kalau harus berpaling dari perasaan dan janji yang telah di bina selama ini." jawab Nael dengan tenang.
"Berapa tahun vonis Andari?" tanya Pak Harry Darmawan sambil menatap putranya yang seperti melihat cermin dirinya saat muda dulu.
"Apa Kamu akan menunggu selama itu? Nak?" tanya Pak Harry Darmawan lagi.
"Ya, taruhlah kenanya kurang lebih dua tahunan lagi potong remisi-remisi dan setelah 2/3 masa hukuman dijalani Aku akan mengajukan asimilasi bagi Andari, semua sudah Aku pelajari prosesnya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku tentunya tapi InsyaAllah semua bisa berjalan dengan lancar dan baik." Akhirnya sampai juga Nael pada kesiapannya memperlihatkan keseriusan di hadapan orangtuanya.
__ADS_1
"Nak kenapa harus melibatkan diri dengan urusan orang lain? Kamu itu gelap mata Nak coba pikirkan lagi apa saran Ibu ini bagaimana tanggapan orang lain nantinya?"
Ibu Rina Darmawan tetap kukuh pada pendiriannya memperlihatkan sikap tidak setuju lain dengan Pak Harry Darmawan yang kelihatan seperti melunak walaupun belum menyatakan persetujuannya.
"Ibu maaf, penilaian orang lain itu biasa saja semua Kita yang menjalani kalau memang Kami saling cinta sanggup menerjang rintangan dan halangan apapun jangankan hanya penilaian orang lain yang tak berarti bagiku masalah apapun semua akan Kami lewati."
Ibu Rina Darmawan bangkit dan berlalu masuk kamarnya menyatakan walk out dari rapat dan juga diskusi keluarga itu, dengan kenyataan tak menerima semua yang di sampaikan Nael anaknya.
"Bapak tahu juga mengerti perasaan kalian yang berjiwa muda memang tidak mudah apalagi Ibumu sekonyong-konyong menerima semuanya. Pasti keinginan orang tua di mana-mana tidak ada yang jelek pasti berharap yang terbaik padamu sebagai laki-laki Anak pertama dan juga Netty Adikmu yang masih perlu bimbingan dan perlindungan Kamu. Bapak hanya mengarahkan kepada kalian berdua tadinya seandainya ada yang lebih baik carilah dulu. Secara pribadi Bapak hanya menyarankan seperti itu pikirkanlah lagi untuk kebaikan kalian pada kenyataannya."
"Tapi Bapak seakan tidak setuju saja dengan pilihan Netty."
"Itu biar Kamu bisa berpikir lagi semua sikap Ibu sikap Bapak jangan ditelan dengan mentah-mentah pikirkanlah pertimbangkan saran Bapak seperti itu, tetapi kalau memang pada kenyataannya kalian sudah tidak ada pilihan lain dan itu yang terbaik Bapak setuju saja walau proses meyakinkan Ibumu tidak mudah."
__ADS_1
********
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat