
"Pak, kasih pengertian Anakmu itu apa Kita yang harus kalah mengikuti keinginannya? mengabaikan semua pendapat keluarga dan pandangan orang lain yang pasti memandang buruk pada keluarga Kita nantinya!" cerocos Rina Darmawan Mamanya Nael sambil hilir mudik menyampaikan penolakan pada keputusan Anaknya Nael yang tetep pada pendirian dan pilihan hatinya.
"Bu, sabar biar tenang dulu jangan keburu emosi semua akan ada jalannya. Nael bukan Anak kecil yang segalanya mesti diatur dan dibatasi juga diarahkan. Bapak juga bukannya setuju tapi mari Kita pertimbangkan lagi baik buruknya bagi Anak Kita," jawab Suaminya Harry Darmawan berusaha menenangkan dan meredam keadaan.
"Tapi Ibu tetap pada pendirian kalau semua tidak akan ada manfaatnya dan kebaikan apa yang Kita harapkan dari seorang predikat yang disandang menantu Anak Kita nanti Ibu merasa tidak sanggup menerima gunjingan orang-orang nantinya!" cecar Ibunya Nael begitu emosi dan merasa tidak di hargai.
"Bu! Coba tenang jangan mengumbar emosi dengan pikiran terlalu jauh, Kita belum menelaah seserius apa Anak Kita berhubungan dengan Andari?" Bapaknya mulai naik tensinya, bicara begitu keras memotong pembicaraan Istrinya.
"Bapak lamban mengambil keputusan masih saja bertanya seserius apa Anak Kita itu berhubungan? sudah terlalu jauh masuk ke dalam perangkap perempuan itu dan mungkin kini sedang dimanfaatkan sadar atau tidak Nael itu di manfaatkan!"
__ADS_1
"Astaghfirullah, tenang dan sabar kenapa Ibu malah ke mana-mana, kata-kata Ibu begitu memojokkan Nak Andari, beristigfar lah mohon pada Yang Kuasa petunjuk terbaik. Stop! Jangan dulu mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan marah Bapak juga perlu berpikir jangan mengikuti emosi sesaat Nak Andari juga pasti tidak terima keputusan Kita yang memojokkannya tetapi kalau dipikir secara tenang Kenapa Anak Kita memilih jalan Nak Andari pasti dengan pertimbangan, yang harus Kita pikirkan itu adalah pertimbangan seperti apa itu! Apa alasan putra Kita memilih Andari sadarkah Kita kalau sekarang ini lagi berbeda pandangan?"
Rina Darmawan menangis dan langsung diam hatinya tetap berontak hebat tak mau menerima apapun alasannya hatinya seakan tertutup untuk menerima masukan dan saran apapun, Andari tetap bukan yang terbaik bagi putra kesayangannya.
"Kenapa kedua Anak Kita sulit diarahkan apa ada yang salah dari pelajaran dan penanaman pendidikan pada Anak-anak Kita Pak?" Ibu Rina Darmawan masih saja dengan rasa tak bersalahnya juga isakan tangis yang tak bisa di bendung nya.
"Itu yang Aku tidak suka dengan Bapak! bukannya mengarahkan anak-anak kepada jalan yang Kita harapkan tetapi merasakan menyetujui semua keputusan yang salah!"
"Baik, Bapak selalu menghargai setiap apa yang Kita diskusikan termasuk masalah Anak-anak tapi kalau menyangkut pilihan yang membuat mereka meyakini itu yang terbaik Bapak akan mempertimbangkan dengan bijaksana."
__ADS_1
Rina Darmawan kecewa dengan pendapat suaminya kali ini. Jelas yang terbayang di otaknya gunjingan sosialita arisan kominitasnya, di club senam, di pengajian lingkungannya, di perusahaan suaminya, di alumni sekolah dan kuliahnya sungguh itu adalah satu pukulan berat yang tak bisa dengan begitu mudah di terima.
Haruskah Dirinya drastis mengundurkan diri dari semua kegiatan yang telah menjadi rutinitasnya?
Tak terbayangkan beban berat bagi keluarganya.
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1