
"Kita resmikan secepatnya Sayang menunggu apa lagi? Kita mulai semuanya dari awal." Nael serius bicara sambil meneliti wajah cantik Andari.
Nael merasa tak percaya kini mereka duduk begitu dekat tanpa batasan waktu dan ruang lagi
"Mas, Aku mengerti perasaanmu niat baikmu begitu tulus. Aku juga tak bisa memungkiri Aku juga jatuh hati dan tak bisa menolak, tapi beri waktu sebulan biar Aku bisa adaptasi di lingkungan baruku nanti Mas." Andari masih saja mengulur waktu dengan berbagai pertimbangan sampai saat ini masih remang dan abu-abu izin kedua orangtua Mas Nael mungkin itu ganjalannya.
"Sebulan? jangan lah Sayang Aku tawar dua minggu lah Aku nggak mau lama lagi menunggu," ucap Nael sambil tak melepaskan genggaman tangan Andari.
"Mas, ada banyak yang harus Aku benahi termasuk Diriku sendiri."
"Aku yakinkan berdua akan lebih baik jangan banyak yang di pikirkan semua telah Aku siapkan."
"Baiklah, terserah Mas Aku tak punya apapun selain hati yang tak ingin di kecewakan dan cinta ini yang pasti bisa Aku jaga buat Mas Nael." Ucapan Andari kali ini begitu membuat dada Nael menghangat.
"Ah, Andari begitu lama Aku ingin mendengar kata itu keluar dari bibirmu. Terimakasih Sayang Aku mencintaimu ...."
Andari memerah wajahnya hatinya terasa hangat, terasa seperti masa remaja dulu saat menerima ungkapan rasa cinta.
"Sayang, maukah Aku jadikan permaisuri di istana rumahtanggaku?"
Andari mengangguk sambil menutup mukanya, Nael tersenyum berusaha membuka kedua telapak tangan Andari yang merasa tersanjung dan malu.
__ADS_1
"Papa!" tok tok tok ....
Suara dari luar begitu jelas di telinga Andari dan Nael yang tak sadar Amanda sudah keluar dan mengenali mobilnya.
Andari kaget Amanda memanggil Papa? Sejak kapan siapa yang menyuruhnya?
"Mas?"
"Ssssst.... tunggu di sini Aku yang turun."
Andari diam termangu masih dalam rasa terkejutnya melihat Nael turun bergegas.
Nael membuka pintu di mana Amanda mengetuk pintu di sebelahnya.
"Iya Sayang, Papa punya kejutan luar biasa kali ini bisa Manda menebaknya?" Terlihat Nael sedikit memendekkan badannya dan tangannya di pundak Amanda.
Amanda dengan riang tapi wajahnya malu menggeleng mungkin tak bisa memperkirakan kejutan apa yang di bawa Papa Nael kali ini, begitu Nael menginginkan Amanda memanggilnya dengan panggilan Papa.
"Ya sudah, mari Papa tunjukan."
Nael membimbing tangan lembut Amanda lalu memutari kepala mobil dan mengetuk pintu dan pintu terbuka Amanda terpana melihat sosok yang kini berhijab masih lekat di ingatannya kalau itu adalah Mamanya.
__ADS_1
"Mama, sudah pulang?" terdengar tercekat suara Amanda.
Tak sanggup Andari berucap hanya menjawab dengan anggukan sambil merentangkan tangannya ke arah Putrinya. Amanda naik mobil dan memeluk Mamanya.
Pertemuan kejutan begitu mengharu biru dan banjir air mata kebahagiaan. Kurang lebih empat tahun mereka berpisah hanya hati dan tali rasa yang tak pernah putus mereka jalin kini kerinduan ingin mereka tumpahkan.
"Sayang, Mama kangen banget sama Manda maafkan Mama ya?" Andari menghujani Amanda dengan ciuman dan pelukan sekan ingin menumpahkan dan mengganti waktu yang terbuang.
"Mama ...." Amanda menangis begitu pilu sambil memeluk erat Andari.
Andari membiarkan Amanda melepaskan kerinduan di dadanya sampai terlihat merasa tenang.
"Sayang, Mama sudah pulang sekarang dan seterusnya Kita akan bersama sama lagi."
Nael memandang wajah Amanda dan menunjuk dadanya sendiri, maksudnya sama Dirinya juga akan bersama-sama dalam satu keluarga.
"Mam, apa sama Papa Nael juga?"
"Oh, eh i-iya Sayang sama Papa Nael juga." Andari terbata menjawab.
Nael mengacungkan jempolnya di sambut senyum Ananda yang sedikit sudah mengerti arti dari kebersamaan.
__ADS_1
********
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat