
"Halo Kak, Aku Ke kantor Kakak sekarang mau ajak teman ya?"
"Taman Lo yang mana lagi?"
"Kakak maunya yang mana?"
"Gue nggak mau yang manapun!"
"Ih Kakak! masa diantara cewek cantik temanku nggak ada satupun yang kepilih coba aja dulu deket Kak apa salahnya?" ucap Netty melakukan pembelaan.
"Jelas Lo salah! karena Gue nggak minta di kenalin sama siapapun Net!"
"Kak, tapi Ibu selalu menyuruhku mengenalkan temanku pada Kakak takut Kakak tidak normal katanya!" sahut Netty sedikit bercanda.
"Busyet, sial banget Gue sampai di bilang takut nggak normal? sini Lo sekarang tapi jangan bawa siapapun Si Monik atau Si Yasmin pokoknya Lo datang sendiri!"
"Mau ngapain?"
"Kalau Lo datang sama teman lo mau ngapain ke sini?"
"Ya mau ajak Kakak makan kek jalan kek, jalan ke Mall apa aja!"
"Lo nggak bisa jalan-jalan ajak pacar Lo itu."
__ADS_1
"Lagi ngambek!"
"Hahaha...Lo yang ngambek apa Si Ricko? sepertinya kalau lagi ngambek ngebut-ngebutan tuh Anak!"
"Ah, Kakak! ya Kami berdua. Udah nggak ngebut lagi kok nggak kayak dulu."
"Terus ngambeknya kenapa?"
"Banyak masalah aja."
"Masalah Lo apa? Lo pacaran sudah lama Gue kira aman-aman saja, tahunya berantem dan masih ngambek juga terus Lo mau jodoh jodohkan Gue yang sekarang lagi anteng menikmati kesendirian biar ngambek seperti Lo juga Si Ricko?"
"Ya nggak lah Kak, pokoknya rumit deh kalau harus di ceritakan."
"Ya sudah, bener nih nggak boleh ajak temanku?" ujar Netty sekali lagi meyakinkan Nael.
"Lo mau Gue tabok ya?"
"Hehehe... iya deh sambil Aku mau curhat sama Kakak."
Netty tertawa sambil menutup sambungan telepon.
Haruskah jujur pada Adik bawelnya? kalau Dirinya kini sedang menjalin bubungan dengan orang yang Netty juga kenal dan dulu bekerja di perusahaan Bapaknya ini, atau biarkan saja dulu sampai mendekati Andari proses asimilasi yang sudah Nael persiapkan di dua pertiga masa vonis di jalani.
__ADS_1
Nael membayangkan dulu sepatu hak tinggi Andari bagai satu irama yang selalu menganggunya dalam kesendiriannya kini di kantornya.
Suara lembut tuk tuk tuk selalu saja membuat satu kebiasaan yang begitu kangen untuk di dengar lagi, Ah Andari kapan Kita bisa bersama lagi? betapa ingin harapan ini cepat terealisasi Aku ingin hidup bersamamu.
Mungkin kalau sekarang dalam suasana yang berbeda Andari statusnya sendiri seperti sekarang ini sudah pasti Nael telah mendekatinya dan berusaha menarik hatinya.
Sebenarnya kalau dulu dirinya nekad bisa saja mendekati Andari dan banyak waktu juga kesempatan yang di miliki mereka untuk pergi bersama atau di kantor berdua tapi Andari bersuami dan Nael tahu etika itu suatu aib walau semua sangat mungkin bagi keduanya.
Nael mengambil agenda dan membuka tiap lembarnya tak ada yang istimewa sebenarnya hanya agenda rapat, pertemuan dengan Bapaknya, bertemu klien dan yang Nael lingkari dengan tinta merah ada di tulis namanya saat mau keluar bertemu klien di suatu tempat.
Tulisan tangan yang sangat cantik secantik orangnya. Nael seperti menyusuri jejak tangan lembut Andari di agenda itu dan satu poto Andari telah masuk di dompetnya yang di comot dari dalam agenda coklat muda itu.
Dulu Andari duduk di posisinya kini dirinya duduk selalu membiasakan diri tersenyum saat ada tamu yang menghadapnya memperlihatkan deretan gigi yang putih dan rapi. Dengan sopan melayani keperluan setiap klien.
Lama Nael membayang kan satu sosok yang sejak dulu dikaguminya kini sudah jadi kekasihnya walau Nael harus sabar menunggu kebebasan Andari.
Andari telah membuka diri dan memberikan lampu hijau walau itu masih menguji dirinya akan satu kata setia menunggu selama ini.
Dan Nael begitu berkeras hati jangan sampai perasaan yang begitu susah menyampaikannya pad Andari semakin terkikis oleh kebosanan menunggu.
'Aku tak akan bosan Ndari sampai semua bisa Aku raih, semua akan Aku perjuangkan dan cinta yang sudah terikrar semoga Kita sama-sama sabar dan saling menjaga.
*******
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat