
"Bu, Monik sudah datang. Apa Kak Nael sudah elesai mandinya?" Netty melongokkan kepalanya ke kamar Ibunya dan langsung masuk.
"Ngapain masuk? sana sambut temanmu itu ajak ngobrol dulu di sana sama siapa?" suruh Ibu Rina Darmawan menatap putrinya Netty yang sudah begitu cantik.
"Oh , iya ya Aku sampai lupa. Aku kesana dulu Bu!" Netty bergegas keluar kamar Ibunya.
Ibunya geleng-geleng kepala melihat belum dewasanya putri bungsunya itu. Di satu sisi mungkin karena kesalahannya terlalu sayang jadi begitu memanjakannya.
Tapi banyak kelebihan yang di perlihatkan putrinya juga putranya yang paling membanggakan. Terutama dalam soal pendidikan dan pergaulan begitu mudah di arahkan dan tidak terbawa arus pergaulan bebas juga tidak terbawa pada kenakalan remaja pada umumnya.
Netty putri bungsunya kuliah hampir selesai tetapi sudah kecantol seorang pria anak seorang pejabat daerah walaupun pada dasarnya Ibu Rina Darmawan dan Pak Harry Darmawan setuju setuju saja tetapi ada satu ganjalan kekurangan yang membuat khawatir karena hobby Ricko yang tidak sejalan bertentangan dengan keluarga mereka, seorang pembalap hobby dan kesukaan yang ditekuninya selalu saja membuat khawatir mungkin termasuk orang tuanya juga.
Sedang Nael lulus sekolah luar negeri tapi urusan perempuan belum terlihat kapan seriusnya walaupun dambaan dan harapan mereka sebagai orang tua begitu ingin cepat merealisasikan dan melihat Anaknya mandiri punya keluarga ada tempat pulang dan ada yang mengurus segala keperluannya Nael terlihat begitu santai dan terlambat memperlihatkan keseriusan soal pasangan hidup.
Dua Anak dua karakter tentunya berharap yang terbaik dan bisa membanggakan kedua orangtuanya.
Ibu Rina Darmawan berharap kali ini bisa mengenalkan sosok yang di bawa putrinya ke rumah yang disebut Netty begitu cantik begitu baik dan begitu pintar setidaknya Nael bisa berkenalan dulu dan untuk selanjutnya mungkin perlu adaptasi dan penyesuaian. Ibu Rina Darmawan tidak berharap jauh hanya ingin melihat putranya bisa dekat dengan siapapun termasuk teman perempuan tidak kelihatan dingin seperti sekarang ini.
Bu Rina Darmawan keluar kamar menghampiri Bapak Harry Darmawan yang sedang duduk di depan TV ruang keluarga.
"Pak, makan malam kali ini istimewa. Netty mau bawa temannya biar kenalan sama Nael juga pacarnya ke sini. Jadi tolong jangan bicara soal hobby Nak Ricko semua sudah ada yang mengatur masalah hobby jangan jadi bahasan kalau Anak kita suka sama cinta mau apalagi?" ucap Ibu Rina Darmawan tuba-tiba saja bicara setengah berbisik pada suaminya.
"Tapi Bu...?"
"Jangan ada tapinya! minimal malam ini biarkan Nak Ricko betah di sini ajak main catur atau ngobrol habis makan malam! sampai Anakmu Nael mau mengantarkan Nak Monik pulang." Tegas permintaan Ibu Rina Darmawan pada suaminya.
Walaupun masih mengerutkan keningnya Pak Harry Darmawan akhirnya mengangguk juga.
"Baiklah, tapi Bapak bukan berarti setuju. Bapak kurang suka bukan pada personal nya seorang Ricko, tapi tidak suka liar dan bebasnya seorang pembalap."
"Iya, Bapak harusnya sabar dan tenang dulu, tidak semua pembalap seperti itu Ibu juga kurang lebih berpendapat begitu semua masih banyak kemungkinan, Anak kita juga cinta banget mau di apakan? Kita pisahkan paksa? itu tidak mungkin sama saja kita memaksakan keinginan."
__ADS_1
"Ya sudah!"
"Pak, Bu kenalkan ini Monik teman akrab Netty di kampus, satu jurusan dan satu angkatan di semester akhir!" ucap Netty sambil senyum di hadapan Ibu Bapaknya.
Pak Harry Darmawan mengangguk sambil tersenyum juga menyambut salam dari Monik.
"Ibu sudah kenal, cantik banget Nak Monik mari silahkan kita ngobrolnya di meja makan saja sambil menuggu yang lainnya biar sambil minum dulu," sahut Ibu Rina Darmawan menuntun Monik ke ruang makan.
"Terimakasih Bu, Pak. Senang bisa berkunjung dan bersilaturrahmi dengan keluarga di sini." Ucapan Monik terdengar begitu sopan.
Deru suara mobil di halaman membuat Netty bergegas keluar menyambut siapa yang datang. Dari suaranya saja Netty sudah mengenalinya kalau itu suara mobil Ricko.
Sambutan senyuman paling manis di berikan Netty pada sang kekasih yang dengan gagahnya turun dari mobil sport kesayangannya.
"Sayang Aku telat nggak?" tanya Ricko sambil tersenyum menatap wajah cantik nan wangi sang kekasih.
"Nggak kok Mas, Kak Nael aja belum keluar kamarnya mungkin habis mandi," jawab Netty sambil meraih tangan Ricko dan menggandeng sebelah tangannya mengajaknya masuk.
Netty mendelik sambil melepaskan pelukan di sebelah lengan Ricko. Menyadari kesalahannya sendiri.
Sampai ruang keluarga Ricko langsung menyalami kedua orang tua Netty pertama sama Bapaknya dan kedua sama Ibunya lalu melirik sahabat Netty Monik yang sedang tersenyum memperhatikan lalu di salami juga.
Baru saja Ricko dipersilahkan duduk di samping Netty Nael datang mau tidak mau duduk di dekat Ibunya di samping Monik.
Nael menyalami Monik dan juga Ricko yang ada di seberangnya.
"Kakak ingat? ini Monik yang tadi siang ada berenang sama Aku Kak," ucap Netty meyakinkan Kakaknya.
"Iya, Gue belum pikun!"
"Ih Kakak, masa depan Monik bicaranya begitu?"
__ADS_1
"Emang kenapa? Dia juga biasa saja ya kan Monik?" jawab Nael sambil melirik Monik yang mengangguk sambil tersenyum.
Acara makan malam di mulai dengan doa masing masing dulu, Nael kelihatan begitu biasa tidak kaku tidak apa dengan orang baru sekalipun, bawaannya tetap bisa menyesuaikan bahkan meminta makanan yang ada di dekat Monik. Dengan berdebar Monik begitu senang mengambilkannya buat Nael.
Yang paling senang saat itu pastinya Ibu Rina Darmawan karena merasa seperti inilah harapannya. Anak-anak memiliki pasangan dan itulah kesuksesan juga ketentraman hidupnya yang diinginkan di masa-masa sekarang ini.
Komplitnya meja makan mereka siapa saja pasti akan merasa senang itu hanya awal belum menunjukkan hasil yang sebenarnya.
"Mas Nael gimana pekerjaannya? apa menemui kendala setelah Bapak serahkan sepenuhnya tanggung jawab di pundakmu?" Bapaknya mulai dengan obrolan dan pertanyaan seputar pekerjaan pada Nael putranya di sela suapannya.
"Nggak Pak, semuanya biasa saja."
"Biasa gimana? maksud Bapak ada kendala nggak? soalnya sampai saat ini Kamu itu tidak pernah ada konsultasi sedikitpun tentang apa-apa pada Bapak," ucap Harry Darmawan sambil menatap putranya d ngan bangga.
"Ya biasa saja, kalau ada kendala dan kesulitan pastinya bertanya dan konsultasi. Aku dalam bekerja dan memimpin mengadaptasi seseorang senior yang dulu pernah ada di kantor Kita, semua terkendali dengan baik silahkan bulan depan Bapak lihat presentasi dan pencapaianku!" ucap Nael sedikit sombong.
"Syukurlah. Kalau Nak Netty gimana kuliahmu Nak kapan wisudanya? Sama Nak Monik nanti selesainya bareng gitu?" tanya Pak Harry Darmawan beralih bertanya pada Netty putrinya dan juga Monik.
"Iya Pak, sekarang mulai sibuk skripsi di lanjutkan mungkin sidang nanti semoga saja lancar ya Mon," jawab Netty sambil senyum melirik Monik di seberangnya duduk samping Kakaknya diapit sama Ibunya.
Monik mengangguk sambil tersenyum.
Ibu Rina Darmawan berharap suaminya bertanya juga pada Ricko, Pak Harry mengerti dan merasakan keinginan Istrinya. Akhirnya Ibu Rina Darmawan tak sabar dirinya yang ambil alih obrolan santai mereka.
"Kalau Nak Ricko gimana pekerjaannya Nak tidak terganggu kan dengan kesibukan lainnya? tanya Ibu Rina Darmawan sambil tersenyum pada pria di samping putrinya.
"Alhamdulillah Bu nggak, dan jangan sampai," jawab Ricko sambil menerima gelas yang di sodorkan Netty di sampingnya.
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1