
"Masih ada kerjasama LP ini dengan Pak Nael semoga ke depannya kerja sama ini tetap berjalan dengan lancar," ucap Ibu Yohana selaku kepala LP sambil memberikan buket bunga anggrek putih sebagi ucapan selamat atas kebebasan Andari.
Andari menerimanya menciumnya lalu memeluk Ibu Yohana masih dengan rasa tak percaya kalau beberapa detik atau menit lagi Dirinya akan keluar dari LP ini yang kurang lebih empat tahun memberinya pelajaran hidup bagi Andari.
"Tersenyumlah karena banyak jejak berharga yang Kamu bisa banggakan dan tinggalkan di sini, tapi di luar sana pastinya akan lebih membahagiakanmu."
"Terimakasih banyak Bu Yohana, dan semuanya tentu saja kerja sama ini akan tetap berlanjut selagi masih bisa saling memberi manfaat." Nael menjawab mewakili Andari yang menyusut air mata.
Ucapan terakhir Kepala LP Yohana sambil merengkuh bahu Andari membawanya berjalan perlahan menuju ke arah depan di mana pintu gerbang sebentar lagi akan terbuka bagi Dirinya.
Dan jawaban Mas Nael begitu menenangkan hati Andari.
Keempat temannya tak sanggup Andari meliriknya ke belakang yang mengantar sampai pintu utama, biarlah mereka akan merasakan perasaan seperti Dirinya saat ini dan menyelesaikan masa hukumannya masing-masing.
Mas Nael memasukkan koper ke dalam bagasi setelah semua temannya yang menginginkan barangnya Andari berikan, bahkan kata Mas Nael berikan pada yang mau apapun itu tapi tetap saja banyak barang yang tersisa dan Andari bawa sebagai kenangan.
Andari duduk di jok depan di samping Nael berusaha berdo'a mohon di lapangkan hatinya.
Lambaian tangan dan senyum orang yang mengantar Andari akhirnya hilang karena mobil sudah melewati pintu gerbang.
__ADS_1
Masih teringat bisikan Sipir Hilda di telinganya saat tadi ikut mengantar Andari ke depan pintu utama. 'Apa ada yang di pesankan buat dr Barry? Dia terlihat sedih mendengar Kamu akan bebas.'
'Sampaikan maaf dan salam hormat juga ada do'a terbaik dari sahabat baiknya.' Hanya itu yang di sampaikan Andari pada Sipir Hilda, di sambut anggukan Sipir Hilda.
"Sayang, apa ada nazar atau apapun itu setelah hari ini bisa bebas hemght ...?" Mas Nael menggenggam jemari Andari yang terasa dingin.
Andari kaget karena dirinya sedikit melamun.
"Aku hanya ingin bersujud syukur Mas, dan jangan dulu pulang ke rumah biarlah Aku persiapkan dulu hati dan perasaanku sebelum bertemu Anakku Amanda, carilah mesjid," jawab Andari merasa belum cukup mengucap dan mengekspresikan rasa syukurnya.
"Baiklah Sayang, tentu saja boleh atau mungkin mau ke pantai mandi dulu melepaskan semua sial dan keburukan? Aku antar ke manapun yang Kamu inginkan."
Nael merasa semua begitu berubah. 4 tahun Andari ada di balik sel Pemasyarakatan telah merubah dirinya dan segalanya terlihat dewasa, pasrah dan begitu taat membuat dirinya bertambah kagum.
"Sayang, Amanda sudah kelas 5 apa yang akan Kamu ceritakan nanti dengan kedatanganmu?"
"Aku masih mencari waktu yang pas buat cerita Mas, biarlah saat ini Dia bahagia dulu dengan pertemuan Kami nanti dan Aku punya uang mau membeli sedikit oleh-oleh. Nanti setelah selesai sholat Dhuha Aku ke pasar dulu di mana aja ya Mas."
"Sayang, Aku telah persiapkan semuanya di belakang apa perlu di tambah lagi?"
__ADS_1
"Maaf Mas, bukan Aku mengecilkan nilai yang Mas berikan sungguh terimakasih, tapi kalau dari hasil keringatku akan berbeda artinya."
"Baiklah Sayang, terserah Kamu saja atau barangkali mau di lihat dulu juga boleh."
"Terimakasih, Mas telah begitu baik padaku, pada Amanda dan semua keluargaku sepertinya Mas sudah begitu siap untuk menjadi seorang Bapak?"
"Tentu saja Sayang kapanpun Kamu siap waktu yang Kita tunggu Kita realisasikan, Aku mencintaimu tanpa syarat apapun dan kuharap sama Kamu juga tak meminta syarat apapun dariku."
"Sayangnya Aku sudah mempersiapkan syarat Mas!"
"Apa syaratnya itu Sayang?" Nael dengan spontan melirik pada wajah Cantik di sampingnya.
"Cintailah dua wanita sekaligus Aku dan Amanda." ucap Andari sambil tersenyum. Senyum pertama kali yang Nael lihat di wajah Andari setelah kebebasannya.
Nael tertawa sambil mencium jemari Andari.
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1