Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Selangkah lagi


__ADS_3

"Seperti apa konsep pernikahannya nanti Pak Nael?" tanya Sabrina asisten Nael di kantor tempatnya bekerja


"Andari menginginkan sederhana mungkin, banyak yang di pertimbangkan karena sampai saat ini Ibu belum merestui pernikahan Kami," jawab Nael perlahan.


Sabrina membayangkan kebahagiaan Andari yang dulu sahabat dan rekan kerja di perusahaan Harry Darmawan ini. Andari kini jadi atasannya karena sebentar lagi akan jadi Nyonya Nael Darmawan.


"Aku tak sabar Pak Nael ingin segera bertemu Bu Andari masih cantik kah seperti dulu?" tanya Sabrina sambil tersenyum.


"Tentu saja, kalau nggak cantik mana mungkin bisa menarik hatiku." Nael menjawab dengan kalemnya.


"Semoga Pak Nael sama Bu Andari bahagia selamanya dan jadi keluarga yang di harapkan saling bisa memberi saling menghargai dan menerima apa adanya."


"Terima kasih Sabrina semoga Kamu juga nanti menjadi pendamping pengantin Andari sama Amanda dan setelah akad nikah Kamis langsung menempati rumah yang baru. Andari ingin menikah tempat baru dan langsung tinggal di situ."

__ADS_1


"Bisa di pahami Pak Nael. Bu Andari layak bahagia, Aku berteman baik lama sekali tak ada cela di mataku dalam rumahtangga juga tanggungjawab pada pekerjaan. Bagiku Bu Andari adalah panutan dan sebagai leader yang sangat baik," tutur Sabrina tentang pandangannya pada Andari.


"Aku juga tidak melihat hal jelek di Dirinya mungkin permasalahan yang terjadi pada Andari dan suaminya dulu adalah kebodohan suaminya yang memicu emosi siapa saja yang mengalaminya," jelas Nael sedikitpun tak menyalahkan Andari dalam hal itu.


"Baiklah Pak Nael boleh Aku akan berkunjung dulu sebelum Pak Nael melangsungkan akad nikah? sebagai support sahabat, Aku tahu Bu Andari pasti perlu dukungan moral dalam segala hal untuk menanamkan kembali kepercayaan Dirinya," ucap Sabrina.


"Betul itu Sabrina, Aku juga belum sepenuhnya bisa banyak waktu bersamanya, mungkin nanti kalau sudah bersatu bisa lebih menanamkan kepercayaan Dirinya kembali," jawab Nael terlihat gembira saat Sabrina mengemukakan keinginannya bertemu dengan Andari.


"Kalau mau bareng ayo aja Aku antar, sebenarnya tiap hari juga Aku ke sana tapi malam, nggak apa-apa kalau Kamu mau sekalian aja ada hal yang harus Aku sampaikan."


Sabrina mengangguk dan keluar dari ruangan Nael meneruskan pekerjaannya.


Nael hanya termangu sepeninggal Sabrina dalam ruangannya, bayangan Andari begitu lekat di ingatannya saat dulu mengisi ruangan ini, penampilan cantiknya, cara berpakaiannya, suara sepatunya dan juga sapa ramahnya. Nael tersenyum membayangkannya sebentar lagi Andari akan jadi miliknya serasa tak mungkin tapi ini fakta dan kenyataannya setelah melewati berbagi rintangan yang sampai saat ini masih saja menjadi penghalang hubungan mereka tapi tak menyurutkan niat Nael untuk segera menyunting Andari jadi istrinya setelah bertahun tahun menantinya.

__ADS_1


Nael membuka laci mengambil agenda kerja harian Andari dulu yang tertinggal membuka dan melihat tulisan yang begitu rapi. Jemarinya menelusuri tiap tulisan itu sekan menelusuri jejak jemari Andari saat menulis dulu.


Nael sudah hampir satu bulan ada di sini dan tidur di kantornya sejak bicara sama kedua orangtuanya berniat menikahi Andari tapi Ibunya yang menentang habis habisan.


Nael bersikukuh pada pendiriannya kalau Andari adalah yang terbaik di matanya terlepas dari predikat yang Dirinya kini sandang yaitu mangan narapidana mantan warga binaan dengan kasus pembunuhan.


Sekilas nampak seram tapi kalau dilihat dari urutan permasalahan awal yang dialami Andari memungkinkan semua orang kalap seperti itu, amarah, terluka dan tersakiti juga merasa dikhianati jelas meninggalkan trauma yang hebat.


Orang seperti Andari yang memiliki intelektual tinggi sempat down dan terpuruk hingga pasrah pada keadaan sampai di titik terendah sempat terpikirkan mengakhiri hidupnya sendiri kalau bukan Dirinya sendiri yang bisa mengendalikannya ada Anak, hidupnya harus bermanfaat ke depannya, ada keluarga yang masih menyayanginya dan Mas Nael yang banyak memberi support, cinta dan sayang yang tak pernah putus hingga kini selangkah lagi mereka akan mengakhiri kesendirian mereka menyatukan harapan dan cinta menjadi satu kenyataan walau masih ada beban yang mengganjal di antara hubungan mereka.


*******


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat

__ADS_1


__ADS_2