Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Mencoba jujur


__ADS_3

"Pak Nael agenda hari ini ada pertemuan dengan klien kenapa belum siap-siap?" ucap Sabrina setelah mengetuk pintu ruangan pimpinannya lalu masuk dan duduk di hadapan Nael.


Sabrina takut salah kalau dirinya tidak mengingatkan tapi benar saja kelihatan Pak Nael lupa atau terlalu sibuk?


"Oh ya? apa Aku lupa ya, jam berapa itu?" sahut Nael sambil menyimpan ponselnya di meja. Satu poto Andari jadi cover ponselnya yang di temukan di agenda yang kini ada di laci meja kerjanya.


"Harusnya sudah ada di tempat jam segini!" jawab Sabrina.


"Tolong telpon saja biar nunggu 15 sampai 20 menit Kita ke sana sampaikan ada halangan yang tak bisa ditinggal," ucap Nael pada asistennya.


"Baik Pak, tapi ada apa kelihatan Pak Nael begitu sibuk akhir-akhir ini? kenapa tidak diperbantukan kepadaku biar tidak sibuk sendirian," ucap Sabrina merasa itu juga adalah kewajibannya membantu dan melancarkan semua yang menjadi agenda atasannya.


Sabrina menelepon klien dan berbasa basi lalu mengangguk pada Nael kalau semua sudah di konfirmasi.


"Sabrina, ada sesuatu yang ingin Aku sampaikan kepadamu tentang Aku dan seseorang yang pernah kita obrolkan beberapa waktu yang lalu juga tentang perasaanku," ucap Nael kelihatan serius.


"Oh, ya?" Sabrina merasa itu pasti hal penting karena tak biasanya Pak Nael bicara begitu serius selain masalah pekerjaan dan agenda sehari-hari yang mereka lakukan.


"Ayo Kita jalan ke tempat pertemuan dengan klien kita dulu nanti di jalan ngobrolnya untuk menghemat waktu," ajak Nael pada Sabrina yang sejak dari tadi sudah siap sedia menanti instruksi. Sabrina merasa penasaran ada apa dengan seorang Nael? kenapa begitu banyak yang ingin di sampaikan sekolah itu masalah pribadinya.


Sampai di parkiran Nael memasuki mobilnya dan Sabrina langsung mengambil posisi di sebelahnya dan memasang sabuk pengaman.


Dengan hati-hati Nael mulai menjalankan kendaraannya sambil melirik Sabrina yang sudah nyaman dengan duduknya.


"Sabrina, ada yang harus Aku sampaikan padamu karena Kamu sudah Aku anggap teman baik seperti hubunganmu dengan Andari dulu sampai sekarang," ucap Nael memulai bicara.


Sabrina mencoba menyerap semua yang di ucapkan Pak Nael dan berpikir siapa yang pernah di obrolkan kecuali Bu Andari. sepertinya orang lain

__ADS_1


tak pernah jadi topik obrolan mereka.


Sabrina mulai bisa sedikit menarik benang merah dari apa yang di sampaikan Pak Nael.


"Semua tentang Andari yang pernah begitu dekat denganmu juga sebagai sahabat mu" ucap Pak Nael lagi.


"Ada apa dengan Bu Andari?"


"Ada kisah yang Aku simpan sendiri dari dulu hingga sekarang. Aku akan sedikit cerita kepadamu tentang Andari dan kisah yang tak pernah terungkap di hatiku. Aku dari dulu adalah pengagum seorang Andari dari saat Kami bekerja bareng di sini sebelum Aku berangkat untuk memperdalam menimba ilmu sekolah lagi di luar negeri berapa tahun lalu dan menyelesaikan kuliahku di sana dan satu lagi saat itu perasaanku hanya ada dan terpendam di dalam hati saja karena Andari sudah berkeluarga mungkin Kamu mengerti bagaimana perasaanku saat itu?" Cerita Pak Nael diakhiri dengan pertanyaan membuat Sabrina kaget juga bingung karena belum sepenuhnya mencerna apa yang di sampaikan Pak Nael.


Sabrina hanya bengong mendengar penuturan atasannya disampingnya antara percaya dan hanya perkiraan saja.


"Mungkin Kamu heran dengan perasaanku, sama Aku juga tak percaya. Hingga Aku pulang dari luar negeri tanpa tahu kabar Andari di sini yang sebenarnya lalu orangtuaku menyerahkan perusahaan ini di pundakku dan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku bertanya ke mana Ibu Andari? yang ada di pikiranku pasti Bapakku akan menyerahkan tampuk pimpinan itu kepada siapa lagi selain andalannya sejak dulu yaitu seorang Andari." Nael berhenti bicara dan mengoper kopling karena belok ke arah restoran yang di tuju, lalu memandang jam tangannya.


Sabrina masih diam mencoba mencerna dengan otaknya semua ucapan atasannya itu.


"Maksud Pak Nael?"


"Singkat cerita Andari adalah orang yang Aku cintai sejak dulu, kini Aku merasa punya kesempatan untuk merealisasikan semua itu tanpa melihat apapun status yang kini tengah di sandangnya."


"Oh, alah Pak Nael? pantesan banyak bertanya soal Bu andari padaku juga merubah tatanan ruangan kantor percis seperti saat dulu Bu Andari menempatinya," jawab Sabrina merasa senang sepertinya akan ada tali tersambung kembali sama Bu Andari dengan dirinya terlebih dengan atasannya.


"Sudah dulu ya, ceritanya nanti di sambung lagi, Gimana klien yang satu ini apa rewel nggak?" tanya Nael pada Sabrina.


"Aku belum terlalu kenal sama putrinya katanya yang mau mengenalkan putrinya yang pasti akan meneruskan mungkin nex generasi Pa Jordi. Putrinya itu baru kali ini mau bertemu katanya masih kuliah tapi baguslah sudah dikenalkan dengan dunia pekerjaan biar lebih bisa memahami seperti Pak Harry Darmawan Aku kagum terhadap kepemimpinannya sukses juga bisa mengarahkan putranya untuk bisa membawa perusahaan ini maju dan sukses juga menggenerasikan kepada Pak Nael sebagai putranya."


"Oh, jadi mau mengenalkan juga putrinya?"

__ADS_1


"Iya Pak."


"Produk apa yang memakai jasa Kita untuk selalu di iklankan?"


"Produk fashion Pak, Pak Jordi punya garmen yang ternama produknya lumayan telah banyak di kenal juga malah kabarnya putrinya ini yang mau jadi model iklannya," ucap Sabrina. Ucapannya membuat Nael kelihatan tertarik.


"Wow menarik juga," ucap Nael sambil turun dari mobil dan menguncinya lalu dengan gagahnya berjalan di jejer Sabrina yang sepertinya keteteran mengimbangi langkahnya.


Mall terbesar di kota ini, Nael sama Sabrina naik ke lantai sekian yang di janjikan tepatnya restoran elite dengan menu makanan sangat beragam terpampang di samping kiri kanan menarik minat setiap pengunjung yang melihatnya.


Sabrina tahu semua tempat tempat pertemuan big boss atasan mereka bicara bisnis dan kesepakatan kerja sama semenjak bersama Andari lalu bersama Pak Harry Darmawan kini sama Pak Nael.


Sampai di restoran Jepang yang di janjikan Sabrina lebih dulu mengenali Pak Jordi dan langsung mendatangi mejanya.


Pak Jordi yang lagi duduk berdua sama seorang gadis cantik mungkin itu putrinya yang akan di perkenalkan nya.


"Siang Pak! maaf sedikit telat ini Pak Nael pimpinan dan atasanku putra Pak Harry Darmawan yang sekarang memegang kendali perusahaannya."


"Oh, senang bisa bertemu Aku Jordi relasi lama Pak Harry Darmawan dan Ini Putri ku Yasmin."


Nael bengong juga Yasmin karena mereka merasa pernah bertemu dan sering diucapkan nama nama itu oleh Netty Adiknya sendiri.


"Kak Nael?"


"Yasmin?"


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2