Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Tafakur Andari


__ADS_3

"Ada apa cantik kok kelihatan sedih?" tanya Si Ikal sambil menatap Andari yang baru masuk ke ruangan bengkel pembuatan aksesoris dan meneruskan pekerjaannya yang di tinggal tadi.


"Nggak apa-apa Ikal hanya Aku lagi banyak merenung saja, atau mungkin tafakur diri seharusnya seperti itu." Andari berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Aku melihat ketidaknyamanan di matamu kenapa? apa karena hari ini hari senin dan Kamu puasa Cantik?"


"Tidak Kak, puasa sudah jadi kebiasaan ku Aku berusaha mendetoks tubuhku dengan berpuasa banyak manfaat selain ingin lebih baik lagi." Andari berusaha menutupi masalahnya.


"Barusan habis bertemu saudaramu? apa ada kabar tak baik?" selidik Si Ikal tak bisa di bohongi kalau Andari kelihatan jadi murung sejak datang dari bertemu seseorang yang mengunjunginya.


"Begitulah tapi semua bukan hal itu, ada hal lain yang menjadi ganjalan di hatiku Kak."


"Barangkali bisa Kita diskusikan siapa tahu ada jalan keluar?"


Andari memandang sahabatnya yang kini juga sedang bermetamorfosa menuju ke arah yang lebih baik lagi.(


"Itu masalahku Ikal tak baik mengumbar masalah sendiri."

__ADS_1


"Tapi siapa tahu dengan bicara bisa membantu sekiranya jadi jalan keluar walau dari pemikiran bodohku yang pasti pemikiran sederhana."


"Tidak Kak Ikal, Aku begitu menghargai saran dari siapapun tidak memandang itu keluar dari siapa tetapi mungkin kali ini aku juga merasa bingung dengan masalahnya. Padahal jujur secara pribadi mengganggu pikiranku.


"Sholat lah dulu dengan tenang. Diinginkan pikiranmu banyaklah beristighfar seandainya itu kabar tidak baik semoga semua cepat berubah seperti yang Kita harapkan."


"Ah Ikal, benar itu selalu ada ketenangan dari hati seorang sahabat sejati. Aku begitu emosi dan harusnya memang bersujud pasrah bukan malah mengikuti emosi." Andari menyadari semua kesalahannya.


Bukan seperti tadi dirinya malah berdebat dengan Ibunya Mas Nael yang sengaja datang dengan tujuan baik tapi penyampaiannya dirasa Andari kurang sopan.


Andari merasa salah meladeni semua ucapan Bu Rina Darmawan, tapi semua orang juga berhak membela diri kalau di rasa semua merasa tak di beri keadilan.


"Iya Kak makasih semuanya masukannya."


Si Ikal tersenyum ternyata se-bijaksana Andari yang menurut pandangannya religi, sabar, lembut dan begitu feminin bisa juga emosi.


"Kak, apa rencana Kak Ikal kalau nanti keluar dari sini?" tanya Andari saat mereka sama-sama membereskan hasil pekerjaan Andari berusaha mengalihkan pembicaraan dan topik obrolan mereka.

__ADS_1


"Aku? nggak punya tujuan atau mau apa juga ke mana. Biarkan seperti air membawaku hanyut dan tersangkut di mana biarlah. Aku tidak tahu keluargaku menerimaku kembali atau tidak walau Aku masih punya anak yang beranjak abg." jawab Si Ikal panjang kali lebar.


"Kalau keluarga Kak Ikal datang menjemput bagaimana?" Andari merasa heran dengan pemikiran sahabatnya itu.


Sesuatu yang mungkin berbeda dengan perasaan Dirinya, tapi semua balik lagi pada pribadinya masing-masing yang jelas sangatlah berbeda dengan rencana masa depannya.


"Kak Ikal ikut sama Aku kalau pulang nanti? mau nggak nanti Aku kasih pekerjaan?"


"Maksud Bu andari Aku bekerja gitu?


"Iya, Kak Ikal nanti Aku rekomendasikan sama Mas Nael siapa tahu ada lowongan pekerjaan di mana saja gimana?"


"Ya ampun Bu Andari senang banget rasanya walau belum kelihatan."


"Doain aja semua baik-baik dan lancar semua tujuan Kita.


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2