
"Sipir Hilda, tolong kasih ini ke kamar yang biasa," ucap dr Barry di depan kliniknya. Kebetulan Sipir hilda melintas di situ.
"Pada yang cantik itu Dok?" sambil senyum Sipir Hilda menatap bungkusan yang di sodorkan dr Barry di hadapannya.
Dr Barry menaikan mata dan mukanya sambil tersenyum.
"Tak di sangka ya sudah cantik pintar, baik, ramah dan satu lagi jago dalam mengkoordinir pekerjaan dan me-manage semuanya. Selintas biasa saja walau kelihatan mencolok diantara banyaknya warga binaan sini Aku juga jadi senang suka saja ngobrol sama Dia." Sipir Hilda malah sedikit cerita tentang Andari.
Dr Barry hanya tersenyum masih ada asa dalam dirinya bisa menyentuh hati Andari, walau pemandangan kemarin membuatnya kaget Andari bersandar di bahu seseorang semoga itu adalah keluarganya. Tapi seandainya bukan dr Barry akan memberikan pilihan yang berbeda dengan bijaksana membiarkan Andari memilih.
Bertemu Andari memandang, ngobrol dan saling mendengarkan saling tukar cerita dan melihatnya sehat adalah kebahagiaan tersendiri bagi dr Barry.
"Dokter tahu kalau Bu Andari sekarang begitu di segani, maaf seseorang yang selalu datang dengan alasan memberi proyek ke sini dan kerja sama dengan Kepala pimpinan Kepala Sipir Bu Yohana itu kata gossip pacarnya," ucap Sipir Hilda dengan hati-hati merasa kasihan juga sama dr Barry takut berharap terlalu banyak tapi pada akhirnya kecewa sendiri saat mendapatkan kenyataan Andari bersama orang lain.
"Aku sudah melihatnya Bu Hilda tapi perhatianku tak terhalang semua itu, biarlah semua apa adanya Karena Aku melihat di diri Andari ada sosok yang pernah dan masih Aku cintai sampai saat ini, Andari seperti Bunga mendiang istriku. Jiwaku merasa hidup kembali dan yang Aku berikan adalah semua yang di sukai Bunga istriku almarhumah semoga jadi kebaikan dan manfaat bagi Andari," ucap dr Barry dengan perasaanya sendiri.
"Ya ampun Dok, benarkah itu?"
"Begitulah Bu Hilda, semenjak Aku bertemu Bu Andari di sini hatiku yang beku dengan cinta di bawa mati istriku mulai terusik kembali seakan mengusik ketenangan jiwa ragaku, dan Aku merasa terpanggil untuk lebih dekat lagi Aku merasa itu adalah Bunga yang pernah jadi milikku kembali lagi."
"Maafkan Aku Dok, Aku
tidak tahu tadinya Aku berpikir dokter terlalu memaksakan diri makanya Aku bilang kalau gosipnya kini Bu Andari sudah punya pacar." Sipir Hilda bicara apa adanya.
"Tak apa Bu Hilda Aku hanya melakukan panggilan hati saja walau hasilnya tak seperti yang Aku harapkan tapi tetap berharap ada pertimbangan lain bagi Andari bisa memilihku, Aku merasa terbawa pada masa laluku yang telah tiada laksana mimpi bertemu Andari dan merasa kalau itu Bunga yang masih hidup yang pernah jadi milikku menceriakan hari-hariku dan mengisi kebahagiaan rumahtanggaku." Ada sedikit raut sendu di muka dr Barry. Tapi kelihatan begitu tegar padahal dalam hatinya menyimpan satu rasa dan harap cinta yang tak tahu bersambut atau tidak.
"Semoga dokter, Aku pamit dulu nanti di sampaikan sama Bu Andari ya titipannya." Sipir Hilda merasa sudah terlalu lama meninggalkan tugasnya dan ngobrol dengan dr Barry.
__ADS_1
"Bu Hilda tunggu, sampaikan pada Andari kalau Aku ada yang mau di sampaikan datanglah ke klinik ku barang sepuluh menit, Aku tunggu sampai waktu praktekku selesai jam lima sore."
"Baiklah Dok nanti Aku sampaikan tenang saja pokoknya Aku mendukung dokter!"
"Makasih Bu Hilda." Ada senyum di bibir muka tampannya yang masih saja berdiri di muka klinik nya.
Sipir Hilda menimbang apa kira-kira isi bungkusan kali ini, soalnya dari kemarin kemarin setiap ada kiriman Andari selalu membukanya dan kalau makanan langsung di makan bersama tapi kalau suatu barang Andari menyimpannya.
Untuk ke sekian kalinya dr Barry memberikan bingkisan dan bungkusan pada Andari ingin rasanya Sipir Hilda memberikan support pada Andari kalau dr Barry begitu baik dan bermasa depan cemerlang dan sama-sama sudah berstatus gagal berumahtangga dengan kasus masalah masing-masing.
Adakah keberanian yang dimiliki Sipir Hilda? entahlah.
"Rupanya kiriman lagi asyik... buat siapa Bu?" cerocos teman sekamarnya Andari sambil menyambut Sipir hilda yang tersenyum sambil memberikan bingkisan lumayan besar.
"Buat temannya yang cantik! mana Dia?"
"Oh alah, sepagi ini?"
Sipir Hilda balik lagi setelah memberikan bingkisan pada temannya Andari lalu berjalan ke arah bengkel aksesoris tempat semua warga binaan melakukan kegiatan.
Andari terlihat sedang melihat lihat hasil karya semua temannya memilah dan memeriksanya di etalase pajangan yang selalu di ganti dengan model baru di hasilkan. Sebagian warga binaan sedang bersih-bersih dan membuka jendela.
"Bu Andari, bisa bicara sebentar?"
"Oh, Bu hilda, ada apa Bu?"
"Aku menyampaikan titipan dr Barry di ruang kamarmu sudah diterima teman temannya."
__ADS_1
"Ya ampun apa lagi itu Bu ngerepotin saja," ucap Andari merasa tidak enak karena terlalu sering mendapat kiriman.
"Dr Barry senang mungkin bisa memberikan sesuatu padamu Andari, dan anggaplah itu kebaikannya yang ingin dibagi denganmu," ucap Sipir Hilda sambil berjalan melihat lihat semua produk hasil buatan tangan semua warga binaan di bawah arahan Andari.
"Tapi Aku merasa nggak enak Bu Hilda seolah Aku tidak mengerti apa yang tersirat dari semua yang diberikan tapi semua temanku merasa senang saja walaupun bagiku adalah beban yang mungkin harus dipertanggungjawabkan."
"Jangan terlalu jauh jadi beban memberi berarti Dia itu ikhlas Bu andari. Masalah lain ini itunya belakangan tapi tadi ada pesan juga di usahakan ya kalau dr Barry ada perlu sama Bu Andari ditunggu di kliniknya sampai pergantian sip jam 05.00 sore katanya."
"Ah, tuh kan Bu Hilda!"
"Nggak apa-apa biar ada kesempatan ucapkan terimakasih, tak salah juga bukan kalau bertemu?" ucap Sipir Hilda mengerti perasaan Andari dan tahu bagaimana harusnya bersikap di hadapan dr Barry.
"Nggak sih tapi Aku semakin nggak enak sama dr Barry terlalu baik dalam segala hal atau mungkin pada semua orang ya?"
"Pada semua orang baik juga, tapi kalau Bu Andari merasakan lebih artikan saja sendiri hehehe..."
Andari ikut tersenyum menanggapi jawaban Sipir Hilda.
"Aku bukan orang yang seperti dalam pandangan orang lain Bu Hilda, hidupku banyak masalah tapi Aku sempatkan datang ke kliniknya nanti siang apapun itu Sebenarnya Aku sangat mengerti tapi kenapa saat seperti ini begitu orang mengharapkan diriku?"
"Syukuri saja."
"Iya Bu Hilda."
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1