
Sesampainya di rumah Netty celingukan sepi memang biasanya juga begitu di rumahnya selalu tampak sepi.
Rumah besar yang hanya di huni enam orang sama sopir juga pembantu rumah tangga, kedua anaknya sudah beraktivitas diluar Nael bekerja dan Netty masih kuliah. Bapaknya masih aktif ke kantor otomatis hanya ada Ibunya sama Si Bibi di dalam rumah besar itu.
Mungkin Ibunya lagi mengurus tanaman anggrek di taman belakang atau lagi santai di teras samping kolam renang, atau mungkin juga lagi masak mencoba resep baru kue atau makanan apa saja yang di inginkannya.
Natty mengontrol ke ruangan-ruangan yang mungkin biasanya Ibunya ada di situ tapi nihil tak ada di manapun.
Hanya ada Si Bibi di dapur lagi beres-beres. Walau begitu Netty tak bertanya apapun pada Si Bibi berniat mencarinya sendiri tak membuat Si Bibi jadi ikut mencari atau mungkin Si Bibi tahu Ibunya ke mana.
Tinggal ke kamarnya mungkin Ibunya lagi istirahat sambil baca-baca majalah. Itu jadi perkiraan terakhir Netty diantara kebiasaan sehari-hari Ibunya.
"Ibu?"
"Bu!"
Dalam kamar tak ada juga akhirnya Netty mau naik ke kamarnya yang berada di atas.
Ibunya lagi turun di tangga Netty tertegun memandangnya, pantesan di cari ke mana-mana Ibunya nggak ada, Ternyata dari atas. Ngapain Ibu dari atas? sesuatu yang jarang Ibunya naik ke lantai dua rumahnya karena di lantai dua hanya ada kamar Netty sama Nael juga satu lagi kamar tamu, ruang keluarga, ruang fitnes, ruang baca, dan ruang keluarga. Ibu sama Bapak menempati kamar utama di ruang bawah.
"Sudah pulang Sayang?"
__ADS_1
"Iya Bu, malah dari tadi tapi mampir dulu ke kantor Kak Nael," jawab Netty sambil berjalan ke arah sofa keluarga.
"Oh ya, sama temanmu itu ya?" senang kelihatan raut muka Ibunya mendengar Netty mampir ke kantor Kakaknya.
"Nggak Bu, Netty sendiri saja karena nggak boleh sama Kakak ajak teman katanya lagi sibuk."
"Oh, alah segitunya Kakakmu memberi alasan? padahal Ibu pengen denger kalau Kakakmu itu jalan bareng temanmu itu atau siapa saja," keluh Ibunya sambil duduk di ruang keluarga dan meminum minumannya yang masih tersisa di meja.
Netty ikut prihatin mendengar kemuraman dan keluhan juga harapan Ibunya akan perubahan pada diri Kakaknya, Netty tahu Kakaknya Nael punya pacar dan sekarang sedang menjalin hubungan serius tetapi apa tanggapan Ibu juga Bapaknya? Seandainya dirinya kasih tahu siapa pacar Kak Nael mungkin menolak atau marah? entahlah.
"Ibu habis ngapain di atas?" ucap Netty sambil memandang Ibunya.
"Aneh di beresin nggak boleh, di beresin sendiri enggak. Banyak rahasia banget tuh Kakak Bu."
"Cowok biasanya begitu alasan Kakakmu kalau di beresin malah barangnya susah di cari nanti katanya, nggak apa-apa biarin begitu enaknya mungkin nanti kalau sudah punya istri akan lain ceritanya."
"Ibu boleh Netty sampaikan kabar gembira soal Kak Nael tapi apa ini kabar gembira atau menyedihkan bagi Ibu," ucap Netty sambil bersandar di sandaran sofa.
"Apa itu Sayang? bicaralah mungkin bisa buat Ibu bahagia dan senang?"
"Bu maaf sebelumnya kalau Netty yang bicara bukan Kak Nael sendiri, tapi sepertinya sama saja hanya Ibu tidak langsung tahu dari orangnya."
__ADS_1
"Apa maksudnya Sayang?"
"Ini semua soal Kak Nael sekarang Kak Nael sudah punya pacar Bu dan berhubungan serius dengan seseorang," ucap Netty agak meragu.
"Subhanallah, sama temanmu yang mana?"
"Bukan sama temanku Bu, tapi Ibu harus siap kalau Kak Nael menjalin bubungan dengan Mbak Andari."
"Apa? Andari mana?"
"Andari itu yang dulu kerja di perusahaan Kita Bu?"
"Ah, tak mungkin Andari masih di Lembaga Pemasyarakatan!"
"Ibu, boleh tanya sma Kak nael kalau tidak percaya. Aku hanya bicara dan menyampaikan saja."
Deg! satu tonjokan di jantung dan perasaan Ibunya seketika terbayang satu sosok tunggi langsing yang cantik juga pintar dan semua kekaguman itu berubah sekejap setelah Andari punya kasus pidana sampai di vonis di persidangan.
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1