Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Bayangan menghirup dunia luar


__ADS_3

"Ndari, apa yang di sampaikan


Ibuku kemarin di sini Dia bicara menyakitimu dengan bicara tak terkontrol ya? Aku hanya bisa meminta maaf mungkin perlu adaptasi lagi bagi Ibuku juga Kamu biar nanti bisa saling memahami dan menerima." Nael memandang wajah cantik di hadapannya yang kelihatan murung.


Lama Andari bisa menjawab dan menelan semua kepahitan dari ucapan Ibunya Mas Nael. Berpikir setiap apa yang akan diucapkannya berharap tidak membuat hati Mas Nael jadi gelisah dan lebih jauh malah mengganggu pikirannya.


"Mas Nael jangan pikirkan itu, tak ada pembicara apa-apa Ibu hanya meyakinkan saja mungkin kalau Aku baik-baik saja di sini selebihnya bukan hal penting yang Kita obrolkan," jawab Andari berusaha setegar dengan tidak memberikan jawaban yang sebenarnya.


"Andari, Aku yakin Kamu menyembunyikan semuanya menutupi semua kejelekan Ibuku, ketidakjujuran yang Kamu perlihatkan semakin meyakinkan Aku kalau Kamu memahami isi hatiku! Begitu menghargai Aku."


"Mas, apapun yang Ibumu katakan dan lakukan pasti karena sayangnya pada Anaknya. Aku tidak berhak membencinya. Mereka menginginkan yang terbaik bagi putranya semua itu Aku sadari Aku menyerahkan kembali semua itu kepada Mas Nael berpikirlah lagi apa cinta di antara Kita adalah kejujuran dari hati? Dan itu layak Kita perjuangkan?"

__ADS_1


"Andari, Aku memutuskan pergi dari rumah bukan berarti Aku membenci orang tuaku atau Aku datang ke sini hanya membelamu demi rasa cinta yang ada dalam dadaku, sungguh bukan itu tidak seperti itu Ndari. Aku hanya ingin meyakinkan kepada dunia kalau semua orang berhak atas hidupnya. Dan berhak meraih kebahagiaanya sendiri kalau kebahagiaanku ada bersamamu apa Aku salah?" dengan tegasnya Nael sekali lagi membuat hati Andari meleleh.


Setitik airmata jatuh dari bola mata Andari tak sanggup berkata-kata lagi, hatinya merasa kalau keyakinan hatinya kini tidak salah. Mas Nael begitu dalam mencintainya dan Dirinya juga seiring waktu berjalan setiap satu bulan sekali bahkan kurang dari waktu itu mereka bertemu semakin subur rasanya rasa cinta yang tadinya Andari tidak berpikiran akan sejauh ini.


"Aku mencintaimu Andari! Aku melihat rasa itu juga dari sorot matamu. Tak ada alasan apapun di antara Kita selain satu harapannya Kita bisa menyatukan rasa itu." Sorot mata Nael tak sanggup Andari tatap.


"Jangan menangis lagi ada Aku yang siap jadi bagian hidupmu jadikan Aku sandaran tempat curahan keluh kesahmu, juga jadikan muara ternyaman dengan harapan semoga saat itu akan tiba, Kita bangun kembali kebahagiaan yang telah terenggut dan waktu yang terbuang hanya jadi harapan kosong di hatiku."


"Aku telah mengurus semuanya semua sedang berproses walau kepala LP ini begitu sayang kepadamu dengan segala inovasi yang telah Kamu dedikasikan selama di sini tetapi Aku lebih menyayangimu Andari." Suara Nael hampir tak terdengar berbaur dengan gemuruh kebahagiaan dalam dada Andari.


Andari tersenyum kaku sambil membuang mukanya menyembunyikan perasaannya yang sedih dan sekaligus gembira. Sedih saat harus berhadapan dengan kata berpisah dengan empat teman akrabnya Si Ikal, Si Kekar, Si Tomboy dan Si Tinggi juga tetangga sel lainnya ada dokter Barry yang terlalu baik pada dirinya juga menyimpan sejuta harap yang tak bersambut ada kepala LP Yohana juga Sipir Hilda semua telah menjadikan catatan tak terhapus dari memori hati Andari. Bahagianya betapa ingin Andari cepat bebas bisa pulang melihat dan memeluk putrinya Amanda yang selama ini tak lepas ada di hadapan mukanya selalu jadi bayangan yang tak pernah hilang.

__ADS_1


"Mas, benarkah saat itu akan tiba? Benarkah Aku akan bertemu lagi dengan putriku yang kini beranjak gede?" isak Andari dengan airmata hangat melewati pipinya.


"Menangis lah untuk kebahagiaan, Aku sudah memastikan lamanya satu bulan dan cepatnya dua mingguan Aku akan menjemputmu."


"Rasanya bagai mimpi Mas, mimpi yang sangat panjang. Masih teringat kala Aku masuk pertama kali di LP ini, Ya Allah begitu cepat waktu berjalan."


"Kini Amanda kelas lima pasti sama sangat merindukan Mamanya."


Andari tersenyum walau getir, matanya mandang langit-langit ruang pertemuan sambil membayangkan wajah cantik putrinya.


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2