
"Ndari, semua keseriusanku sudah Aku penuhi lihat semua material sudah ku kirim tinggal keseriusan Kamu di sini memberdayakan semua temanmu dan memaksimalkan kemampuanmu di sini." ucap Nael dengan muka bahagianya.
"Mas Nael, sungguh semua ini bagai mimpi bagiku, tak ada kata lain selain terima kasih Aku ucapkan tiada terhingga juga syukurku kepada Yang Maha Kuasa karena Aku masih diberi kesempatan untuk bisa berkarya dan tidak hanya meratapi nasib menanti waktu detik demi detik di sini tetapi dengan kebaikan Mas Nael Aku bisa keluar dari rasa hanya menyesali diri tapi dengan kegiatan yang berarti."
"Jangan ucapkan terimakasih bukankah di antara kita sekarang sudah menjadi relasi? Aku menanamkan modal di sini berharap upayakan semua modal itu kembali karena Aku tidak hanya ingin terima kasih darimu Aku hanya senyum itu selalu ada di bibirmu!"
"Ah, Mas Nael bisa saja, Insyallah semua pasti dan harus kembali. Aku akan merasa semua ini menjadi tanggungjawabku yang harus Aku presentasikan suatu saat nanti," jawab Andari menenangkan hati Nael.
"Bagus! manajer Andari masih terlihat kepintarannya, Satu lagi senang rasanya membuat Kamu senang Ndari. Dua minggu ke depan Aku akan mengambil hasil karyamu di aksesoris dan tiga bulan ke depan Kamu harus segera menyetorkan hasil budidaya Anggrek juga tak sabar Aku menunggu tiga bulan yang akan datang walau dua minggu sekali Aku akan mengunjungimu dan memantau jalannya kerjasama ini."
"Baik Mas Nael, makasih juga ini kerudungnya Aku pakai sekarang sangat bagus warnanya Aku suka banget." Andari mengucapkan kata itu sambil mengelus ujung kerudung yang di kenakan nya.
"Sama-sama Ndari, Aku senang mendengar dan melihatnya. Satu yang belum Aku realisasikan yaitu Aku belum ada waktu ingin menengok dan bertemu Anakmu, ada rasa kangen di hatiku saat itu bertemu masih kecil pasti kini secantik kamu Ndari."
Deg! Nael kelihatan bukan main-main dengan sikap dan perasaannya. Terlihat keseriusannya semua pasti dilakukannya tak ada yang bisa melarang.
"Ya Pak Nael, kerinduanku melebihi apapun pada Amanda. Tapi Aku selalu penghibur diri sendiri kalau suatu saat pasti akan bertemu dan bisa memeluknya kembali," ucap Andari lirih dengan suara tertahan.
"Aku janji akan mengunjunginya secepatnya, walau sebenarnya ingin menjadi pengganti dirimu sebagai pengobat kerinduan itu."
"Hanya ada doa-doa yang nggak pernah putus yang selalu Aku panjatkan demi kebaikan hidupku dan juga Anakku semoga Amanda juga mengambil hikmah dari ketidakbersamaan denganku kini menjadi mandiri dan suatu saat semoga bisa menerima Aku sebagai Ibu apa adanya."
__ADS_1
"Pasti Ndari. Ada salam dari Sabrina dan Aku sendiri mungkin harus lebih banyak berterima kasih kepada Sabrina karena Dia yang telah memberitahukan keberadaanmu di sini dan juga ngobrol tentangmu tentang keinginan meminta buku-buku referensi yang selama ini Kamu harapkan."
"Waalaikum salaam, Ya ampun kenapa Sabrina jadi cerita saas Nael? Aku jadi malu!"
"Tapi Aku bersyukur Ndari karena dengan mendengar pembicaraan Sabrina hatiku jadi terbuka dan sekarang Kita bisa saling bertemu."
Andari diam merasa setiap ucapan Nael menyiratkan perasaanya, Andari merasa tidak pantas saja mengukur diri dan berkaca siapa dirinya kini.
Tapi Nael seperti tidak perduli setiap datang pasti ada saja sebungkus barang atau makanan yang Andari begitu serba salah menerimanya dan barusan terdengar ingin mengunjungi putrinya Amanda haruslah dirinya larang? atas dasar apa kalau Andari melarangnya? Apa pantas dirinya juga melarang seseorang yang telah memberikan beribu kebaikan dan setitik harapan dalam hidupnya?
"Sampaikan salam kembali pada Sabrina mungkin Dia begitu sibuk atau lazimnya seorang sahabat akan ada masa bosannya bertemu Aku di sini. Aku memakluminya tapi Bagiku Sabrina adalah teman terbaik yang Aku miliki."
Andari lagi lagi mengerti maksud ucapan Nael, Dirinya hanya seorang janda dengan satu anak lagi menjalani kasus pula apa yang bisa di harapkan? tapi Andari berkeyakinan kalau suatu saat Nael juga akan sampai pada titik bosan menunggu, mengalami kejenuhan menanamkan perasaan pada Dirinya.
Semua itu perlu pembuktian, diawal Nael mungkin begitu semangat tapi dihadapkan pada waktu yang masih panjang masih berapa tahun harus Andari jalani keberadaannya di dalam sel ini mungkin secara perlahan Nael juga akan dengan pelan-pelan mengundurkan diri dan menyadari kesalahannya. Tetapi kini Andari berusaha menyambut baik siapapun yang berbuat baik apalagi sekarang bukan hanya hubungan antara mitra kerja tapi hubungan relasi ada tanggung jawab yang harus Andari jalankan sebagai kewajiban pemegang kendali modal yang dikeluarkan Nael bukan sedikit untuk kelancaran operasional di sini.
"Makasih atas semuanya Mas Nael," ucap Andari kehilangan kata-katanya.
"Kamu sudah terlalu banyak mengucapkan kata terima kasih, bolehkah Aku katakan sesuatu agar Kamu tidak selalu merasa bersalah dan mengucapkan terima kasih setiap waktu padaku Andari?" tanya Nael dengan senyum manisnya.
"Apa itu Mas?"
__ADS_1
"Jaga satu rasa yang Aku simpan selama ini padamu dan terapkanlah hatimu dengan keyakinan kalau Aku adalah sandaranmu kini."
Akhirnya kata itu keluar juga, Andari hatinya menghangat semua perkiraannya selama ini bukan hanya tersirat tapi terbukti perasaan Nael adalah cinta.
"Apa Aku akan bisa menjaganya? mungkin bisa tapi Aku merasa takut setelah rasa itu ada di hatiku, Aku kecewa dengan perasaan itu sendiri saat menyadari Kamu tak pantas buatku Mas Nael!"
"Siapa yang bilang nggak pantas? katakan! semua rasa adalah fitrah bagi siapapun, ke mana kita tujukan arahnya adalah satu anugrah, Aku akan sabar menunggumu Andari dan penantianku bukan hal yang akan jadi sia-sia."
"Baiklah Mas Nael, terlalu dini kalau kita bicara serius sekarang, Aku memegang dan menerima amanah satu rasa di hatiku, Aku katakan kalau Aku juga tak bisa menolak pesonamu, Kalau bicara cinta terlalu baper mungkin karena Aku bahkan ABG lagi, tapi mungkin rasa sayang yang ada di hatiku untuk Mas Nael!"
"Ah, Andari terimakasih Aku catat hari ini di pertemuan ini adalah hari masa depan Kita. Biarkanlah bunga-bunga itu tumbuh subur di hati Kita dan Kita berdo'a semoga suatu saat sampai pada masa di mana kita bisa memetiknya dengan kebahagiaan."
Andari merasa sakit dalam dadanya mendengar kata puitis dari bibir Nael.
Jauh dari perkiraannya dirinya bisa menjalin kasih jarak jauh dan dalam bentangan waktu yang akan sangat panjang dalam penantiannya.
"Andari, tersenyumlah tatap masa depanmu di mataku kini, anggap saja Aku masih menimba ilmu di luar negeri dan suatu saat akan datang menjemput kebebsanmu!"
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1