Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Darah buat Ibu


__ADS_3

"Ibu Maafkan Nael, maafkan Andari juga. Bu kami datang sudah jadi suami istri." Nael mendekati ranjang di mana Ibunya masih belum sadarkan diri berbaring di tempat tidur dengan nafas di bantu selang oksigen.


Nael perlahan duduk sambil meraih tangan Ibunya yang di pasang selang infus, Andari mematung di samping Nael berharap Ibu mertuanya bisa menyadari keberadaannya dan mendengar ucapan Nael suaminya.


Netty mengusap air matanya di samping Harry Darmawan yang hanya diam entah apa yang ada dalam pikirannya.


Beban pikiran terlalu mendalam membuat pikirannya tidak fokus. Harry Darmawan membiarkan Nael putranya di samping Ibunya mungkin setelah membaca pesan dari Netty langsung mereka ke Rumah Sakit entah sudah atau belum melewati malam pengantin mereka.


Tak bisa di pungkiri Andari memang punya daya tarik tersendiri selain aura cantik juga pintar dalam segala hal pantas saja Nael putranya kepincut tak berpikir ulang untuk tetap lanjut mempersuntingnya walau banyak tantangan sampai kini dari Ibunya dan lamanya waktu menanti Andari bebas. Dulu karyawan inti yang sangat diperhitungkan dan kini jadi menantunya.


Ada kebahagiaan di hati Harry Darmawan walau semua itu belum sepenuhnya karena Istrinya sampai saat ini belum merestui hubungan pernikahan mereka.


Mungkin dengan berjalannya waktu semua akan menemukan titik akhir, Rina Darmawan cair hatinya bisa menerima Andari apa adanya seperti putranya Nael yang mencintainya.


Datang dokter diiringi suster saat mereka hening dalam diam pikiran masing-masing. Harry Darmawan maju dan Andari mundur Nael bicara sama dokter dengan semua keluarga.


Dokter memberitahukan analisanya kalau Rina Darmawan begitu lemah dan saat ini lagi kritis.

__ADS_1


Rina Darmawan harus transfusi darah untuk melewati masa kritisnya, semua keluarga berunding tapi tak ada kesamaan yang cocok menurut medis diantara suaminya Harry Darmawan, Nael putranya dan juga Netty putri bungsunya.


Mereka berusaha menghubungi badan terkait untuk bisa memperoleh sumbangan darah tapi sampai siang ini kata dokter lagi kosong kecuali ada koneksi di luar kota.


Saat itu Andari tampil, mengerti kalau dirinya sehat dan waktu masa di dalam lembaga pemasyarakatan selalu bakti sosial menyumbangkan darah untuk kemanusiaan.


"Ambilah darahku dok, sepertinya sama golongannya sama Ibu Aku sehat hanya kurang tidur saja malam tadi itu bukan masalah," ucap Andari di hadapan Nael suaminya yang dari tadi mendengarkan pembicaraan keluarga suaminya.


Nael tertegun tak bisa berucap apapun selain mereka berpelukan merasa ada jalan keluar untuk permasalahan keluarganya.


"Sudah jadi kewajiban semua orang memprioritaskan keluarga Pak, hanya pesanku jangan sampaikan ini pada Ibu biarlah Ibu dengan pandangannya sendiri karena Aku melakukannya bukan untuk menarik balas budi dan merubah pandangan seseorang dan lain-lainnya tapi Aku ikhlas." Andari menyampaikan pandangannya.


Harry Darmawan sekali lagi merasa kagum dengan menantunya walau jalan keluar sudah di temukan semoga Istrinya menyadari Kebalikannya tapi Andari lebih memilih merahasiakan sumbangan darahnya.


Seperti drama yang mengharukan tapi faktanya seperti itu mungkin jalannya akan begitu semua berjalan dengan baik. Andari sama Nael di suruh pulang istirahat Harry Darmawan dan Netty menunggui.


Kabar gembira di sore hari pingsan yang seperti koma Rina Darmawan mulai menunjukkan titik peralihan memperlihatkan perubahan baik mulai sadar dan bersuara dengan tetap memanggil nama Nael putranya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Ya Allah Pak, apa Aku masih hidup?" dengan suara lemah Rina Darmawan ingin mengusap mukanya tapi ada selang infus yang menghalangi.


"Bersyukurlah Bu, Ibu masih di sini bersama Bapak dan Netty." Harry Darmawan mengusap kepala Istrinya hatinya begitu terharu.


"Mana putra Kita Pak? Ibu mau mendengar suaranya," ucap Rina Darmawan saat membuka mata tak melihat putra kesayangannya ada di situ.


"Tadi disini biarkan istirahat dulu malam nanti ke sini lagi."


"Sayang telepon Kakakmu Ibu mau melihatnya dan bertemu," ucap Rina Darmawan lagi pada Netty.


"Baik Bu, tapi Ibu tak apa-apa kalau Kak Nael datang sama Kak Andari nanti ke sini?"


Rina Darmawan tak menjawab hanya airmata dari ujung bola matanya menetes, entah apa yang ada di pikirannya ikhlaskah kini setelah putranya tetap menikah dengan Andari tanpa restunya?


********


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat

__ADS_1


__ADS_2