Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Perhatian lain


__ADS_3

"Mas apa Mas Nael yakin bisa melakukannya?"


"Apapun akan Aku coba dan harus bisa yang belum bisa Aku menjadi suamimu dan menjadi Bapak bagi Amanda," jawab Nael sambil mengusap kepala Andari.


"Ah, Mas suka ke mana-mana aja!"


"Andari, asimilasi bagi warga binaan bisa di ajukan tapi pihak LP juga harus melihat seberapa layak semua itu di berikan dengan ketentuan dan aturan tentunya, tidak sembarangan dan melihat potensi yang dimiliki warga binaan itu sendiri apalagi Kamu memiliki Anak yang masih harus dalam pengawasan pokoknya suatu saat sampai pada waktunya Aku yang akan mengurusnya. Hanya jangan ada masalah indisipliner selama di sini." Nael mencoba bicara serius.


"Baik Mas, sepertinya secercah semangat baru yang Mas Nael bawa padaku kali ini, makasih ya untuk segalanya," ucap Andari merasa senang kini memiliki seseorang yang rutin datang bukan hanya menyibukkan dirinya, tapi memberikan support luar biasa dengan segala harapan yang sepertinya Nael tahu celah mana yang akan ditempuhnya kini Andari ingin melihat seberapa serius Nael memperjuangkan cintanya.


"Andari jujur Aku suka senyum mu, semua yang ada di dirimu yakinlah kalau Kita bisa melewati semua itu." Nael menatap Andari dengan tatapan sulit di mengerti Andari.


"Mas, maaf diantara Kita sudah ada jalinan walau semua itu sulit Aku percaya. Takut Mas dengar dari siapapun orangnya sebaiknya Aku bilang duluan jadi tidak menimbulkan kecurigaan apapun diantara Kita."


"Maksudmu apa Ndari?"


"Ada satu dokter namanya dr Barry Dia perhatian banget padaku Aku kenal saat pertama datang ke sini kala itu Aku sakit, Dia dokter di klinik LP ini." Andari mencoba jujur ada perhatian lain selama ini pada dirinya.

__ADS_1


Nael diam, hatinya mulai terusik banyak kemungkinan yang akan terjadi dan mungkin saja terjadi tetapi Nael yakin Andari punya pilihan dan pertimbangan sendiri walau tidak yakin cuman itu atas dasar tebakan saja.


Kalau sering bertemu, bisa ngobrol semua rasa bisa saja tumbuh apalagi dokter itu tinggal di wilayah di mana Andari juga tinggal di situ.


"Apa dokter itu menyiratkan satu rasa padamu Ndari?"


Andari mengangguk membuat hati Nael gamang.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Seperti pada Mas Nael juga belum bisa meyakinkan diriku sendiri, Aku banyak ngobrol saat dulu tinggal di ruang perawatan sampai satu hari mengalami kejenuhan yang Aku pikirkan adalah kegiatan yang bisa bermanfaat. Dari dokter Barry itu setelah shalat subuh Aku selalu meminjam komputer di ruang prakteknya untuk browsing apa yang Aku inginkan, tetapi itu tidak berlangsung lama karena setelah itu datang Mas Nael dengan buku-buku yang menurutku lebih mudah diingat."


"Nggak Mas, kan sekarang Aku begitu sibuk mengurus semua proyek minimal kontrol semua pekerjaan teman-temanku menjadi QC semua produk yang di hasilkan."


"Andari Aku percaya padamu bisa memegang janji hatiku, Aku tidak mau ada orang lain yang mengusik Kamu di sini Aku akan berjuang dengan kemampuanku bisa memasyarakatkan Kamu di satu per tiga masa hukumanmu Aku akan serius padamu satu janji saat Kamu bisa keluar Aku akan langsung melamar mu!"


Andari diam, begitu ingin cepat waktu berlalu dan memberikan perasaan yang pantas Nael terima.

__ADS_1


"Apa bentuk perhatian dokter itu?"


"Terlalu banyak Mas."


Nael terhenyak, memang Andari pantas mendapat perhatian dan pasti banyak orang yang suka dimanapun Dirinya berada. Andari cantik, menarik, baik, sopan dan pintar dalam banyak hal.


"Bisa kamu tolak semua yang Dia berikan termasuk perhatiannya?"


"Dr Barry belum mengatakan apapun tapi semua sudah bisa Aku tebak arahnya ke mana."


"Jaga jarak, hindari pertemuan Aku jadi merasa tak tenang!"


"Tadi pagi dr Barry mengirim sesuatu padaku, Aku merasa nggak enak kalau harus mengembalikan semuanya dan semua itu Aku tahu itu bentuk perhatiannya. Bagaimana sikapku seharusnya Mas?"


"Jujurlah!"


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2