
Monik sama Yasmin berpisah di parkiran menaiki kendaraannya masing-masing setelah sesaat mengibrol sambil duduk di kursi taman pinggir pelataran parkir menyisakan dongkol di hati Monik.
'Sial Si Yasmin tadinya sudah mundur malah maju lagi maunya apa tuh Anak? emang Gue takut apa bersaing sama Lo?' Monik bermonolog dengan dirinya sendiri. Sedikit kesal dan ada rasa di tantang juga sama temannya yang satu ini.
"Gue bukan orang yang mudah menyerah walau hambatan dan saingan Gue berat lihat saja jadi semangat tempur akhirnya. Pokoknya Gue harus dekat dulu bagaimanpun caranya gengsi kalau Gue harus kalah dan mengalah sama Si Yasmin. Yasmin boleh saja lebih bisa dekat karena relasi dan partner kerja Bapaknya tapi Lihat saja vue punya truk tersendiri buat menaklukan gunung es Nael tampan itu.
Si Netty kemana lagi tuh Anak nggak masuk kelas hari ini jangan jangan pacaran terus syukur-syukur kalau di rumah biar Gue samperin juga sekarang... Hati Monik merasa sedikit panas saat Yasmin yang notabene sahabatnya menyatakan suka juga sama Nael kakaknya Netty itu.
Gue harus lebih gigih pokoknya gimanapun caranya.
Monik meraih ponsel dan menyambungkannya.
"Hai, Lo di mama Net?"
"Di rumah, kenapa Mon ada apa?"
"Harusnya Gue yang tanya Lo kenapa nggak masuk hari ini?" jawab Monik.
"Hehehe... malas panas, Gue kesiangan kalau pun pergi ke kampus pasti telatnya banyak."
"Lagian Lo pacaran melulu malamnya jadi kesiangan!"
"Kok Lo tahu, kayak dikin saja Mon?"
__ADS_1
"Prediksi saja tapi secara analisa seperti mendekati ilmu pasti, karena biasanya yang kesiangan tidurnya malam kalau habis pergi pergi habis begadang atau pacaran."
"Alah sok tahu aja Lo, terus Lo dah pulang ini Mon?"
"Baru mau jalan, Lo mau dikirim apa biar Gue mampir ke rumah Gue mau curhat sama Lo!"
"Tumben lo baik biasanya Hue yang dipalak melulu!" jawab Netty sambil tertawa.
"Baik lah kam
N Lo mau jadi adik ipar Gue makanya dukung dong, biar kebaikan gue terus Lo rasakan."
"Hahaha... kebaikan pamrih itu Monik! tapi Gue dukung siapapun yang mau jadi Kakak ipar Gue."
Netty tertawa mendengar ucapan Monik yang ngebet sama Kak Nael padahal Netty tahu Kakaknya sudah punya pilihan sendiri yang gak bisa di tolak lagi. Mbak Andari sepertinya sudah jadi pilihan Kak Nael walau hubungannya ditentang kedua orangtuanya.
Sedih rasanya dan merasa bersalah pada sahabatnya Monik yang terlanjur jatuh hati sejak di perkenalkan pada Kakaknya waktu itu.
Netty tidak tahu kalau Kak Nael sudah menjalin hubungan serius sama Mbak Andari, kalau tahu begitu yak akan mengenalkan Monik juga Yasmin sama Kak Nael.
Deru mobil Monik di halaman sama Si Bibi yang menutup pintu pagar menyadarkan hati dari lamunannya sekarang wanita datang ke sini haruskah dirinya berterus terang atau tidak sama sekali biarlah tahu dengan sendirinya apa nanti dirinya tidak disalahkan seandainya membiarkan perjuanganmu untuk mendekati Kak Nael.
Netty keluar ke teras dan Monik sudah menjulang di hadapannya.
__ADS_1
"Nih! Gue beli makanan makan yuk?" Monik menyodorkan box makanan pada Netty yang tertawa menyambutnya.
"Kakak Lo ada?"
"Ada, tapi mungkin adanya di kantor!" Monik merengut mendengar candaan Netty.
"Semangat banget kerjanya Kakakmu Net?"
"Iya dong, laki-laki kan tulang punggung beda sama Kita yang hanya tulang rusuk, nanti Gue telephon deh tanya bisa
pulang dulu nggak sore ini?
"Nih pakai ponsel Gue biar Kakakmu percaya ada Gue di sini."
"Nggak apa-apa Mon pakai hp Gue aja takut nggak diangkat. Paling kalau pulang Kak Nael pasti sudah pulang jam segini."
Monik terlihat senang mendengarnya.
Netty menyambungkan telepon pada Kakaknya bicara sebentar lalu menutupnya lagi.
"Kak Nael pulang lagi di jalan!"
********
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat