
Mereka makan dengan duduk berdampingan, Netty kebanyakan bengong dan tidak fokus selalu mencuri pandang pada Ricko yang telah membuat dirinya panas dingin dengan ciumannya yang begitu tiba-tiba.
Ricko juga merasakan hal sama walau itu bukan ciuman pertamanya, tapi saat dirinya mencintai dengan perasaan dewasa hanya pada Netty semua begitu berharap ini cinta terakhirnya.
"Minum Sayang, masih terasa ya? tolong jangan bilang Bapakmu nanti kalau sampai tahu bisa bisa batal Aku di suruh serius sama Kamu!"
Netty tersenyum sambil mencubit pinggang Ricko, mukanya merona merah mau menolak tapi tak bisa untuk mengelak akhirnya diam dan merasakan bagaimana ciuman pertamanya.
Ingin rasanya Netty protes dengan bulu bulu yang terasa kasar di wajah mulusnya, tapi walau begitu tatap merasakan sensasi luar biasa dan pengalaman pertama.
"Sudah makannya, kok sedikit?"
"Lagi diet!"
"Sejak kapan?"
"Sejak tadi."
"Nggak usah diet sudah cantik kok Ricko bercanda membuat Netty memonyongkan bibirnya.
Habis makan mereka memilih dua cincin yang bertahtakan permata indah dan semua di serahkan pada Netty soal pemilihannya yang pasti dan terpenting bagi Ricko adalah cukup di jarinya.
Semua di pesan dalam waktu paling lama tiga hari semua bisa selesai dengan hasil yang maksimal.
Setelah mendapatkan kesepakatan Ricko mengantar Netty pulang sambil mau memberitahukan kalau dirinya mau mulai serius dengan Netty pada Pak Harry Darmawan dan sudah memesan cincin bila suatu saat tunangan nanti di setujui.
Sampai rumah Netty, Ricko langsung menyalami kedua orang tua Netty yang sudah ada di rumah lagi menikmati suasana sore duduk di taman di pinggir kolam renang Pak Harry Darmawan sambil membaca koran sore di temani istrinya dengan secangkir teh hangat dan cemilan yang dikukus.
Menyadari putrinya datang dengan ditemani Ricko Pak Harry Darmawan hanya melirik sebentar dan menyodorkan tangannya lalu kembali asyik dengan bacaannya lain lagi dengan Ibu Rina Dharmawan langsung menyambut sambil mempersilakan Ricko ikut turut bergabung duduk di dekatnya.
"Eh Nak Ricko, dah pulang kerja?"
__ADS_1
"Iya Bu, kebetulan lewat kampus Netty di samper sekalian," jawab Ricko sambil mengangguk
"Mas Aku ke dalam dulu ya sama Ibu dulu di sini."
Ricko mengangguk dan Netty pun berlalu.
"Mas Nael belum pulang Bu?" tanya Ricko berbasa basi berharap Pak Harry Darmawan berhenti membaca dan mengajaknya ngobrol tapi kelihatannya asyik aja membaca koran.
"Belum, nggak bisa di tentukan orang satu itu kalau nggak sempat pulang tidur juga di kantor sepertinya, kalau lagi pengen di rumah ya di rumah."
Datang Netty dan duduk langsung di dekat Ibunya.
"Mas, udah di sampaikan sama Ibu juga Bapak belum?"
Ricko menggeleng membuat Ibunya langsung bertanya.
"Ada apa Nak Ricko?"
Baru Pak Harry Darmawan membuka kacamata dan melipat korannya lalu minum dan mengambil rebus pisang kepok kesukaannya.
"Serius amat? apa yang mau di sampaikan?" tanya Pak Harry Darmawan memandang putrinya dan bergantian memandang Ricko juga istrinya.
"Begini Pak, Aku sama Netty sudah sepakat ingin meningkatkan hubungan ini ke arah yang lebih serius seperti yang Bapak minta waktu itu," ucap Ricko langsung pada permasalahan inti tujuan dirinya menghadap orangtuanya Netty di sore itu.
"Maksudnya apa? perasaan Aku belum minta Kamu untuk serius sama Anakku?" sanggah Pak Harry Darmawan sambil mencoba mengingat ingat.
"Waktu habis main catur Bapak pernah berkata 'Kalau mau serius mulailah serius' Aku ingat betul kata kata itu. Jadi Aku berniat serius sama Netty Kami sudah memesan cincin tunangan tinggal kesepakatan kedua belah pihak saja yang Aku tunggu bagaimana kapan baiknya," ucap Ricko begitu semangat menyampaikan dan mengingatkan Pak Harry Darmawan.
"Oh itu? sebenarnya tujuanku memang baik tapi tujuannya bukan ke arah situ artinya kalau mau serius mulailah serius mulailah kurangi hobbymu yang kurang Bapak suka, karena hobbymu itu begitu beresiko tinggi walau Kamu berprestasi Bapak tidak bangga dan tetap kurang suka!" ucap Pak Harry Darmawan cukup membuat Netty cemberut dan Ricko terhenyak juga Ibu Rina Darmawan menghela nafas panjang.
"Pak, banyak orang menekuni hobby nya semua baik-baik saja, apa salahnya hobby orang kan lain-lain begitu juga dengan Nak Ricko yang penting pekerjaan dan karir tidak terbengkalai hanya karena hobby." Ibu Rina Darmawan berusaha bicara.
__ADS_1
"Ibu, semua pembalap berambisi untuk memenangkan suatu pertandingan itu pasti. Apa Ibu rela Anakmu hidup dalam kecemasan sepanjang hidupnya? atau kalau berkendara di di bawa ngebut? Bapak sungguh tak bisa bayangkan kapan hidup bisa tenang dan punya kenyamanan?"
"Pak, Kita balap di tempatnya bukan di sembarang tempat juga kami menggnggunakan properti yang sangat melindungi jadi Kita aman dan ada aturan yang harus di taati seorang pembalap," jawab Ricko merasa dirinya salah pengertian dengan ucapan Pak Harry Darmawan waktu itu.
"Bagi Bapak memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal sama saja menantang maut, Bapak mau Anakku hidup normal tidak dalam kecemasan dan kekhawatiran, jadi kalau mau serius mulailah serius."
Semua diam. Ricko merasa dilema dan merasa semakin jauh harapannya untuk bisa serius bersama Netty yang dirinya cintai dan Netty juga sepertinya cinta banget.
Hobby balap yang di tekuninya sejak di SMA mengantarkan Ricko menjadi wakil dari daerahnya dan segudang prestasi telah dirinya raih di berbagai event lokal dan nasional jadi semua sudah mendarah daging bagi dirinya jadi untuk berhenti sekarang ini mustahil semua bisa dipisahkan dari kehidupannya.
Orangtuanya juga pada awalnya menolak dan tidak terima tapi lambat laun semua melunak dan akhirnya mendukung dengan catatan harus bekerja tetap di pekerjaan instansi yang sekarang Ricko bernaung.
Ricko pamitan dengan perasaan kecewa Netty juga begitu kecewa tapi apa mau dikata keputusan orangtuanya yang tidak merespon kata tunangan yang Ricko sampaikan membuat Ricko pulang dengan diam.
"Apa salahnya kita punya hobby? semua orang yang berkecimpung di dunia balap tidak semua celaka banyak yang berhasil dan sukses malah menjadi profesi yang menjanjikan!"
"Mas pandangan orang memang beda-beda, maafkan orangtuaku dengan sudut pandangnya sendiri. Aku sendiri bisa menerima Mas Ricko apa adanya kok."
"Tapi satu hubungan tak bisa berjalan tanpa persetujuan orang tua Net, sepertinya kalau kita maksa itu akan jadi kesalahan, sudahlah Aku pulang dulu," ucap Ricko mengusap lengan Netty yang berdiri di dekat mobil Ricko terparkir.
"Mas sabar ya, mungkin belum saatnya semua harus serius."
"Mungkin kita harus berpikir ulang tentang hubungan kita Net, Aku merasa jauh dalam dilema dan pilihan sulit kalau begini," ucap Ricko lagi sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Mas, tapi Aku mencintaimu Aku akan berusaha meyakinkan orangtuaku lagi,"
"Aku tidak yakin Net!"
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat
__ADS_1