
"Masih hobby balapnya Bro?" ucap Nael pada Ricko dan terlihat akrab juga humble.
"Masih Kak, sekedar hobby saja tidak untuk profesional sela-sela kesibukan kantor saja," jawab Ricko sambil tersenyum pada Nael.
Nael tertawa, hobby orang lain lain memang. Sayang dirinya tidak punya hobby seperti itu dipikir-pikir apa kegiatan hobinya selama ini hampir tidak ada yang fokus satu hobby yang digeluti sama dirinya.
"Baiklah terimakasih untuk malam ini pada tamu istimewa keluarga Kami yang telah hadir, satu lagi Bapak tantang Nak Ricko main catur malam ini gimana habis makan siap ya harus mau dan jangan sampai mengalahkan Bapak gimana?" ucap Pak Harry Darmawan di sambut tawa semuanya.
"Siap Pak!" sahut Ricko spontan.
Hanya Netty yang agak cemberut karena waktu berduaan mereka akan tersita sama ajakan Bapaknya pada Ricko, tapi harusnya senang karena sedikit lebih kelihatan akur dan harmonis semoga bapaknya bisa lebih akrab dan bisa menerima kekasih hatinya Riko apa adanya.
"Bapak tunggu di ruang baca sepuluh menit lagi ya!"
"Baik Pak," jawab Ricko sambil berkedip pada Netty.
"Mon, Lo di antar Kakakku pulangnya ya!" ucap Netty di depan Kakaknya Nael.
"Kok Gue sih, Gue capek banget serius. Lo aja sekalian cowok Lo pulang nanti," ucap Nael menolak halus ucapan Adiknya.
"Jangan begitu Nak, kasihan Dek Monik kan cewek masa pulang sendiri malam-malam?" ucap Ibu Rina Darmawan sambil berdiri mengusap pindak putra kesayangannya.
"Yee... Kakak ini gimana sih? Mas Ricko kan mau temani Bapak main catur, lagian nanti Aku juga mau jalan. Mau ya Mon dianterin Kak Nael jalan-jalan dulu juga nggak apa-apa!" jawab Netty seakan menyerahkan tugas itu khusus buat Kakaknya.
"Aku sih terserah saja, naik taxi lagi juga nggak apa-apa kok kalau Mas Nael nggak bisa. Tapi kalau Mas Nael mau dengan senang hati tentunya," ucap Monik tersenyum kali ini mungkin akan berhasil pendekatannya juga menarik perhatian Nael biar lebih dekat dan akrab lagi.
"Ya sudah, Aku ganti baju dulu 5 menit!" ucap Nael sambil beranjak berjalan naik tangga yang berkelok.
"Makasih Mas Nael!" ucap Monik. Nael hanya mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Begitu dong Sayang. Apa susahnya antar teman Adikmu ini kan belum malam banget," tambah Ibu Rina Darmawan sambil memandang punggung Nael putranya yang lagi naik tangga.
Lima menit berlalu Nael turun sudah ganti pakaian dengan pakaian santai dan celana jeans. Ibu Rina Darmawan, Netty dan Monik lagi mengobrol di teras depan dan Bapak Harry Darmawan sama Ricko langsung beralih ke ruang baca entah seperti apa Bapak sama calon menantu yang satu ini keakrabannya.
Nael keluar menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman belum masuk ke garasi menghidupkan mobil lalu turun kembali mengajak Monik berangkat dan pamitan pada Ibunya juga Adiknya.
"Bu Monik Pamit dulu terimakasih banyak jamuan istimewanya, sampaikan salam dan pamitkan pada Bapak," ucap Monik dengan sopannya.
"Iya Sayang, pasti Ibu pamitkan jangan kapok ya, dan hati-hati di jalan."
"Iya Bu," Monik cipika cipiki pada Ibu Rina Darmawan dan Netty yang tersenyum saja dari tadi.
Nael membuka pintu samping sebelah depan dan mempersilahkan Monik naik, lalu menutup pintu setelah memastikan Monik nyaman duduk Nael memutari mobilnya bagian depan dan naik di pintu sebelahnya lagi.
Mobil berjalan dengan lambaian tangan Monik dan Netty membalasnya.
"Malam minggu Lo jalan sendiri saja Mon?" tanya Nael melirik Monik di sampingnya saat mobil telah membelah jalan raya.
"Aku belum berpikir cewek. Lagi semangat semangatnya menerapkan ilmu di perusahaan, jadi hampir tak punya waktu untuk hal lain."
"Apa bagi Mas Nael punya pacar adalah hambatan bagi karir? bukankah malah jadi penambah semangat dan pemberi support?"
"Iya sih, belum ada yang cocok saja mungkin, kriteriaku cukup sulit di mengerti hahaha..."
"Bilang dong kriterianya siapa tahu Aku bisa menyesuaikan," sindir Monik merasa ingin tahu.
"Nggak rumit juga, belum saatnya saja kali." jawab praktis Nael.
"Mas Nael Kita jalan dulu mau nggak kebetulan ini belum malam banget gimana?" ajak Monik memancing sejauh mana ketertarikan di pertemuan berdua pertama kali dengan cowok simpatik ini.
__ADS_1
"Aduh sorry Mon, Aku capek banget mau istirahat lain kali saja ya!"
"Oke nggak apa-apa, Aku hanya meu merekomendasikan siapa tahu jadi referensi buat Mas Nael, mau ke cafe, tempat cari angin yang nyaman atau di tempat hingar bingar," jawab Monik bersikap biasa walau hatinya kecewa.
"Maaf ya Mon lain kali saja mungkin kalau ada waktu senggang, jadi ini terus saja apa ke mana Aku antar Kamu?"
" Terus saja jalan dikit lagi depan belok kiri masuk ke situ ya."
Monik menunjuk satu rumah besar di komplek elite juga rupanya, Nael menghentikan mobilnya dan turun duluan membukakan pintu bagi Monik basa-basi sebentar dan berlalu asli mengantar saja.
Walau sedikit agak kecewa Monik berusaha masih bisa senang dengan sedikit sikap Nael yang terbuka dan jujur apa adanya kalau dirinya mau istirahat.
Sampai rumah lagi Nael masih melihat Netty sama Ricko lagi ngobrol di remang lampu kolam dan taman, mungkin Riko kalah main catur sama Bapaknya atau mungkin mengalah saja biar cepat bisa berduaan.
"Kak kok sudah pulang? emang gak kemana-mana dulu?"
"Gue tugasnya antar Dia pulang ya Gue antar sampai rumahnya! selesai kan semuanya?" jawab Nael datar saja sambil berlalu masuk rumah langsung ke kamarnya.
Ibu Bapaknya yang masih duduk berdua di depan televisi hanya melirik saja. Dalam pikirannya Nael memang hanya mengantar Monik pulang saja tak ada ngobrol dulu, atau jalan dulu.
"Ih dasar! Kak Nael itu memang jutek dan dingin banget kayak iya nggak butuh cewek! Aku jadi nggak enak sama Monik masa suruh antar cuma di antar saja gitu?" ucap Netty cemberut di depan Ricko.
"Menurutku Kakakmu itu nggak salah Sayang, di suruhnya antar ya diantar kalau di suruhnya pacari tuh Si Monik pasti di pacari!"
"Apaan sih nggak jelas banget! harusnya mengerti masa harus di jabarkan kalau Monik juga naksir? nggak gitu juga kali?"
"Jangan memaksa orang, nggak enak di paksa harus datang dari hati segala juga mungkin mereka perlu pertemuan selanjutnya untuk bisa akrab lagi. Nantinya akan jadi teman atau demen itu terserah mereka. Atau barangkali kakakmu sudah punya incaran hanya saja belum mau terbuka bisa saja kan?" ucap Ricko kedengaran bijaksana menilai bukan mewakili sesama laki-laki tapi pandangan umum dan pendapat yang masuk akal.
Netty diam mengerti semua apa yang diucapkan Ricko mungkin satu kesalahan dan juga satu kebetulan saat dirinya ingin mengenalkan temannya sendiri pada Kakaknya dan harus bisa menerima seandainya suatu saat akan berkembang seperti apa keakraban mereka hanya sebatas teman seperti yang Rico katakan atau mungkin akan berkembang menjadi seorang kekasih itu balik lagi kepada mereka masing-masing.
__ADS_1
*******
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat